Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Zainal Buana melajukan mobilnya menuju rumah sunyi. Meski malam sudah agak larut, tapi obrolan yang akan ia sampaikan pada Freya tidak bisa ditunda.
Mobil berhenti tepat di halaman, ia bergegas keluar. Sebelum mengetuk pintu, ia merapikan kaos yang dipakainya.
Bel ditekan, dan tak lama ... pintu terbuka perlahan. Freya muncul, mengenakan gaun tidur berbahan satin selutut dengan belahan dada yang rendah, sehingga kedua dadanya yang besar nyaris tumpah.
Zainal melotot, darahnya berdesir hebat. Sebagai lelaki normal, ia terpesona melihat kemolekan tubuh gadis yang menjadi incaran anaknya itu.
"Eh ... Pak Dewan." Freya refleks menutupi dadanya dengan sebelah tangan. "Silakan masuk, Pak. Tunggu sebentar ya, saya mau ganti baju dulu." Tanpa menunggu tanggapan dari Zainal ... Freya mengambil langkah seribu menuju kamarnya yang ada di ruang tengah.
"Gila! Tubuh Freya menakjubkan sekali. Impian setiap lelaki. Pantas saja Lingga ngebet ingin memilikinya, ternyata dia memang sempurna. Ah, aku juga jadi tertarik padanya ..." bisik Zainal dalam hatinya.
Kejantanannya tiba-tiba mengeras. Memaksa keluar dari balik celana training yang dipakainya. "Jangan bangun, Pus. Malu sama Freya. Aku datang ke sini bukan untuk mesra-mesraan. Tapi untuk meminjam dana," monolognya tanpa suara.
Langkah kaki terdengar memecah hening di ruang tamu itu. Freya muncul lagi dengan baju tidur yang berbeda. Setelan satin panjang.
"Maaf sekali ya, Pak Dewan. Saya kira Anda tidak akan datang malam-malam."
Zainal tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Freya. Justru saya yang minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahatmu."
Freya mengangguk pelan. "Pak Dewan ada perlu apa sampai datang malam-malam begini ke sini?" tanyanya hati-hati.
Zainal berdehem. Bayangan dada Freya yang kencang malah berkelebatan. "Ah ... begini, Freya. Saya datang ke sini ingin meminta bantuanmu ..." Ia menjeda ucapan.
"Bantuan apa, Pak?"
"Dua bulanan lagi, jabatan saya sebagai dewan akan usai. Dan saya, ingin menyalonkan diri sebagai kepala provinsi." Zainal menjelaskan. "Kamu pasti tahu sendiri ... kalau menyalonkan diri jadi pejabat itu tidak hanya butuh dukungan saja, tapi juga dana yang cukup besar. Setelah saya hitung-hitung ... ternyata uang simpanan yang saya punya masih kurang untuk mendanai kampanye. Jadi, maksud kedatangan saya ke sini ... saya ingin meminta bantuan dana dari kamu. Ah, lebih tepatnya meminjam uang. Begitu Freya ..."
Freya angguk-anggguk. Wajahnya tenang, tapi hatinya bersorak bahagia. "Ternyata apa yang dikatakan Tuan Bira tidak meleset. Zainal benar-benar meminta pinjaman dariku ..." batinnya senang. "Mm ... memangnya Pak Dewan butuh berapa?"
"Seratus miliar, Freya."
Freya terdiam beberapa detik, sebelum kembali membuka suaranya. "Pak Dewan, saya bisa saja meminjamkan uang sebanyak itu. Tapi ... tidak cuma-cuma. Maksud saya ... harus ada jaminan nyata untuk pinjaman sebesar itu. Maaf, bukan saya tidak percaya pada Bapak, tapi ya ... bisnis adalah bisnis. Semua harus tertulis di atas hitam dan putih, dan jaminan itu ... wajib. Bagaimana?"
Tanpa banyak berpikir, Zainal menganggukkan kepala. "Saya bersedia, Freya. Saya akan menjaminkan seluruh aset saya kepadamu. Besok pagi, saya akan membawa semua dokumen penting saya ke sini untuk jaminan." Ia tersenyum lega di akhir ucapannya.
"Baiklah, Pak Dewan. Saya tunggu." Freya pun melempar senyum kecil yang meyakinkan.
"Terima kasih, Freya. Terima kasih sekali."
"Sama-sama, Pak."
Zainal berpamitan dengan hati yang senang sekaligus tenang.
Ia melajukan mobil dengan bahagia. "Akhirnya ... masalah dana terpecahkan. Kini aku tinggal mengerahkan para relawanku untuk berkampanye ke seluruh pelosok Jawa Barat. Hahaha ..." Di dalam kabin mobilnya, ia tertawa puas. Selepas tawa itu berhenti, Zainal membayangkan penampilan awal Freya tadi. "Hah ... kalau saja Lingga tak mengincarmu ... sudah kudekati kau dengan ugal-ugalan Freya. Kau sangat memesona dan menggairahkan. Tapi aku tidak mungkin merebut wanita yang dicintai putraku sendiri."
______
Lampu kamar mandi menyala redup, memantulkan bayangan wajah Lastri di cermin yang sedikit buram oleh uap air.
Ia menatap dirinya sendiri lama, seolah sedang mencari seseorang yang dulu pernah ia kenal. Perempuan yang pernah merasa dicintai, diperhatikan, dan dianggap penting oleh suaminya.
Enam bulan.
Angka itu terus berputar di kepalanya, seperti jarum jam yang tak mau berhenti berdetak. Enam bulan sejak Zainal terakhir menyentuhnya dengan tulus. Bukan sekadar sentuhan tubuh, tapi sentuhan hati. Sejak itu, semuanya terasa hampa. Zainal semakin sibuk, semakin dingin, dan semakin jauh padahal mereka tinggal di atap yang sama.
Lastri menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi. Air dari keran mengalir pelan, menenggelamkan isak yang berusaha ia tahan.
Ada perasaan malu, marah, juga sedih yang bercampur jadi satu. Ia bukan perempuan yang tak tahu diri, tapi ia juga manusia yang punya kebutuhan akan perhatian dan kehangatan.
Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya sendiri, bukan karena nafsu, melainkan karena rindu yang tak tersalurkan. Rindu akan dipeluk. Rindu dipandang seolah dirinya masih berarti. Rindu diperlakukan sebagai istri, bukan sekadar penghuni rumah.
Air matanya jatuh, bercampur dengan tetesan air yang membasahi lantai keramik. "Kenapa kamu berubah, Mas ...?" bisiknya lirih. Ia mengingat lagi penolakan Zainal tadi. "Kau tega sekali, Mas." Napasnya menderu, hatinya sakit.
Lastri mulai menghidupkan benda panjang elastis di tangannya, lalu ia duduk di kloset dan membuka kedua pahanya lebar-lebar.
Perlahan, ia mendekatkan benda itu ke jalan lahirnya. Menggerak-gerakannya naik turun di permukaan sensitifnya. "Ahh ..." Tubuh Lastri bergetar, seirama dengan getaran benda tersebut.
Kemudian, perlahan-lahan ... ia memasukkan benda elastis itu ke dalam bagian tersembunyinya.
Tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka dan matanya terpejam erat.
"Mm ... enak sekali ..." racaunya sambil menggerakkan benda itu keluar masuk. Tangan kirinya meremas dadanya sendiri. "Mas Zainal ... ahh ... Mas Zainal ..." Di balik pintu kamar mandi itu, Lastri bukan sedang mencari kenikmatan.
Ia hanya ingin merasa hidup, ingin mengingat bahwa dirinya masih seorang perempuan dengan perasaan, hasrat dengan kebutuhan akan cinta yang selama ini diabaikan.
Ia terus memaju-mundurkan benda itu, makin cepat dan semakin cepat diiringi desahan mengudara.
Detik selanjutnya ... erangan menggema memenuhi kamar mandi itu.
Lastri mengusap wajahnya, menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di penutup kloset. Napasnya terengah-engah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Sudah enam bulan aku tak merasakan pelepasan," desisnya parau. "Semoga suatu hari, Mas Zainal mau menyentuhku lagi. Aku sudah sangat merindukan miliknya memenuhi milikku lagi."
_______
Freya mengambil ponsel, lalu tanpa berkonsultasi dulu pada Nova ... ia menekan nomor Shankara Birawa.
Nada sambung terdengar, lalu panggilan diangkat.
Ketika Freya akan membuka suara, dari seberang sana sudah lebih dulu mengalun suara, menyapa gendang telinganya. "Halo, ini siapa ya?"
Jantung Freya nyaris jatuh ke dasar perut. Lidahnya seolah menghilang dari dalam mulut.