NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Falling love

...HAPPY READING YAW!...

...🦕💞...

Ketika melihat Dino mengangguk, Aga menghela napas berat akan ulah ketuanya itu. Namun, Dino menarik sudut bibirnya dan menatap satu per satu anggota yang duduk di sekelilingnya. "Mulai sekarang, gue gak akan balapan lagi," kata Dino, dengan lantang.

Seketika, lelaki di sana membulatkan mata mendengar pernyataan Dino yang sekarang mengulas senyum lebar. Ia semakin membuat anggota histeris melihatnya tersenyum. "WAH, GILA! SI BOS SENYUM!" teriak Mahen, berdiri dari duduknya dan menunjuk wajah Dino. "LO SIAPA? SETAN PASTI! NGAKU!"

"Ketuker ini orang," celetuk Darwin, menggelengkan kepala.

Dino hanya tersenyum memperlihatkan barisan giginya di depan para teman-temannya, mengabaikan reaksi terkejut mereka. Bahkan, Bama dan Angga hanya melongo dengan bibir terbuka lebar.

"Gue cuma gak mau buat istri gue khawatir," tutur Dino, dengan sorot mata tajam menatap langit malam. "Gue mau jadi kepala rumah tangga yang baik."

Dino, ia tidak pernah bercanda dengan setiap kalimatnya yang keluar dari lisannya. Lelaki itu selalu serius dan tak akan mengatakan sesuatu bila ia kurang memiliki kesanggupan melakukannya. Perubahan menjadi lebih baik, akan ditetapkan mulai sekarang, sebagai seorang suami dan status ketua Ultimate Phoenix.

Ia akan berhenti balap liar, tetapi tidak akan bila untuk meninggalkan jabatannya sebagai ketua di geng motor itu.

...🦕...

Seorang gadis berjalan dari tempat parkir menuju ke dalam sebuah bangunan besar. Supermarket telah melekat dalam dirinya. Dara merasa, ia perlu melakukan aktivitas yang menjadi kewajibannya, setelah dirasa hidupnya kembali normal tanpa masalah.

Dara segera pergi menuju ruang ganti untuk berganti seragam agar dapat bekerja. Pagi ini, Dara berangkat lebih awal. Dino juga harus ke bengkel karena banyak pelanggan lagi.

Setelah dirasa penampilannya sudah rapi, Dara segera menuju lapangan untuk melakukan tugasnya sebagai seorang pekerja di sana.

Saat hendak pergi ke kasir, sepasang mata Dara tidak sengaja mendapati dua insan yang dikenali sedang berdiri di antara rak. Mereka terlihat menatap ke arah Dara, setelah menyadari keberadaan gadis itu.

Nasya langsung melambaikan tangannya kepada Dara, yang sempat mematung di tempat karena terkejut. Dara melemparkan senyum tipis, kemudian menghampiri Nasya dan Ambo di belakang. "Apa kabar kamu?" tanya Nasya, dengan antusias.

Dara menganggukkan kepala. "Baik," jawabnya. Ia merasa sedikit canggung karena beberapa masalah yang berkaitan dengan mereka waktu dulu. Dara sekilas melihat ke arah Ambo, pria itu tersenyum ke arahnya. "Kabar kalian, gimana?"

"Kita baik, kok. Setelah semua yang terjadi, kita mutusin buat perbaiki semuanya," ucap Nasya. Terlihat guratan senyum di wajahnya, ia juga jadi memiliki aura khusus. "Aku juga mau nikah."

Manik Dara membulat, ia menatap Nasya dan Ambo secara bergantian. Namun, Nasya malah tertawa ringan melihat ekspresi gadis di depannya. "Bukan sama Ambo. Tapi, sahabatku dari kecil," ungkap Nasya.

Dara double terkejut. Dia sungguh tidak menyangka jadinya akan seperti ini. Setelah semua yang Ambo lakukan untuk Nasya dan masalah asmara di antara mereka. Lalu, Nasya akan menikah dengan seseorang, tetapi bukan Ambo. "Gue putusin buat gak maksain perasaan Nasya sama gue," sahut Ambo. "Jadi, gue biarin dia memilih sesuai dengan keinginannya."

Tuturan yang dewasa dari seorang Ambo, terdengar begitu dalam. "Dari awal, kita memang gak jodoh. Makanya, Tuhan gak ngasih izin buat kita bisa bareng-bareng," lanjut Ambo. Namun, dari wajah pria itu, jelas sekali terdapat kekecewaan di sana. Pastinya, ucapan dan hati Ambo, tidak pernah selaras.

"Dia juga udah dijodohin sama Ibunya," celetuk Nasya. "Sama cewek Tiongkok malahan." Mendengar pernyataan Nasya, Ambo menegurnya dengan berdesis memperingati. Namun, mereka malah tertawa ringan.

Dara pun ikut tertawa. Sedikit tidak percaya akan takdir ini karena alurnya yang rumit. Namun, bagaimanapun keputusan Tuhan tak akan bisa ditolak. "Aku doain kalian bahagia sama pilihan masing-masing," ujar Dara. "Agak plot twist." Dia tersenyum miring sambil menggaruk tengkuk lehernya.

Melewati setiap detik di tempat kerja, memang terasa sedikit membosankan, bahkan kantuk sering menyerang. Menjadi seorang penjaga kasir merupakan pekerjaan dengan tanggung jawab besar. Dara harus teliti melihat angka dan fokus.

Dara baru saja melayani seorang ibu-ibu dengan anaknya yang sesenggukan menginginkan sesuatu. Namun, sepertinya ibu itu tidak mengizinkannya hingga anaknya menangis. Dara sering dibuat tertawa oleh pelanggannya, ini adalah salah satu kelebihan dari bekerja.

Seseorang yang akhir-akhir ini tidak dilihatnya, kini muncul di depannya dengan tatapan sinis. Amora tersenyum miring ke arah Dara, menyandarkan tubuhnya di meja kasir. "Enak banget, ya, jadi sering libur karena nikah sama anak pemilik supermarket ini," celetuk Amora. Seperti biasa, alisnya bergerak-gerak seperti ular. "Jadi pengen, deh." Ia mendekatkan wajahnya ke arah Dara.

Dara sontak memundurkan tubuhnya untuk menghindari. "Ya kamu cari suami lah, Kak," jawab Dara.

"Udah ketemu targetnya, sih." Amora menarik sudut bibir. Jemari tangannya bergerak memutar-mutar helaian rambut panjangnya. "Tapi suami orang," katanya.

Amora mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk, sambil menatap Dara. "Kayaknya seru kalau gue rebut."

Dara mengerti akan maksud rekannya itu. Ia pun mendekatkan wajahnya ke arah Amora, menahan tubuhnya dengan tangan di atas meja, kemudian mengulas senyum tipis. "Yang baru masih banyak, masa mau pilih yang udah dipakai orang?" seloroh Dara, sontak membuat Amora mengigit bibir.

Bukan Amora jika menyerah. "Boleh aja, selagi gue bisa ngalahin saingan gue."

"Selagi gue, bisa ada di atas orang itu," cetus Amora.

Dara kali ini hanya menggelengkan kepala. Meladeni Amora mungkin akan membuatnya menjadi tidak waras, dan selalu berkata jahat. Dara sudah enggan berurusan lebih banyak dengan Amora.

Matahari mulai condong ke barat. Dara sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia masih berada di area supermarket karena harus membuang sampah terlebih dahulu. Setelah selesai, ia mulai berjalan menjauhi tempat kerjanya itu. "Kayaknya aku ke makam Kak Agun dulu aja, deh," gumam Dara, di tengah langkahnya.

Sembari menatap langit biru dengan awan tipis, Dara melangkahkan kakinya perlahan melewati trotoar dari jalanan beraspal. Di tengah langkahnya, seseorang menabrak pundaknya hingga sangat keras membuatnya kehilangan keseimbangan dan hendak terjatuh. "Maaf," ujar orang di belakang Dara.

Gadis itu membalikkan badan, melihat seorang lelaki membungkuk untuk meminta maaf padanya. Namun, Dara mendapati sebuah bucket bunga di bawah dan mengambilnya.

Dara dan lelaki itu bersamaan mengambil bucket tersebut, tetapi Dara yang lebih dulu mendapatkannya. Lalu, Dara memberikannya kepada lelaki di depannya. "Iya, nggak apa-apa, kok," ucap Dara.

"Maaf, ya, aku buru-buru tadi," kata lelaki muda itu.

Dara mengulas senyum tipis. "Iya, aku juga maaf karena nggak perhatiin jalan."

"Kalau begitu, aku pergi dulu, ya." Lelaki tersebut nampak hanya menundukkan kepala karena malu. "Maaf, sekali lagi," katanya, kemudian melenggang pergi.

Melihatnya bertingkah aneh, Dara mengangkat pundaknya tidak peduli. Lalu, ia kembali melangkahkan kakinya di bawah langit sore.

Tak dapat bertemu, hanya bisa membebaskan rasa rindunya kepada sang kakak dengan mendatangi makamnya. Gundukan tanah yang ditaburi bunga itu, lagi-lagi basah karena air mata Dara enggan berhenti. "Kak, aku mutusin buat hidup terus sama Dino. Meski, aku nggak yakin karena kita sama-sama nggak saling mengerti."

"Mungkin, kedepannya akan ada lebih banyak masalah, tapi semoga kami bisa melewati bersama. Aku nggak tahu perasaan Dino yang sebenarnya ke aku gimana. Tapi pastinya, sekarang aku udah mulai cinta sama Dino."

"Dia baik, Kak. Tapi, ngeselin juga. Lebih ngeselin Dino daripada Kak Agun, sumpah beneran!" Sambil mengelus batu nisan yang tertulis nama Agun, gadis itu menyeka air matanya. Namun, cairan bening tersebut masih terus menetes. "Aku udah ikhlas sama kepergian Kakak," katanya.

"Nanti kita ketemu di surga, ya? Aku bawa Dino ke sana juga. Bunda, Ayah, Tino juga. Nanti kita di sana sama-sama, ya?"

Dara menundukkan kepala, membiarkan air matanya langsung menetes mengenai tanah Agun. "Tungguin ya, Kak!" Senyuman, tak lagi bisa Dara tunjukkan dengan benar di depan makam lelaki itu.

Memutuskan untuk meminta jemput sang suami, Dara berdiri di depan area makam. Namun, ketika panggilan itu diterima, nada bicara Dino berubah aneh.

"No, aku dari makam Kak Agun. Kamu bisa jemput aku di sini?"

"Iya, tunggu." Hanya jawaban singkat, kemudian Dino menutup panggilan tersebut membuat Dara menatap datar ponselnya.

Sesampainya Dino di sana, Dara meyambutnya dengan senyuman lebar. Namun, lelaki itu sama sekali tidak menatapnya. Dara pikir, suaminya sedang dalam masalah, jadi ia memutuskan untuk tak mengganggu.

Dino benar-benar hanya diam di sepanjang jalan, membuat Dara tidak berani membuka suara. Hanya angin berhembus, yang mengajak Dara berbicara.

Sore itu, Dara sungguh tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada Dino. Sesampainya di rumah, Dino tak turun dari motornya. "Loh, mau ke mana kamu, No?" tanya Dara.

"Ke basecamp," jawab Dino, dingin.

"Mau langsung pergi?" tanya Dara, lagi.

Dino enggan menatapnya, Dara mengerutkan dahi melihatnya. "Kalau perlu apa-apa, telpon gue!" Setelah mengatakan itu, Dino melajukan motornya, meninggalkan Dara yang mematung penuh tanya.

Sorot mata Dino begitu dingin, menatap tajam jalanan beraspal kota Jakarta di sore hari. Ia tidak menarik rem sama sekali, membiarkan motornya melaju membela jalan.

...🦕...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!