Follow ig 👉 @sifa.syafii
Fb 👉 Sifa Syafii
Seorang gadis berusia 18 tahun bernama Intan, dipaksa Bapaknya menikah dengan Ricko, laki-laki berusia 28 tahun, anak sahabatnya.
Awalnya Intan menolak karena ia masih sekolah dan belum tahu siapa calon suaminya, tapi ia tidak bisa menolak keinginan Bapaknya yang tidak bisa dibantah.
Begitu juga dengan Ricko. Awalnya ia menolak pernikahan itu karena ia sudah memiliki kekasih, dan ia juga tidak tahu siapa calon istrinya. Namun, ia tidak bisa menolak permintaan Papanya yang sudah sakit sangat parah.
Hinggga akhirnya Ricko dan Intan pun menikah. Penasaran dengan kisah mereka? Yuk langsung simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pagi hari ketika Ricko membuka matanya, Intan sudah bangun membantu ibunya memasak di dapur. Karena hari ini tanggal merah, semua keluarga Intan berkumpul di rumah.
Setelah selesai membantu ibunya memasak, Intan ke kamarnya bermaksud membangunkan Ricko. Ternyata Ricko sudah membuka matanya, tapi enggan untuk bangun.
"Ayo bangun, Mas. Cepat mandi lalu sarapan," ucap Intan sambil melipat selimut yang dipakai Ricko.
"Aku capek banget, Ntan. Kamu bisa mijit nggak?" tanya Ricko berharap Intan mau memijat punggungnya.
"Bisa sih, tapi sekedar mijit aja. Apa perlu dipanggilin tukang pijit?" tanya Intan.
"Enggak. Kamu aja yang mijit," jawab Ricko lalu tengkurap. Intan mengambil lotion miliknya lalu memijat punggung Ricko.
Enak juga punya istri. Makan ada yang masakin, tidur ada yang nemenin, capek ada yang mijitin, mandi air hangat pun ada yang nyiapin. Andai dia Rossa, pasti bisa diajak bikin anak juga. Hehehe. Batin Ricko. Tidak berapa lama Ricko pun tertidur kembali.
Intan sudah merasa sangat lapar. Ia membangunkan Ricko untuk sarapan pagi. Ricko pun bangun ikut sarapan bersama pak Ramli, bu Romlah, Johan dan Intan. Setelah makan, Ricko pun mengutarakan maksudnya untuk mengajak Intan pulang ke rumahnya. Pak Ramli setuju - setuju saja. Intan sudah besar dan sekarang ia sudah menikah. Pak Ramli yakin Ricko bisa menjaga Intan dengan baik.
Setelah mencuci piring, Intan membereskan dan mengemasi barang - barangnya yang ia perlukan. Ia tidak membawa semua barangnya karena suatu saat ia akan kembali pulang ke rumah ini jika waktunya sudah tiba. Ricko membantunya memasukkan barang Intan ke dalam mobil. Setelah semua beres, Intan dan Ricko pamit pulang ke rumah mereka. Setelah kepergian mereka, tetangga depan bu Romlah mendekati bu Romlah yang kebetulan masih ada di teras.
"Intan mau ke mana, Mbak? Kok bawa barang banyak gitu?" tanya Bu Tina ingin tahu.
"Ngekos yang dekat dengan sekolahnya, Mbak. Kan sudah semester akhir, jadi sering ada bimbel pagi," jawab bu Romlah berbohong.
"Kok anaknya Pak Bambang menginap di sini lagi, Mbak?" tanya bu Tina lagi.
"Ya nggak apa - apa, Mbak. Ricko sudah saya anggap seperti anak saya sendiri," balas bu Romlah.
"Gitu ya, Mbak. Ya sudah saya pulang dulu. Nanti dicari bapaknya anak - anak," pamit bu Tina.
Selama perjalanan pulang, Ricko dan Intan saling diam. Tiba - tiba Intan teringat sesuatu.
"Mas, stok bahan makanan di rumah kamu kemarin sepertinya tinggal sedikit. Apa enggak belanja sekalian?" tanya Intan.
"Mmm boleh. Kita ke supermarket dulu kalo begitu," jawab Ricko sambil mengemudi.
"Jangan. Kita ke pasar tradisional yang dekat sekolahku saja, Mas. Lebih fresh barangnya," ucap Intan menyarankan.
"Pasar tradisional kan kotor, Ntan? Becek. Kamu enggak apa - apa?" tanya Ricko khawatir.
"Eggak apa - apa, Mas. Aku sudah biasa kok," balas Intan sambil tersenyum.
Kalau Rossa pasti enggak mau. Yang jijiklah, panaslah. Beda banget sama Intan. Batin Ricko.
Ricko pun melajukan mobilnya ke pasar tradisional yang dekat dengan sekolah Intan. Setelah memarkirkan mobil, Ricko dan Intan turun dari mobil. Ricko mengikuti Intan berbelanja.
"Bu, beli ayamnya setengah kilo ya, " ucap Intan pada penjual ayam potong.
"Iya, Mbak. Dipotong jadi berapa?" tanya penjual ayam.
"delapan, Bu," jawab Intan.
"Tujuh belas ribu, Mbak," ucap penjual ayam setelah membungkus ayam dan menyerahkan ayam pada Intan.
"Mas, bayar dong ... kok cuma dilihatin?" ucap Intan pada Ricko yang dari tadi hanya melihat.
"Eh, iya," balas Ricko lalu mengeluarkan uang 50 ribu dari dompetnya.
Jangan lupa tinggalin komennya ya. Aku tunggu. Terima kasih 🥰