Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penuh Kejujuran
Malam itu turun pelan, seperti berniat mengulur waktu agar semua yang terpendam punya kesempatan keluar. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan kilau ke aspal basah sisa hujan sore. Kia berdiri di balkon apartemennya, secangkir teh hangat di tangan, menatap kota yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Ada perasaan yang mengganjal—bukan cemas, bukan juga bahagia—melainkan sesuatu di antaranya: kesiapan yang belum sepenuhnya diakui.
Ketukan di pintu datang tepat ketika jam menunjukkan pukul sembilan.
Daffa.
Kia membuka pintu tanpa banyak kata. Mereka saling bertukar pandang, seperti dua orang yang sama-sama tahu: malam ini bukan sekadar mampir. Ada percakapan yang harus diselesaikan. Ada luka lama yang meminta diakui.
“Aku bawa sup,” kata Daffa sambil mengangkat wadah plastik, senyum kecilnya canggung. “Kamu bilang tadi sore hujan bikin tenggorokanmu nggak enak.”
Kia mengangguk, mengambil wadah itu. “Makasih.”
Mereka masuk. Apartemen itu sederhana—bersih, rapi, tak banyak dekorasi. Cermin dari kebiasaan Kia: menyingkirkan hal-hal yang tak perlu, termasuk emosi yang terlalu ribut. Daffa duduk di sofa, sementara Kia menuang sup ke mangkuk. Ada jarak di antara mereka, tak terlalu jauh, tapi cukup untuk menahan tangan agar tak spontan meraih.
Makan berlangsung dalam diam yang nyaman. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing menata keberanian. Setelah suap terakhir, Kia meletakkan mangkuk, lalu duduk berhadapan dengan Daffa.
“Kita nggak bisa terus begini,” Kia membuka percakapan. Suaranya tenang, namun tegas. “Dekat, tapi tanpa nama. Aku… capek menebak.”
Daffa menelan ludah. Ia menyandarkan punggung, mengusap wajahnya sebentar. “Aku tahu. Dan aku minta maaf.”
“Bukan itu yang mau kudengar,” potong Kia, lembut. “Aku mau jujur. Dan aku mau kamu juga.”
Daffa menatap mata Kia. Lama. Seperti mengumpulkan potongan masa lalu yang tercerai-berai. “Aku takut,” katanya akhirnya. “Bukan sama kamu. Sama diriku sendiri. Aku takut mengulang kesalahan. Takut nggak cukup dewasa waktu itu… dan sekarang.”
Kia menarik napas. “Waktu itu kita sama-sama masih luka. Aku dingin, kamu pergi tanpa penjelasan. Kita saling melindungi diri dengan cara yang salah.”
“Dan Tara,” Daffa menambahkan, suaranya merendah. “Kehadirannya selalu bikin aku merasa… bersalah. Bukan karena dia salah. Tapi karena aku lari dari tanggung jawab, dari kenyataan.”
Nama itu melayang di antara mereka. Tara—bayang-bayang yang tak pernah benar-benar pergi. Kia mengangguk pelan. “Aku juga menyimpan marah yang nggak sehat. Aku menyalahkan semua orang, termasuk diriku. Bertahun-tahun.”
Daffa berdiri, berjalan ke balkon. Hujan kembali turun rintik. “Aku belajar banyak setelah itu. Tentang mendengarkan. Tentang tinggal, meski sulit. Tapi aku nggak berani datang ke kamu kalau cuma bawa janji kosong.”
Kia ikut berdiri, menjaga jarak satu langkah di belakangnya. “Aku nggak minta janji,” katanya. “Aku minta kejujuran. Sekarang.”
Daffa berbalik. Mata mereka bertemu, lebih dekat dari sebelumnya. “Aku masih mencintaimu,” ucap Daffa pelan. “Dengan cara yang lebih tenang. Lebih dewasa. Dan aku mau mencoba—tanpa lari.”
Kia menutup mata sejenak. Saat membukanya, ada kilau yang lama tertahan. “Aku juga masih punya perasaan,” katanya jujur. “Tapi aku nggak mau kembali ke pola lama. Aku butuh kamu hadir, bukan sekadar dekat.”
Daffa mengangguk. “Aku bisa.”
“Bisa itu kata yang besar,” Kia tersenyum tipis. “Aku mau kita belajar. Pelan. Tanpa status dulu, tapi dengan batas yang jelas. Kita ngomong kalau takut. Kita berhenti kalau sakit.”
Daffa menghela napas, lega. “Itu adil.”
Hening kembali turun, kali ini lebih hangat. Daffa mengulurkan tangan, ragu. Kia menatapnya, lalu menyambut. Sentuhan itu sederhana—jemari bertaut—namun penuh makna. Tak ada hasrat yang meledak, hanya kedekatan yang aman.
“Kamu tahu,” kata Kia sambil menatap jari-jari mereka, “aku sering terlihat kuat karena itu satu-satunya cara bertahan. Tapi aku juga ingin dipeluk tanpa harus menjelaskan.”
Daffa meraih Kia ke dalam pelukan. Tidak erat, tidak menuntut. Sekadar ada. Kia menyandarkan kepala di dada Daffa, merasakan detak jantung yang stabil. Untuk pertama kalinya, ia tak ingin menjauh.
Mereka duduk di sofa, berbagi cerita kecil—tentang hari-hari yang terlewat, tentang mimpi yang sempat ditinggalkan. Tawa kecil muncul, menghapus sisa ketegangan. Di luar, hujan kian deras, tapi di dalam, suasana menghangat.
“Aku akan pulang,” kata Daffa setelah waktu terasa cukup. “Biar kita berhenti di titik yang baik.”
Kia mengangguk. Di pintu, sebelum berpisah, Daffa menatapnya. “Terima kasih sudah jujur.”
“Terima kasih sudah tinggal,” jawab Kia.
Pintu tertutup. Kia bersandar sebentar, tersenyum pada dirinya sendiri. Malam itu tidak mengubah segalanya. Tapi ia memberi ruang—ruang untuk tumbuh, untuk memperbaiki, untuk memulai tanpa menyangkal masa lalu.
Di balkon, hujan perlahan reda. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kia merasa siap menyambut pagi.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya