Aira memergoki suaminya selingkuh dengan alasan yang membuat Aira sesak.
Irwan, suaminya selingkuh hanya karena bosan dan tidak mau mempunyai istri gendut sepertinya.
akankah Aira bertahan bersama Irwan atau bangkit dan membalas semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazilla Shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Cangkir Jahe, Seribu Kemarahan
"Ya masuk," ucap Pak Agam sedikit keras.
Aira membuka pintu setelah mendengar Pak Agam menyuruhnya masuk, ia masuk ke dalam ruangan Pak Agam.
"Maaf jika saya mengganggu waktunya, Pak. Saya hanya ingin mengatakan jika nanti saat makan siang ada PT Mahardika yang ingin berdiskusi dengan Bapak. Disini sudah dituliskan, jika tempatnya direstoran Flora," ucap Aira segera membacakan jadwal Pak Agam.
"Kamu undur semua meeting hari ini!" Perintah Pak Agam dengan cepat, ia tidak akan bisa maksimal memimpin meeting jika kondisinya belum tenang.
"Tapi kenapa, Pak? Saya takut jika mereka menanyakan alasannya?" tanya Aira sambil menatap Pak Agam.
"Saya sedang kurang sehat, kamu atur aja lain waktu dan tolong buatkan saya minuman hangat, terserah apapun yang penting bisa meredakan pusing," ucap Pak Agam.
"Baik Pak, kalau begitu saya pamit permisi dulu." Aira segera keluar dari ruangan Pak Agam, ia tak ingin jika bosnya itu akan semakin murka.
Aira mengambil ponselnya untuk mengabari Damian tentang kondisi Pak Agam saat ini. Ia merasa ada yang aneh dengan Pak Agam.
"Sebaiknya aku kabari Pak Damian sekalian masuk ke dalam lift aja, agar bisa sampai di dapur lebih cepat," ucap Aira dengan buru-buru.
Aira langsung mengetikan pesan pada Damian, karena kalau menghubunginya lewat telepon tidak enak nanti dikiranya dia ada apa-apa lagi sama Pak Damian dan jadi bahan gosip di kantor ini. Tidak, ia tidak mau.
(Pak, hari ini Pak Agam kelihatan lesu dan juga kurang sehat. Saya diminta untuk schedule semua meeting hari ini.)
Damian yang membaca pesan dari Aira tersenyum karena Papanya pasti masih memikirkan masalah penyakitnya, dan misinya berhasil.
(Kamu minta aja Papa untuk pulang.)
Mata Aira melotot membaca balasan dari Damian. Mana berani ia mengatakan secara langsung seperti yang Damian minta.
(Sepertinya bukan ranah saya, Pak. Kalau Pak Damian peduli, sebaiknya Pak Damian saja yang ke sini dan mengatakan langsung pada Papa Pak Damian.)
Setelah mengirimkan pesan itu, Aira langsung menyimpan ponselnya di dalam saku kemejanya. Ia segera keluar dari lift dan berjalan menuju pantry.
"Ngapain Mbak Aira ada disini?" tanya Ainun yang kebetulan ada di pantry.
"Kamu tau nggak selera minumannya Pak Agam kayak gimana? Pak Agam minta air hangat yang bisa meredakan pusing katanya? Mungkin semacam teh jahe atau apalah yang tersedia di kantor ini?" tanya Aira.
"Biar aku aja yang buatin Mbak Aira," ucap Ainun dengan cepat.
Aira mengangguk dan menunggu Ainun membuatkannya. Sebenarnya ia bisa saja buat sendiri, tapi Aira tidak ingin jika nanti teh buatannya malah cocok di lidah Pak Agam dan ia akan diminta untuk membuatkan teh jahe setiap hari.
Beberapa menit Aira menunggu, akhirnya Ainun selesai membuatkan teh jahe untuk Pak Agam. Semoga aja Pak Agam suka dan tidak ngamuk.
"Makasih ya Ainun. Aku bawa ini ke ruangan Pak Agam dulu," ucap Aira.
"Iya sama-sama Mbak," jawab Ainun.
Aira segera pergi dari pantry dan meninggalkan Ainun yang masih menatap kepergian Aira sampai hilang dari pandangannya.
"Ini Pak minuman hangat yang Bapak minta," ucap Aira sambil meletakan teh jahe hangat di atas meja.
"Jangan kamu kabari Damian tentang kondisiku yang seperti ini," ucap Pak Agam.
"Hehe terlambat Pak, saya minta maaf karena saya juga sedikit khawatir dengan kondisi Bapak, jadi saya tadi sudah kirim pesan pada Pak Damian. Ya siapa tau aja dengan kehadiran Pak Damian nanti bisa membuat Bapak sehat lebih cepat," jawab Aira sambil nyengir.
"Lancang kamu! Awas aja kalau nanti apapun kamu laporkan pada Damian tubuhmu benar-benar akan saya jual pada buaya!" bentak Pak Agam dengan mata memerah karena marah.
"Saya jadi bingung, Pak. Masalahnya Pak Damian juga yang meminta saya disini untuk menjadi mata-mata Bapak. Huft, sulitnya menjadi saya. Saya permisi aja deh Pak," jawab Aira pura-pura bodoh.
Aira sebenarnya takut jika Pak Agam benar-benar akan menjualnya pada pria tua hidung belang. Tapi ia tepis perasaan itu agar Pak Agam tidak melihat ketakutan dalam wajahnya.
"Damian mengirimkan sekretaris yang sangat bodoh!" maki Pak Agam setelah melihat Aira keluar.
Pak Agam segera meneguk teh jahe hangat yang menggugah seleranya. Rasanya tenggorokan dan juga dadanya langsung hangat.
"Untung pekerjaannya bagus. Kalau tidak bagus mungkin sudah aku tendang dari kantor ini," ucap Pak Agam masih kesal dengan Aira.
Kepalanya akhirnya sudah mulai membaik, ia jadi bisa mulai menyelesaikan pekerjaannya sedikit demi sedikit. Hingga pintu ruangannya kembali terbuka, dan memperlihatkan sosok Damian yang sudah berdiri di tengah pintu.
"Kata Aira, Papa sakit?" tanya Damian pada Papanya.
"Hanya sedikit pusing aja, jangan terlalu berlebihan!" jawab Pak Agam.
Damian langsung duduk di depan meja Papanya. "Papa yakin hanya pusing? Jangan memaksakan diri Pa, walaupun selamat ini aku sangat membenci Papa, tapi aku juga khawatir saat mendengar Papa sakit."
"Alah bilang aja kamu ingin segera menggantikan Papa di kantor ini. Papa sangat tau niat terselubung dalam hatimu itu," ucap Pak Agam dengan ketus.
"Selalu aja berpikiran negatif sama anak sendiri. Papa juga terlihat pucat ini, kita ke rumah sakit aja ya Pa," ajak Damian.
"Mending kamu balik aja deh ke kantor kamu sendiri, Damian. Daripada kamu semakin nggak jelas ngomongnya," kata Pak Agam dengan sinis.
"Jangan keras kepala bisa nggak sih, Pa? Kalau sampai Papa kenapa-napa, Mama juga yang bakalan nyalahin aku. Kalau emang Papa nggak mau ke rumah sakit, kita pulang aja yuk. Biar nanti Dokternya yang akan langsung memeriksa kondisi Papa ke rumah," ucap Damian dengan kesal melihat Papanya yang keras kepala.
"Tidak perlu Damian, setelah minum teh jahe ini Papa merasa lebih baik. Terimakasih karena kamu sudah perhatian sama Papa. Tapi Papa rasa, Papa masih bisa menghandle pekerjaan Papa," ucap Pak Agam kekeh pada pendiriannya.
Melihat Papanya yang masih keras kepala, tanpa berpikir panjang Damian segera menghubungi Mamanya. Ia sangat lelah membujuk Papanya.
"Mau nelepon siapa kamu?" tanya Pak Agam curiga.
Damian tidak menjawab dan hanya mengendikan bahunya, hingga panggilan tersambung.
"Halo, assalamualaikum Damian, ada apa Nak?" tanya Bu Asha.
"Walaikumsalam, Ma. Ini aku ada di kantor Papa, karena aku tadi mendapatkan laporan dari sekretarisnya kalau Papa kurang enak badan. Aku udah memaksanya untuk pulang berulang kali, tapi Papa sama sekali nggak mau mendengar ucapan ku, Ma," jawab Damian panjang lebar.
"Damian terlalu berlebihan, Ma. Aku beneran nggak apa-apa kok, hanya pusing dikit aja tadi. Tapi sekarang emang udah sembuh kok. Mama nggak perlu cemas," jawab Pak Agam dengan cepat.
"Bohong Ma, aku liat wajah Papa pucat," ucap Damian.
Mata Pak Agam melotot pada Damian. Ia tak merasa selemas tadi setelah meminum jahe hangat.
"Pa, kalau emang kurang sehat jangan dipaksakan. Papa pulang ya! Ada Damian yang bisa menghandle pekerjaan kantor. Papa bakalan tetap dapetin gaji kayak biasanya Pa," ucap Bu Asha membujuk suaminya.
Damian sengaja di load speaker agar Papanya itu bisa mendengar sendiri.
"Tapi Papa udah ngerasa baikan Sayang," ucap Pak Agam.
"Kalau pusingnya tiba-tiba kambuh gimana? Besok Papa kerja lagi kalau emang udah baikan. Hanya istirahat satu hari nggak akan membuat Papa bangkrut kan?" tanya Bu Asha.
"Baiklah. Papa akan pulang," jawab Pak Agam pasrah.
"Nah gitu kek dari tadi. Aku matiin panggilannya dulu ya, Ma. Tolong sopir untuk menjemput Papa, jangan sampai Papa nyetir mobil sendiri, Ma. Nanti malah bahaya," kata Damian.
"Baiklah, Damian. Mama makasih banyak karena kamu udah peduli sama Papa kamu," jawab Bu Asha yang tau kalau selama ini kedua anaknya sangat membenci Papanya.
"Aku begini juga demi Mama, aku nggak mau Mama memikirkan suami Mama itu," ucap Damian sambil melirik Papanya dengan sinis.
Pak Agam hanya melirik dengan aura permusuhan pada Damian.
mo ngomong apa itu c lisa