Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan
“Ayo pergi,” ujar Kael acuh, langkahnya bahkan tak melambat.
Farel refleks menahan lengannya. “Tunggu. Tunanganmu sedang ditindas. Kamu nggak mau bantu dia?”
Kael berhenti sejenak, bukan karena empati, melainkan karena pikirannya berputar cepat. Dari sudut matanya, ia masih bisa melihat siluet gadis itu, tubuh kecil yang tampak terdesak, mundur setapak demi setapak, seolah tak punya pilihan selain gemetar.
Kalau dia memang orang yang menyerangku siang tadi, batinnya dingin,
Deza itu bahkan bukan tandingannya.
Namun keraguan menyelinap, tipis tapi nyata.
Kalau bukan dia…
Kael mendengus pelan. “Bukannya aku sudah bilang?” katanya datar pada Farel. “Cewek lemah yang gampang ditindas. Nggak pantas jadi nyonya keluarga Blackwood.”
Ia melangkah pergi begitu saja, bayangannya ditelan cahaya remang lorong VIP.
Farel menoleh sekali lagi ke arah bawah. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang membuat tengkuknya merinding.
Dan tepat saat Kael benar-benar pergi....
BRUKKK!
Suara benturan keras menggema.
Deza tersentak, tubuhnya didorong kasar hingga punggungnya menghantam dinding beton dingin. Napasnya terlempar dari paru-paru. Sebelum sempat berteriak, kerah bajunya sudah dicengkeram kuat.
Klik.
Sesuatu yang dingin, keras, dan mematikan menempel di pipinya.
Pistol.
Mirea berdiri sangat dekat. Terlalu dekat.
Tidak ada lagi wajah pucat ketakutan. Tidak ada getaran di tangannya. Tatapannya lurus, tajam, kosong. Tatapan seseorang yang sudah terbiasa melihat orang memohon hidupnya.
“Kecilkan suara jeritanmu,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
“Kalau enggak… aku tembakkan peluru ini. Dua tindik langsung di pipimu.”
Deza membeku total. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Tenggorokannya terasa dicekik ketakutan. Ia bahkan tak berani menelan ludah.
“S-siapa kamu sebenarnya…?” tanyanya tercekat, suara nyaris tak keluar.
Mirea menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat tipis bukan senyum, melainkan ejekan dingin.
“Siapa aku?” ulangnya lirih.
Lalu, dengan suara yang menggema penuh otoritas—
“Fang!”
Teriakannya tajam, memotong musik dan riuh di sekitar.
“Kenapa lama sekali? Cepat masuk!”
Langkah-langkah berat terdengar. Dari balik pintu lorong muncul Fang, wajahnya keras, tubuhnya tinggi dan penuh bekas luka, diikuti beberapa anak buah bersenjata.
Deza menoleh, matanya membelalak.
“K-ka—kakak!”
Ia berlari terhuyung, bersembunyi di belakang Fang, mencengkeram lengannya kuat-kuat. “Tolong… selamatkan aku… aku mohon…!”
Namun tangan Fang justru terangkat.
BRAKK!
Ia menghempas tangan adiknya sendiri hingga terlepas. Deza tersungkur ke lantai, terengah.
Fang melangkah maju.
Lalu—
berlutut.
“Bos,” ucapnya dengan suara rendah dan tegas. Kedua tangannya mengepal di depan dada. “Akulah yang gagal mendidik adik ini.”
Mirea berdiri dengan tangan menyilang, ekspresinya datar.
“Kalau memang harus dihukum,” lanjut Fang tanpa ragu, “hukum aku saja.”
Deza terpaku. Otaknya seperti berhenti bekerja.
“B-bos…?” suaranya gemetar.
Ia menatap Mirea dengan mata penuh ketakutan yang baru ia pahami.
“A-apa… apa dia…?”
Napasnya tersendat.
“Pemimpin… geng pembunuh nomor satu…?”
“Bos Ruby Woolf?!”
Belum sempat gema namanya reda—
DUGHH!
Tinju Fang menghantam wajah Deza tanpa ampun. Tubuhnya terlempar, darah muncrat dari sudut bibirnya.
“Berani-beraninya kamu menyebut nama itu!” bentak Fang murka. “Kamu sudah gila?!”
Deza merangkak di lantai, tubuhnya gemetar hebat.
“Ma.. maaf… maaf, Bos… aku nggak tahu… aku benar-benar nggak tahu…”
Ia berlutut, kepalanya menghantam lantai berkali-kali.
“Aku salah… aku bersalah karena meremehkan orang lain… aku mohon…”
Mirea mengamati semua itu dengan tenang. Tidak ada simpati. Tidak ada amarah berlebihan. Hanya kepuasan dingin.
“Ini adikmu?” tanyanya akhirnya, suaranya datar.
“Iya, Bos,” jawab Fang tanpa mengangkat kepala.
“Aku nggak mau turun tangan sendiri,” ucap Mirea singkat. “Kamu saja yang urus.”
“Baik.”
Fang berdiri. Ia mengulurkan tangan ke salah satu anak buahnya. Sebuah pisau lipat hitam diserahkan ke telapak tangannya.
Klik.
Pisau itu terbuka.
Deza menjerit, mencoba merangkak mundur. “Kakak—! Kakak, tolong—!”
Fang mencengkeram pipi adiknya kuat-kuat, menahan wajahnya.
“Deza,” desisnya pelan, nyaris bergetar. “Maafkan aku.”
Air mata bercampur darah mengalir di wajah Deza.
“Ini demi kebaikanmu.”
Pisau itu masuk ke mulutnya.
Jeritan berubah jadi suara tercekik. Tubuh Deza meronta hebat, namun dua anak buah menahannya tanpa ampun. Fang mengerahkan tenaga, mengerok bagian dalam mulut itu dengan brutal.
Darah menyembur. Lantai ternodai merah gelap.
Fang sendiri bergidik, napasnya berat, namun tangannya tidak berhenti.
Mirea sudah berbalik.
Ia berjalan menjauh dengan langkah tenang, seolah suara jeritan di belakangnya hanyalah musik latar.
Tak ada yang berani menghentikannya.
......................
“Dik Mire?” suara Noel terdengar cemas.
Mirea muncul dari belokan menuju toilet. Wajahnya kembali pucat. Bahunya sedikit gemetar. Ia terlihat… rapuh.
Noel mendekat cepat.
“Kok lama banget?”
Ia tiba-tiba berhenti. Hidungnya mengernyit.
“Hah… kenapa… bau darah?”
Matanya turun. Melihat noda merah di ujung rok adiknya.
“Kenapa bisa ada darah di sini?!” suaranya meninggi panik.
Mirea menunduk, jemarinya mencengkeram ujung baju.
“E-umm… aku…”