Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Micin, Overthinking, dan Diskusi Maket
Sesampainya di apartemen, Zea benar-benar nggak dikasih ampun. Antares menepati janjinya soal "bakar kalori". Cilok Mang Ujang yang tadi dimakan Zea kayaknya langsung menguap jadi energi buat melayani kegilaan suaminya itu.
Sekarang, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Zea tiduran telungkup di atas kasur dengan rambut berantakan, sementara Antares lagi mandi. Di tengah rasa pegalnya, ponsel Zea yang tergeletak di nakas getar berkali-kali.
Sarah (Arsi B): Zeee! P
Sarah (Arsi B): Woi, Zea! Lu tadi balik sama siapa? Gue liat lu masuk ke Tesla item di parkiran belakang.
Sarah (Arsi B): Bukannya itu mobil Pak Antares ya? Gue hafal banget pelatnya soalnya sering gue perhatiin pas lagi bimbingan.
Zea langsung duduk tegak, bodo amat sama rasa linu di pinggangnya. "Mampus gue!" umpatnya pelan.
Jarinya gemeteran ngetik balasan.
Zea: Hah? Tesla mana sih, Sar? Gue tadi balik naik taksi online kali. Mobil putih.
Sarah (Arsi B): Jangan bohong lu. Gue liat jelas lu masuk ke dalem. Terus tadi gue liat dosen ganteng kita itu juga keluar dari gedung Astronomi pas banget lu nunggu di situ.
Sarah (Arsi B): Lu ada skandal ya sama Pak Antares? Atau lu jadi asdos rahasia dia? Kok nggak cerita-cerita sih!
Zea gigit kuku jempolnya. Duh, otak dia yang biasanya encer buat gambar gedung mendadak mampet buat cari alibi.
Zea: Aduhh, itu tuh... anu, Sar. Gue emang lagi bantuin beliau buat revisi data satelit yang mau dipake buat desain interior stasiun luar angkasa. Kerjaan sampingan lah, lumayan buat nambah uang jajan boba. Tadi emang searah, jadi gue ditawarin nebeng doang.
Sarah (Arsi B): Searah? Rumah lu kan di Bekasi, apartemen dia kan di daerah pusat. Searah dari mana, Ze?
Zea nepok jidat. Aduh, Sarah pinter banget sih kalau soal nge-stalk orang!
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Antares keluar cuma pakai handuk yang melilit di pinggang, nampilin perut six-pack yang masih basah sama sisa air. Dia ngelihat istrinya lagi panik sendiri depan HP.
"Kenapa, Zea?" tanya Antares santai sambil ngeringin rambut pakai handuk kecil.
"Mas! Ini temen aku si Sarah liat aku masuk mobil kamu tadi sore! Dia nanya-nanya mulu, curiga katanya," Zea nyodorin HP-nya ke depan muka Antares.
Antares baca chat Sarah dengan ekspresi datar yang bikin Zea makin gemas. "Ya sudah, bilang saja kamu memang istri saya. Repot amat."
"Ih, Mas Antar! Kan janji sama Papa harus rahasia sampai aku lulus! Kalau bocor, Papa bisa ngamuk, terus karier Mas di kampus juga bahaya!" Zea mukul bantal.
Antares duduk di tepi kasur, narik HP Zea dan naruhnya di meja. Dia narik Zea ke dalam pelukannya, meluk dari belakang sampai punggung Zea nempel di dada bidangnya yang masih lembap.
"Santai saja. Jangan terlalu panik, nanti dia makin curiga. Bilang saja kamu lagi urus beasiswa penelitian lewat dia. Dia kan donatur utama di beberapa proyek kampus lewat yayasan lain," bisik Antares, suaranya yang berat bikin Zea agak tenang dikit.
"Tapi Sarah itu ratu gosip, Mas. Sekali dia curiga, bisa habis aku dikuliti di grup angkatan."
"Kalau dia macam-macam, biar saya yang urus nilainya," canda Antares, tapi nadanya kedengaran serius.
"Tuh kan! Mas emang dosen otoriter!" Zea nyikut perut Antares pelan. "Ya udah, aku bales gini aja: 'Iya, emang nebeng soalnya tadi gue disuruh ambil berkas di rumah dia buat dibawa ke dekanat besok pagi. Udah ah, gue lagi ribet ngerjain maket!'"
Antares cuma senyum tipis, dia ngecup bahu Zea yang masih ada jejak merah buatannya. "Bagus. Pintar juga kamu cari alasan."
"Belajar dari suaminya yang pinter bohongin publik kalau kita nggak ada apa-apa," sindir Zea.
Tapi Zea nggak tenang. Dia tahu, satu lubang kecil di kapal bisa bikin tenggelam semuanya. Apalagi Sarah itu tipe yang nggak gampang percaya.
Besoknya di Kampus...
Zea jalan di lorong fakultas sambil nunduk, pakai masker sama kacamata item gede. Begitu sampai studio maket, Sarah udah nungguin dengan muka yang minta penjelasan banget.
"Zea! Sini lu!" Sarah narik tangan Zea ke pojokan studio yang sepi.
"Apaan sih, Sar? Gue mau lanjutin maket ini, bentar lagi asistensi!"
"Gue nggak percaya alasan lu semalem. Tadi pagi gue iseng liat daftar asisten Pak Antares di mading jurusan, nggak ada nama lu. Terus, gue liat bibir lu agak... bengkak? Lu abis ngapain semalem?" Sarah nyipitin mata, natap bibir Zea yang emang agak plump gara-gara "olahraga" sama Antares.
Zea nelen ludah. "Ini... ini gara-gara gue makan cilok Mang Ujang yang pedes banget semalem! Terus gue alergi udang di bumbunya, jadi bengkak!"
"Masa?" Sarah makin deket, pengen liat lebih jelas.
Tiba-tiba, dari ujung koridor, suara langkah sepatu pantofel yang tegas kedengaran. Itu Antares, lagi jalan bareng beberapa dosen lain. Pas lewat depan studio, Antares nggak sengaja ngelihat Zea lagi diinterogasi sama Sarah.
Antares berhenti sebentar, benerin letak kacamatanya, terus natap tajam ke arah Sarah. "Mahasiswi Sarah, bukan begitu cara memperlakukan teman sekelompok. Kembali ke meja masing-masing atau nilai asistensi kelompok kalian saya kurangi."
Sarah langsung kaku. "Eh... iya Pak! Maaf Pak!" Sarah buru-buru balik ke mejanya sambil bisik-bisik ke Zea, "Galak banget gila... tapi makin ganteng. Lu beruntung banget bisa nebeng dia."
Zea cuma bisa ngelus dada. Antares ngelirik Zea sekilas dengan tatapan "Aman, kan?" sebelum lanjut jalan.
Zea ngebatin, Gue nggak tau jantung gue bakal bertahan berapa lama kalau tiap hari deg-degan kayak gini.