Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Ketika Rasa Aman Hanya Ilusi
Mobil patroli Adrian melaju cepat dengan sirene menyala, lalu berhenti tepat di samping mobil Yura yang masih terparkir di tengah jalan.
Adrian langsung turun napasnya memburu, matanya langsung mencari Yura.
Ia melihatnya duduk di kursi pengemudi dengan tangan menutupi wajah, tubuhnya gemetar hebat.
"YURA!" teriak Adrian sambil berlari mendekat.
Ia mengetuk kaca jendela dengan cepat. "Yura! Buka pintunya! Ini aku!"
Yura mengangkat kepalanya matanya merah, basah oleh air mata. Tangannya gemetar saat ia membuka kunci pintu.
Begitu pintu terbuka, Adrian langsung menarik Yura keluar dengan lembut lalu memeluknya erat.
"Kau aman sekarang," bisik Adrian dengan suara bergetar. "Kau aman. Aku di sini."
Yura tidak bisa bicara. Ia hanya menangis tubuhnya gemetar di pelukan Adrian. "Dia… dia di sini, Adi…" suaranya patah-patah. "Dia… menghalangi jalanku… dia… dia mau masuk ke mobilku…"
Adrian mengeratkan pelukannya. "Aku tahu. Aku tahu. Tapi sekarang dia sudah pergi. Kau aman."
Yura menggelengkan kepala keras masih menangis. "Aku tidak aman… dia akan datang lagi… dia… dia tidak akan berhenti…"
Adrian menarik Yura sedikit menjauh, lalu memegang kedua bahunya dengan lembut menatap matanya dengan serius.
"Dengarkan aku, Yura. Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi. Aku janji. Sekarang, kita pergi ke tempat yang aman. Oke?"
Yura mengangguk pelan masih gemetar.
Adrian membantunya masuk ke mobil patroli, lalu menutup pintu dengan lembut.
Ia menatap mobil Yura yang masih terparkir di jalan, lalu memanggil rekannya melalui radio.
"Reza, tolong urus mobil Nona Yura. Parkir di kantor polisi. Aku bawa dia ke tempat aman dulu."
"Siap," jawab Reza dari radio.
Adrian masuk ke mobil patroli, lalu menatap Yura yang duduk di kursi belakang masih gemetar, memeluk dirinya sendiri.
"Kita pergi sekarang," kata Adrian lembut.
Lalu mobil melaju meninggalkan tempat yang baru saja menjadi mimpi buruk bagi Yura.
Di Kantor Polisi Cabang Timur Ruang Istirahat
Adrian membawa Yura ke ruang istirahat yang lebih tenang jauh dari keramaian kantor polisi.
Ia membuatkan teh hangat untuk Yura, lalu duduk di sampingnya dengan ekspresi khawatir.
Yura duduk di sofa dengan selimut di bahunya matanya kosong, menatap ke depan tanpa fokus.
Trauma.
Adrian bisa melihatnya.
Ini bukan lagi sekadar ketakutan biasa.
Ini sudah menjadi luka yang dalam.
"Yura…" panggil Adrian pelan. "Minum dulu. Kau butuh sesuatu yang hangat."
Yura menatap cangkir teh di tangannya, lalu meminumnya perlahan tangannya masih gemetar.
Adrian duduk di sampingnya, menarik napas panjang sebelum bicara. "Yura… aku tahu ini berat untukmu. Tapi kita harus ambil tindakan sekarang. Kita harus menggugat Arkan."
Yura mengangkat kepala menatap Adrian dengan tatapan lelah.
"Menggugat?" tanyanya pelan.
Adrian mengangguk serius. "Iya. Apa yang dia lakukan itu… itu bukan cuma gangguan biasa, Yura. Dia mengikutimu. Dia menghalangi jalanmu. Dia mencoba masuk ke mobilmu. Itu… itu rencana penculikan."
Yura terdiam pikirannya kacau.
Adrian melanjutkan. "Aku punya rekaman ancamannya. Aku punya bukti. Kalau kita laporkan sekarang, kita bisa buat dia dihukum. Kita bisa..."
"Tidak," potong Yura pelan tapi tegas.
Adrian terdiam. "Apa?"
Yura menatap Adrian dengan tatapan lelah matanya memerah. "Aku tidak mau berurusan dengan hukum, Adi. Aku tidak mau… ribet. Aku cuma… aku cuma ingin pergi."
Adrian mengerutkan dahi. "Pergi? Kemana?"
Yura menarik napas gemetar. "Keluar negeri. Atau… pindah ke kota lain. Jauh. Jauh dari Arkan. Aku… aku tidak tahan lagi."
Adrian menatapnya dengan ekspresi prihatin. "Yura… kalau kau kabur, dia akan tetap mencarimu. Pria seperti dia… dia tidak akan berhenti."
"Kau benar!" Yura bicara lebih keras suaranya bergetar. "Tapi aku tidak punya pilihan lain! Aku tidak bisa terus hidup seperti ini! Aku takut, Adi! Aku benar-benar takut!"
Adrian terdiam lalu meraih tangan Yura dengan lembut.
"Aku mengerti," katanya pelan. "Tapi kau tidak sendirian. Aku akan bantu kau. Apapun yang kau putuskan."
Yura menunduk air matanya jatuh lagi.
Tapi kemudian… ia teringat sesuatu.
"Tapi… toko…" bisiknya pelan.
Adrian mengerutkan dahi. "Apa?"
Yura mengangkat kepala matanya berkaca-kaca. "Toko kue itu… itu peninggalan ayahku, Adi. Itu mimpi ayahku. Aku… aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
Adrian terdiam.
Ia mengerti.
Toko itu bukan hanya tempat kerja bagi Yura.
Itu adalah kenangan. Warisan. Impian.
"Tapi kalau aku tetap di sini…" lanjut Yura dengan suara bergetar. "Arkan akan terus datang. Dia akan terus menggangguku. Aku… aku tidak tahu harus bagaimana…"
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan menangis lagi.
Adrian memeluknya dengan lembut membiarkan Yura menangis di bahunya.
"Kita akan cari jalan keluar," bisik Adrian. "Aku janji. Kita akan cari cara untuk kau bisa tetap aman… tanpa harus meninggalkan toko ayahmu."
Yura hanya mengangguk pelan tapi hatinya… masih penuh dengan kebingungan dan ketakutan.
Di Kantor Arkan...
Arkan duduk di kursi kerja megahnya, menatap layar laptop dengan ekspresi tenang terlalu tenang.
Di layar itu… rekaman CCTV dari kantor polisi cabang Timur.
Ya. Arkan punya akses ke CCTV kantor polisi.
Dengan uang dan koneksi yang ia miliki, tidak ada tempat yang benar-benar aman dari jangkauannya. Ia melihat Adrian dan Yura duduk di ruang istirahat.
Ia melihat Adrian bicara dengan serius.
Ia melihat Yura menangis.
Dan ia mendengar melalui mic tersembunyi yang terpasang di ruangan itu semua percakapan mereka.
"Kita harus menggugat Arkan."
"Aku ingin pergi… keluar negeri… jauh dari Arkan."
"Toko kue itu… peninggalan ayahku… aku tidak bisa meninggalkannya."
Arkan tersenyum tipis dingin, penuh kepuasan.
"Jadi… dia ingin kabur," gumamnya pelan. "Tapi dia tidak bisa… karena toko itu peninggalan Ayahnya."
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Kau tidak akan bisa pergi, Yura," bisiknya pelan hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Karena kau terikat. Dengan… aku."
Ia menutup laptop dengan pelan, lalu meraih ponselnya.
Mengetik pesan singkat untuk Bagas:
Arkan:
Beli gedung di seberang toko Yura. Berapa pun harganya. Aku ingin kantor cabang baru di sana.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Bagas:
Baik, Pak. Akan saya urus segera.
Arkan meletakkan ponselnya, lalu tersenyum lagi kali ini lebih lebar.
"Kalau kau tidak bisa pergi… maka aku akan selalu ada di dekatmu."
"Dan cepat atau lambat… kau akan menyadari… bahwa kau tidak punya pilihan lain selain menerimaku."
Sementara itu, di kantor polisi, Yura masih menangis di pelukan Adrian tidak tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan… Sudah didengar oleh pria yang paling ingin ia hindari.