NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:197
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: KEBENARAN YANG HANCURKAN HATI

#

Di dalam rumah kayu itu, kehangatan api di perapian tidak cukup untuk mengusir dingin yang merasuki tulang. Arjuna duduk di kursi kayu sederhana, tubuhnya masih sakit, matanya masih merah dari menangis. Pixel duduk di sudut dengan laptopnya, waspada, belum sepenuhnya percaya pada situasi ini.

Hendrawan menuangkan teh hangat ke tiga cangkir, tangannya sedikit gemetar. Ia terlihat lebih tua dari yang Arjuna ingat. Rambutnya lebih putih, wajahnya lebih keriput, punggungnya sedikit bungkuk. Seperti beban yang ia pikul bertahun-tahun akhirnya menghancurkan tubuhnya perlahan.

"Mulai dari mana ayah harus ceritakan," katanya pelan sambil duduk di kursi di depan Arjuna. "Ada begitu banyak... begitu banyak yang harus kau tahu."

"Mulai dari kenapa," jawab Arjuna, suaranya datar tapi ada marah yang tertahan. "Kenapa kau biarkan aku pikir kau mati. Kenapa kau tidak bawa aku kabur bersamamu. Kenapa kau pilih jalan ini."

Hendrawan menatap cangkir tehnya, tidak berani menatap mata anaknya.

"Karena kalau ayah bawa kamu, Adrian akan kejar kita berdua. Dan ayah tahu... ayah tahu pada akhirnya Adrian akan menemukan kita. Dia selalu menemukan. Dan saat itu terjadi, dia tidak akan bunuh ayah dengan cepat. Dia akan siksa ayah. Perlahan. Menyakitkan. Dan yang lebih buruk... dia akan buat kau nonton."

Arjuna mencengkeram cangkir tehnya kuat. "Jadi kau pikir lebih baik aku pikir kau mati? Pikir aku sendirian di dunia?"

"Ayah pikir dengan begitu kau akan pergi. Akan hidup normal jauh dari kota ini. Akan melupakan ayah dan semua dosa yang ayah buat." Hendrawan akhirnya menatap Arjuna, matanya berkaca-kaca. "Tapi ayah salah. Ayah tidak menghitung kalau kau akan... kalau kau akan sekeras kepala ini. Akan sekuat ini. Akan begitu mirip dengan ayah."

"Aku tidak sepertimu," desis Arjuna. "Aku tidak akan pernah bohong pada orang yang aku sayang seperti yang kau lakukan."

Kata-kata itu menusuk. Hendrawan meringis seperti ditampar.

"Kau benar," bisiknya. "Kau jauh lebih baik dari ayah. Jauh lebih berani. Dan ayah... ayah bangga sekaligus takut melihat itu. Bangga karena kau tumbuh jadi pria yang kuat. Takut karena kekuatan itu akan membawamu ke bahaya yang sama yang menghancurkan ayah."

"Bahaya yang kau ciptakan sendiri," tambah Pixel dari sudut ruangan. "Bahaya yang muncul karena kau memilih bermitra dengan monster."

Hendrawan menoleh ke Pixel, mengangguk pelan. "Kau benar, anak muda. Ini semua salah ayah. Dua puluh lima tahun lalu, ayah bertemu Adrian. Dia masih muda waktu itu. Ambisius. Pintar. Tapi miskin. Ayah punya uang, punya koneksi, tapi tidak punya keberanian untuk membangun kerajaan bisnis. Jadi kami bermitra."

Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap kabut tebal di luar.

"Awalnya bisnis kami legal. Import-export barang elektronik. Tapi untungnya tidak cukup untuk Adrian. Dia mau lebih. Lebih cepat. Jadi dia usul... dia usul untuk diversifikasi. Ke bisnis yang lebih menguntungkan. Ke bisnis yang tidak dicatat pemerintah."

"Perdagangan senjata," kata Arjuna pelan.

"Awalnya senjata, ya. Ayah bilang pada diri sendiri itu tidak terlalu buruk. Cuma jual senjata ke negara-negara yang butuh untuk pertahanan. Tapi kemudian Adrian mulai jual ke pemberontak. Ke teroris. Ke siapa saja yang mau bayar. Dan uangnya... ya Tuhan, uangnya mengalir begitu deras."

Hendrawan berbalik, wajahnya penuh penyesalan.

"Ayah terlena. Terlena oleh uang. Oleh kemewahan. Ayah beli rumah besar. Mobil mahal. Kasih ibumu semua yang dia mau. Dan ayah tutup mata pada dari mana uang itu datang. Sampai..."

Suaranya bergetar.

"Sampai suatu malam ayah lihat sendiri. Lihat gudang penuh dengan kontainer. Dan di dalam kontainer itu... bukan senjata. Tapi orang. Puluhan orang. Wanita dan anak-anak. Mata mereka kosong. Tubuh mereka kurus. Beberapa sudah mati."

Arjuna merasa perutnya mual. "Perdagangan manusia."

"Adrian bilang itu tambahan penghasilan. Bilang kalau orang-orang itu sudah tidak punya harapan di negara asalnya. Jadi lebih baik dijual ke orang yang mau kasih mereka pekerjaan. Tapi ayah tahu itu bohong. Ayah tahu mereka akan jadi budak. Atau lebih buruk."

"Dan kau tetap diam?" Pixel berdiri, suaranya naik. "Kau lihat itu dan tidak melakukan apa-apa?"

"Ayah pengecut," jawab Hendrawan, suaranya datar sekarang. "Ayah takut. Takut kalau ayah lapor, Adrian akan bunuh ayah. Bunuh keluarga ayah. Jadi ayah diam. Ayah terus diam selama bertahun-tahun sambil Adrian membangun kerajaannya yang semakin besar. Semakin gelap."

Ia duduk lagi, kepalanya tertunduk.

"Sampai sepuluh tahun lalu. Ibu Arjuna meninggal melahirkan. Dan di pemakaman, sambil ayah tatap peti jenazah istri yang ayah cintai, ayah sadar... sadar kalau ayah membangun kekayaan dengan darah orang tidak bersalah. Dengan menghancurkan keluarga orang lain seperti keluarga ayah hancur."

"Jadi kau memutuskan untuk mengkhianati Adrian," kata Arjuna.

"Ayah mencuri. Mencuri semua data yang bisa ayah akses. Transaksi. Nama pembeli. Lokasi gudang. Video. Foto. Dokumen keuangan. Semua. Dan ayah kabur. Ayah pikir... ayah pikir dengan data itu ayah bisa bongkar Adrian. Kasih ke media. Ke polisi yang jujur."

"Tapi tidak ada polisi jujur," tambah Pixel pahit. "Karena Adrian sudah beli semuanya."

"Tepat. Ayah coba beberapa wartawan. Beberapa polisi. Hakim. Bahkan anggota parlemen. Tapi semua sudah di kantong Adrian. Yang tidak dibeli, dibunuh. Dalam tiga bulan, lima orang yang ayah hubungi mati dalam 'kecelakaan'. Dan ayah sadar... sadar kalau ayah tidak bisa lawan dia dari dalam sistem."

Hendrawan menatap Arjuna dengan mata penuh penyesalan.

"Jadi ayah sembunyi. Ayah bawa kau ke desa kecil yang tidak ada di peta. Desa Harapan Baru. Dan ayah hidup sederhana di sana sambil terus mengumpulkan bukti. Sambil tunggu waktu yang tepat untuk menyerang."

"Tapi Adrian menemukan kau," bisik Arjuna. "Dia bakar desa. Dia bunuh semua orang."

"Karena ada yang membocorkan lokasi ayah." Hendrawan mengepalkan tangannya. "Seseorang yang ayah percaya. Yang ayah pikir teman. Ternyata mata-mata Adrian sejak awal."

"Siapa?"

"Kepala desa. Pak Darno. Pria yang selalu tersenyum. Yang selalu baik pada semua orang. Ternyata dia yang kasih tahu Adrian dimana ayah sembunyi. Dan sebagai imbalannya, Adrian kasih dia uang. Uang yang cukup untuk hidup nyaman selamanya."

Arjuna ingat Pak Darno. Ingat pria tua yang sering kasih dia mangga. Yang sering ngobrol dengan ayahnya di teras. Yang... yang mayatnya juga ia lihat di reruntuhan desa.

"Tapi Adrian bunuh dia juga," katanya pelan.

"Karena Adrian tidak pernah tinggalkan saksi," jawab Hendrawan. "Siapapun yang tahu rahasianya, siapapun yang bekerja untuknya, pada akhirnya akan dibunuh. Itulah cara dia tetap aman selama ini."

"Lalu bagaimana kau selamat?" tanya Pixel. "Kalau Adrian bakar desa, bagaimana kau bisa kabur?"

"Ayah tidak di desa saat itu terjadi." Hendrawan berdiri lagi, berjalan ke lemari kayu di sudut ruangan, buka, keluarkan hardisk eksternal yang sudah lusuh. "Ayah pergi ke kota sebelah untuk bertemu dengan seorang jurnalis investigasi. Jurnalis yang ayah pikir bisa dipercaya. Dan saat ayah pulang..."

Suaranya patah.

"Saat ayah pulang, desa sudah jadi abu. Semua orang yang ayah kenal. Semua orang yang pernah baik pada ayah. Mati. Dan ayah... ayah tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdiri di sana dan menangis."

"Tapi kau tidak cari aku," kata Arjuna, suaranya bergetar. "Kau tidak coba cari apakah aku selamat atau tidak."

"Ayah tahu kau selamat!" Hendrawan berbalik cepat. "Ayah sudah lacak. Sudah tanya orang. Ayah tahu kau pergi ke kota sebelum pembakaran. Ayah tahu kau aman. Dan ayah... ayah memutuskan untuk tidak menghubungimu karena ayah takut Adrian akan gunakan kau untuk jebak ayah."

"Jadi kau pilih ayah daripada anakmu sendiri," bisik Arjuna. "Pilih perjuanganmu daripada keluargamu."

"TIDAK!" Hendrawan berteriak, air matanya jatuh. "Ayah memilihmu! Ayah pilih keselamatanmu! Karena kalau ayah muncul, kalau ayah hubungi kau, Adrian akan tahu! Dia akan tangkap kau! Dia akan siksa kau untuk paksa ayah keluar! Dan ayah... ayah tidak sanggup lihat itu terjadi!"

"Tapi aku tetap disiksa," kata Arjuna, berdiri sekarang meski kakinya goyang. "Aku tetap hampir mati berkali-kali. Aku kehilangan teman. Kehilangan rumah. Kehilangan Sari. Jadi rencanamu untuk lindungi aku? GAGAL TOTAL!"

Mereka berdiri berhadapan. Ayah dan anak. Sama-sama terluka. Sama-sama marah. Sama-sama hancur.

Pixel berdiri di antara mereka. "Cukup. Kalian berdua cukup. Bertengkar tidak akan selamatkan Sari. Tidak akan jatuhkan Adrian. Jadi berhenti saling menyalahkan dan mulai fokus pada apa yang bisa kita lakukan SEKARANG."

Hening. Lalu Hendrawan duduk lagi, wajahnya di tangan. Arjuna juga duduk, tubuhnya tidak kuat berdiri lebih lama.

"Kau benar," kata Hendrawan akhirnya. "Kita harus fokus. Ayah... ayah punya semua bukti yang kita butuh untuk jatuhkan Adrian. Ada di hardisk ini." Ia taruh hardisk di meja. "Tapi ada satu masalah."

"The Protocol," kata Pixel. "Kau sebut itu di email."

"Ya. The Protocol." Hendrawan menatap mereka serius. "Itu sistem pertahanan terakhir Adrian. Sistem AI yang terkoneksi dengan infrastruktur vital negara ini. Listrik. Air. Telekomunikasi. Transportasi. Rumah sakit. Semuanya."

"Tunggu," Pixel melangkah maju. "Kau bilang Adrian punya akses ke semua itu?"

"Bukan akses. Dia KONTROL semua itu. Lewat backdoor yang dia pasang selama bertahun-tahun. Lewat suap pada orang-orang kunci di setiap institusi. Dia bisa matikan listrik seluruh negara dengan satu klik. Bisa tutup akses air bersih. Bisa buat kereta tabrak. Bisa lumpuhkan rumah sakit."

"Ya Tuhan..." bisik Pixel.

"Dan The Protocol diprogram untuk aktif otomatis kalau Adrian terancam. Kalau nyawanya dalam bahaya. Kalau kekuasaannya akan runtuh. Sistem itu akan melumpuhkan seluruh negara. Jutaan orang akan mati. Chaos total. Dan Adrian akan gunakan chaos itu untuk kabur. Untuk memulai dari awal di negara lain."

Arjuna menatap hardisk di meja. "Jadi kalau kita bongkar dia dengan bukti ini... kalau kita buat dia terancam..."

"Dia akan aktifkan The Protocol," jawab Hendrawan. "Dan negara ini akan jadi neraka."

"Lalu apa gunanya semua bukti ini?!" Arjuna pukul meja. "Apa gunanya kalau kita tidak bisa pakai tanpa bunuh jutaan orang?!"

"Itulah kenapa ayah belum bertindak selama ini," jawab Hendrawan lelah. "Itulah kenapa ayah cuma bisa sembunyi dan mengumpulkan lebih banyak info. Karena ayah tidak tahu bagaimana menghentikan Adrian tanpa memicu The Protocol."

"Tapi pasti ada cara," kata Pixel. Ia ambil hardisk itu, colokkan ke laptopnya. "Pasti ada celah. Setiap sistem punya kelemahan. Secanggih apapun."

"Ayah sudah cari selama sepuluh tahun," kata Hendrawan. "Tidak ada celah. Adrian terlalu pintar. Terlalu hati-hati."

"Maka kita harus lebih pintar." Pixel mulai mengetik cepat. "Kita harus hack The Protocol sebelum kita serang Adrian. Matikan sistemnya. Baru kita bongkar dia."

"Kau pikir itu mudah?" Hendrawan menggeleng. "The Protocol dijaga oleh AI defense terkuat yang pernah dibuat. Firewall berlapis. Enkripsi militer. Trap di setiap akses. Kalau kau coba hack dan gagal, sistem akan langsung tahu. Dan Adrian akan tahu."

"Maka aku tidak boleh gagal," jawab Pixel, matanya tidak lepas dari layar. "Dan aku butuh akses fisik ke server pusat. Dimana itu?"

"Di markas utama Axion Corporation. Lantai bawah tanah. Dijaga 24 jam."

"Tentu saja," Pixel tertawa pahit. "Kenapa tidak sekalian di bulan saja."

Arjuna menatap ayahnya. "Ada cara lain?"

Hendrawan terdiam lama. Terlalu lama. Lalu ia mengangguk pelan.

"Ada satu cara. Cara yang sangat berbahaya. Cara yang kemungkinan besar akan bunuh kita semua."

"Apa?"

"Kita tidak hack The Protocol," jawab Hendrawan pelan. "Kita biarkan Adrian mengaktifkannya. Kita biarkan chaos terjadi. Dan di tengah chaos itu, saat Adrian pikir dia menang, saat dia lengah..."

Hendrawan menatap Arjuna dengan mata yang dingin.

"Kita bunuh dia. Kita bunuh Adrian Mahendra dengan tangan kita sendiri. Dan tanpa dia, The Protocol akan shutdown otomatis dalam 24 jam. Negara akan chaos satu hari. Banyak yang akan mati. Tapi tidak sebanyak kalau The Protocol terus aktif."

"Kau gila," bisik Arjuna. "Kau mau korbankan ribuan orang hanya untuk bunuh satu orang?"

"Kadang dalam perang, kau harus pilih antara kehilangan ribuan atau kehilangan jutaan," jawab Hendrawan. "Dan ini perang, Arjuna. Perang yang tidak bisa kita menang dengan cara bersih."

Arjuna berdiri, berjalan menjauh. Ia tidak bisa percaya apa yang ia dengar. Ayahnya... ayahnya mau bunuh orang. Tidak peduli berapa banyak korban.

"Ini bukan cara yang benar," katanya.

"Tidak ada cara yang benar," jawab Hendrawan. "Yang ada cuma cara yang berhasil dan cara yang gagal. Dan ayah sudah lelah gagal."

Pixel menutup laptopnya. "Ada pilihan ketiga."

Mereka berdua menoleh.

"Kita selamatkan Sari dulu," kata Pixel. "Kita infiltrasi mansion Adrian. Kita bawa Sari keluar. Lalu kita pikirin cara jatuhkan Adrian setelah itu. Satu langkah pada satu waktu."

"Itu bahkan lebih berbahaya," kata Hendrawan. "Mansion Adrian seperti benteng. Tidak mungkin masuk tanpa ketahuan."

"Maka kita butuh bantuan dari dalam," jawab Pixel. Ia menatap Arjuna. "Dan kita punya seseorang di dalam. Sari."

"Sari tidak punya cara untuk hubungi kita," kata Arjuna. "Dan ponselnya pasti sudah diambil Adrian."

"Tapi dia pintar," kata Pixel. "Dia akan cari cara. Kita cuma harus tunggu sinyal darinya."

"Dan kalau dia tidak bisa kasih sinyal?" tanya Hendrawan. "Kalau dia sudah... sudah tidak bisa melawan lagi?"

Arjuna menatap api di perapian. Menatap apinya yang bergerak-gerak, mengingatkannya pada api yang membakar desanya.

"Maka kita tetap datang," katanya pelan tapi tegas. "Kita tetap selamatkan dia. Karena itu yang teman lakukan. Itu yang keluarga lakukan. Bahkan kalau itu berarti kita harus mati."

Hendrawan menatap anaknya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum. Senyum yang bangga.

"Kau memang anakku," bisiknya. "Bodoh tapi berani. Persis seperti ayah dulu sebelum ayah jadi pengecut."

"Kau bukan pengecut," kata Arjuna, meski masih ada marah di suaranya. "Kau cuma manusia yang membuat pilihan buruk. Dan sekarang... sekarang kita akan perbaiki pilihan itu. Bersama-sama."

Mereka duduk di sekitar meja, menatap hardisk yang berisi harapan dan kehancuran.

Dan mereka tahu.

Mereka tahu apapun yang terjadi, apapun yang mereka pilih, banyak orang akan mati.

Pertanyaannya bukan apakah mereka bisa menang tanpa korban.

Pertanyaannya adalah apakah mereka bisa hidup dengan pilihan yang mereka buat.

Dan apakah Sari masih bisa bertahan sampai mereka datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!