Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Bayang-Bayang di Pegunungan Alpen
Suara ledakan dari sistem keamanan Bank von Grueber terdengar seperti guntur yang jauh di belakang mereka saat SUV hitam yang dikemudikan Enzo melesat menembus jalanan Zurich yang mulai tertutup salju. Aruna duduk di kursi belakang, tubuhnya gemetar bukan karena kedinginan, melainkan karena syok. Di tangannya, ia masih mendekap map cokelat yang terasa seperti benda paling berat di dunia.
Dante duduk di sampingnya, memegang lengan Aruna yang masih kaku. Darah dari luka Dante merembes ke kemejanya, tapi ia tidak mempedulikannya. Matanya terus menatap spion, memastikan tidak ada unit kepolisian Zurich atau tentara bayaran Julian yang mengikuti mereka.
"Elena..." bisik Aruna, suaranya nyaris hilang ditelan deru mesin. "Dia masih di sana. Dia mengunci dirinya sendiri..."
"Dia memilih jalannya, Aruna," suara Dante rendah, penuh penyesalan yang tertahan. "Dia tahu bahwa selama Proyek Icarus ada, kau tidak akan pernah aman. Dia menghancurkan kuncinya dengan nyawanya sendiri."
Aruna menutup matanya, dan yang ia lihat hanyalah tatapan terakhir Elena—tatapan seorang wanita yang akhirnya menemukan cara untuk memiliki identitasnya sendiri dengan cara menghancurkan dunia yang menciptakannya. Air mata Aruna jatuh menetes di atas sampul map yang bertuliskan kode ICARUS-00.
"Enzo, seberapa jauh tim bantuan?" tanya Dante.
"Lima kilometer lagi menuju titik jemput di kaki Alpen, Tuan. Helikopter medis sudah menunggu. Tapi kita punya masalah. Julian Thorne selamat, dan dia sudah mengeluarkan 'Red Notice' melalui jaringan bayangannya. Kita bukan lagi pelarian mafia; di mata dunia, kita adalah teroris yang menyerang sistem finansial Swiss."
Dante mengumpat pelan. Permainan ini telah berpindah dari gang gelap ke panggung global.
Dua jam kemudian, mereka tiba di sebuah pondok kayu tersembunyi yang bertengger di lereng curam Alpen Swiss. Tempat itu dikelilingi oleh salju abadi dan hutan pinus yang lebat, memberikan perlindungan visual dari pengawasan udara. Di dalam pondok, Hadi Kirana dan Bumi sudah menunggu dengan kecemasan yang mendalam.
Saat Aruna melangkah masuk, Bumi segera berlari dan memeluk kaki ibunya. Aruna berlutut, memeluk putranya erat-erat, menghirup aroma rambut Bumi yang masih berbau seperti bedak bayi—satu-satunya hal yang masih terasa murni di dunia yang kotor ini.
"Ibu... di mana Bibi yang wajahnya mirip Ibu?" tanya Bumi polos.
Aruna terdiam sejenak, tenggorokannya tercekat. "Bibi... sedang pergi ke tempat yang sangat jauh, Sayang. Dia pergi untuk memastikan kita bisa tidur dengan tenang."
Hadi Kirana mendekat, menatap wajah Aruna yang penuh luka gores. Ia tahu tanpa harus bertanya. "Elena?"
Aruna hanya menggeleng pelan sambil meneteskan air mata. Hadi jatuh terduduk di kursi kayu tua, menutupi wajahnya dengan tangan yang gemetar. Penyesalan seorang ayah yang telah membuang salah satu anaknya kini mencapai puncaknya.
Dante memberikan isyarat pada Enzo untuk menjaga perimeter luar. Ia kemudian mendekati Aruna. "Kau harus membaca dokumen itu sekarang. Kita perlu tahu apa yang kau ambil sebelum Julian menemukan cara untuk membungkam kita selamanya."
Aruna duduk di meja kayu kecil, diterangi oleh lampu minyak dan cahaya api dari perapian. Ia membuka map cokelat itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran kertas yang sudah menguning, foto-foto hitam putih, dan sebuah laporan tertutup berjudul “The Satria Initiative”.
Mata Aruna terbelalak saat membaca nama suaminya di sana.
"Dante... lihat ini," ucap Aruna, suaranya bergetar karena amarah.
Dante membaca dokumen tersebut melewati bahu Aruna. Laporan itu menjelaskan bahwa Satria Kirana bukanlah sekadar mata-mata yang dikirim Julian atau Marco. Satria adalah bagian dari eksperimen Icarus sejak awal. Dia adalah anak yatim piatu yang dipersiapkan oleh sindikat lama untuk menjadi "penjaga gerbang" Dana Abadi.
Namun, bagian yang paling menghancurkan adalah sebuah catatan kaki di halaman terakhir:
“Subjek Satria menunjukkan tanda-tanda pembangkangan setelah menikahi Aruna Kirana. Dia mencoba melarikan diri dengan membawa kode enkripsi utama. Keputusan: Eliminasi melalui pihak ketiga untuk menjaga kerahasiaan. Pelaksana yang disarankan: Marco melalui perantara anonim.”
Dan di bawahnya, terdapat tanda tangan pemberi instruksi. Bukan Julian Thorne. Bukan ayah Dante.
"Ini..." Aruna menunjuk pada inisial di bawah instruksi itu. H.K.
Aruna perlahan menoleh ke arah ayahnya, Hadi Kirana, yang sedang duduk di sudut ruangan. "H.K.?"
Hadi mendongak, matanya yang tadi penuh duka kini berubah menjadi hampa. "Aruna, aku bisa menjelaskan—"
"Ayah yang membunuhnya?!" teriak Aruna, berdiri hingga kursinya terjatuh. "Ayah yang memerintahkan Marco untuk membunuh Satria?! Kenapa?! Dia melindungiku! Dia mencintaiku!"
Dante segera mencabut pistolnya dan mengarahkannya ke arah Hadi. Enzo masuk ke dalam ruangan dengan senjata siap tembak.
"Katakan yang sebenarnya, Tua Bangka!" bentak Dante.
Hadi menghela napas panjang, ia tampak tidak takut pada moncong pistol. "Satria ingin menghancurkan Dana Abadi itu, Aruna. Dia ingin menyerahkan semua kodenya pada pemerintah. Jika dia melakukannya, Julian Thorne akan memburu kita sampai ke lubang cacing manapun. Aku melakukannya untuk melindungimu! Jika Satria mati, kode itu tetap aman bersamamu tanpa ada yang tahu!"
"Kau membunuh menantumu sendiri, ayah dari cucumu, demi harta yang terkutuk ini?!" Aruna melempar map itu ke arah Hadi. "Kau tidak lebih baik dari Marco! Kau tidak lebih baik dari Julian!"
"Aku melakukannya demi darah Kirana!" teras Hadi. "Aku sudah kehilangan Elena, aku tidak ingin kehilanganmu juga karena kebodohan Satria yang ingin menjadi pahlawan!"
Aruna merasa dunianya hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya. Pria yang ia selamatkan dari pelabuhan, pria yang ia anggap sebagai satu-satunya keluarganya yang tersisa, adalah dalang di balik tragedi terbesarnya.
Tiba-tiba, suara gemuruh helikopter terdengar sangat dekat. Cahaya lampu sorot membedah kegelapan Alpen, menembus jendela-jendela pondok.
"Mereka di sini!" teriak Enzo. "Julian Thorne! Dia menggunakan pelacak pada dokumen itu!"
"Enzo, bawa Bumi ke terowongan bawah tanah sekarang!" perintah Dante. Ia menarik tangan Aruna yang masih terpaku. "Aruna! Kita harus bergerak! Kita urus ayahmu nanti!"
"Tidak," ucap Aruna dingin. Ia mengambil pistol yang terjatuh di lantai. "Dia tidak akan ikut dengan kita."
Aruna menatap Hadi. "Ayah ingin melindungi darah Kirana? Maka tetaplah di sini dan hadapi apa yang Ayah ciptakan."
Aruna menarik Dante keluar menuju pintu belakang tepat saat pintu depan pondok hancur diterjang ledakan. Tim taktis Julian Thorne menyerbu masuk.
Di tengah salju yang menderu, Aruna dan Dante berlari menuju tebing di mana jalur pelarian darurat berada. Aruna menoleh ke belakang sejenak, melihat pondok itu terbakar hebat. Ia tidak tahu apakah ayahnya selamat atau tidak, dan anehnya, ia tidak peduli lagi.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Dante di tengah badai salju.
Aruna menatap dokumen di tangannya yang sempat ia selamatkan. "Ke satu-satunya orang yang bisa membantu kita menghancurkan Julian dari dalam. Kita akan mencari istri Julian Thorne yang dia sembunyikan di biara Italia. Dia memegang kunci terakhir untuk meruntuhkan kekaisaran finansial Julian."