NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Standar Ganda

Ayza tak berkata apa-apa. Ia melangkah mendekat ke meja dan menarik kursi di samping Fahri, duduk tanpa tergesa. Tangannya meraih laptop itu, jarinya bergerak ringan di touchpad.

Ia membaca layar lama. Terlalu lama.

Fahri menatapnya gelisah. “Kenapa? Susah, 'kan? Udah, kagak usah sok tahu.” ia terlihat makin frustrasi.

Ayza tak menjawab, ia membuka satu tab baru, lalu satu folder di laptop Fahri.

“Kamu upload KK yang lama,” ucapnya akhirnya.

Fahri menoleh cepat. “Hah? Masa sih?”

Ayza memiringkan layar sedikit agar Fahri bisa melihat. “Ini KK sebelum ayah kamu ganti ejaan nama. Di ijazah pakainya yang baru. Sistem baca itu sebagai dua orang berbeda.”

Fahri terdiam.

Ayza membuka ponselnya, mengetik cepat. “Sekolah lama kamu masih simpan arsip digital?”

“Harusnya…” jawab Fahri ragu.

“Telepon TU-nya. Minta surat keterangan beda ejaan nama. Format PDF. Cap basah difoto juga bisa.”

Fahri mengerjap. “Lo kok tahu?”

Ayza tetap fokus ke layar. “Pernah bantu murid ngurus beasiswa.”

Tanpa menunggu reaksi Fahri, Ayza menyusun ulang berkas:

• rename file

• menyatukan PDF

• memberi keterangan tambahan di kolom catatan

Matanya fokus ke layar, tangannya bergerak tenang, tidak panik seperti Fahri.

Sementara Fahri segera menghubungi pondok pesantrennya. Beruntung ia segera mendapatkan apa yang diminta Ayza.

“Gue kirim PDF-nya." ujar Fahri.

"Oke," sahut Ayza tanpa menoleh.

"Waktu tinggal dua puluh menit,” gumam Fahri.

Ia menatap layar laptop tanpa berkedip. Tangannya menggenggam ponselnya lebih kuat dari seharusnya.

Ayza menekan tombol submit.

Mereka menunggu. Layar memuat. Detik terasa lambat. Lalu—

Pendaftaran Berhasil.

Fahri menatap layar itu lama. Seolah tak percaya.

“Masuk…?” suaranya hampir berbisik.

Ayza menghela napas pelan. “Masuk.”

Sejenak kamar itu sepi tanpa suara.

Fahri mengusap wajahnya kasar. “Gila…”

Ia menoleh ke Ayza, ekspresinya kikuk. Mau ngomel, tapi tak tahu harus mulai dari mana.

“…Thanks,” katanya akhirnya, nyaris tak terdengar.

Ayza berdiri, mengambil keranjang kosongnya. “Sama-sama.”

Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sebentar. Tanpa menoleh ia berkata, “Kalau nanti ada kendala lagi bilang saja. Jangan dipendam.”

Pintu tertutup.

Fahri terduduk di kursinya, pandangannya kembali ke layar laptop. Lalu ia tertawa hambar.

“Cewek yang gue remehin… justru satu-satunya yang bisa diandelin.”

***

Fahri duduk di atas motornya di depan minimarket. Mesin masih menyala. Dua temannya berjajar di samping, masing-masing di motor mereka.

“Ri, racing yuk,” celetuk Bagus.

“Dapat apaan?” Fahri mendecak. “Kalau cuma satu–dua juta, ogah gue.”

“Sepuluh jeti, Bro,” sahut Fikri.

Fahri menyeringai. “Boleh juga.” ia menoleh. “Di mana?”

“Sebelah utara kota. Tempat biasa,” jawab Bagus.

“Oke.” Fahri mengeluarkan ponsel mengetik cepat. “Gue kabarin orang rumah dulu.”

"Hah?!" Fikri mendelik. “Lo mau bilang mau balapan liar?”

“Yakin lo?” tanya Bagus.

Fahri melambaikan tangan malas. “Lo kira gue udah gak waras?”

Fikri mengangkat sebelah alis. "Terus?"

Fahri mendengus. “Gue cuma mau bilang gue gak makan malam di rumah. Soalnya ada yang ngoceh kalau gak ngasih kabar.”

“Ribet amat hidup lo,” celetuk Fikri.

“Nasib,” sahut Fahri ringan.

Bagus menyenggol lengannya. “Eh, Ri… itu bukannya kakak lo ya?”

“Hah?” Fahri mengangkat kepala. "Mana?"

“Itu." kata Bagus. "Yang baru keluar minimarket.”

“Iya, bener. Kakak lo,, tuh,” timpal Fikri, lalu bersiul. “Buset… mesra amat. Ngiri gue,”

“Sesekali nganan, bro. Biar gak nabrak,” canda Bagas.

Fahri menoleh ke arah minimarket. Wajah Reza yang tertawa kecil terlihat jelas. Tangannya melingkar di pinggang seorang wanita. Terlalu dekat, terlalu santai. Terlalu… bukan seperti laki-laki yang sudah menikah.

Dada Fahri tiba-tiba terasa panas. "Dia udah nikah, tapi pelukan sama cewek lain di luar rumah?" batinnya. "Bastard! Kakak macam apa tuh."

Ia memalingkan wajah, rahangnya mengeras. "Gue emang bermasalah dalam banyak hal." batinnya, tangannya mencengkram stang lebih erat dari seharusnya. "tapi gue paling benci satu hal, laki-laki sok benar, tapi kelakuannya lebih busuk dari yang ia cela. Munafik."

***

Di jalur utara, suasana ramai oleh muda mudi. Beberapa motor berjajar di garis start, knalpot meraung, adrenalin menebal di udara.

“Siap, Ri?” teriak seseorang.

Fahri mengangguk, helmnya sedikit menunduk. Tangannya yang dibungkus sarung tangan kulit mencengkeram setang kuat-kuat.

Namun sesaat sebelum bendera dijatuhkan, bayangan itu menyusup tanpa izin.

Kakaknya, Reza, yang tertawa kecil sambil memeluk wanita lain di depan minimarket. Terlalu dekat dan mesra jika disebut rekan kerja atau teman.

"Udah nikah," dengus Fahri dalam hati. "Tapi gak tahu batas."

Motornya digeber, rahangnya mengeras, dadanya panas.

Bendera turun.

Brumm...

Motor Fahri melesat paling depan, jalanan itu bagai musuh yang harus ditaklukkan. Gas ditarik makin dalam, kecepatan naik gila-gilaan, jarak pandang menyempit. Lampu merah diterobos. Klakson dan makian bersahutan.

“Gila, Ri! Bosan hidup lo!” teriak temannya.

Tapi Fahri justru menarik gas lebih dalam.

"Gue bandel, iya. Tapi gue gak munafik," teriaknya ditelan suara mesin dan angin malam.

Dinginnya udara malam mulai menusuk tulang ketika Fahri memacu motornya di jalur utara. Lampu jalan berderet seperti garis tak putus, angin menampar wajahnya di balik helm full face.

Mesin meraung di telinganya. Jantungnya berdentam tak karuan. Dalam kepalanya hanya ada satu kalimat yang berputar-putar:

Kalau Ayza tahu…

Entah kenapa, justru wajah perempuan bercadar itu yang muncul. Suaranya dan tatapannya yang selalu tenang. Lebih banyak diam dan tidak pernah berteriak.

Mengingatnya membuat Fahri makin memutar gas.

"Gue benci punya kakak kayak elu!" teriak Fahri seolah Reza ada di depannya.

Dari pertigaan, sebuah mobil tiba-tiba muncul. Fahri sudah terlalu kencang untuk berhenti. Motor itu melesat seperti kilat.

Mobil tersebut membanting setir ke kiri.

“Brengsek!” umpat pengemudinya.

Reza.

Tanpa pikir panjang, ia menginjak gas, refleks mengejar bayangan motor yang nyaris membuatnya celaka.

"Dia pikir jalan ini milik nenek moyangnya apa?" gerutunya tanpa sadar mencengkram stir lebih erat.

Satu. Dua. Tiga motor menyalip.

"Anak-anak berandalan ini..." geramnya menyadari motor yang ia kejar sedang balapan.

Reza makin menekan pedal gas, matanya terpaku ke depan.

Hingga di perempatan lampu merah, dari sebelah kiri jalan lampu truk gandeng menyala.

Fahri membulatkan matanya. "Sial." Ia menarik rem sekuat tenaga.

Namun jarak sudah terlalu dekat.

 

...🔸🔸🔸...

..."Ada orang yang terlihat paling benar, tapi justru paling sering melanggar batas."...

..."Ia tak pernah berteriak....

...Namun keheningannya selalu menemukan sasaran."...

..."Kesalahan tidak selalu lahir dari kebencian. Kadang dari rasa muak."...

..."Ia ingin memberi pelajaran,...

...tanpa sadar dirinya adalah contoh yang paling gagal."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dew666
💎🌹
Dek Sri
lanjut
Anitha Ramto
tentu saja si Zahra menghindar buru² karena tidak mau merawatmu dan kamu akan menjadi beban buat si Zahra.

Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍
Mundri Astuti
emang y love is blind, jadi bikin org ilang ke warasannya macam si Reza
Hanima
lama amat Thor sadarrrr nya 🤭
Diana Dwiari
dr situ dah keliatan kan bahwA wanita yg kamu kejar hanya mau senangnya saja.....makan tuh jalangmu
Felycia R. Fernandez: tapi sayangnya Reza kuat nafsu kk,bukan cari yang beneran tulus 😆😆😆
total 1 replies
Jumi Saddah
nah kapan semua akan terungkap,,,pasti kita bilang wow gitu😄
Sugiharti Rusli
karena sekali lagi apa yang diucapkan oleh Fahri menemukan kebenaran, dia hanya berperan sebagai art bagi Reza,,,
Sugiharti Rusli
entah bagaimana nanti kali Ayza lebih memilih lepas dari si Reza setelah dia sembuh,,,
Sugiharti Rusli
dan Ayza tahu ini bukan awal akan tumbuhnya perasaannya terhadap suaminya itu sih,,,
Sugiharti Rusli
sedang Ayza istri yang dipilihkan oleh kedua ortu kamu yang tidak pernah kamu anggap, dia tetap hadir ke rumah sakit meski sudah tengah malam
Sugiharti Rusli
kita lihat nanti tanggapan perempuan pilihan kamu sendiri Reza yang katanya sangat kamu cintai sampai mau berzinah
Puji Hastuti
Ayza kenapa kamu masih mau peduli sih!
Puji Hastuti
Siapa yang nelpon reza? Zahra kah?
Sugiharti Rusli
entah apa nanti yang akan Ayza tanggapi dengan kejadian yang menimpa 'suami' nya itu, bahkan si Zahra yang sudah pernah Reza sentuh belum tentu mau merawatnya
Sugiharti Rusli
ternyata Allah memiliki takdirnya sendiri dengan apa yang menimpa si Reza sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
teman" nya tidak tahu apa yang sejatinya Fahri jaga dan sembunyikan, karena bisa jadi itu akan membuka aib keluarganya sendiri
Sugiharti Rusli
dia sangat tahu kalo ketidak jelasan siapa orang yang akan membuatnya bisa masuk, bukan itu yang dia tuju karena baginya kejujuran adalah prinsip yang suatu saat malah bisa menekannya bila dia berhasil
Sugiharti Rusli
sepertinya Fahri memang sangat keras memegang prinsip yang diyakininya sih
Sugiharti Rusli
Fahri ga mungkin melarang teman" memasuki jalur pintas dari orang yang sudah dia ga respek karena prinsipnya itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!