Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. KEPUTUSAN
Ruang audiensi istana diselimuti keheningan yang berat.
Langit-langit tinggi berornamen emas memantulkan cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela besar, namun kemegahan itu tak mampu menyamarkan suasana tegang yang tercipta di antara tiga pria yang duduk mengelilingi meja bundar dari kayu hitam.
Alaric Ravens duduk berseberangan dengan penguasa negeri. Wajahnya keras, sorot matanya dingin, tatapan seorang pria yang telah melihat kehancuran dengan matanya sendiri.
Di hadapannya, Kaisar tampak mengernyit dalam, jemarinya menggenggam sandaran kursi. Di sisi sang Kaisar duduk Caelum, Putra Mahkota sekaligus keponakan Alaric, dengan ekspresi serius yang jarang terlihat di wajahnya yang biasanya ceria.
"Jadi," suara Kaisar akhirnya terdengar, berat dan dalam, "kau mengatakan benteng perbatasan timur ... telah runtuh?"
"Bukan runtuh karena perang," jawab Alaric. "Melainkan karena dibiarkan membusuk dari dalam."
Alaric mengangkat kepala, menatap langsung ke arah Kaisar.
"Aku baru mendengar hal ini," ujar kaisar.
"Para penjaga melarikan diri. Tidak ada pasokan. Tidak ada bala bantuan. Monster menembus batas dan merusak pertahanan satu per satu," beritahu Alaric.
Kaisar terdiam cukup lama.
"Laporan yang masuk ke istana," gumamnya akhirnya, "selalu menyatakan wilayah timur stabil. Baik dari hasil panen sampai wilayah perbatasan."
"Direkayasa," potong Alaric tanpa ragu. "Semua laporan itu palsu. Karena aku melihat sendiri beberapa desa di wilayah timur begitu miskin."
Caelum mengepalkan tangannya. "Itu masuk akal."
Kaisar menoleh ke arah putranya. "Apa maksudmu, Caelum?"
Putra Mahkota melangkah maju setengah langkah. "Sebagian besar penguasa wilayah timur berasal dari kelompok lama yang sejak awal kontra terhadap kerajaan pusat. Mereka patuh di atas kertas, tapi bergerak berlawanan di balik layar."
Alaric menatap Caelum sekilas. Ia tahu keponakannya itu tidak berbicara tanpa dasar jika sudah memasang wajah serius seperti ini.
"Ada satu hal lagi," lanjut Caelum dengan suara lebih rendah. "Aku mendengar rumor bahwa wilayah timur melakukan pertemuan dengan kelompok penyihir."
Kaisar terbelalak. "Penyihir?"
"Yang menggunakan sihir terlarang," tegas Caelum. "Namun ini masih sebatas kabar. Belum ada lokasi atau identitas yang bisa dipastikan."
"Penyihir telah lama menghilang sejak kaisar sebelumnya melakukan perburuan terhadap penyihir yang menggunakan sihir terlarang. Aku sudah menduga kalau tidak semua dari mereka benar-benar menghilang," kata sang Kaisar.
Keheningan kembali jatuh.
Alaric menarik napas perlahan. "Gideon juga melaporkan hal serupa. Informannya melihat sekelompok orang berjubah di dekat perbatasan timur saat mengawasi wilayah itu."
"Tujuannya?" tanya Kaisar.
Alaric menggeleng pelan. "Tujuan mereka belum jelas."
Kaisar menautkan jemari. "Kelompok berjubah ... penyihir ... monster yang bergerak tidak wajar."
Alaric menghela napas panjang. "Kemungkinan besar itu kelompok yang sama. Dan jika benar, mereka pasti bergerak atas perintah seseorang."
Tatapan Kaisar mengeras. Ia tahu kemana arah tujuan kekacauan ini.
Kudeta.
"Jika ini benar, maka wilayah timur bukan hanya lalai. Mereka telah melampaui batas. Dan ini akan berdampak buruk bagi rakyat dan juga kerajaan," kata Kaisar.
Alaric mengangguk. "Karena itu aku berniat turun langsung untuk memburu mereka."
Kaisar mengangkat kepala. "Kau?"
"Aku dan para kesatria Ravens," jawab Alaric tanpa ragu. "Aku akan melihat keadaan dengan mataku sendiri. Dan melakukan eksekusi langsung terhadap aktivitas ilegal yang terjadi. Karena tidak hanya jual beli budak tapi juga mereka melakukan jual beli monster," lanjutnya.
"Mereka tidak waras," celetuk Caelum dengan wajah kesal akan kegilaan orang-orang wilayah timur. "Kerajaan bersusah payah menjaga kedamaian negeri, mereka justru ingin merusak kedamaian itu," sambungnya.
Tidak ada keraguan dalam suaranya. Itu bukan permintaan, melainkan keputusan.
Kaisar menatapnya lama, lalu mengangguk. "Baiklah.Aku setuju."
Caelum menambahkan, "Namun perburuan seperti ini tidak akan singkat."
Alaric sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Jika jaringan mereka luas," lanjut Caelum, "dan melibatkan penyihir serta monster, perburuan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan."
Alaric mengangguk pelan. "Aku memperkirakan hal yang sama."
Lalu Caelum menatapnya dengan ekspresi berbeda, lebih lembut, lebih personal.
"Kalau begitu, Paman akan meninggalkan Liora sendirian," ujar Caelum.
Kalimat itu menghantam Alaric lebih keras daripada laporan kehancuran benteng mana pun.
Alaric mengernyit.
Bayangan wajah Liora terlintas di benaknya, senyum lembutnya, cara istrinya itu menegur Alaric dengan galak ketika ia terluka, tatapan hangat yang selalu membuatnya merasa ... pulang.
Untuk sesaat, keragu-raguan menyusup ke hatinya.
Kaisar menangkap perubahan air muka itu.
"Liora tidak akan sendirian," ucap Kaisar akhirnya. "Aku dan Permaisuri akan menjaganya selama kau pergi."
Alaric menatap Kaisar, lalu menunduk hormat. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Kalau perlu aku juga akan menemani Liora," kata Caelum dengan senyum lebar.
Alaric langsung menatap tajam Caelum.
Caelum spontan mengangkat kedua tangan san berkata, "Aku bercanda. Aku bercanda, Paman."
Kaisar hanya tersenyum melihat keduanya.
Alaric menghela napas dan tertunduk. Namun meski kepalanya menunduk, hatinya tetap terasa berat.
Liora, batinnya.
Sore menjelang ketika Alaric kembali ke kediamannya.
Langkah Alaric melambat begitu ia melewati gerbang kastil dan mendengar tawa kecil yang familiar.
Di halaman samping, Liora duduk di bangku batu, sementara Rowan berdiri di depannya dengan wajah penuh semangat.
Alaric mendekat.
"Paman!" seru Rowan begitu melihatnya.
Alaric tersenyum tipis. "Apa yang sedang kau lakukan kali ini?"
Rowan mengangkat pedang kayu kecilnya dengan bangga. "Papa belikan Lowan pedang! Lowan akan jadi kesatlia! Lowan akan menikah dengan Lilola!"
Alaric mendecak pelan. "Kau tidak bisa menikahi Liora. Dia sudah menikah denganku."
Rowan terbelalak. "Bohong! Paman tidak mungkin menikah dengan Lilola!"
"Kau tanya saja padanya," tantang Alaric dengan senyum mengejek.
Rowan menoleh ke Liora dengan mata berbinar. "Lilola, benal sudah menikah dengan Paman?"
Liora mengangguk sambil menahan tawa. "Benar."
Alaric menyahut, "Dengar, kan?"
Mata Rowan berkaca-kaca menatap Liora dan dengan memelas ia berkata, "Lilola mau menikah dengan Lowan, 'kan?"
"Tidak bisa," jawab Alaric santai. "Dia istriku."
Rowan mendengus. "Tidak! Lilola punya Lowan! Paman pelgi dali cini!"
Alaric bersedekap. "Kalau aku pergi, aku akan bawa Liora juga."
"Tidak!" Rowan berseru keras. "Paman nakal! Lilola milik Lowan! Paman jelek!"
Liora tertawa kecil, lalu Rowan berlari dan memeluknya sambil menangis.
"Lilola ... Paman nakal .... huwaaa!" isak Rowan mengadu.
"Sudah, sudah," Liora menenangkan sambil mengelus punggung Rowan.
Alaric hanya tertawa kecil.
Namun tawa itu perlahan memudar.
Alaric menatap Liora dan kembali teringat pada perbincangan di istana.
"Liora," panggil Alaric yang entah kenapa terdengar lirih.
"Ya?" Liora menatap Alaric.
Nada suara Alaric berubah. Lebih pelan. Lebih berat.
"Kurasa ... kita akan berpisah sementara untuk waktu yang ... tidak sebentar," kata Alaric.
Liora membeku.
Sinar matahari sore menyentuh wajah wanita itu, memerjelas keterkejutan yang tak sempat ia sembunyikan.
Angin berembus pelan, daun-daun berguguran di sekitar mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Liora merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya ...
Ketakutan akan perpisahan.
besok tunjukkan kecantikan dan kuasa mu Liora
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣