NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 13 - TAK MAU MENDENGAR KATA EGOIS DARI DIRINYA SENDIRI

Ara menemukan Gill di atap lagi siang itu.

Bukan kejutan. Sudah tiga hari berturut-turut dan Ara sudah mulai memahami bahwa atap sekolah adalah semacam wilayah pribadi Gill yang kebetulan tidak terkunci dan kebetulan juga sudah ditemukan oleh Ara sebelum mereka saling mengenal. Tidak ada yang mengusir siapa. Mereka hanya berbagi sudut langit yang sama setiap siang tanpa ada perjanjian tertulis tentang itu.

Gill sudah duduk di tempatnya ketika Ara masuk. Kantong plastik jajanan, ponsel di tangan, dan kali ini tidak ada es krim karena mungkin stok hariannya sudah habis tadi pagi bersama susu kotak yang ia bawa ke kelas Ara.

Ara menutup pintu atap di belakangnya dan berjalan ke sudutnya sendiri.

Duduk.

Membuka bekal.

Kali ini lebih banyak dari kemarin, karena semalam ia bilang ke ibunya bahwa porsinya kurang dan ibunya langsung menambahkan lauk tanpa bertanya lebih lanjut karena ibu Ara memang tipe yang berbicara melalui makanan lebih dari melalui kata-kata.

Beberapa detik berlalu dalam hening yang sudah mulai terasa familiar. Bukan hening yang canggung atau hening yang menunggu sesuatu. Hanya hening yang ada karena memang tidak ada yang perlu diucapkan dulu.

Tapi hari ini Ara tidak datang hanya untuk makan siang.

"Gill," ia membuka percakapan setelah suapan ketiga.

"Hm."

"Aku mau ngomong soal tadi pagi."

Gill tidak menjawab tapi jarinya berhenti bergerak di layar ponselnya. Itu sudah cukup sebagai tanda bahwa ia mendengarkan.

Ara meletakkan sendoknya. "Kamu melakukan itu tanpa bilang ke aku dulu. Foto itu. Kalimat ke Via." Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, bukan karena marah tapi karena ingin jelas. "Aku menghargai bahwa kamu membantu. Tapi kamu juga perlu tahu bahwa aku punya suara dalam hal-hal yang menyangkut aku sendiri."

Gill menoleh sekarang. Menatap Ara dengan ekspresi yang tidak defensif tapi juga tidak menyesal, lebih seperti seseorang yang sedang mendengarkan sesuatu dan memutuskan di mana ia berdiri.

"Kamu marah?" ia bertanya.

"Bukan marah." Ara menatap balik. "Tapi aku perlu kamu mengerti bahwa meski ini bermula dari situasi yang tidak ideal, ini tetap menyangkut hidupku. Dan aku tidak mau jadi orang yang hanya bereaksi terhadap keputusan orang lain tentang hidupnya sendiri."

Gill diam sebentar.

Lalu ia meletakkan ponselnya di sampingnya, sesuatu yang belum pernah Ara lihat ia lakukan selama percakapan sebelumnya. Ponsel diletakkan, tangan bertumpu di lutut, dan ia menatap Ara dengan cara yang lebih penuh dari biasanya.

"Oke," ia berkata.

Ara menunggu kelanjutannya.

"Lain... ," Gill melanjutkan, kalimat pendek yang diucapkan tanpa embel-embel tapi terasa lebih berat dari kalimat panjang yang dilapisi permintaan maaf berlebihan. "Lain kali aku tanya dulu."

Ara menatapnya beberapa detik.

"Terima kasih," ia menjawab.

Dan itu selesai. Tidak ada drama, tidak ada argumen panjang, tidak ada salah satu pihak yang harus kehilangan muka. Hanya satu hal yang perlu disampaikan, disampaikan, diterima, dan selesai.

Ara mengambil sendoknya kembali dan meneruskan makan.

Gill mengambil ponselnya kembali.

Hening yang sama kembali, tapi sedikit berbeda dari sebelumnya. Lebih ringan, mungkin. Atau mungkin Ara yang sudah terbiasa membawa sesuatu yang berat di dadanya sebelum mengucapkannya akhirnya mengeluarkannya dan sekarang ada ruang kosong di sana yang belum tahu akan diisi apa.

"Via," Gill berkata tiba-tiba.

Ara menoleh. "Apa?"

"Temanmu itu." Gill tidak mengangkat kepala dari ponselnya. "Bagaimana dia setelah tadi pagi?"

Ara memikirkan Via yang duduk diam di sebelahnya sepanjang jam pertama tadi. Via yang mengeluarkan buku catatannya dan mencatat dengan cara yang terlalu teratur untuk seseorang yang biasanya mencoret-coret margin buku dengan gambar asal. Via yang di jam kedua sudah kembali ke versi normalnya, mengomentari penjelasan guru dengan bisikan ke Ara yang hampir membuat mereka berdua ditegur.

"Dia butuh waktu," Ara menjawab. "Tapi dia baik-baik aja. Via selalu baik-baik aja dengan caranya sendiri."

Gill mengangguk.

"Dia peduli sama kamu," ia berkata. Bukan pertanyaan.

"Sangat." Ara menatap bekalnya. "Itu kenapa semua ini penting. Aku tidak mau dia berhenti peduli hanya karena merasa aku yang jadi alasan sesuatu yang menyakitinya."

"Dia tidak akan berhenti peduli."

Ara mendongak. "Dari mana kamu tahu?"

"Orang yang mendatangi orang asing untuk mengecek perasaan temannya," Gill berkata, "bukan tipe yang mudah berhenti peduli."

Ara menatapnya.

Lalu mengangguk pelan. "Kamu benar."

Mereka kembali ke hening masing-masing. Matahari sudah bergeser sedikit lebih ke barat, cahayanya jatuh dengan sudut yang berbeda dari tadi, mengubah bayangan pagar atap menjadi lebih panjang di permukaan beton di bawah mereka.

Ara hampir selesai dengan bekalnya ketika ia teringat sesuatu.

"Gill."

"Hm."

"Tadi pagi kamu bilang ke Via jangan ganggu pacarku." Ara menutup kotak bekalnya. "Itu berarti kamu sudah menganggap ini resmi?"

Gill tidak menjawab langsung. Mengambil sebungkus biskuit dari kantong plastiknya, membuka klip penutupnya, mengambil satu biskuit. Mengunyah.

"Kamu tidak?" ia balik bertanya.

"Aku bertanya duluan."

"Dan aku bertanya balik."

Ara menahan sesuatu di dadanya. "Ini bukan kompetisi tentang siapa yang bertanya duluan."

"Bukan," Gill setuju. "Tapi pertanyaanmu mengimplikasikan bahwa kamu belum memutuskan. Padahal kamu sudah datang ke sini kemarin dengan cara yang memperlihatkan kamu sudah memutuskan." Ia menatap Ara sebentar. "Jadi pertanyaanku adalah, apa yang sebenarnya kamu tanyakan?"

Ara membuka mulutnya.

Lalu menutupnya.

Karena itu pertanyaan yang tepat dan ia tidak sepenuhnya siap dengan jawabannya.

Yang sebenarnya ia tanyakan bukan soal apakah ini sudah resmi atau belum. Yang ia tanyakan adalah sesuatu yang lebih di bawah itu, sesuatu yang belum punya kata yang tepat, tentang apa yang sebenarnya Gill pikirkan tentang semua ini dan apakah baginya ini hanya transaksi kecil yang kebetulan atau sesuatu yang ia masuk ke dalamnya dengan sedikit lebih dari sekadar kalkulasi pragmatis.

Tapi menanyakan itu dengan kata-kata terasa seperti terlalu banyak untuk siang ini.

"Tidak ada," Ara menjawab akhirnya. "Pertanyaan yang tadi sudah cukup."

Gill menatapnya satu detik. Lalu mengangguk. "Oke."

Ara berdiri, mengambil bekalnya, dan bersiap untuk kembali ke bawah karena bel sebentar lagi.

Tapi sebelum ia melangkah ke arah pintu, Gill berkata sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.

"Ara."

Ia menoleh. Nama itu terdengar berbeda dari mulut Gill dibandingkan dari mulut orang lain. Tidak lebih hangat, tidak lebih lembut, tapi lebih... langsung. Seperti nama itu diucapkan karena memang itu yang dimaksud dan bukan karena kebiasaan atau formalitas.

"Apa yang kamu inginkan dari ini?" Gill bertanya. Tidak dari situasinya, tidak dari gosipnya, tidak dari Via atau Mike atau seluruh kompleksitas yang sudah membawa mereka ke atap ini tiga hari berturut-turut. "Dari semua ini. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"

Ara berdiri di tengah atap itu dengan pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Matahari di belakangnya, angin yang sudah mulai lebih hangat dari tadi, dan Gill yang duduk di sudutnya menatapnya dengan cara yang menunggu tanpa mendesak.

"Aku ingin Via bahagia," Ara menjawab. Itu yang pertama keluar dan itu jujur.

Gill mengangguk satu kali. "Dan untuk dirimu sendiri?"

Ara terdiam.

Untuk dirinya sendiri.

Pertanyaan itu terasa asing di telinganya dengan cara yang seharusnya tidak asing tapi ternyata asing. Karena hampir setiap keputusan yang Ara buat selama ini dimulai dari orang lain. Dari apa yang membuat orang lain nyaman, dari apa yang tidak mengecewakan orang lain, dari versi dirinya yang paling bisa diterima oleh orang lain.

Untuk dirinya sendiri.

Apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri?

"Aku ingin..." Ara memulai, pelan, mencari kata-kata di tempat yang jarang ia kunjungi. "Aku ingin satu hari dimana aku tidak harus memastikan setiap hal yang aku lakukan sudah benar sebelum aku melakukannya." Ia menatap langit di atasnya sebentar. "Aku ingin bicara tanpa memikirkan apakah ini kedengarannya tepat atau tidak. Aku ingin marah tanpa khawatir itu akan mengubah cara orang memandang aku. Aku ingin..." ia berhenti. "Aku ingin menjadi seseorang yang tidak perlu terus-terusan menjadi orang lain."

Hening.

Angin lewat.

Ara menurunkan pandangannya dari langit dan menemukan Gill masih menatapnya dari tempatnya, dengan ekspresi yang tidak berubah tapi matanya, matanya yang biasanya flat dan tidak memberikan banyak informasi, memiliki sesuatu di dalamnya yang Ara tidak bisa beri nama tapi bisa rasakan.

"Itu bukan hal yang muluk-muluk," Gill berkata akhirnya.

Ara tidak langsung menjawab.

"Tapi rasanya tetap... " ia berkata jujur.

"Itu karena kamu sudah terlalu lama meyakini bahwa meminta itu adalah sesuatu yang tidak boleh kamu lakukan."

Ara menatap Gill.

Cowok yang bahkan tidak ingat namanya tiga hari lalu sekarang duduk di bawah langit siang dan berkata hal-hal yang terasa seperti seharusnya hanya diketahui oleh orang yang sudah mengenal Ara bertahun-tahun. Tapi tidak ada satu pun dari orang-orang yang sudah mengenal Ara bertahun-tahun yang pernah mengatakannya.

"Kamu aneh," Ara berkata, dan itu bukan hinaan.

Gill mengangkat bahu sedikit. "Aku tahu."

"Itu bukan hal buruk," Ara menambahkan, karena terasa penting untuk diklarifikasi.

"Aku tahu itu juga."

Ara menarik napas satu kali. Panjang dan pelan, udara siang yang hangat mengisi paru-parunya sebelum ia hembuskan kembali.

"Gill," ia berkata.

"Hm."

"Apa yang kamu inginkan dari ini?" Ara mengulang pertanyaan yang sama, karena adil rasanya jika pertanyaan itu berjalan dua arah. "Untuk dirimu sendiri."

Gill diam.

Lebih lama dari biasanya. Cukup lama untuk Ara menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya ia melihat Gill tidak punya respons yang langsung tersedia. Jari-jarinya tidak bergerak ke ponsel. Matanya tidak berpaling ke cakrawala. Ia hanya diam, menatap satu titik di permukaan atap di depannya, dengan ekspresi seseorang yang sedang menemukan bahwa pertanyaan yang ia ajukan ke orang lain ternyata lebih sulit dijawab ketika arahnya berbalik.

"Belum tahu," Gill menjawab akhirnya.

Dua kata. Jujur dengan cara yang tidak banyak orang berani untuk jujur.

Ara menatapnya beberapa detik lagi.

Lalu sesuatu di bibirnya bergerak. Bukan senyum besar. Hanya sedikit, tipis, tapi nyata.

"Oke," ia berkata. "Itu jawaban yang jujur."

Gill meliriknya sebentar dari sudut matanya. "Kenapa kamu senyum?"

"Aku tidak senyum."

"Kamu senyum."

"Angin yang bikin wajahku begitu."

Gill menatapnya dengan ekspresi yang mengandung sesuatu yang kalau pada orang lain Ara akan sebut sebagai hampir tersenyum. "Angin dari arah mana yang bisa bikin sudut bibir orang naik ke atas?"

Ara membuang pandangan ke arah pagar atap. "Sudah, bel sebentar lagi."

"Kamu tidak menjawab pertanyaanku."

"Selamat siang, Gill."

Ia berjalan ke arah pintu, mendorongnya terbuka, dan menuruni anak tangga dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari saat ia naik tadi.

Di belakangnya, dari balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, ia mendengar sesuatu yang sangat kecil dan sangat pelan dan sangat mungkin hanya produk imajinasi orang yang terlalu banyak berharap.

Sesuatu yang terdengar seperti suara seseorang yang menahan tawa.

Ara meneruskan langkahnya ke bawah.

Dan tidak membiarkan wajahnya tersenyum lebih lebar dari yang sudah ada sampai ia yakin tidak ada yang bisa melihatnya.

---

Via sudah menunggunya di depan kelas ketika Ara tiba dari tangga.

Berdiri dengan tangan disilang di dada, satu kaki mengetuk lantai dengan ritme yang menyampaikan bahwa ia sudah di sini lebih dari dua menit dan sudah cukup sabar.

"Dari mana?" Via bertanya langsung.

"Atap."

Via menatapnya. "Sendirian?"

Ara membuka mulutnya.

"Jangan bohong," Via menambahkan sebelum Ara sempat menjawab.

Ara menutup mulutnya. Lalu membukanya lagi. "Tidak sendirian."

Via mengangguk pelan, ekspresinya tidak berubah banyak tapi ada sesuatu yang berproses di baliknya. "Oke," ia berkata. "Nanti sepulang sekolah, kamu cerita semua."

"Iya. Aku bilang begitu kemarin."

"Aku ingatkan lagi supaya kamu tidak lupa."

"Aku tidak akan lupa, Via."

"Bagus." Via memutar badannya ke arah pintu kelas. "Ayo masuk sebelum gurunya duluan."

Mereka masuk bersama.

Dan Ara, sambil meletakkan tasnya di bangku dan duduk dan membuka buku catatannya ke halaman baru, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, yang ia rasakan bukan berat yang menunggu untuk diselesaikan.

Yang ia rasakan adalah sesuatu yang lebih mendekati antisipasi.

Tentang percakapan dengan Via nanti. Tentang besok. Tentang langkah berikutnya dari sesuatu yang belum ia tahu akan jadi apa tapi sudah tidak lagi terasa seperti sesuatu yang ia jalani sendirian.

Guru masuk.

Pelajaran dimulai.

Dan di sudut buku catatannya, di pojok kanan bawah halaman baru yang masih kosong, tanpa sadar tangannya menuliskan sebuah nama kecil yang kemudian tidak ia coret.

Karena kali ini, ia tidak mau.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!