NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuan yang Tersembunyi

Pintu kayu kamar Lauren berderit di bawah tekanan es hitam yang merayap. Lapisan beku itu tidak hanya menutup celah, tapi mulai memakan material pintu, mengubahnya menjadi serpihan gelap yang rapuh. Dari balik dinding, suara langkah kaki Adiwangsa berhenti tepat di depan kamar. Sunyi yang mengikuti suara itu jauh lebih menyakitkan daripada dentuman apa pun.

"Mundur, Lauren! Jangan menyentuh pintunya!" Herza berteriak, suaranya parau.

Seluruh tubuh arwah remaja itu berpendar hebat, memaksakan sisa energinya untuk menahan rembesan kabut hitam yang mulai menyelinap melalui sela-sela lantai. Lauren terjepit di sudut ruangan. Ia mencengkeram medali perunggu di saku celananya hingga ujung jemarinya mati rasa.

"Cucu..." Sebuah suara berat dan tenang merambat menembus kayu. Itu bukan teriakan monster, melainkan sapaan seorang kakek yang dingin.

"Jangan mempersulit takdir. Kamu sudah lelah, bukan? Biarkan kakek membantumu beristirahat."

"Pergi! Jangan berani kau sebut dia cucumu!" Herza membalas, tangannya merentang menciptakan dinding cahaya biru yang mulai retak di banyak titik.

Lauren merasakan mual yang hebat. Bukan karena rasa takut, tapi karena ia mulai menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Setiap kali Adiwangsa bicara, medali di tangannya berdenyut panas. Getarannya sinkron dengan detak jantung Lauren. Ia menatap Herza yang tampak putus asa di depan pintu.

"Herza, dia tidak mau membunuhku, kan?" bisik Lauren.

Herza tidak menoleh. Ia terus memfokuskan seluruh esensinya pada dinding cahaya itu.

"Mereka menginginkanmu, Lauren. Sudah kukatakan, kamu adalah kuncinya."

"Bukan sekadar kunci," Lauren melangkah maju, mengabaikan peringatan Herza. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tertutup kristal es hitam.

"Dia bilang aku harus menjadi wadah. Wadah itu... tempat untuk menyimpan sesuatu, kan?"

Pintu di depan mereka tiba-tiba meledak. Bukan hancur ke dalam, melainkan menguap menjadi debu hitam yang pekat. Di ambang pintu yang kini lowong, berdiri sosok pria tinggi dengan jubah tradisional Jawa yang rapi. Wajahnya tidak rata seperti entitas sebelumnya; ia memiliki wajah manusia, namun matanya adalah dua lubang kegelapan yang seolah tidak memiliki dasar.

Adiwangsa.

Herza menerjang maju, namun Adiwangsa hanya mengangkat satu tangan. Sebuah gelombang gravitasi gelap menghantam Herza, melempar arwah itu hingga menembus dinding kamar dan menghilang ke kegelapan lorong rumah.

"Herza!" Lauren menjerit.

Adiwangsa melangkah masuk. Setiap pijakannya membuat ubin kamar Lauren retak dan menghitam. Pria itu berhenti beberapa langkah dari Lauren, menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat serius, seolah ia sedang memeriksa kualitas sebuah barang di pasar.

"Darah murni yang indah," gumam Adiwangsa.

"Suryaningrat gagal karena hatinya lemah. Prajawangsa gagal karena dia mencoba melarikan diri. Tapi kamu... kamu sudah ditempa dengan rasa sakit yang sempurna selama dua belas tahun. Kamu adalah kandidat terbaik."

Lauren mundur hingga punggungnya menabrak meja belajar.

"Apa yang kalian inginkan dariku?"

"Sang Arsitek tidak bisa melangkah di tanah yang kotor ini tanpa pakaian, Lauren. Energi murninya akan menghanguskan segalanya sebelum ritual selesai," Adiwangsa menjelaskan dengan nada tenang yang memuakkan.

"Dia membutuhkan rumah. Rumah yang kuat, yang mampu menahan tekanan kekuatannya. Tubuhmu, batinmu, jiwamu... itulah rumahnya."

Lauren merasakan dingin yang luar biasa menjalar dari ulu hatinya. Krisis eksistensi menghantamnya lebih keras daripada serangan fisik mana pun. Selama ini ia berpikir dirinya spesial karena kekuatannya. Ia berpikir ia diburu karena ia dianggap ancaman. Namun kenyataannya jauh lebih merendahkan.

Aku bukan manusia bagi mereka, batin Lauren. Aku bukan Lauren. Aku hanya sebuah kotak kayu yang mereka siapkan untuk dihuni oleh sesuatu yang lain. Aku hanya... kostum.

"Jadi, tujuannya bukan untuk mengambil energi?" suara Lauren bergetar, namun nada takutnya mulai digantikan oleh kemarahan yang tajam.

"Kalian mau menghapusku. Kalian mau mengosongkan tubuh ini agar tuan kalian bisa masuk."

Adiwangsa tersenyum tipis.

"Penghapusan adalah istilah yang kasar. Kami menyebutnya penyatuan. Kamu akan menjadi bagian dari keagungan purba."

"Persetan dengan keagunganmu!"

Lauren menarik medali dari sakunya dan menghantamkannya ke atas meja. Sebuah ledakan cahaya biru yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya memancar keluar, bukan sebagai perisai, melainkan sebagai gelombang kejut yang agresif. Adiwangsa terangkat sedikit, wajahnya menunjukkan keterkejutan sesaat sebelum ia kembali mendarat dengan stabil.

Cahaya itu mulai menyelimuti tubuh Lauren. Ia tidak lagi mencoba menekan atau menyembunyikan energinya. Ia membiarkan kemarahannya menjadi bahan bakar. Rasa sakit di kepalanya, rasa lelah di tubuhnya, dan kebenciannya pada takdir ini meledak menjadi satu aliran kekuatan yang liar.

"Jika aku memang wadahnya, maka aku yang memegang kendalinya," desis Lauren. Matanya mulai berpendar biru pekat, menembus kabut hitam yang memenuhi ruangan.

Adiwangsa tertawa kecil. "Keberanian yang menarik. Tapi kamu masih bayi, Lauren. Kamu tidak tahu cara mengunci pintu rumahmu sendiri."

Pria itu bergerak maju dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia. Sebelum Lauren sempat melepaskan serangan berikutnya, Adiwangsa telah mencengkeram lehernya. Lauren terangkat dari lantai, kakinya menendang udara. Rasa dingin dari tangan Adiwangsa mulai merayap masuk ke dalam tenggorokannya, mencoba membekukan suaranya.

"Ritualnya dimulai saat bulan purnama tiba," bisik Adiwangsa tepat di depan wajah Lauren.

"Sampai saat itu, nikmatilah sisa-sisa kemanusiaanmu. Karena setelah itu, tidak akan ada lagi Lauren di dunia ini."

Adiwangsa melepaskan cengkeramannya. Lauren jatuh terjerembap, terbatuk-batuk mencari oksigen. Saat ia mendongak, sosok pria itu sudah menghilang, meninggalkan kamarnya yang hancur dan aroma belerang yang menyengat.

Herza muncul kembali dari balik dinding, kondisinya sangat menyedihkan. Pendar birunya hampir transparan sepenuhnya. Ia merangkak mendekati Lauren, mencoba membantunya berdiri.

"Lauren... kita harus pergi. Sekarang juga," bisik Herza.

Lauren berdiri dengan bantuan meja belajar. Ia menyeka darah tipis yang keluar dari bibirnya. Ia tidak menangis. Tidak ada lagi air mata untuk hari ini. Ia menatap tangannya yang masih memegang medali. Denyutan energinya kini terasa berbeda; lebih berat, lebih tajam, dan lebih gelap.

"Tiga hari," kata Lauren pelan.

"Apa?" Herza bertanya bingung.

"Bulan purnama akan tiba dalam tiga hari, Herza. Aku merasakannya melalui medali ini," Lauren menoleh ke arah mentornya. Tatapan matanya yang biasanya penuh keraguan kini menjadi sangat keras.

"Mereka pikir aku akan duduk manis menunggu rumahku diambil alih?"

"Lauren, kamu harus hati-hati. Adiwangsa bukan lawan yang bisa kamu hadapi dengan emosi," Herza memperingatkan.

"Aku tidak akan menghadapinya dengan emosi saja, Herza," Lauren berjalan menuju lemari pakaiannya yang hancur, mengambil tas punggungnya.

"Aku akan menjadikannya penjara. Jika mereka mau wadah ini, mereka harus siap terjebak di dalamnya bersamaku."

Tiga hari kemudian.

Lauren berdiri di balkon lantai dua rumahnya saat tengah malam. Langit di atas sana mulai menampakkan bulatan putih sempurna yang besar. Selama tiga hari terakhir, ia hampir tidak tidur. Ia menghabiskan waktunya untuk bermeditasi, memaksa dirinya menyerap residu energi gelap yang ditinggalkan Adiwangsa untuk ia pelajari dan ia lawan.

Kondisi fisiknya masih lemah, namun batinnya telah bertransformasi sepenuhnya. Ia tidak lagi bertanya kenapa aku? atau bisakah aku menjadi normal?. Pertanyaan itu sudah mati bersama pintu kamarnya yang hancur malam itu.

Bram dan Maria sedang tertidur di lantai bawah setelah Lauren secara diam-diam memberikan perlindungan batin yang membuat mereka tertidur lelap. Ia tidak ingin mereka melihat apa yang akan terjadi malam ini.

"Mereka sudah di gerbang, Lauren," suara Herza terdengar di belakangnya. Arwah itu sudah sedikit pulih, meski retakan hitam masih menghiasi wajahnya.

Lauren mengangguk. Ia merasakan getaran di bawah kakinya. Jaring-jaring energi abu-abu yang mengunci rumahnya mulai berdenyut merah. Sang Arsitek sedang mengetuk pintu.

"Herza," panggil Lauren tanpa menoleh.

"Ya?"

"Terima kasih sudah menjagaku selama ini. Tapi malam ini, jangan mencoba menghalangi jalan mereka."

Herza tertegun.

"Maksudmu?"

Lauren menatap medali di telapak tangannya. Simbol mata api itu kini berpendar merah darah, merespons kehadiran bulan purnama.

"Biarkan mereka masuk," kata Lauren, suaranya sedingin es hitam Adiwangsa.

"Aku ingin mereka melihat sendiri, bahwa wadah ini memiliki gigi yang siap menggigit."

Dari arah gerbang depan, sebuah ledakan energi gelap yang luar biasa besar menghantam rumah mereka. Langit yang tadinya sunyi mendadak dipenuhi oleh suara lengkingan ribuan entitas yang turun dari awan. Ritual kebangkitan purba telah dimulai, dan Lauren berdiri di tengah badai itu dengan senyum tipis yang mematikan.

Ia tidak akan pernah menyerah pada kegelapan. Ia akan menelan kegelapan itu bulat-bulat.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!