NovelToon NovelToon
Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Kamu Selingkuh Kunikahi Abang Angkatmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Orang Disabilitas
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mila julia

Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24.Pertemuan anak kembar

HAPPY READING!!!!

“Nona!” tekan David sambil menatapnya tajam.

Namun Lora masih terdiam.

“Haruskah aku mempertemukan mereka? Anak… dan bapak… dalam kondisi seperti ini?”Batin Lora berputar kacau.

Dadanya terasa semakin berat, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Namun saat itu—

ponselnya kembali berdering.

Nama Lestari,ibunya muncul di layar.

Lora segera mengangkatnya.

Belum sempat ia berbicara, suara panik langsung terdengar dari balik telepon.

📞“Lora! Apa yang baru saja kamu katakan kepada mereka? Kepada Gea dan Gian?” tanya Lestari dengan suara tergesa-gesa.

Lora langsung mengerutkan kening.

📞“Soal itu… aku hanya—” ucapnya mencoba menjelaskan.

Namun ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika ibunya kembali berbicara dengan suara yang jauh lebih panik.

📞“Mereka hilang, Lora! Sepertinya mereka kabur dari rumah… mereka membawa pakaian mereka!” sambung Lestari.

Dunia Lora seolah berhenti berputar.

📞“Bagaimana bisa, Bu? Tidak… tidak…” gumam Lora panik.

📞“Lora akan ke sana sekarang!” ucapnya terbata-bata.

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mematikan telepon.

Tangannya gemetar saat ia meraih tasnya.

Ia harus mencari anak-anaknya.

Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Devon yang melihat Lora bergegas juga langsung berlari mengikutinya.

Brak!

Lora masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.

Hampir bersamaan, Devon juga membuka pintu lain dan langsung duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi.

Lora terkejut.

“Devon! Kenapa kamu juga ikut masuk? Kamu harus tetap di rumah bersama kepala pelayan!” ucap Lora.

Namun Devon menggeleng keras.

“Tidak. Devon ingin ikut mencari teman-teman Epon. Mereka harus ditemukan dan Epon bawa ke istana.” ucapnya sambil memegang sabuk pengaman dengan erat.

Lora menghela napas kasar.

“Tidak ada waktu lagi untuk membujuknya…” batin Lora.

Ia segera menekan tombol mobil matic untuk menyalakan mesin, lalu melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah kontrakan ibunya.

Begitu sampai—

Lora langsung keluar dari mobil.

Ia hampir berlari masuk ke dalam rumah kontrakan ibunya dengan wajah panik.

Namun langkahnya mendadak terhenti begitu sampai di ruang tamu.

Gea dan Gian…

justru duduk manis di sana.

Keduanya menunggu dengan wajah ceria, bahkan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

“Bu… ini….” ucap Lora bingung.

Lestari yang berdiri di dekat mereka tersenyum kecut.

“Maafkan Ibu, Lora. Mereka yang memaksa Ibu untuk menelponmu dan mengatakan itu semua.” ucap Lestari.

Lora menghela napas berat.

Ia ingin marah.

Ingin menegur.

Namun kata-kata itu belum sempat keluar dari mulutnya.

Karena saat itu—

Devon yang baru muncul dari pintu depan rumah tiba-tiba berteriak keras.

“TEMAN-TEMAN!”

Devon langsung merentangkan kedua tangannya.

Ia berlari dengan wajah penuh kegembiraan ke arah dua anak kembar itu.

Gea dan Gian langsung terkejut.

Namun detik berikutnya—

keduanya ikut berlari.

Bukan menjauh.

Melainkan berlari menuju Devon dan bersembunyi di balik tubuh pria dewasa yang bersifat kekanak-kanakan itu—seolah berlindung dari amukan Lora yang mungkin akan datang.

Devon tertawa riang.

Ia langsung memeluk tubuh dua anak kembar itu dengan erat.

“Yeaaayyy! Akhirnya Epon punya teman!” serunya penuh kegembiraan.

“Ayo, teman-teman! Kita ke rumah Epon!” ucap Devon dengan semangat.

Dengan mudah ia mengangkat dua anak itu di kedua lengannya.

“Yeayyy! Ayo! Ayo, Epon! Aku juga mau bermain sama kamu!” ucap Gea penuh semangat.

“Iya! Aku juga!” sahut Gian tak kalah gembira.

“Oke… gooo!” teriak Devon riang.

Ia bahkan sudah bersiap melangkah keluar rumah.

Namun—

Lora dengan cepat menghentikannya.

“Devon, kamu mau membawa mereka berdua ke mana?”

Devon menoleh dengan wajah polos, masih menggendong kedua anak kembar itu di lengannya.

“Tentu saja ke istana kita, Queen. Ke mana lagi? Mereka akan tinggal dan bermain dengan Devon setiap hari.”

Lora langsung terkejut.

“Ha… apa? Tidak, tidak bisa! Epon, di sana sangat berbahaya.” larang Lora cepat.

Namun Devon hanya menggeleng santai.

“Selama ada Queen di sana tidak akan bahaya apa pun untuk mereka. Benar, kan teman-teman?” ucap Devon sambil menatap dua anak di tangannya.

Kemudian ia memberi instruksi dengan penuh semangat.

“Sekarang kalian harus memanggilnya dengan panggilan Queen, sama dengan Epon, oke!”

Gea dan Gian langsung mengangguk patuh.

“Kami akan tetap ikut meski Queen melarangnya.” ucap Gea dengan nada seperti ancaman kecil kepada Lora.

“Gea…” Lora hendak menegurnya.

Namun Gian ikut bersuara dengan wajah keras kepala.

“Pokoknya Gian mau ikut dan bermain dengan Epon. Lagipula Gian sangat ingin bermain dengan orang dewasa seperti Epon.” ucap Gian.

Kalimat polos itu membuat Lora terdiam.

Lestari yang sejak tadi memperhatikan mereka perlahan memegang tangan Lora.

“Biarkan saja mereka ikut untuk beberapa hari, Nak. Ibu yakin tidak akan terjadi apa pun.” ucap Lestari lembut.

“Mungkin mereka hanya sangat merindukanmu. Apalagi semenjak kamu menikah dengan Devon, hubunganmu dengan anak-anakmu jadi berjarak.” lanjutnya memberi saran.

Jujur saja Lestari tidak tau sama sekali jika Gea dan Gian adalah anak dari Devon ,sejak Lora memberitahunya jika ia melahirkan anak kembar di kota dan keadaan Lora begitu Drop Lestari tidak pernah membahasnya ia takut jika anaknya melakukan percobaan bunuh diri lagi saat itu karna sudah beberapa kali ia menggagalkan aksi gila anaknya itu.

Lora terdiam cukup lama.

Hatinya dilanda kebimbangan.

Namun sebelum ia sempat memutuskan—

Devon sudah lebih dulu berlari keluar rumah.

Ia langsung menuju mobil sambil tetap menggendong kedua anak kembar itu.

“Devon… akkh…” keluh Lora frustrasi.

Akhirnya ia tidak punya pilihan selain mengikuti kemauan mereka.

“Bu… sepertinya Ibu perlu mengemas barang-barang....” ucap Lora sambil menoleh ke arah ibunya.

Namun Lestari justru tersenyum.

Dengan santai ia mengangkat dua tas kecil berisi pakaian anak-anak itu.

“Ibu sudah mempersiapkannya.” ucapnya.

Lora langsung tercengang.

“Ibu sudah mempersiapkannya?”ucap Lora dengan perencanaan rapi itu .

Lestari tertawa kecil.

“Kamu seperti tidak tahu saja bagaimana keras kepala Gea.” ucapnya.

Lora hanya bisa menghela napas panjang.

Ia tahu benar sifat anak perempuannya itu.Keras kepala… persis seperti dirinya sendiri.

Dengan langkah gontai, Lora akhirnya berpamitan kepada ibunya.

Tak lama kemudian mobil itu melaju kembali menuju kediaman keluarga Morrix.

Begitu sampai di mansion keluarga Morrix—.tatapan tajam langsung menyambut mereka.Sinta berdiri di ruang depan dengan wajah penuh kemarahan.

“Apa-apaan ini? Setelah menumpang di rumahku sekarang kamu membawa dua anak gelandangan ke sini? Kamu pikir mansion ini adalah penampungan anak jalanan, ha?” ucap Sinta dengan suara meninggi.

Matanya melotot besar seperti ikan buntal yang hendak meledak.

Namun Devon sama sekali tidak takut.Ia malah menggandeng tangan Gea dan Gian dengan bangga.

“Ini adalah teman-teman Epon, nenek lampir.” ucap Devon polos sembari menjulurkan lidahnya.

Wajah Sinta langsung berubah merah padam.

“Kamu menyebutku apa? Nenek lampir?” teriaknya.Ia bahkan mengangkat tangannya seolah hendak memukul.

Namun sebelum itu terjadi—

Devon dan dua anak kembar itu langsung berlari menuju tangga.

“Teman-teman! Ayo kita selamatkan diri kita dari nenek lampir! Lari!” teriak Devon memberi instruksi.

Gea dan Gian tertawa riang sambil berlari mengikutinya menaiki tangga.

Lora hanya memperhatikan tiga “bocah” itu berlarian menuju kamar.

Ia memilih mengabaikan Sinta yang jelas-jelas sedang mencari keributan.

Namun saat ia hendak berjalan menuju tangga—.Sinta menahan tangannya dengan kasar.

“Kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara!” bentak Sinta.

Lora menatapnya dingin.

“Kamu mau bicara apa lagi, ha? Apa perlu kamu mengatakannya lagi—ini adalah mansionku?” ucap Lora sinis.

“Apakah kamu tidak muak mendengarnya? Aku saja sangat lelah menegaskannya berkali-kali.” lanjutnya.Ia menyibakkan tangan Sinta dengan kasar.

Namun Lora belum berhenti.Ia justru melangkah mendekat.Tubuh Sinta didorongnya hingga menekan ke dinding.

“Daripada mengurusiku, lebih baik kamu mengurusi suamimu itu yang belum pulang sampai sekarang.” ucap Lora dengan suara rendah namun tajam.

“Mungkin saja saat ini dia sedang membantu mencari cangcut kepala keuangan yang hilang.” lanjutnya.

Sinta langsung mengerutkan kening.

“Cangcut…?” ulangnya bingung.

“Apa maksudmu? Apa gunanya suamiku membantu mencarikan benda menjijikkan itu?” ucap Sinta dengan nada jijik.

Lora tersenyum tipis.

“Entahlah. Aku hanya menduganya. Karena saat aku berkunjung ke ruangan suamimu tadi pagi, aku melihat kepala keuangan ada di sana… dengan cangcutnya yang hilang.” ucap Lora santai.

Senyuman licik muncul di bibirnya saat melihat ekspresi Sinta yang mulai berubah.

Wanita itu terlihat mulai menimbang-nimbang kata-katanya.

"Ayo, Sinta…Curigalah."batin Lora menyipitkan matanya sembari berbalik menjauh dari Sinta dan berjalan menaikintangga.

"Buktikan sendiri.Bongkar sendiri perselingkuhan suamimu itu.Agar aku tidak perlu mengotori tanganku dan repot-repot melakukannya." Batin Lora lagi.

Perlahan Lora terus menaiki tangga dengan mata yang masih tertuju pada Sinta.

Sinta terlihat mulai panik sambil menghubungi suaminya melalui telepon.

“Satu per satu parasit-parasit itu harus masuk ke dalam perangkap…” batin Lora dingin.

“Saling berkumpul… dan saling menyerang satu sama lain.”

.

.

.

💐💐💐Bersambung 💐💐💐

Kira- kira nenek lampir Bakan kemakan umpannya Lora nggak yaa?🤔

Lanjut Next Bab ya guys😊

Lope lope jangan lupa ya❤❤

Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤

1
Allea
mo balas dendam tapi kewaspadaan kurang piye toh thor 🤭
Mila Julia: mo bikin kesel duluuu mbak eee
total 2 replies
Allea
👍👍👍👍👍
Allea
heyyyy Epon kamu ga lelah pura2 terus 🤭
Wulan Azka
dealer beras ? baru kali ini dengar istilah dealer beras 🤔..dealer itu cuma buat kendaraan..kalau beras mah distributor
Mila Julia: tapi makasih sarannya KK ntar di oerbaiki🫶🫶😅
total 2 replies
Allea
Devon kamu pura2 kembali ke usia anak2 kan 😁
Mila Julia: aduhhh bener ngk yaaa🤭🤭
total 1 replies
Allea
jgn2 Devon pergi ninggalin Lora krn Devon kecelakaan y
Mila Julia: iyaa ngk yaaa🤭😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!