NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Garis Finis yang Sunyi

Hari pertama Ujian Nasional dimulai dengan langit yang abu-abu, seolah-olah atmosfer sendiri ikut menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah perjalanan tiga tahun ini. Di SMP Negeri 12, Senara berdiri di koridor sekolahnya yang sempit. Ia menatap ke arah gerbang, tempat para orang tua siswa berkumpul untuk memberikan doa. Senara tidak meminta ibunya datang, ia tahu ibunya harus bekerja, dan baginya, doa di sujud subuh tadi sudah lebih dari cukup.

Ia merogoh saku jaketnya, memastikan alat tulisnya lengkap. Jarinya sempat menyentuh permukaan robot biru itu. Dengan wajah yang sangat datar, ekspresi yang menunjukkan konsentrasi penuh, Senara menarik napas panjang. Baginya, hari ini bukan tentang teknologi atau persaingan, tapi tentang pembuktian bahwa dirinya layak untuk masa depan yang lebih baik. Ia masuk ke dalam ruang ujian dengan langkah yang begitu mantap, meninggalkan segala kebisingan dunia luar di belakangnya.

Di sisi lain kota, di dalam ruang ujian SMP Super Internasional yang kedap suara, Bima duduk dengan punggung tegak. Di hadapannya, lembar soal Matematika tergeletak. Namun, fokusnya pecah menjadi ribuan keping.

Bima tidak menggunakan alat sadap hari ini. Namun, justru itulah yang menjadi bumerangnya. Tanpa alat untuk memantau apa yang dilakukan Senara, imajinasi Bima mulai liar. Setiap kali ia menemukan soal yang sulit, ia mulai berpikir. Apakah Senara sedang mengerjakan ini dengan mudah? Apakah dia menggunakan sesuatu untuk mendapatkan jawaban?

"Nomor delapan belas... variabel X..." Bima menggumam, namun matanya terus melirik ke arah jam dinding.

Ia mulai terobsesi dengan waktu. Ia merasa Senara pasti sudah selesai, sementara ia masih berkutat dengan soal-soal tengah. Paranoia bahwa Senara sedang melaju kencang di sekolahnya yang kumuh membuat tangan Bima gemetar. Akibatnya, ia melakukan kesalahan fatal, ia salah membaca tanda plus menjadi minus pada persamaan aljabar yang seharusnya sangat mudah bagi levelnya. Ia terperangkap dalam pikirannya sendiri, terjebak dalam labirin kompetisi yang ia ciptakan di kepalanya.

Ujian berlangsung selama empat hari berturut-turut. Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Bagi Senara, ini adalah masa di mana ia benar-benar mengisolasi diri. Ia tidak menyentuh komputer warnet, tidak memikirkan Bima, bahkan tidak banyak bicara pada teman-temannya. Ia hanya fokus pada setiap bulatan hitam di lembar jawabannya.

Di hari ketiga, saat ujian Bahasa Inggris, Senara sempat merasakan suasana yang aneh di ruang ujian. Listrik sekolah sempat berkedip beberapa kali akibat gardu di pasar sebelah yang bermasalah. Teman-temannya panik, namun Senara tetap tenang. Ia terus membaca teks bacaan di hadapannya, menggunakan cahaya matahari dari jendela yang masuk ke ruangan.

Di dalam saku jaketnya, robot biru itu sempat terasa hangat saat listrik berkedip, namun Senara tidak menghiraukannya. Ia menganggap itu hanya karena suhu tubuhnya yang meningkat akibat stres ujian. Ia tidak tahu, dan memang tidak mau tahu, apa yang terjadi dengan udara di sekitarnya. Fokusnya hanya satu, nilai Sempurna.

Di dalam mobilnya saat jam istirahat, Bima menatap lembar soalnya dengan wajah pucat. Ia baru sadar bahwa di soal nomor tiga puluh tadi, ia lupa mengalikan variabel konstanta. Kesalahan itu menghantui pikirannya.

"Bagaimana bisa aku salah di soal dasar seperti itu?" Bima memukul kemudi mobilnya.

Ia merasa sangat kecil. Selama ini ia menganggap dirinya sebagai matahari yang tak tersentuh, namun bayang-bayang Senara ternyata mampu menutupi cahayanya bahkan tanpa gadis itu harus hadir di depannya. Bima merasa kalah, bahkan sebelum pengumuman itu keluar. Ia terlalu sibuk berperang dengan asumsi-asumsinya tentang Senara, sementara Senara sendiri kemungkinan besar sedang berperang dengan soal-soal ujiannya.

Hari terakhir ujian ditutup dengan mata pelajaran IPA. Saat bel berakhirnya ujian berbunyi, seluruh siswa di SMP 12 bersorak, ada perasaan lega yang luar biasa. Senara berdiri di tengah keramaian itu, menatap langit yang mulai cerah. Beban di pundaknya terasa sedikit terangkat.

Maria menghampirinya, wajahnya penuh harap. "Bagaimana ujiannya, Nara? Bisa mengerjakan semuanya?"

Senara mengangguk sopan. "Lancar, Bu. Semoga hasilnya tidak mengecewakan."

"Ibu yakin kamu akan menjadi yang terbaik, Nara. Selamat beristirahat di minggu yang tenang ini," ujar Ibu Maria sambil menepuk bahu Senara.

Dua minggu kemudian, hari pengumuman hasil kelulusan dan nilai UN tiba. Hasilnya dikirimkan secara serentak melalui portal daring dan surat resmi.

Di rumahnya yang sederhana, Senara duduk bersama ibunya, mereka membuka amplop putih dari sekolah.

Nama: Senara

Matematika: 100

IPA: 100

Bahasa Inggris: 100

Bahasa Indonesia: 98

Peringkat Nasional: 1

Ibunya menangis tersedu-sedu, memeluk Senara erat-erat. Senara akhirnya bisa tersenyum lebar, semua kerja kerasnya terbayar tuntas. Ia telah mengamankan posisinya untuk melangkah ke SMA Garuda dengan kepala tegak.

Sementara itu, di kediaman Wijaya, Bima berdiri di depan ayahnya. Adi Wijaya memegang lembar nilai Bima dengan tatapan yang sangat tajam.

"Peringkat empat puluh nasional," Adi Wijaya membacakan angka itu dengan suara rendah yang menakutkan. "Kamu kalah dari ribuan anak di negeri ini, dan yang paling parah, kamu kalah telak dari gadis itu lagi. Gadis miskin dari kawasan kumuh yang tidak memiliki apa-apa."

"Ayah, aku..."

"Jangan beri aku alasan apapun. Kamu punya akses, kamu punya semua fasilitas yang dia tidak punya, kamu punya tutor dan buku-buku mahal. Tapi kamu... kamu membiarkan dirimu jatuh ke peringkat memalukan ini," Adi Wijaya meletakkan kertas itu di meja. "Kamu beruntung jalur undanganmu sudah diterima sebelum hasil ini keluar. Jika tidak, aku tidak akan mengizinkanmu menginjakkan kaki di Garuda."

Bima terdiam, wajahnya kaku. Ia tidak bisa menyalahkan siapa pun kecuali dirinya sendiri. Ia terlalu terobsesi pada sesuatu di diri Senara hingga ia lupa menjaga kualitasnya sendiri.

Sore itu, mereka tidak sengaja bertemu di kantor dinas pendidikan untuk mengurus legalisir dokumen kelulusan. Senara sedang duduk di ruang tunggu, memegang map plastiknya yang sederhana.

Bima datang dengan kemeja rapi, namun wajahnya tampak sangat lelah, ia duduk di kursi seberang Senara.

"Selamat atas peringkat satumu," ujar Bima. Tidak ada nada ejekan, hanya ada rasa pahit yang nyata.

Senara menoleh, menatap Bima datar. "Terima kasih, Bima. Aku dengar kamu masuk empat puluh besar... itu tetap pencapaian yang bagus."

Bima tertawa pendek, tawa yang terdengar hambar. "Pencapaian yang bagus bagi orang biasa, Senara. Bagi seorang Wijaya, itu adalah kegagalan mutlak."

Bima menatap Senara dengan intens, seolah-olah ingin menembus isi kepala gadis itu. "Di SMA Garuda nanti, semuanya akan berbeda. Aku tidak akan membiarkan pikiranku teralih lagi oleh hal-hal yang tidak penting. Aku akan kembali ke performa terbaikku."

Senara hanya mengangguk kecil. "Aku juga akan melakukan hal yang sama. Sampai jumpa di SMA Garuda, Bima."

Bima melihat Senara pergi, membawa mapnya dengan penuh harga diri. Ia mengepalkan tangannya, kejatuhan nilainya di SMP ini menjadi pelajaran berharga baginya. Ia sadar bahwa ia tidak bisa mengalahkan Senara jika ia terus bersikap emosional dan paranoid.

"Aku akan mendekatimu di SMA nanti, Senara. Bukan sebagai musuh yang menyerang dari jauh, tapi sebagai seseorang yang akan masuk ke lingkaranmu. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, pelan tapi pasti." batin Bima.

Tirai jenjang SMP ditutup dengan kemenangan mutlak bagi Senara dalam hal akademis. Mereka berdua kini menatap satu gerbang yang sama, SMA Garuda Nusantara. Tempat di mana rahasia akan lebih sulit disimpan, dan di mana persaingan mereka akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekedar angka di atas kertas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!