Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 16_Tawaran dari Surga
Di luar galeri, di dalam sebuah mobil yang terparkir cukup jauh Adrian mengamati Arumi yang keluar dari gedung dengan wajah yang bersinar-sinar.
Ia tersenyum tipis, karena a istrinya telah berhasil melompat lebih tinggi.
"Hendra," panggil Adrian melalui ponsel rahasianya.
"Ya, Tuan Muda?"
"Pastikan sepuluh juta yang diterima Arumi aman, jangan sampai ibunya tahu di awal atau uang itu akan habis untuk membayar denda Siska. Dan soal Siska... apakah polisi sudah bersiap?"
"Iya, Tuan. Tapi sesuai instruksi Anda kami memberikan 'jalur keluar' bagi mereka. Seseorang akan mendatangi rumah mereka sore ini, menawarkan pembelian rumah tersebut dengan harga murah untuk melunasi hutang Siska." ucap Hendra.
"Bagus," ucap Adrian.
"Biarkan mereka kehilangan tempat tinggal, mereka perlu merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki apa pun, agar mereka tahu betapa berharganya perlindungan yang selama ini diberikan Arumi." ucap Adrian.
Sore harinya, saat Arumi pulang dengan hati yang berbunga-bunga, ia mendapati rumahnya sudah dikerumuni beberapa orang berpakaian rapi yang membawa peralatan ukur tanah.
Bu Ratna pingsan di teras, sementara Siska sedang beradu argumen dengan seorang pria yang membawa map merah.
"Kalian tidak bisa melakukan ini! Ini rumah almarhum ayahku!" teriak Siska.
"Nona, sertifikat rumah ini sudah dibalik nama oleh Pak Broto kepada klien kami karena hutang yang tidak terbayar, dan sekarang ada masalah hukum tambahan dari agensi Anda, kami hanya menjalankan perintah penyitaan," ujar pria itu tegas.
Arumi berlari mendekat. "Ada apa ini, Mas Ian?" tanyanya pada Adrian yang baru saja "pulang kerja".
Adrian merangkul Arumi. "Sepertinya masalah adikmu sudah mencapai puncaknya, Sayang. Rumah ini akan disita."
Arumi menatap ibunya yang tersadar dan mulai menangis meraung-raung.
Meskipun mereka jahat, Arumi tetap merasa iba. "Tapi mereka akan tinggal di mana, Mas?"
Adrian menatap rumah itu dengan pandangan datar, di kepalanya ia sudah membeli rumah itu melalui perusahaan cangkang miliknya sendiri.
Rumah itu tetap akan menjadi milik Arumi, tapi ia ingin memberikan "pelajaran pengusiran" pada Bu Ratna dan Siska.
"Biarkan mereka merasakan konsekuensi dari perbuatan mereka sendiri, Arumi," bisik Adrian.
"Kau sudah cukup berkorban, sekarang saatnya kau fokus pada sayapmu yang mulai tumbuh."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Bu Ratna dan Siska tidak berani memerintah Arumi.
Mereka meringkuk di pojok ruang tamu yang sudah ditempeli stiker "Dalam Pengawasan", sementara Arumi dan Adrian makan malam dengan tenang di gudang belakang yang justru terasa lebih seperti "istana" dibandingkan rumah utama yang penuh dengan kepalsuan.
Adrian tahu babak baru akan segera dimulai, Arumi akan segera masuk ke dunia profesional yang lebih keras, dan ia harus memastikan identitasnya tetap aman meski ia akan terus menyokong istrinya dari balik bayangan kekuasaan Arkadia Group.
Pagi itu, suasana di rumah keluarga Arumi tidak lagi riuh dengan perintah-perintah angkuh Siska atau omelan tajam Bu Ratna.
Suasana justru terasa seperti sebuah pemakaman yang sunyi dan dingin.
Di depan pagar rumah, beberapa pria bertubuh tegap dengan seragam jasa pengamanan sedang berdiri mengawasi proses pengosongan rumah.
Barang-barang mewah milik Siska seperti tas bermerek, sepatu-sepatu mahal, dan cermin hias besar semua diangkut ke dalam truk dengan kasar.
Bu Ratna duduk di lantai teras dengan wajah pucat pasi, ia tidak pernah membayangkan bahwa rumah tempat ia bernaung selama puluhan tahun.
Rumah yang ia gunakan untuk membusungkan dada di depan tetangga, kini bukan lagi miliknya.
Sertifikat rumah itu telah berpindah tangan melalui rentetan skema hukum yang rumit, yang akarnya bermuara pada keserakahan mereka sendiri.
"Arumi... tolong bicarakan dengan suamimu. Dia kan kenal dengan mandor-mandor besar, mungkin dia bisa minta tolong agar kita tidak diusir," ratap Bu Ratna saat melihat Arumi keluar dari gudang belakang.
Arumi menatap ibunya dengan tatapan sedih yang mendalam.
"Bu, Mas Ian sudah berusaha membantu melunasi hutang Pak Broto dengan uang pribadinya, tapi denda dua ratus juta dari agensi Siska itu di luar kemampuan kami. Mas Ian hanya pekerja gudang, Bu." ucap Arumi.
Adrian muncul dari balik pintu gudang, mengenakan kaos lusuh yang sedikit sobek di bagian bahu untuk memperkuat kesan "miskinnya". Ia membawa sebuah kardus berisi peralatan gambarnya Arumi.
"Petugas memberikan waktu sampai jam dua siang ini," ucap Adrian dengan suara berat.
"Jika tidak punya tempat tinggal, saya sudah bicara dengan pengelola baru rumah ini. Karena gudang belakang tidak masuk dalam daftar renovasi segera, kalian boleh tinggal di sana untuk sementara. Tapi hanya di gudang itu."
Siska, yang rambutnya acak-acakan dan matanya sembab, langsung berdiri dengan marah.
"Apa?! Tinggal di gudang pengap itu? Kau gila, Ian?! Itu tempat pembuangan sampah! Aku ini calon model, aku tidak mungkin tinggal di sana!"
Adrian menatap Siska dengan pandangan sedingin es.
"Dulu Arumi tinggal di sana selama bertahun-tahun saat kau tidur di kamar ber-AC. Jika kau merasa itu tempat pembuangan sampah, silakan cari hotel mewah. Tapi jangan lupa, rekeningmu sudah diblokir dan kau punya denda yang belum dibayar. Di luar sana, polisi mungkin sudah menunggumu."
Siska seketika bungkam, ketakutannya pada penjara jauh lebih besar daripada rasa jijiknya pada gudang belakang.
Dengan langkah gontai dan penuh rasa malu, ia mulai mengangkut bantalnya menuju ruangan sempit berukuran 3x3 meter itu yaitu ruangan yang selama ini ia anggap sebagai kandang bagi kakaknya.
Di tengah kekacauan itu, sebuah mobil sedan perak sederhana masuk ke halaman rumah.
Profesor Wijaya turun dengan senyum ramahnya yang khas, Adrian segera memberi kode pada Hendra melalui pandangan mata (Hendra sedang menyamar sebagai salah satu petugas penyitaan di kejauhan) agar tidak ada yang menunjukkan sikap hormat padanya.
"Selamat siang, Arumi," sapa Profesor Wijaya, ia melihat sekeliling dengan dahi berkerut.
"Sepertinya situasinya sedang sulit di sini." lanjutnya.
"Selamat siang Prof, iya rumah ini sedang dalam proses penyitaan," jawab Arumi dengan nada rendah, mencoba menyembunyikan rasa malunya.
Profesor Wijaya mengangguk paham. "Kebetulan sekali, proyek perpustakaan daerah yang saya berikan padamu membutuhkan fokus penuh. Saya memiliki sebuah unit apartemen kecil di dekat galeri yang biasanya digunakan untuk staf residensi dan unit itu kosong. Jika kau dan suamimu bersedia, kalian bisa tinggal di sana selama proyek berlangsung. Anggap saja sebagai fasilitas kantor agar kau tidak perlu bolak-balik jauh dari sini." ucap Profesor Wijaya.
Mata Arumi membelalak. "Apartemen, Prof? Tapi... apakah saya harus membayar sewanya?"
"Tidak Arumi, itu bagian dari kontrak asisten desainer utamaku. Bagaimana, Ian? Apakah kau keberatan jika istrimu tinggal di sana agar pekerjaannya lancar?" tanya Profesor Wijaya, sambil mengerlingkan mata sedikit ke arah Adrian yaitu sebuah isyarat bahwa perintah ini sebenarnya datang dari "bos besar".
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡