Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ban 16 : Tangisan Clarissa
Gairah yang membara di dalam kamar hotel itu kini telah mencapai titik didih yang tak terkendali. Mulut Erian bergerak dengan sangat rakus, seolah-olah ia sedang berusaha meneguk kembali masa muda yang sempat terenggut darinya. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam pada kedua gundukan kenyal Clarissa yang keindahannya tiada tara—sebuah mahakarya fisik yang dirawat dengan biaya yang sangat mahal, namun kini tersedia sepenuhnya untuk ia jamah.
Pikiran Erian berputar liar ke masa sepuluh tahun yang lalu. Di kampus, Clarissa adalah sang primadona, dewi yang dipuja dari kejauhan. Sementara Erian adalah mahasiswa paling populer, target utama dari setiap radar romansa mahasiswi di sana. Hubungan mereka dulu bukan sekadar cinta monyet; mereka adalah pasangan yang hampir melangkah ke jenjang yang lebih serius. Erian masih ingat betul bagaimana rasanya menyentuh Clarissa di masa itu, sebuah memori intim yang terkunci rapat sebelum takdir mengirim Clarissa ke Eropa dan membiarkan Nadya—dengan segala kepolosan dan kegigihannya—masuk ke dalam kehidupan romansa Erian.
Kehadiran Nadya dulu sempat membuat heboh seisi kampus. Semua mahasiswi cemburu dan tidak percaya bahwa si gadis pendiam itu bisa mendapatkan pria paling diinginkan di kampus setelah kepergian sang primadona.
"Oh my God..... feel so good..... mmmmmmmhhhhhhh........." desah Clarissa dengan suara yang pecah oleh kenikmatan.
Tubuh Clarissa melengkung, matanya terpejam rapat saat merasakan lidah Erian yang hangat dan lincah menelusuri setiap inci kulit putih porselennya. "Iya..... begitu Erian..... seperti yang kita lakukan dulu.... saat kuliah........ mmmmmmmmhhhhhhhhh.........."
Clarissa menjambak rambut Erian dengan kuat, bukan untuk menjauhkan, melainkan untuk menekan wajah pria itu lebih dalam ke dadanya yang kini memerah karena gairah. Ia seolah ingin menyatukan kembali kepingan-kepingan masa lalu yang sempat hancur. Setiap hisapan dan kuluman Erian pada kuncup merahnya membuat Clarissa merasa kembali menjadi wanita satu-satunya di hidup Erian.
Aroma wine keras yang tadi mereka minum seolah menguap lewat pori-pori kulit mereka, menambah sensasi memabukkan dalam setiap sentuhan. Erian benar-benar telah lupa diri. Ia tidak lagi melihat bayangan Nadya di matanya; yang ia rasakan hanyalah tekstur kenyal, hangat, dan kencang dari tubuh wanita yang dulu hampir menjadi istrinya.
Tangan Erian yang lain kini merayap turun, melewati perut rata Clarissa menuju rok mini katun yang sudah tersingkap hingga ke pinggul. Ia meraba paha mulus Clarissa yang gemetar hebat, sementara di balik boxer-nya, hasrat Erian sudah berdenyut-denyut menuntut penyelesaian akhir yang jauh lebih intim.
"Jangan berhenti, Er... jangan tinggalkan aku lagi seperti dulu..." rintih Clarissa sambil terus memandu gerakan kepala Erian dengan cengkeraman tangannya yang gemetar.
Suasana di dalam kamar hotel itu kini telah benar-benar kehilangan gravitasi moralnya. Kamar itu bukan lagi sebuah tempat pelarian, melainkan sebuah ruang hampa di mana waktu seolah diputar mundur secara paksa ke masa-masa kejayaan mereka di kampus. Panas dari wine keras yang tadi mereka tenggak kini telah berubah menjadi api yang melahap setiap inci kulit yang bersentuhan.
Clarissa merasakan gelombang kenikmatan yang selama lima tahun ini hanya ia rasakan dalam fantasi dinginnya di Eropa. Dalam satu gerakan yang liar dan penuh tuntutan, Erian menarik rok mini katun Clarissa yang sudah tersingkap hingga ke pinggang. Rok itu terlepas dan dibuang oleh Erian ke arah kegelapan kamar, entah mendarat di mana. Dan untuk kesekian kalinya malam ini, Erian dibuat terpana; Clarissa benar-benar tidak mengenakan pakaian dalam apa pun.
Keindahan tubuh Clarissa terpampang nyata, polos, dan tanpa sehelai benang pun. Di bawah cahaya lampu yang remang, kulit putihnya yang kemerahan tampak berkilat karena keringat gairah. Namun, Clarissa tidak mau menjadi satu-satunya yang telanjang. Dengan jemari yang gemetar namun cekatan, ia balik melucuti celana boxer Erian. Kain tipis itu melayang dibuang oleh Clarissa, dan seketika itu juga, batang pusaka Erian yang mendongak tinggi, tegang, dan berdenyut kencang muncul di depan mata Clarissa.
Clarissa terkesiap, matanya yang biru jernih membelalak dengan binar gairah yang sangat dalam. "Oh, God... Er..." desisnya sambil menelan ludah, tangannya perlahan meraih dan menggenggam milik Erian yang panas, merasakan denyut nadi kehidupan di sana yang menuntut pelepasan.
Dalam desahannya yang semakin liar, Clarissa mulai meracau. Pikirannya benar-benar tersangkut di masa lalu, seolah ia sedang menghapus lima tahun kesepiannya dalam satu malam. Ia menarik kepala Erian kembali ke dadanya, menjambak rambut pria itu agar terus memanjakan gundukan kenyalnya.
"Jangan tinggalin aku lagi, Er...... aaaaaahhhhhh....... terus Er....... iya di situ...... jangan berhenti......." racau Clarissa dengan suara yang pecah dan napas yang terengah-engah.
Ia membelitkan kaki mulusnya ke pinggang Erian, menarik tubuh pria itu agar semakin menekan ke arahnya. Clarissa ingin memastikan bahwa malam ini, tidak ada satu inci pun dari tubuh Erian yang tidak bersentuhan dengan kulitnya. Ia ingin menanamkan kembali otoritasnya atas pria yang dulu hampir ia miliki sepenuhnya.
"Kamu adalah milikku, Er....... katakan! Katakan padaku, kamu milik siapa, Er.........????" tanya Clarissa dengan nada yang menuntut, suaranya serak oleh nafsu sekaligus rasa haus akan pengakuan. Ia menatap mata Erian dalam-dalam, menanti jawaban yang akan menghancurkan kesetiaan Erian pada Nadya selamanya.
Erian, yang kepalanya sudah pening oleh wine dan aroma rosella, menatap wajah Clarissa yang cantik dan sensual di bawahnya. Ia merasa seperti sedang tenggelam dalam samudera masa lalu yang sangat dalam. "Aku... aku milikmu, Clar..." bisiknya parau, sebuah kalimat yang menjadi paku terakhir pada peti mati rumah tangganya.
Gairah yang sudah mencapai ubun-ubun itu akhirnya meledak. Erian, yang sudah kehilangan seluruh kendali atas akal sehatnya, tidak lagi mampu menahan gejolak yang membakar pembuluh darahnya. Di bawah temaram lampu hotel, ia melihat Clarissa yang terbaring polos, pasrah, dan begitu memuja dirinya. Keindahan tubuh wanita keturunan Eropa itu—dengan lekuk pinggang yang sempurna dan kulit putih yang kini memerah karena gairah—menjadi magnet yang menariknya ke dalam pusaran dosa yang paling dalam.
Tanpa menunggu lebih lama, Erian memposisikan dirinya di antara kedua paha mulus Clarissa yang terbuka lebar. Dengan satu dorongan kuat yang didorong oleh insting purba, ia melesakkan gadanya yang menegang hebat ke dalam lubang kenikmatan Clarissa.
"Ahhh-hhh...!" Clarissa membelalakkan matanya, mulutnya ternganga saat merasakan sensasi penuh yang luar biasa menyeruak di dalam dirinya. Ukuran Erian yang luar biasa seolah mengisi setiap sudut kekosongan yang selama lima tahun ini ia rasakan.
Erian mulai menggenjot pelan-pelan, mencoba menyesuaikan ritme dengan kehangatan dinding rahim Clarissa yang menjepitnya dengan sangat erat. Suara gesekan kulit dan deru napas yang memburu menjadi satu-satunya musik di kamar itu. Namun, di tengah kenikmatan genjotan yang semakin dalam itu, Erian melihat sesuatu yang kontras di wajah Clarissa.
Clarissa terisak. Air mata mengalir deras dari sudut mata birunya, membasahi bantal hotel yang putih bersih. Isakannya terdengar pilu di sela-sela desahan nikmatnya.
Erian menghentikan gerakannya sejenak, ia bertumpu pada kedua lengannya yang kekar, menatap wajah Clarissa dengan cemas. "Kenapa, Clar...? Kamu kesakitan...? Apa aku terlalu kasar?" tanya Erian dengan suara parau yang penuh kekhawatiran.
Clarissa menggelengkan kepalanya perlahan, tangannya yang gemetar meraba wajah Erian, mengusap rahang tegas pria yang sangat ia cintai itu. "Nggak apa-apa sayang..... lanjutkan aja..... teruskan, Er..." jawab Clarissa lirih dengan suara yang pecah.
Di balik air mata itu, Clarissa sedang merana dalam khayalannya sendiri. Ia menangis karena ia sedang berandai-andai. Ia membayangkan jika saja lima tahun lalu ia tidak pergi, atau jika saja saat ia pulang, ialah yang berdiri di samping Erian di pelaminan, bukan Nadya.
Ia membayangkan betapa bahagianya hidupnya jika menjadi istri sah Erian. Ia tidak akan membiarkan Erian mengalami drama-drama kesusahan seperti ini; ia akan menggunakan seluruh kecerdasannya sebagai manajer keuangan untuk melindungi suaminya. Dan yang paling penting, malam-malamnya di apartemen mewah tidak akan lagi terasa dingin dan sepi hanya dengan memeluk guling. Ia akan memiliki tubuh hangat Erian setiap malam.
"Terus, Er... jadikan aku milikmu malam ini saja..." bisik Clarissa lagi sambil menarik leher Erian agar kembali memagut bibirnya.
Erian, yang tersentuh oleh air mata itu, kembali memulai genjotannya. Kali ini lebih dalam, lebih bertenaga, seolah-olah ia sedang menyalurkan seluruh rasa frustrasinya ke dalam tubuh Clarissa. Ia membenamkan wajahnya di leher Clarissa, menghirup aroma parfum yang kini bercampur dengan aroma keringat gairah.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭