Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Bawa tanah
Hujan di Singapura malam itu tidak terasa seperti berkah; ia terasa seperti ribuan jarum dingin yang mencoba menembus pori-pori kulit Adam. Air mengalir di sela-sela gang sempit Geylang, membawa hanyut sampah plastik dan sisa-sisa kehidupan kota yang tidak pernah tidur. Adam berjalan dengan kepala tertunduk, jaket hitamnya sudah basah kuyup, menyatu dengan kegelapan. Ia menghindari setiap kamera pengawas yang terpasang di sudut ruko. Ia tahu, di balik lensa-lensa kecil itu, algoritma pengenal wajah Hage mon sedang bekerja keras memindai jutaan wajah untuk mencari satu anomali dirinya.
Adam berhenti di depan sebuah toko barang antik yang nampak reyot. Papan namanya yang kayu sudah lapuk, hanya menyisakan satu kata yang nyaris pudar: “Memoria”. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu yang berderit nyaring, memecah kesunyian malam.
Di dalam, bau kertas tua, debu, dan kemenyan menyambutnya. Ruangan itu penuh dengan barang-barang yang sudah tidak lagi dihargai oleh dunia modern jam dinding analog, radio tabung, hingga tumpukan buku bersampul kulit. Di pojok ruangan, seorang pria tua dengan kacamata tebal sedang asyik memperbaiki sebuah kompas kuno. Ia adalah Hendrawan, mantan perwira intelijen laut yang dipecat karena "terlalu banyak bertanya".
"Kau terlambat sepuluh menit, Adam," suara Hendrawan serak, tanpa mendongak dari pekerjaannya. "Di dunia yang dipantau satelit, sepuluh menit adalah waktu yang cukup untuk dikremasi tanpa upacara."
Adam mengatur napasnya yang tersengal. "Mereka sudah memulainya, Pak Hendra. Sinyal dari Palung Andaman. The Great Eye mendeteksi pola jantung. Mereka menyebutnya penarikan kesadaran."
Hendrawan meletakkan kompasnya. Ia melepas kacamatanya, menatap Adam dengan mata yang tajam namun penuh keletihan. "Jadi, mereka benar-benar melakukannya. Mereka pikir mereka bisa memanen energi dari frekuensi bumi tanpa membayar harganya."
"Energi apa? Apa yang sebenarnya ada di bawah sana?" tanya Adam, ia mendekat ke meja kerja Hendrawan yang berantakan.
Hendrawan bangkit, berjalan menuju sebuah lemari besi tua di sudut ruangan. Setelah memutar kunci kombinasi beberapa kali, ia mengeluarkan sebuah peta maritim fisik—sesuatu yang sangat langka di zaman digital. Peta itu penuh dengan coretan tangan dan tanda silang merah di sekitar wilayah Samudera Hindia.
"Dunia mengira Area 51 adalah pusat rahasia. Itu salah besar," Hendrawan membentangkan peta itu. "Rahasia yang bisa menghancurkan umat manusia tidak diletakkan di gurun yang bisa difoto dari langit. Ia diletakkan di tempat di mana cahaya matahari tidak pernah sampai. Di Palung Andaman, ada sebuah struktur yang bukan buatan manusia zaman sekarang, Adam. Elit global menyebutnya 'The Anchor' Sang Jangkar."
Hendrawan menunjuk ke sebuah titik hitam di peta. "Mereka menemukan teknologi di sana lima puluh tahun lalu. Sebuah mesin yang mampu memanipulasi resonansi Schumann detak jantung bumi. Jika kau bisa mengontrol frekuensi itu, kau bisa mengontrol emosi, kesehatan, hingga nyawa manusia dalam skala global. Itulah alibi mereka tentang 'Luar Angkasa'. Mereka sibuk menyuruh orang melihat ke bintang-bintang, agar tidak ada yang sadar bahwa mereka sedang menggali 'neraka' di bawah laut."
Adam terdiam. Pikirannya melayang pada deretan kode merah yang ia lihat di lantai 88. "Sistem memprediksi kematian massal dalam empat jam ke depan. Kenapa sekarang? Kenapa mereka terburu-buru?"
"Karena mereka ketakutan," Hendrawan tersenyum pahit. "Mereka tahu bumi sedang bereaksi. Ada siklus besar yang tidak bisa mereka kontrol dengan komputer mereka. Kematian massal itu bukan kecelakaan; itu adalah 'tumbal' frekuensi. Mereka ingin mencoba menyeimbangkan energi bumi dengan mengorbankan ribuan nyawa agar posisi kekuasaan mereka tidak goyah saat bencana besar yang sebenarnya tiba."
Tiba-tiba, suara dengungan halus terdengar dari luar toko. Suara yang sangat dikenal Adam Drone pengintai model Spec ter.
"Mereka di sini," bisik Adam, tangannya refleks meraba perangkat bypass di sakunya.
"Jangan lewat pintu depan," Hendrawan dengan cepat menarik sebuah permadani di lantai, menyingkap sebuah pintu rahasia menuju ruang bawah tanah. "Ikuti terowongan ini. Ia akan membawamu ke sistem drainase tua peninggalan kolonial. Di sana tidak ada sensor biometrik, tidak ada Wi-Fi. Kau akan aman untuk sementara."
"Pak Hendra ikutlah dengan hamba!"
Hendrawan menggeleng. "Seseorang harus tetap di sini untuk menghapus jejakmu. Ingat, Adam, jangan percaya pada apa yang terlihat di layar. Carilah 'suara yang tak terdengar'. Di bawah laut itu, ada kebenaran yang lebih tua dari peradaban ini."
Adam melompat ke dalam lubang gelap itu tepat saat pintu depan toko hancur diterjang ledakan kecil. Di dalam kegelapan terowongan bawah tanah yang lembap, Adam berlari dengan satu tangan menyentuh dinding batu yang dingin. Bau air payau dan lumut menyengat. Di atas sana, ia bisa mendengar suara langkah kaki berat pasukan taktis yang menggeledah toko Hendrawan.
Setiap langkah yang Adam ambil di dalam terowongan ini terasa seperti ia sedang menjauh dari peradaban yang selama ini ia bangun. Ia teringat akan ucapanmu tadi: “Jangan terlalu terobsesi akan kekuasaan atau keabadian.” Elit-elit di atas sana sedang mencoba membeli keabadian dengan nyawa orang lain, tanpa sadar bahwa mereka sedang menggali kuburan mereka sendiri di dasar samudera.
Terowongan itu membawanya semakin dalam ke bawah kota. Adam sampai di sebuah ruangan besar tempat pertemuan pipa-pipa raksasa. Di sana, ia melihat sesuatu yang tak terduga. Sekelompok orang gelandangan, orang-orang yang terlupakan oleh sistem duduk mengelilingi sebuah api kecil. Mereka tidak punya gadget, tidak punya identitas digital. Mereka adalah orang-orang "tak terlihat".
Seorang wanita muda dengan jaket lusuh dan mata yang tajam berdiri menghalangi jalan Adam. Ia memegang sebuah pisau kecil, tapi matanya menunjukkan kecerdasan yang luar biasa.
"Kau berbau seperti orang-orang di atas sana," suara wanita itu dingin. "Berbau seperti listrik dan kepalsuan."
"Aku datang untuk mencari perlindungan," jawab Adam, mengangkat kedua tangannya. "Namaku Adam. Hendrawan yang mengirimku."
Wanita itu menurunkan pisaunya sedikit. "Aku Liora. Hendra sudah memperingatkan kami bahwa 'Arsitek' akan turun ke bawah tanah. Tapi kau harus tahu satu hal, Adam. Di sini, angka-angkamu tidak berguna. Kami hidup berdasarkan naluri, sesuatu yang sudah lama dibunuh oleh perusahaanmu."
Liora membawa Adam ke tengah lingkaran api. Di sana, mereka memiliki sebuah radio gelombang pendek yang dimodifikasi. Suara kresek-kresek statis keluar dari speakernya.
"Dengarkan ini," kata Liora.
Adam mendekatkan telinganya. Di balik suara statis itu, ada sebuah irama. Dug-dug... dug-dug... Irama itu sama dengan detak jantung yang ia temukan di lantai 88. Tapi di sini, suara itu terasa lebih nyata, lebih penuh dengan emosi, seolah-olah bumi sendiri sedang menangis kesakitan.
"Itu adalah suara dari Palung Andaman," bisik Liora. "Kami sudah mendengarnya selama berbulan-bulan. Para nelayan di pesisir mulai hilang, ikan-ikan mati dengan jantung pecah. Sesuatu sedang terbangun, Adam. Dan itu bukan alien. Itu adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri melalui keserakahan."
Adam menunduk. Ia menyadari bahwa pelariannya bukan sekadar untuk menyelamatkan nyawa sendiri. Ia harus kembali ke laut. Ia harus menemukan cara untuk menghentikan "Jangkar" itu sebelum frekuensi kematian itu dipancarkan ke seluruh dunia.
Di bawah kegelapan Singapura, dikelilingi oleh orang-orang yang dianggap sampah masyarakat, Adam Satria mulai menyusun rencana. Untuk melawan mereka yang menguasai langit, ia harus menjadi penguasa kegelapan di bawah laut.