Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.
Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....
Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀
Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰
~ Happy reading ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajahnya Semakin Dekat
"Lix, Auris mana?"
Aku keluar dari kamar dan mengikat rambutku.
"Oh, Auris? Dia dibawa pergi Ray."
Felix duduk di kursi dekat meja makan. Masak aja belum udah siap makan.
"Kemana? Udah lama?" aku memasang apron.
"Nggak tau," jawab Felix bodo amat.
"Mereka sangat serasi. Aku iri," Felix memanyunkan bibirnya. Dia memasang kedua tangannya menopang dagu.
"Ish."
Sekarang aku sudah siap untuk memasak. Entah hasilnya akan bagaimana, aku hanya mengatakan akan memasak untuknya tidak menjamin rasa yang enak. Aku mengambil persediaan memasak yang ada di kulkas. Cukup komplit, ada daging, ikan, sayur, dan berbagai bumbu. Awalnya aku hanya ingin membuatkan dia mie rebus tapi itu terlalu biasa. Jika hanya mie instan, Felix pasti bisa membuatnya sendiri.
"Mau ku bantu?" Felix menawarkan bantuan padaku.
"Tidak. Aku bisa mengerjakannya sendiri," jawabku percaya diri.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu," ucap Felix senang.
Aku memulai memotong bahan-bahan dan mencucinya. Felix melihatku tanpa berkedip. Dia terus memperhatikan langkahku sambil tersenyum. Apa bibirnya tidak pegal tersenyum lebar untuk waktu yang cukup lama?
Aku mengeluarkan semua effort dan tenagaku untuk menyajikan makanan yang layak untuk Felix. Setidaknya sebagai permintaan maaf karena membuatnya menunggu lama.
Aku memasak beberapa lauk diantarany ikan goreng, telur dadar gulung dan sundubujjigae atau biasa dikenal dengan sebutan sup pedas ala Korea yang biasanya dihidangkan saat musim dingin.
Aku menaruh semua makan yang sudah siap ke meja yang ada di hadapan Felix. Felix terlihat senang tapi dia tidak membantuku, dia tetap saja menopang dagunya. Kepalanya bergerak mengikuti tanganku.
"Makanlah sebelum dingin," ucapku.
Felix mengangguk patuh. Aku melepas apron dan duduk di sebelahnya. Felix tidak bergeming sama sekali. Aku mengambilkan makanan untuknya. Tidak hanya memasak tapi aku juga menyiapkan makanan untuk dia santap.
"Terlihat sangat enak," ucap Felix bersemangat. Dia tersenyum girang.
Felix menyendok sedikit demi sedikit makanan yang ada di hadapannya, "ternyata kamu pandai memasak," dia memujiku.
Aku merasa bangga dan juga malu mendengar pujiannya. Tak ku sangka aku akan mendapat pujian dari masakan ala kadarnya. Aku mengambil makanan untuk diriku sendiri, membantu Felix menghabiskan masakanku.
"Aku akan sangat bahagia jika kamu memasak untukku setiap hari," ucap Felix sembari menghabiskan makanan di piringnya.
"Uhuk uhuk," aku tersedak.
"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya Felix polos.
"Akan repot jika aku harus memasak setiap hari dan mengantar makanan untukmu," ujarku.
"Benar. Akan sangat merepotkan jika kamu mengantar makanan untukku. Kalau begitu, aku tinggal di sini saja dengan begitu kamu hanya memasak tak perlu mengantar," ucap Felix enteng.
"Apa? Sepertinya aku salah dengar. Cepat habiskan makananmu," aku meneguk air.
Makananku sudah habis begitu juga dengan Felix. Aku menuangkan teh hangat untuk Felix.
"Bagaimana?" Aku ingin mengetahui pendapat Felix mengenai permintaan maaf ku malam ini. Memasak, makan dan menyajikan teh untuknya.
"Manis," jawab Felix.
Sepertinya Felix salah mengira. Mungkin yang dia maksud adalah rasa teh yang ku sajikan.
Tiba-tiba Felix menarik pinggangku, aku terbawa oleh tangannya dan berada di pelukannya. Dia memelukku dengan erat. Tanganku menempel di dada bidangnya, menopang tubuhku.
"Yang ini juga sangat manis. Lebih manis," ucap Felix.
Aku menatap mata Felix lekat-lekat. Ku ikuti arah matanya ternyata dia memperhatikan bibirku. Jantungku berdegup kencang, wajahku memanas. Aku yakin sekarang wajahku memerah seperti kepiting rebus. Wajah Felix semakin dekat, lebih dekat, sangat dekat. Lima senti, empat senti, tiga senti, dua senti, tinggal satu senti lagi dan kami akan berciuman.
Tapi itu tidak terjadi, suara password apartemen yang ditekan dari luar membuatku tersadar. Aku mendorong tubuh Felix dan meloloskan diri dari pelukannya.
-*Piiip piip-
-ceklek*-
Pintu apartemenku terbuka. Aku segera merapikan diri dan menghela nafas meredakan gugup. Felix juga merapikan duduknya dan menggosok bagian belakang kepalanya, dia gugup sama sepertiku.
"Aku pulang," seru Auris dari arah pintu masuk.
Auris dan Ray, mereka berdiri di depan pintu.
"Kyra, Felix, kalian kenapa kok terlihat canggung?" tanya Auris bingung.
Auris dan Ray berjalan mendekati kami.
"Ka..kamu sudah pulang? Dari mana?" Aku berusaha menekan rasa gugup dengan tersenyum. Senyuman aneh.
"Kami tadi jalan-jalan. Kalian sudah makan?" Auris menenteng bungkusan berukuran besar.
"Su..sudah. Kami baru saja selesai makan," jawabku canggung.
"Hmm begitu ya. Sayang sekali, aku sengaja membungkus makanan untuk kalian."
Ray mengajak Felix berbincang di depan TV. Mereka terlihat sedang berdiskusi santai. Persis seperti saudara padahal mereka hanya sahabat karib sama seperti aku dan Auris.
"Kita simpan saja buat besok," aku menerima bungkusan Auris yang ternyata berisi nasi dan ayam balado.
"Ayamnya bisa kita panasi dan kita simpan untuk besok pagi," saranku.
"Oke, kalau begitu aku yang memanasi ayamnya." Auris mengangguk menerima saranku.
"Oke. Aku akan merapikan dapur dan meja makan."
Aku melenggang pergi merapikan meja dan mencuci perabotan. Aku menghidupkan air keran dan mencuci gerabah. Aku berusaha untuk fokus pada pekerjaanku tapi nihil. Pikiranku selalu mengingat kejadian tadi. Bagaimana jika tadi Auris tidak pulang? Apa aku dan Felix akan berciuman? Apa ciuman kami akan lama? Sebentar? Panas?Memikirkan hal seperti itu membuat wajahku kembali memerah. Bodoh, bodoh sekali.
***
Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dan berkumpul bersama Auris, Felix, dan Ray di depan TV.
"Aku dan Felix akan pindah ke sini," celetuk Ray saat aku hendak duduk.
"Apa?!" aku menoleh kearah Ray dengan cepat dan kaget. Tak hanya aku, Auris juga terlihat kaget sepertinya dia tidak tau mengenai hal ini.
"Kalian akan pindah ke sini? Di sini? Di tempat ini?!" tanyaku beruntun.
"Apa otak kalian tadi tersiram air? Konslet?" aku menatap Felix dan Ray bingung.
Felix malah tertawa melihatku, "bukan. Bukan begitu maksud Ray. Kami akan pindah ke apartemen depan kalian. Kita akan menjadi tetangga."
"Oh.." Aku manggut-manggut tanda mengerti. Tentunya aku juga merasa malu karena berpikir terlalu jauh tapi Ray juga bersalah, dia tidak mengatakannya dengan jelas.
"Rencananya kapan kita akan tetanggaan?" tanya Auris senang.
"Mungkin satu minggu lagi." Ray juga tersenyum senang.
"Asik dong kalau kita tetanggaan. Kita bisa lebih mudah bertemu," wajah Auris terlihat berbunga-bunga.
"Kenapa kalian ingin pindah?" tanyaku basa-basi. Sebenarnya aku juga senang jika mereka tinggal di dekatku.
"Karena kami ingin," jawab Felix singkat. Dia memberikan senyuman bodoh.
"Hanya itu?" tanyaku penuh selidik.
"Tidak. Karena kami ingin lebih mudah menjaga kalian," Felix tersenyum hangat.
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Boleh intip "Pengantin Pengganti"