Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 29 : Konflik Sebelum Keputusan Juri
(*Recap cerita sebelumnya*)
Tak terasa, sebentar lagi para juri akan menentukan dua orang peserta yang diloloskan ke babak final.
Penilaian juri untuk masakan Chef Do telah berakhir, lalu disusul dengan giliran Chef Min Ho.
"Chef Min Ho. Apakah hidangan untuk hari ini?" tanya Chef Gi Jun.
"Hidangan saya hari ini adalah confit daging dada ayam panggang dan sayuran yang diperkuat rasanya dengan bumbu marinasi jeruk beserta alkohol, lalu dilengkapi dengan saus wortel dan jahe yang sedikit pedas," terang Chef Min Ho.
"Baik. Mari kita coba," balas Chef Yeon Ji.
Seperti sebelumnya, para juri mencoba setiap elemen dalam masakan peserta, agar mampu memberikan penilaian yang mendetail dan relevan.
Kali ini, kedua orang juri tidak langsung berpendapat. Walau keduanya jelas menyukai hidangan Chef Min Ho.
"Bagaimana menurut Anda, Jin Hee-ssi?" tanya Chef Yeon Ji.
"Segarnya. Tak kusangka, daging dada ayam bisa bersari dan kaya rasa seperti ini," ucap Ok Jin Hee terkesan.
"Aku setuju. Lagi-lagi, Chef Min Ho membuat bahan yang sederhana menjadi hidangan yang berkelas, dengan kejutan rasa yang memenuhi mulut dalam setiap gigitan," ujar Chef Yeon Ji.
Mendengar pemahaman Chef Yeon Ji mengenai hidangan itu, Chef Min Ho hampir tidak menyadari senyuman di wajahnya.
"Rasa pedas dari saus wortel dan jahe ini menetralkan rasa asam dan manis alami dari bumbu marinasi jeruk, sehingga membuat hidangan ini semakin memuaskan," imbuh Chef Gi Jun.
Setelah mempersilahkan Chef Min Ho menunggu di tempat semula, para juri menantikan hidangan selanjutnya.
"Selamat pagi, Chef Ik Jun," sapa Ok Jin Hee, seketika Chef Ik Jun menghidangkan 3 piring porsi besar untuk dipresentasikan.
"Selamat pagi, para juri yang terhormat. Hari ini, saya membuat dua macam steak porsi keluarga. Yang pertama adalah pork rib eye steak, yang diperkaya rasanya dengan mirepoix, bumbu dasar berupa garam dan merica, kaldu rebusan tulang dan jamur, saus basil dan tomat segar, serta penambahan bourbon untuk flambé," terang Chef Ik Jun.
"Wah, menarik. Aku tidak sabar ingin mencobanya," respon Ok Jin Hee.
"Pastinya, steak buatan Chef Ik Jun akan berbeda dari yang biasa. Lalu, yang kedua?" simak Chef Gi Jun.
Yang kedua adalah red snapper steak, yang juga dimasak secara perlahan dalam rebusan, lalu ditumis dengan sayuran, minyak zaitun, beserta tequila untuk flambé. Terakhir, ditambahkan dengan saus reduksi paprika lemon beurre blanc," imbuh Chef Ik Jun.
"Tak kusangka, Chef Ik Jun mampu menyelesaikan dua jenis hidangan kompleks dalam waktu yang sangat terbatas. Baiklah, mari kita coba," ujar Chef Yeon Ji.
Ketiga orang juri menjajalkan potongan daging yang cukup besar hingga memenuhi mulut mereka.
"Mmm, lezat sekali! Tingkat kematangan daging rusuk ini sempurna. Dagingnya terlepas dari tulang dengan mudah, lalu meleleh saat dimakan," komentar Ok Jin Hee, dibalas dengan senyuman santun dari Chef Ik Jun.
"Chef Ik Jun benar-benar berhasil mengolah bahan utama dengan pilihan alkohol yang tepat, hingga menghasilkan masakan terlezatnya sejauh ini," puji Chef Yeon Ji.
"Secara pribadi, aku sangat terkesan dengan steak ikan kakap merah ini. Mungkin karena sausnya, aku bisa merasakan rasa pengasapan yang pas dan tidak mendominasi. Kurasa, penggunaan tequila untuk hidangan ini sungguh cerdas," ulas Chef Gi Jun.
Kini, para juri telah mencicipi hidangan dan memasukkan penilaian untuk ketiga peserta semi-final.
Baru berunding sejenak, mendadak ponsel milik Chef Gi Jun dan Chef Yeon Ji berdering.
"Yeoboseyo. Maaf, saya sedang sibuk. Nanti akan saya kabari lagi, Tuan," ucap Chef Gi Jun pelan, seketika mengangkat telepon.
"Sibuk katamu? Beraninya kau. Tidak ada kata nanti. Yang kuperintahkan padamu hanya satu, yaitu membuatnya terusir atau gagal dalam babak ini. Jika kau menolak, akan kubuat kau menyesal," ancam sang pembicara, hingga Chef Gi Jun kesulitan berkata-kata.
Sementara itu, Chef Yeon Ji memilih untuk tidak menerima panggilan darurat, lalu dengan cepat mengetikkan pesan jawaban.
Pengirim : Investor VIP (AA Project)
Chef Ahn! Cepat angkat telepon, atau kami akan membatalkan investasi dengan proyekmu!
Melihat pesan yang masuk dengan cepat dan beberapa panggilan tak terjawab, Chef Yeon Ji hampir saja mengeluh.
"Ada apa ini?" tanya Ok Jin Hee kepada kedua orang juri yang lain, disertai dering ponselnya sendiri.
Pengirim : Manager Kwang
Jin Hee-ssi, tugasmu sudah selesai. Kembalilah ke perusahaan sekarang juga. Jangan sampai terlibat lebih jauh.
Begitulah isi pesan dari manager yang ditugaskan untuk mengurus segala keperluan bintang kpop itu.
"Tapi, kenapa? Sebenarnya, apa yang telah kulakukan?" desah Ok Jin Hee, kebingungan.
Secara otomatis, para peserta dan media massa mulai menyadari gerak-gerik gelisah para juri.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka tidak segera memberi keputusan?" gumam Chef Min Ho heran.
"Entahlah. Mungkin ada masalah teknis, tidak mungkin karena masalah pribadi," balas Chef Do.
"Hmm.. Mencurigakan sekali. Kenapa harus di saat seperti ini?" ucap Chef Ik Jun penasaran.
Di sisi lain, seseorang baru saja menutup telepon dengan sikap misterius.
"Hyeong!" panggil Seong Jun kepada dalang yang berperan di balik layar, yakni kakaknya sendiri.
"Apa maumu?" sahut Seong Woon dingin.
"Justru itu yang ingin kutanyakan padamu. Apa yang barusan kau lakukan?" desak Seong Jun berani.
"Itu bukan urusanmu. Kau pikir aku akan menyerahkan tugas ini padamu? Baik tugas sulit maupun remeh, kau tidak pantas menerimanya," tekan Seong Woon, tanpa ekspresi di wajahnya.
"Seong Woon hyeong! Tetap saja, ini bukan cara yang benar. Bagaimana jika ketahuan--"
Buk!
Sebelum mengoceh, sebuah tonjokan kencang mengenai wajah Seong Jun hingga tubuhnya terpelanting ke kursi, lalu terjatuh ke lantai.
Rasa sakit pada pipi kirinya yang membengkak beserta penghinaan yang diterima oleh Seong Jun membuat pria itu naik darah.
"Sialan kau!" amuknya, seraya membalas serangan fisik dari saingan terberatnya itu.
Dak!
Sayangnya, kini Seong Jun batuk darah akibat sodokan keras lutut Seong Woon pada bagian perutnya.
Saat pria itu hampir dihajar oleh kakaknya, asisten Seong Jun yang dipanggil M segera meminta bantuan kepada para bodyguard yang berjaga.
"Tuan Muda, saya mohon ampunilah Tuan Seong Jun. Beliau satu-satunya saudara Anda," lerai M, walau sebenarnya gemetar menyaksikan kekuatan dan kebengisan Seong Woon.
Karena tidak cukup ditahan oleh 2 orang bodyguard bertubuh tinggi besar, M mengerahkan lebih banyak lagi petugas keamanan.
"Cih, kau selalu ikut campur. Kau pikir dia ini masih bayi? Untuk apa kau mengurusnya bagaikan putramu sendiri? Menjijikan," umpat Seong Woon, tanpa belas kasihan.
"Walau demikian, Tuan Seong Jun tidak pernah melampiaskan apapun yang dirasakannya secara brutal terhadap saya. Maka, sudah sewajibnya bagi saya untuk melakukan tugas melindungi Tuan Muda yang malang ini," dalih M tegas, meski tak kuasa melawan Seong Woon.
Ditatap M dengan penuh kesungguhan, akhirnya Seong Woon menurunkan minatnya menghukum Seong Jun.
Deru nafas sesak dan lega yang dihembuskan oleh Seong Jun membuat M semakin prihatin.
"Tidak apa-apa, Tuan Muda. Mari ikut saya, akan saya bersihkan luka Anda," bujuk M hormat.
Bagi Seong Jun, semenjak masa kecilnya hanya M yang senantiasa menjaga dan menasihatinya dengan sukarela. Kini, pria itu mulai bertanya-tanya dalam benaknya.
- Bersambung -