Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Rion terdiam mendengar yang dikatakan bossnya. Dia jadi berpikir, perombakan seperti apa yang akan dilakukan, karena kantor cabang sudah hampir sama bagus dengan gedung kantor pusat. Hanya beda besar dan tinggi serta lingkungan.
Ethan yang tadinya tidak berpikir untuk adakan perombakan di kantor cabang, berubah pikiran. Dia mau merubah beberapa hal setelah mengetahui gadis yang menolongnya pada awal penyamaran bekerja di resepsionis.
Walau inisiatif menolong keliru, tapi dia telah menunjukan kebaikan hati dan itu membekas di hati Ethan. Jadi sebelum melakukan hal besar untuk mengembangkan kantor cabang, dia ingin membereskan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Mari kita rombak struktur ruangan dan jabatan sesuai yang diperuntukan oleh perusahaan." Ucap Ethan serius kepada Rion.
"Rencana saya ini jangan dulu dibahas dengan yang lain. Kita matangkan semua, sebelum kau adakan meeting."
"Baik, Pak. Kalau ditanya oleh big boss, apa saya harus jelaskan?"
"Tidak perlu. Itu bagian saya. Kau siapkan yang saya minta saja." Ethan mencegah.
Rion mengerti maksud bossnya. Dia cukup mengatakan diminta boss Ethan, jika ditanya Papah atau Opahnya. 'Apa karyawan Athalia sudah mendapat perhatian boss?' Rion membatin dengan hati senang, karena bossnya mulai perhatikan wanita.
"Kita modernisasi lobby. Pasang access control system. Jadi hanya karyawan yang bisa masuk atau tamu yang disetujui dan punya access bisa masuk..." Ethan menjelaskan dan menunjuk layar laptop untuk menjelaskan lobby kantor yang dia maksudkan, seperti kantornya di Singapura.
"Sebelum itu, saya akan buat surat keputusan, agar staff tahu perubahan di lobby. Jika ada tamu yang datang, tidak lagi lewat resepsionis. Biarkan sekretaris yang turun temui tamu pimpinan mereka di lobby."
"Kau pindahkan karyawan di resepsionis ke ruangan administrasi. Mereka tidak lagi menghubungi tamu dengan para staff...." Ethan menjelaskan rencananya untuk memindahkan Athalia ke ruangan administrasi.
"Jadi para karyawan training ini langsung diperpanjang atau bagaimana, Pak?"
"Yang empat orang lagi biar dinilai oleh supervisornya. Sedangkan untuk Athalia diperpanjang 3 bulan di bagian administrasi."
"Setelah itu, nanti dievaluasi lagi." Ethan tidak mau langsung memutuskan, agar tidak jadi gejolak di antara karyawan. Ethan bertindak cepat untuk Athalia, karena masa trainingnya akan berakhir.
"Sebelum masa trainingnya berakhir, kau bicara dengan supervisor atau manager. Athalia dipindahkan ke administrasi, karena perusahaan membutuhkan ilmunya." Ucap Ethan sambil berpikir yang akan dia lakukan.
Ethan terus mendikte yang harus dilakukan Rion. Sehingga hari pertama masuk kantor, dia hanya melakukan berbagai keputusan dan perombakan yang tidak dalam agenda kerjanya.
~••~
Di lobby, Athalia sedang serius melayani tamu yang mau bertemu dengan staff perusahaan. Tugas rutin yang dilakukan setiap hari bersama Alea.
"Anda tidak dengar yang saya bilang? Saya ada janji mau bertemu dengan manager pengembangan." Ucap tamu wanita galak kepada Athalia.
"Maaf, Bu. Seperti yang saya bilang tadi. Ibu tinggalkan tanda pengenal, saya akan berikan tanda akses. Atau ibu sebutkan nama dan dari mana, supaya saya bisa beritahukan kepada sekretaris beliau." Athalia tidak bergeming, walau tamunya melotot.
Alea menahan diri walau gemas dengan wanita yang sedang dilayani Athalia. Dia memberikan isyarat tangan kepada tamu yang mengantri di tempat Athalia, agar pindah ke tempatnya.
"Kalau mau bertemu di atas, harap kerja samanya, Bu. Sebab ini aturan perusahaan." Athalia coba bersabar dan beri pengertian, agar tidak terjadi keributan di lobby.
"Anda tidak mengenal saya? Resepsionis saja belagu seperti yang punya perusahaan." Bentak wanita itu lagi, karena sudah sering datang, tapi diperlakukan seperti orang baru.
"Maaf, Bu. Saya kenal atau tidak kenal, ini sudah aturan perusahan." Athalia makin tidak bergeming mendengar tamunya ngotot dan merendahkan pekerjaannya.
Emosi wanita itu meningkat dan jadi marah. Tanpa beranjak, dia mengeluarkan ponsel keluaran terbaru, lalu telpon.
Dia sengaja telpon di depan Athalia sambil memperlihatkan cincin di jari lentik dan jam tangan mahal
"Pa, pegawaimu di resepsionis ini nggak ijinin aku naik." Ucap wanita itu dengan nada dibuat sedih.
Tidak lama kemudian, telpon di resepsionis berbunyi. "Ini siapa?" Terdengar suara pria galak.
"Athalia, Pak. Ini dengan siapa?" Tanya Athalia sopan.
"Manager pengembangan. Berikan access pada istri saya."
"Pak, maaf. Tolong minta ibu berikan tanda pengenal."
"Kau tidak tahu, siapa saya?"
"Pak, saya hanya lakukan sesuai SOP." Athalia tetap meminta tanda pengenal sebelum memberikan kartu akses.
Tanpa berkata apa pun, telpon langsung ditutup. Wanita yang diakui sebagai istri manager pengembangan mendelik ke arah Athalia. Dia puas melihat perubahan wajah Athalia yang memerah, karena dimarahi.
Tidak lama kemudian, seorang pria muda mendekati resepsionis dan menunduk hormat kepada wanita itu, lalu mereka berjalan ke arah lift.
'Waduh, wanita itu bisa membuat masa trainingku berakhir tragis.' Athalia membatin sambil mengurut dada.
Athalia langsung menunduk dan minum air mineral untuk menenangkan detak jantungnya sebelum melayani tamu yang lain.
"Sabarrrr...." Bisik Alea setelah tamu yang dilayani meninggalkan dia.
Athalia hanya bisa mengangguk pelan. "Beliau sering ke sini?" Bisik Athalia.
"Mungkin. Biasanya tidak ke sini. Dia sudah dijemput sama pria tadi." Alea menjelaskan.
"Lea, apa KTP nya berlapis emas?" Tanya Athalia setelah mereka tidak melayani tamu lagi.
"Apa maksudmu?"
"Ibu tadi seperti takut kita gerus sedikit emas dari KTPnya, sampe ngga mau kasih KTP."
"Kau bisa aja. Biasanya dia tidak begitu. Mungkin dia merasa kalah cantik denganmu, walau sudah dadan tebal 1 centi. Jadi mau mengganggu, atau pamer yang lain pada kita."
"Kalau banyak tamu seperti itu, kita bisa darting. Sesuatu yang mudah dibikin ribet." Ucap Athalia sambil mengelus dada.
"Makanya, aku bilang sabar." Alea mengelus lengan Athalia.
"Jangan-jangan, jangan, istrinya buronan." Candaan Athalia membuat Alea memukul lengannya. "Abis, berikan KTP aja, susah."
"Waah, gawat. Sepertinya, suami orang itu lapor ke Pak Super." Athalia meneruskan, saat melihat supervisor berjalan cepat ke arah resepsionis.
"Bilang aja sesuai kejadian." Bisik Alea.
"Alea, layani sendiri. Athalia, ikut saya." Ucap supervisor serius.
Athalia mengikuti supervisor yang berjalan cepat sambil berdoa dalam hati. Semoga tidak terjadi sesuatu, sebelum masa trainingnya berakhir.
"Duduk di situ." Supervisor menunjuk kursi dalam ruangannya.
Athalia duduk setelah menarik nafas panjang. "Tadi ada apa di resepsionis? Mengapa kau tidak sopan pada tamu?"
"Saya tidak tahu yang bapak maksudkan dengan tidak sopan."
"Tadi saya hanya lakukan sesuai SOP...." Athalia jelaskan yang dia lakukan. "Kalau ada pengecualian, bapak tolong cantumkan dalam aturan, supaya kami tidak dibilang tidak sopan." Athalia tidak mau disalahkan karena sudah lakukan sesuai aturan perusahaan.
Supervisor terdiam mendengar penjelasan Athalia. "Kadang ada aturan yang tidak tertulis." Ucap supervisor yang tidak bisa menyalahkan Athalia.
"Maaf, Pak. Lebih baik saya dimarahi karena lakukan yang benar, dari pada dianggap bodoh karena bisa baca tapi tidak mengerti aturan perusahaan." Athalia jadi pasrah, jika masa trainingnya tidak diperpanjang.
...~•••~...
...~•○♡○•~...