Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Hanin
Amaan masih mondar-mandir di area parkir hotel. Dia ingin menghubungi Aariz, tapi atasannya itu pasti sedang sibuk saat itu, tapi jika tidak memberitahunya segera, atasannya itu bisa marah besar padanya. Dia tahu niat Tuan Aariz adalah membuat putrinya tinggal bersamanya. Amaan tak punya pilihan selain menghubunginya.
••
Di bandara satu jam kemudian.
Aariz datang ke bandara bersama manajernya. Wajahnya begitu panik datang, begitu tiba langsung memastikan keberangkatan pesawat ke Yogyakarta di bagian informasi. Begitu mendengar petugas mengatakan pesawat berangkat pukul empat sore, Aariz merasa lega. Itu artinya Hanin masih ada di bandara. Ia lekas meminta manajer dan juga Amaan untuk mencarinya.
Keduanya pergi ke arah yang berbeda, sementara Aariz mencarinya di sekitar tempat itu.
Aariz berjalan ke sana kemari, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Tatapannya tegang dan cemas. Dia baru bertemu dengan putrinya setelah delapan belas tahun, dan hari itu mereka akan berpisah lagi. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan keadaan itu.
Dalam hati dia sangat menyesal, seharusnya dia bisa mengerti apa yang ada dalam pikiran Hanin dan tidak meninggalkannya pergi begitu saja ketika di rumah sakit.
“Hani putriku, kembali, Nak. Ayah janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi,” gumamnya di tengah pencariannya.
Karena tak kunjung menemukan apa yang dicarinya, Aariz kembali ke bagian informasi. Dia meminta petugas untuk memanggil Hanin agar datang menemuinya.
“Berita panggilan untuk ananda Hanin Dya Pramesti, agar datang menemui ayahnya di bagian informasi!”
Setelah pengumuman itu keluar, masih saja tak ada tanda-tanda Hanin datang. Aariz mulai putus asa dan hampir menyerah. Dia kemudian duduk di kursi tunggu dan menyandarkan kepalanya di sana. Dia melonggarkan dasinya yang membuatnya terasa sesak.
“Ada apa Ayah kemari?” tanya Hanin mengejutkan Aariz.
Seketika Aariz membuka matanya, mengangkat wajahnya, kedua matanya terlihat sedikit memerah. Ia kini melihat dengan jelas sosok yang berdiri di hadapannya adalah putrinya. Ia bangkit berdiri lalu menghampirinya. Ia meraih tangan putih gadis itu dan menggenggamnya erat.
Mereka tidak menyadari gara-gara pengumuman itu semua orang kini memperhatikan mereka. Menunggu apa yang akan terjadi.
“Ibumu sudah pergi dari kehidupan ayah, Nak, lalu apakah kau juga berniat meninggalkan ayah?” pertanyaan dari pria yang nyaris kehilangan seseorang yang dicintai untuk kedua kalinya. Ia masih menundukkan kepalanya tanpa berani menatap putrinya. Ia hanya ingin mengungkapkan kecemasan di hatinya dan harapannya.
“Ayah tahu ayah sudah salah tidak bersamamu selama ini, tapi itu semua tak pernah ayah inginkan. Saat ibumu pergi dia hanya meninggalkan pesan yang mengatakan dia ingin mengunjungi ibu dan anak laki-lakinya, dan yang ayah sesalkan mengapa dia tak mengajak ayah bersamanya, lalu dia memutuskan kontak dengan ayah.”
“Mungkin ayah sudah membuatnya marah.”
Aariz menggeleng pelan.
“Tidak, kami selalu baik-baik saja.”
“Mungkin ayah pernah membuat ibu cemburu?”
“Pergaulan ayah hanya dengan rekan bisnis. Siapa yang bisa membuat ibumu cemburu sampai tega meninggalkannya ayah.”
Saat itu Awan datang dan menyela.
“Maaf, tapi pesawat sebentar lagi akan berangkat. Kami harus mempersiapkan diri,” ungkapnya.
Menyadari putrinya akan pergi meninggalkannya, Aariz kebingungan.
“Hani, kau tidak akan pergi kan, Nak?” tanya Aariz sembari mengguncang-ngguncang bahu Hanin. Saat itu Hanin baru menyadari orang-orang di sekitarnya banyak menonton dirinya dan ayahnya.
“Ayah, Hani ingin tinggal, tapi ayah sudah memiliki keluarga lain yang bisa merawat dan menjaga ayah. Hani pikir ayah tak membutuhkan kehadiran Hani.”
“Bukankah sudah ayah bilang, ayah ingin kamu tinggal agar ayah bisa merawatmu. Kalau kau pergi bagaimana caranya ayah menebus kesalahan ayah selama ini. Ayah juga ingin merawatmu, Nak.”
“Bagaimana dengan anak dan istrimu?”
“Tidak ada masalah, mereka pasti menerimamu.”
“Itu menurut pikiran ayah, tapi Hani tidak bisa tinggal dengan mereka. Hani akan setiap hari merasa ayah sudah mengkhianati ibu.”
Hanin perlahan menyingkirkan tangan Aariz dari bahunya.
“Hani sudah cukup mengetahui Hani punya ayah. Dengan ini Hani akan membuat semua orang berhenti berbicara buruk tentang Hani.”
Hanin perlahan memutar tubuhnya.
“Jika ayah memintamu untuk tinggal dan merawat pria yang sudah mulai tua ini apa kau juga tidak mau?”
Hani mulai gundah. Tentu saja dia ingin merawat ayahnya, tapi ...
“Saat ini ayah ingin kau yang merawatku kelak sampai ayah tua, sebaliknya ayah juga ingin menjagamu selagi ayah masih sehat.”
“Ayah, Hani ...”
Ketika Hanin berbalik, Aariz sudah berada di dekatnya memeluk kakinya sambil berlutut. Kejadian itu membuat Hani sedih spontan meminta ayahnya untuk berdiri.
Semua orang berbisik sambil geleng-geleng kepala. Seorang wanita melintas dan berkata, “Aku tidak tahu apa kesalahan ayahmu padamu, tapi selagi dia mau berubah kau harus memberinya kesempatan. Setelah kau menikah nanti kau mungkin tidak ada kesempatan berbakti kepadanya.” Wanita itu kemudian pergi.
Hanin tak memiliki alasan lagi. Ucapan wanita itu benar. Dirinya juga tidak terlalu keras hati untuk mendengar suatu kebenaran.
“Sudahlah, Hani, kalau kau mau tinggal maka pergi saja. Soal Om Elvan dan yang lainnya biar nanti kakak yang jelaskan. Sekarang kakak sudah waktunya berangkat.”
“Tapi, Kak.”
Awan mendekat dan memeluk adiknya sesaat.
“Saat ada waktu kakak akan berkunjung,” ungkapnya sembari mengecup kepala Hanin kemudian berlalu.
Kesedihan Hani tidak hanya karena kepergian Awan. Saat dirinya berpisah dengan Satya, Awan yang selalu menjaganya. Sekarang setelah Awan pergi siapa lagi yang akan melindungi dan membelanya.
Saat itu ayahnya hadir berdiri di hadapannya. Tangannya yang besar terulur menghapus sisa air mata di wajah Hanin.
“Putriku jangan bersedih lagi, mulai sekarang ayah yang akan menjagamu.”
Hanin tak bicara apa pun saat Aariz meraih bahunya dan membawanya meninggalkan tempat itu. Amaan menarik kopernya dan Manajer Aariz mengikuti di belakang mereka.
Hanin merasa tidak hanya ayahnya yang akan menjaganya, tapi dua orang di dekat Aariz sepertinya akan menjadi orang terdekatnya setelah ayahnya.
Hanin menoleh sesaat pada pria yang berjalan di sampingnya, terus saja menggandeng tangannya meskipun dia sedang berbicara di telepon. Ayahnya baru melepas tangannya ketika mereka masuk mobil.
“Ayah harus kembali ke perusahaan, kau tidak apa-apa kan pulang bersama Amaan ke rumah?” tanya Aariz.
“Hani maunya ikut dengan ayah.”
Aariz memahami permintaan putrinya, dia pun tak banyak bertanya. Dia akhirnya masuk ke dalam mobil, satu mobil dengan Hanin.
“Baiklah, kau boleh ikut.” Aariz meminta Amaan membawa mobil ke perusahaan. Sementara manajer mengikuti di belakang mobil mereka.
Sepanjang perjalanan Hanin memilih diam. Dia benar-benar masih belum bisa menyesuaikan diri dengan pria asing di sampingnya, yang notabenenya adalah ayahnya sendiri. Meskipun usia mereka terpaut jauh, dan Hanin belum mengenal betul seperti apa ayahnya.
Saat ini Hani hanya bisa melihat Aariz itu pria dewasa yang pekerja keras. Bijaksana dan perhatian dengan dirinya. Dia pun terlihat tulus dengan niatnya membawa dirinya ke dalam keluarganya. Hanin hanya belum tahu seperti apa dia nanti saat di depan istri dan anaknya, apakah akan tetap sama menjaga dan melindungi serta perhatian seperti saat itu.
Hanin berusaha membuang kekhawatirannya. Kecemasannya saat ini karena dia terlalu banyak melihat drama keluarga di televisi di mana suami selalu kalah dengan istri keduanya dan tidak bisa membela anak kandungnya sendiri. Apakah ayahnya akan seperti itu?
“Hai kau melamun apa? Kita sudah sampai apa kau tak mau masuk?” tanya Aariz menyadarkan lamunan Hanin. Hanin turun, setelah Amaan membukakan pintu untuknya.
Mereka kemudian memasuki gedung besar perusahaan otomotif itu.
Aariz Zayan Malik adalah salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan itu, selain tiga keluarga lainya. Keluarga Ahmed, keluarga Hossam dan keluarga Tamer. Jadi tak heran jika di setiap langkahnya Aariz selalu mendapatkan sambutan dan penghormatan dari orang-orang yang berpapasan dengannya.
Namun, hari itu ada banyak mata yang menyapa dan menatap mereka penuh tanda tanya. Mungkin melihat sosok gadis asing yang berjalan di samping Aariz dan mencuri perhatiannya semua orang.
Selama ini orang-orang bawahan terdekat Aariz kebanyakan adalah laki-laki, dari asisten pribadi, manajer dan sekretarisnya. Jadi tak heran jika melihat kehadiran Hanin bersamanya cukup mengundang perhatian semua orang.
Tiba di ruang kerjanya di lantai tiga, Aariz baru saja duduk, manajer sudah menunggunya untuk menyampaikan informasi.