Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Ternyata .... (2)
Bab 29
"Ini! Sejak kapan dia ...ya ampun."
Lisa sampai terbelalak tidak percaya mendapati banyak foto dirinya di folder tersebut. Foto yang diambil tidak sengaja dan juga candid. Saat ia berada di ugd, kumpul di aula rumah sakit untuk pengarahan, kantin dan banyak lagi yang dia sendiri lupa di momen dan acara apa.
Ada rasa bangga karena foto yang diambil tanpa dia tahu dan tanpa bergaya tetap terlihat bagus. Penasaran dengan perasaan Asoka padanya sejak kapan akhirnya terungkap juga. Pantas saja dokter cintanya tidak percaya dan menolak pernyataan Love at first sight, karena perasaannya mungkin tumbuh sejak lama.
“Astaga, jadi malu. Jadi, selama ini dia perhatikan aku terus.” Lisa terkikik geli lalu menepuk pelan kedua pipinya menyadarkan diri kalau yang dia lihat bukan mimpi. Tidak pernah membayangkan bisa menjalin hubungan dengan seorang dokter, apalagi Asoka Harsa.
“Dasar ya. Lihat saja besok, aku kerjain dia.”
“Heh, kenapa? Dari tadi ngoceh sendiri, lo nggak kesambet ‘kan?”
“Nggak,” seru Lisa. Iya, aku kesambet dokter Oka, batinnya. Berbaring miring membelakangi arah di mana Yuli berada. Memeluk tablet milik Asoka dan memejamkan mata dengan wajah tersenyum.
“Ish aneh.” Yuli mencabut kabel setrika dan melipat alas. Berdiri memperhatikan Lisa, entah sudah tidur atau belum. “Jangan-jangan kesambet si Encep.”
Yuli meninggalkan kamar. ada Sapri sedang menonton TV sambil rebahan di karpet.
“Mas Sap, Rama mana?”
“Tadi sih di depan mbak, nggak tahu kalau sekarang.”
“Bang Beni?”
“Udah ke kamar, tidur kayaknya,” jawab Sapri lagi.
Amanlah sudah. Bang Beni sekarang agak rewel, pantas saja Rama sebut dia bapak kost. Pintu depan sudah tertutup meski belum dikunci. Motor milik Beni dan Rama sudah berada di beranda dalam teras.
“Ngapain sih, ngalamun aja.” Rama berbaring di bale, asap vape ngebul di udara. Yuli ikut duduk tidak jauh dari kepala Rama.
“Bukan ngelamun, lagi mikir gue.”
“Oh, bisa mikir juga. Kirain kepala isinya becandaan doang, nggak pernah serius.”
Rama berdecak, menarik tangan Yuli dan diletakan di atas dad4nya sendiri.
“Justru lo itu salah satu yang ada dipikiran, gue mau serius.”
“Serius apa?”
“Ck, pake nanya. Kayak abege aja. Lo pikir kita mau kayak gini doang. Duduk dempetan, naik motor boncengan sama haha hihi nggak jelas. Emang nggak pengen gitu ada yang ngucapin samawa buat kita.”
“Bilang aja nikah, ribet amat. Tapi, serius lo mau nikah sama gue? Emang cinta gitu?”
“Astaga, Jule.”
Rama sampai beranjak duduk lalu meraih kepala Yuli dan dijepit di ketiaknya membuat gadis itu menjerit seraya menjauh lalu memukuli lengannya.
“Jorok, ih.”
“Lagian pake nanya cinta segala.”
“Wajarlah, lo ‘kan nggak pernah serius. Bercanda mulu, mana tahu di Jakarta udah ada cewek nungguin minta dikawin. Bilang dong, Yuli aku tuh cinta kamu. Kamu cinta nggak? Kita pacaran yuk!”
“Emang kurang sikap gue selama ini?”
“Astaga, Rama biang rusuh ketuanya trio semprul. Sikap lo selama ini tuh nyebelin, iseng dan berisik.”
“Jadinya gimana, lo nggak terima cinta gue?”
“Ya terima-lah. Gimana sih.” Rama terbahak dengan jawaban Yuli. Pantas saja mereka berdua cocok dan saling suka, memiliki kesamaan. Sama-sama ges-rek, jauh dari kata jaim.
“Eh, mau kemana?” tanya Rama saat Yuli beranjak.
“Kamar. Udah malam, bahaya berduaan sama lo.”
“Nanti dululah, mumpung bapak kost udah tidur.” Rama mengekor langkah Yuli memasuki rumah.
“Ogah.”
***
“Maaf pak, tidak bisa. Ada peningkatan jumlah pasien dan tenaga medis terbatas. Hanya ada dua perawat, kalau bapak minta salah satu ditempatkan di posyandu apalagi rutin tiap hari, sangat tidak bisa.”
Cecep kecewa dengan penolakan Wahid atas rencananya. Dia mengusulkan Lisa aktif di posyandu desa demi melancarkan rencananya. Rasanya semakin penasaran. Lisa, gadis yang begitu menarik dan polos.
Pasti nikm4t sekali tubuhnya, pikir Cecep.
“Atau seminggu dua harilah. Bisa atuh, Cuma dua hari.”
Wahid menarik nafas lalu menggeleng. Menahan emosi menanggapi Kepala desa yang satu ini. Bukan kepentingan Desa, sudah pasti kepentingan diri sendiri. Lisa sudah menjadi target buaya berkedok manusia.
“Ya sudah, kalau tidak bisa. Malas saya dengan kamu, tidak bisa mendukung program kerja desa saya. Padahal ini program kesehatan, seharusnya kamu dukung.”
“Kita bisa libatkan kader, pak. Bisa dijadwalkan untuk pelatihan dan pengarahan dan eksekusinya biar para kader itu. Kalau ada yang harus ditindaklanjuti atau kasus berat ya arahkan ke puskes. Yang kami layani lingkupnya kecamatan, tidak mungkin saya fokus hanya pada desa bapak saja.”
Cecep berdecak lalu beranjak dari kursinya, bahkan sempat menggebrak meja.
“Kamu tidak tahu siapa saya. Desa singajaya memiliki hubungan baik dengan bapak Camat, paling kamu dipanggil beliau.” Cecep menunjuk wajah Wahid sebelum pergi.
Wahid hanya bisa menghela dan menggeleng pelan menanggapi pria itu. Suasana puskes masih sibuk pelayanan kepada masyarakat, Wahid perlu bicara dengan Asoka. ia mengirim pesan agar datang setelah tugasnya berakhir.
Sedangkan Cecep tidak mendapati Lisa di meja skrining.
“Kemana dia? Orang udah kangen banget, malah nggak ketemu.”
Asoka keluar dari ruang pemeriksaan agak terburu-buru, pemeriksaan sementara dihentikan karena ada pasien darurat. Langkahnya terhenti mendapati Cecep berdiri di depan meja skrining biasa Lisa berada.
Dia datang lagi, batin Asoka melanjutkan langkah menuju IGD.
Hampir setengah jam menangani pasien di IGD, keputusannya harus dirujuk ke rumah sakit terdekat. Pasien sudah dipindah ke ambulance. Rama akan naik, tapi ditahan oleh Asoka.
“Biar Lisa yang berangkat dengan Beni.” Rama dan Lisa pun saling tatap, tidak biasanya Asoka memberikan perintah begitu. Sebelumnya Rama yang selalu ditugaskan mendampingi pasien rujukan dan Lisa yang standby.
“Dok, biar saya saja.”
“Jangan, Rama gantikan Lisa di dalam.” Asoka melepas sarung tangannya lalu menyentuh bahu Lisa. “Berangkat sekarang!”
Meski bingung dengan keputusan Asoka, juga masih ada hal yang ingin dibicarakan tentang hubungan mereka. Namun, Lisa patuh. Profesional kerja apalagi urusannya dengan nyawa, ia mengangguk lalu naik ke ambulance.
Rama pun gegas menuju meja skrining dan terkejut melihat Cecep di sana. Dia pikir, Asoka dan Lisa sedang ada masalah. Kekanakan sekali sampai menugaskan Lisa menjauh.
“Hm, pantesan aja. Ada singa garong.” Rama menoleh ke arah lain, Asoka kembali ke ruangannya. “Udah suudzon gue, taunya dalam rangka menjauhkan dari godaan setan yang terkutuk,” gumam Rama.
“Bapak, ibu kita mulai lagi ya. Tadi ada pasien darurat. Eh, pak Kades. Mau berobat juga?”
“Bukan atuh kang Rama. Ada perlu sama Teh Lisa, dimana ya?”
“Wah, bapak telat. Udah pergi dia, naik ambulance. Maaf Pak Kades, minggir dulu ada pasien. Bapak lagi gabut apa gimana? Kok, jam segini bukannya ngantor.”
“Saya habis ketemu Wahid, urusan di desa.” Tanpa pamit dan basa-basi Cecep keluar dari puskes sambil fokus dengan ponselnya.
...Marina...
^^^Temui saya sekarang, ^^^
^^^di tempat biasa. ^^^