NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:486.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan untuk para benalu

"Wati, di mana kamu?" teriak Amelia dari meja makan.

Arman yang baru saja keluar dari kamar langsung menatap istrinya heran. "Ada apa, Ma? Kenapa Mama teriak-teriak begitu?" tanyanya sambil mengusap wajah lelah.

"Ini, Pah. Bi wati itu," ucap Amelia sambil menunjuk meja makan yang kosong melompong. "Dia belum buat sarapan sama sekali!"

Arman menoleh ke meja makan. Benar saja, tidak ada piring, tak ada gelas, bahkan aroma masakan pun nihil.

“Coba Mama lihat di kamarnya, siapa tahu dia belum bangun,” saran Arman tenang.

Amelia mendengus sebal, tapi tetap melangkah menuju kamar Bi Wati.

Tok! Tok!

“Wati, di mana kamu, hah!” teriaknya lantang.

Tok! Tok!

“Wati! Wati!” panggil Amelia lagi dengan suara meninggi. Tak ada jawaban.

Dengan kesal, Amelia membuka pintu kamar itu. Kosong. Ia masuk ke kamar mandi kecil di dalamnya—juga kosong.

“Di mana sih dia!” gumam Amelia geram sebelum kembali ke ruang tengah dengan wajah masam.

“Bagaimana, Mah?” tanya Arman.

“Bi Wati tida ada, Mas,” jawab Amelia pendek.

Belum sempat Arman berkata apa-apa, Ares turun dari tangga sambil menguap lebar.

“Ada apa ribut-ribut, Mah? Kenapa Mama teriak-teriak? Mama pikir ini hutan, apa?”

“Wati nggak ada, Res. Sarapan juga nggak ada sama sekali,” jawab Amelia dengan nada penuh kejengkelan.

Ares mengerutkan kening. “Coba cek kamarnya, Ma.”

“Mama sudah cek. Pembantu itu nggak ada,” sahut Amelia. “Coba panggil Elina, suruh dia buat sarapan. Mama lapar.”

“Elina sudah pergi dari tadi, Mah,” jawab Ares.

“Apa? Secepat itu?” ucap Amelia terkejut.

“Iya. Ada klien dari luar negeri yang harus dia temui pagi ini.”

“Terus bagaimana dong? Mama lapar nih.”

“Res, kamu harus cari pembantu baru,” timpal Arman.

“Elina nggak mau, Pah. Dia cuma mau Bi Wati,” jawab Ares.

“Tuh anak pelit amat sih. Bayar pelayan puluhan orang juga nggak bikin miskin,” omel Amelia.

“Daripada Mama marah-marah, lebih baik Mama masak. Papa harus sarapan,” ucap Arman datar.

“Mas, kuku Mama baru dari salon kemarin. Bisa rusak kalau masak,” jawab Amelia sambil memamerkan kukunya.

“Pesan saja,” kata Ares malas.

“Ya sudah, kamu pesan,” balas Amelia cepat.

“Mama nggak bisa pesan? Mama punya ponsel, kan?”

“Uang Mama tinggal sedikit, Res. Kemarin Mama shopping sama Maya.”

“Apa? Tinggal sedikit? Kemarin aku baru transfer, jumlahnya juga nggak sedikit,” ucap Ares kesal.

“Namanya juga shopping. Nanti jangan lupa transfer lagi ya,” jawab Amelia enteng.

Ares menghela napas kasar.

“Res, cepat pesan sarapan. Papa sudah lapar,” ujar Arman.

Ares baru hendak memesan saat suara tak asing terdengar dari luar.

“Tidak usah beli, Mas. Aku bawa sarapan.”

Ketiganya langsung menoleh bersamaan.

Di ambang pintu, Maya berdiri sambil membawa dua wadah besar tertutup kain. Senyumnya manis, seolah baru saja keluar dari dapur.

“Gak usah pesan, Mas. Aku sudah masakin sarapan buat Papa sama Mama.”

Wajah Amelia langsung berubah sumringah.

“Ya ampun, Maya… Calon menantu Mama memang paling pengertian.”

Maya meletakkan wadah itu di meja makan dan membuka tutupnya perlahan. Aroma makanan menyebar ke seluruh ruangan.

Dalam hati, Maya terkekeh sinis.

Mana mungkin aku masak, tinggal pesan jadi deh.

Ares tersenyum. “Makasih ya, Sayang. Kamu repot-repot.”

“Gak apa-apa, Mas. Selama Mas dan keluarga Mas senang.”

Arman ikut mengangguk puas.

“Nah, ini baru perempuan idaman. Tidak seperti pembantu itu, pagi-pagi malah kabur entah ke mana.”

“Lihat tuh, Res. Istrimu seharusnya belajar dari Maya,” sahut Amelia bangga.

Maya menunduk malu-malu, padahal di dalam hatinya ia tertawa puas menikmati semua pujian itu.

Ia membagikan kotak makanan lalu duduk manis di samping Amelia.

“Mas…” ucapnya lirih, “aku kasihan lihat Mama sama Papa. Harusnya mereka nggak sampai kelaparan begini. Elina juga… sibuk terus, ya.”

“Iya,” jawab Ares pelan. “Sekarang dia fokus ke perusahaan.”

“Perusahaan terus,” dengus Amelia. “Sampai lupa sama suami dan mertuanya.”

Maya menatap Ares dengan mata berkaca-kaca.

“Mas… aku takut nanti Mas terus-terusan begini. Aku nggak tega lihat Mas diperlakukan seperti orang asing di rumah sendiri.”

Ares menggenggam tangan Maya di bawah meja.

“Tenang, Sayang… semua ini cuma soal waktu.”

“Benarkah, Mas?”

“Percaya sama aku. Aku akan mengambil semuanya. Perusahaan, aset, bahkan rumah ini. Dia akan tahu rasanya kehilangan segalanya.”

••

Di restoran bintang lima itu, Elina sengaja mengajak Bi Wati sarapan bersama. Ia tahu, tindakannya akan membuat seisi rumah merasa kesal, tapi hari ini ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya satu: membuat orang yang selama ini setia padanya merasa dihargai.

“Non, makanannya enak banget,” ucap Bi Wati sambil menikmati hidangan di hadapannya. Matanya berbinar, seolah lupa sejenak pada semua tekanan yang ia alami di rumah itu.

“Syukurlah Bibi suka. Maaf ya, Bi… Elina baru bisa ngajak Bibi lagi sekarang,” ucap Elina dengan nada sedikit bersalah.

“Tidak apa-apa, Non. Bibi tahu Non sibuk di perusahaan,” jawab Bi Wati tulus.

“Saking sibuknya aku… sampai aku diselingkuhi, Bi,” ucap Elina dengan senyum miris.

Bi Wati langsung menggenggam tangan Elina dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca.

“Non… Bibi tahu semuanya bukan salah Non. Non itu perempuan baik, kerja keras, sayang keluarga. Kalau ada orang yang tega mengkhianati Non, itu karena hatinya yang busuk, bukan kerana Non kurang apa pun."

Elina terdiam. Senyum tipisnya memudar, berganti sorot mata yang bergetar.

“Kadang Elina capek, Bi… Elina merasa sendirian di rumah sendiri. Semua orang seolah menunggu aku jatuh.”

Bi Wati menggeleng pelan.

“Non tidak sendirian. Selama Bibi masih hidup, Bibi selalu di pihak Non. Mereka boleh bersekongkol, boleh merendahkan Non… tapi Non jangan pernah merendahkan diri sendiri.”

Elina menunduk, menahan perasaan yang sejak tadi ia kubur rapat-rapat.

“Non itu kuat,” lanjut Bi Wati lembut. “Bibi lihat sendiri Non bangun perusahaan ini dari nol, berdiri meski sering disakiti. Kalau sekarang Non terluka, itu bukan tanda Non lemah. Itu tanda Non manusia… tapi manusia yang luar biasa.”

Elina menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil—senyum yang kali ini bukan miris, melainkan penuh tekad.

“Terima kasih, Bi. Kata-kata Bibi… lebih berharga dari apa pun yang mereka rampas dariku.”

Bi Wati tersenyum dan mengangguk.

“Makan sepuasnya, Bi. Hari ini Bibi harus happy dan kita akan belanja sepuasnya,” ucap Elina.

“Non…” Bi Wati hendak menolak.

“Tidak ada tapi-tapian, Bi. Bibi harus belanja sepuasnya, apa pun yang Bibi inginkan untuk Bibi dan anak Bibi,” potong Elina cepat.

“Makasih, Non. Bibi hanya bisa balas dengan doa… semoga setelah badai ini ada pelangi untuk Non Elina.”

“Makasih, Bi.”

Hari itu Bi Wati benar-benar menikmati waktunya bersama Elina. Mereka berpindah dari satu butik ke butik lain. Elina tak segan membelikan pakaian-pakaian terbaik untuk Bi Wati dan anaknya di kampung.

“Bibi pilih saja yang mana, tidak usah lihat harga,” ucap Elina dengan nada setengah mengancam.

“Iya-iya, Non,” jawab Bi Wati terkekeh.

Saat Bi Wati sibuk memilih pakaian, Elina membuka aplikasi di ponselnya secara perlahan. Layar menampilkan beberapa kamera tersembunyi yang terpasang di sudut-sudut rumah—ruang tamu, ruang makan, hingga dapur.

Ia mengetuk salah satu ikon.

Tampak Ares, Maya, Amelia, dan Arman sedang bercanda di meja makan. Ares dan Maya saling suap-suapan, tertawa tanpa rasa bersalah. Bibir mereka bergerak membahas bagaimana semua aset milik Elina akan jatuh ke tangan Ares.

Senyum Elina perlahan mengembang—bukan senyum bahagia, melainkan senyum seorang wanita yang baru saja memastikan bahwa semua bidak caturnya bergerak tepat seperti yang ia harapkan.

“Silakan bermimpi setinggi langit, Ares,” bisiknya dingin.

“Karena sebentar lagi, akulah yang akan membangunkan kalian dengan kenyataan.”

1
Sapna Anah
jangan bilang sebentar lgi takutnya d keroyok apa lgi kluarga Ares mendukung
Sri Afrilinda
Laaah... bneran tamat ni...😱😱

Belum rela thour... Minimal sampe mreka punya anak gt...🤭

Sukses terus thour, ceritanya keren 🤗😍
Nona Jmn: Aamin terima kasih kakak🥰🙏🤭🫡
total 1 replies
dome🌬️🌀🌀🌀
sadar Buu Amel... ingat umur sudah tua sudah keriput jangan makin dibanyakin dosanya. kalaupun kau punya uang satu dunia ga akan bisa dibawa mati
dome🌬️🌀🌀🌀
kalau jadi manusia punya penyakit kronis iri dan dengki . daaahh laahhh ga ada obatnya. hanya azab dari Allah aja nanti yg menyembuhkannya
dome🌬️🌀🌀🌀
mayaaa.. kalo kamu punya sahabat yg sudah sayang sama kamu bahkan sudah seperti saudara sendiri padahal kamu yg biasa biasa saja tapi bisa bergaul dan disayang seseorang yg kelas ekonomi crazy jangan malah kau Injak kepala mereka. yg ada pancungan malah menantimu
dome🌬️🌀🌀🌀
si Ares ini mimpi apa gimana yaa.. emangnya nama besar Anderson itu dan seluruh kekayannya dibangun atas apa??
apakah dr mimpi siang bolong langsung tetiba jadi kaya raya lalu perusahaan nya JD maju JD besar.
helloooooo... jangan samakan otak cetek kalian dengan otak pebisnis kluarga Anderson yaaa.. kalau kalian kesuksesan dibangun karna mimpi siang bolong. kalau Anderson suksenya dibangun karna otak cerdas berbisnis. si bapak ojol sianak supir siemak buruh cuci tapi mimpinya nyampe bisa ngalahin kerak neraka🤣🤣🤣
astagaaaaa ..... ksian banget siihhh mereka, ketololan yg hakiki tapi masih betah dipelihara 🤣🤣🤣
dome🌬️🌀🌀🌀
manusia serakah penghianat 😈😈😈
dome🌬️🌀🌀🌀
dah ceritain aja sama bapakmu El, kelamaan proses kamu mah. biar bapakmu yg langsung turun tangan. biar cepet kelar
dome🌬️🌀🌀🌀
waduhhh... tak bisa lagi ku tuk berkata kata akan ketidak tahu dirian si Ares ini
dasar muka badak
dome🌬️🌀🌀🌀
astagaaaa.. lama lama kesel bangeettt... ngapa ga langsung tendang aja dr rumah dr perusahan dan dr kehidupan kamu Elina si Ares itu. kok yaa lama lama kesel banget sama orng ga tau diri seperti mereka 😤😤😤
kalo kamu lama prosesnya, sini kasih foto mereka kirim ke aku biar nanti aku santet mereka El El....🤣🤣
dome🌬️🌀🌀🌀
makanya yaa Besti mencari pasangan harus banyak banyak pertimbangan. dipikir ulang matang matang. jangan asal yang katanya sudah cinta sudah klop sudah cocok langsung gasss aja. padahal kebanyakan rata2 sifat asli seseorang akan muncul kepermukaan disaat kita sudah hidup berdua setiap hari 24 jam full. mau sifat terburuknya pun akan ditunjukkan. jadiiiiii...... 🤣🤣🤣
dome🌬️🌀🌀🌀
heraannnn banget yaaa.. sama manusia manusia kardus itu. kok yaa senengnya mau rebut harta orng sihhhh... jual diri kalau mau banyak duit tapi ga mau kerja keras. upsss Maya kan emang udah jual diri sama Ares yaq 🤣🤣🤣 Zong kau may... may.. ternyata si Ares dl cuma sopir
wkwkwkwkwkwk
dome🌬️🌀🌀🌀
ada satu hal yg aku malas dari para FL dinovel. sudah tau dikhianatin ditipu sama pasangannya dan kluarga nya, tapi ga mau cerita dengan orng tua dia tentang permasalahan yg dia hadapin. setidaknya kalau ortunya tau bisa saling handle dr pihak ortunya si Elina disana biar bisa antisipasi. jangan sok gayaan bisa handle sendiri tanpa orang tuanya tau. oke lah kuat cerdas, tapi setidaknya disana bisa mengantisipasi masalah yg tiba tiba datang yg semisal Elina ga tau.
dome🌬️🌀🌀🌀
itu si Bayu emang beneran suruhan Ares apa dipihak Elina yaa... JD deh deg an deh
dome🌬️🌀🌀🌀
ngaca woyyy.. ngaca.. noh comberan tetangga lagi item itemnya pake coba buat ngaca mukamu. sapa tau JD sadar dr kesurupan.. perempuan murahan kok yaa ga nyadar🤣🤣. apaan sih lu may kalo gila yaa diem diem aja jangan kita kita disini pada tau🤣🤣
dome🌬️🌀🌀🌀
si Ares ini nganggep Elina apa coba. jauhhhhh sebelum kau bermain permainan amatiran seperti ini Elina dan kluarganya sudah biasa memainkan nya. disaat kau LG bermain comberan Elina sudah belajar tentang bisnis dan sebagainya..
wkwkwkwkwkwkwkwk...
berasa dia sudah cerdas apa yyaaa🤣🤣🤣
masuk lah kau kelubang buaya dan mati disana dengan mengenaskan ares😈
dome🌬️🌀🌀🌀
eehhh... Mak lampir. kalau anakmu si resres itu mampu pintar dan bisa diandalkan. ga mungkinn kalian hidup susah. dia cuma pintar cari mangsa kaya lalu morotin hartanya tapi dengan otak bodohnya coba coba selingkuh. udah lah laki mokondo ga guna pula. enaknya buang kecomberan nih kluarga ares
dome🌬️🌀🌀🌀
si Ares bukan bermimpi setinggi langit El. tapi bermimpi di siang bolong. ngarep aja terus si Bambang. ga tau apa bentar lagi bakalan ditendang 🤣🤣
dome🌬️🌀🌀🌀
dihh gila nya udah level akut Ares dan kluarga nya. mau kaya usaha dongggg... kerja keras banting tulang. buka ngerebut hartanya orng lain.. ngepet kek kalian Maya sama emakmu jaga lilin kau dan bapakmu yg keliling ngepet cari mangsa🤣🤣🤣
gedeg sumpah sama modelan lintah darat macam mereka
dome🌬️🌀🌀🌀
bagussss... gercep El singkirin para benalu ga tau malu... kalau bisa goreng mereka sampe krispi😈😈😈
mereka kejam kau harus lebih kejam el😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!