NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan untuk para benalu

"Wati, di mana kamu?" teriak Amelia dari meja makan.

Arman yang baru saja keluar dari kamar langsung menatap istrinya heran. "Ada apa, Ma? Kenapa Mama teriak-teriak begitu?" tanyanya sambil mengusap wajah lelah.

"Ini, Pah. Bi wati itu," ucap Amelia sambil menunjuk meja makan yang kosong melompong. "Dia belum buat sarapan sama sekali!"

Arman menoleh ke meja makan. Benar saja, tidak ada piring, tak ada gelas, bahkan aroma masakan pun nihil.

“Coba Mama lihat di kamarnya, siapa tahu dia belum bangun,” saran Arman tenang.

Amelia mendengus sebal, tapi tetap melangkah menuju kamar Bi Wati.

Tok! Tok!

“Wati, di mana kamu, hah!” teriaknya lantang.

Tok! Tok!

“Wati! Wati!” panggil Amelia lagi dengan suara meninggi. Tak ada jawaban.

Dengan kesal, Amelia membuka pintu kamar itu. Kosong. Ia masuk ke kamar mandi kecil di dalamnya—juga kosong.

“Di mana sih dia!” gumam Amelia geram sebelum kembali ke ruang tengah dengan wajah masam.

“Bagaimana, Mah?” tanya Arman.

“Bi Wati tida ada, Mas,” jawab Amelia pendek.

Belum sempat Arman berkata apa-apa, Ares turun dari tangga sambil menguap lebar.

“Ada apa ribut-ribut, Mah? Kenapa Mama teriak-teriak? Mama pikir ini hutan, apa?”

“Wati nggak ada, Res. Sarapan juga nggak ada sama sekali,” jawab Amelia dengan nada penuh kejengkelan.

Ares mengerutkan kening. “Coba cek kamarnya, Ma.”

“Mama sudah cek. Pembantu itu nggak ada,” sahut Amelia. “Coba panggil Elina, suruh dia buat sarapan. Mama lapar.”

“Elina sudah pergi dari tadi, Mah,” jawab Ares.

“Apa? Secepat itu?” ucap Amelia terkejut.

“Iya. Ada klien dari luar negeri yang harus dia temui pagi ini.”

“Terus bagaimana dong? Mama lapar nih.”

“Res, kamu harus cari pembantu baru,” timpal Arman.

“Elina nggak mau, Pah. Dia cuma mau Bi Wati,” jawab Ares.

“Tuh anak pelit amat sih. Bayar pelayan puluhan orang juga nggak bikin miskin,” omel Amelia.

“Daripada Mama marah-marah, lebih baik Mama masak. Papa harus sarapan,” ucap Arman datar.

“Mas, kuku Mama baru dari salon kemarin. Bisa rusak kalau masak,” jawab Amelia sambil memamerkan kukunya.

“Pesan saja,” kata Ares malas.

“Ya sudah, kamu pesan,” balas Amelia cepat.

“Mama nggak bisa pesan? Mama punya ponsel, kan?”

“Uang Mama tinggal sedikit, Res. Kemarin Mama shopping sama Maya.”

“Apa? Tinggal sedikit? Kemarin aku baru transfer, jumlahnya juga nggak sedikit,” ucap Ares kesal.

“Namanya juga shopping. Nanti jangan lupa transfer lagi ya,” jawab Amelia enteng.

Ares menghela napas kasar.

“Res, cepat pesan sarapan. Papa sudah lapar,” ujar Arman.

Ares baru hendak memesan saat suara tak asing terdengar dari luar.

“Tidak usah beli, Mas. Aku bawa sarapan.”

Ketiganya langsung menoleh bersamaan.

Di ambang pintu, Maya berdiri sambil membawa dua wadah besar tertutup kain. Senyumnya manis, seolah baru saja keluar dari dapur.

“Gak usah pesan, Mas. Aku sudah masakin sarapan buat Papa sama Mama.”

Wajah Amelia langsung berubah sumringah.

“Ya ampun, Maya… Calon menantu Mama memang paling pengertian.”

Maya meletakkan wadah itu di meja makan dan membuka tutupnya perlahan. Aroma makanan menyebar ke seluruh ruangan.

Dalam hati, Maya terkekeh sinis.

Mana mungkin aku masak, tinggal pesan jadi deh.

Ares tersenyum. “Makasih ya, Sayang. Kamu repot-repot.”

“Gak apa-apa, Mas. Selama Mas dan keluarga Mas senang.”

Arman ikut mengangguk puas.

“Nah, ini baru perempuan idaman. Tidak seperti pembantu itu, pagi-pagi malah kabur entah ke mana.”

“Lihat tuh, Res. Istrimu seharusnya belajar dari Maya,” sahut Amelia bangga.

Maya menunduk malu-malu, padahal di dalam hatinya ia tertawa puas menikmati semua pujian itu.

Ia membagikan kotak makanan lalu duduk manis di samping Amelia.

“Mas…” ucapnya lirih, “aku kasihan lihat Mama sama Papa. Harusnya mereka nggak sampai kelaparan begini. Elina juga… sibuk terus, ya.”

“Iya,” jawab Ares pelan. “Sekarang dia fokus ke perusahaan.”

“Perusahaan terus,” dengus Amelia. “Sampai lupa sama suami dan mertuanya.”

Maya menatap Ares dengan mata berkaca-kaca.

“Mas… aku takut nanti Mas terus-terusan begini. Aku nggak tega lihat Mas diperlakukan seperti orang asing di rumah sendiri.”

Ares menggenggam tangan Maya di bawah meja.

“Tenang, Sayang… semua ini cuma soal waktu.”

“Benarkah, Mas?”

“Percaya sama aku. Aku akan mengambil semuanya. Perusahaan, aset, bahkan rumah ini. Dia akan tahu rasanya kehilangan segalanya.”

••

Di restoran bintang lima itu, Elina sengaja mengajak Bi Wati sarapan bersama. Ia tahu, tindakannya akan membuat seisi rumah merasa kesal, tapi hari ini ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya satu: membuat orang yang selama ini setia padanya merasa dihargai.

“Non, makanannya enak banget,” ucap Bi Wati sambil menikmati hidangan di hadapannya. Matanya berbinar, seolah lupa sejenak pada semua tekanan yang ia alami di rumah itu.

“Syukurlah Bibi suka. Maaf ya, Bi… Elina baru bisa ngajak Bibi lagi sekarang,” ucap Elina dengan nada sedikit bersalah.

“Tidak apa-apa, Non. Bibi tahu Non sibuk di perusahaan,” jawab Bi Wati tulus.

“Saking sibuknya aku… sampai aku diselingkuhi, Bi,” ucap Elina dengan senyum miris.

Bi Wati langsung menggenggam tangan Elina dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca.

“Non… Bibi tahu semuanya bukan salah Non. Non itu perempuan baik, kerja keras, sayang keluarga. Kalau ada orang yang tega mengkhianati Non, itu karena hatinya yang busuk, bukan kerana Non kurang apa pun."

Elina terdiam. Senyum tipisnya memudar, berganti sorot mata yang bergetar.

“Kadang Elina capek, Bi… Elina merasa sendirian di rumah sendiri. Semua orang seolah menunggu aku jatuh.”

Bi Wati menggeleng pelan.

“Non tidak sendirian. Selama Bibi masih hidup, Bibi selalu di pihak Non. Mereka boleh bersekongkol, boleh merendahkan Non… tapi Non jangan pernah merendahkan diri sendiri.”

Elina menunduk, menahan perasaan yang sejak tadi ia kubur rapat-rapat.

“Non itu kuat,” lanjut Bi Wati lembut. “Bibi lihat sendiri Non bangun perusahaan ini dari nol, berdiri meski sering disakiti. Kalau sekarang Non terluka, itu bukan tanda Non lemah. Itu tanda Non manusia… tapi manusia yang luar biasa.”

Elina menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil—senyum yang kali ini bukan miris, melainkan penuh tekad.

“Terima kasih, Bi. Kata-kata Bibi… lebih berharga dari apa pun yang mereka rampas dariku.”

Bi Wati tersenyum dan mengangguk.

“Makan sepuasnya, Bi. Hari ini Bibi harus happy dan kita akan belanja sepuasnya,” ucap Elina.

“Non…” Bi Wati hendak menolak.

“Tidak ada tapi-tapian, Bi. Bibi harus belanja sepuasnya, apa pun yang Bibi inginkan untuk Bibi dan anak Bibi,” potong Elina cepat.

“Makasih, Non. Bibi hanya bisa balas dengan doa… semoga setelah badai ini ada pelangi untuk Non Elina.”

“Makasih, Bi.”

Hari itu Bi Wati benar-benar menikmati waktunya bersama Elina. Mereka berpindah dari satu butik ke butik lain. Elina tak segan membelikan pakaian-pakaian terbaik untuk Bi Wati dan anaknya di kampung.

“Bibi pilih saja yang mana, tidak usah lihat harga,” ucap Elina dengan nada setengah mengancam.

“Iya-iya, Non,” jawab Bi Wati terkekeh.

Saat Bi Wati sibuk memilih pakaian, Elina membuka aplikasi di ponselnya secara perlahan. Layar menampilkan beberapa kamera tersembunyi yang terpasang di sudut-sudut rumah—ruang tamu, ruang makan, hingga dapur.

Ia mengetuk salah satu ikon.

Tampak Ares, Maya, Amelia, dan Arman sedang bercanda di meja makan. Ares dan Maya saling suap-suapan, tertawa tanpa rasa bersalah. Bibir mereka bergerak membahas bagaimana semua aset milik Elina akan jatuh ke tangan Ares.

Senyum Elina perlahan mengembang—bukan senyum bahagia, melainkan senyum seorang wanita yang baru saja memastikan bahwa semua bidak caturnya bergerak tepat seperti yang ia harapkan.

“Silakan bermimpi setinggi langit, Ares,” bisiknya dingin.

“Karena sebentar lagi, akulah yang akan membangunkan kalian dengan kenyataan.”

1
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yes ada yang baru
Nona Jmn: Jangan lupa mampir dan vote ya🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!