NovelToon NovelToon
Aku Istri Gus Zidan

Aku Istri Gus Zidan

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:663k
Nilai: 4.9
Nama Author: triani

keinginannya untuk tidak masuk pesantren malah membuatnya terjebak begitu dalam dengan pesantren.

Namanya Mazaya Farha Kaina, biasa dipanggil Aza, anak dari seorang ustad. orang tuanya berniat mengirimnya ke pesantren milik sang kakek.

karena tidak tertarik masuk pesantren, ia memutuskan untuk kabur, tapi malah mempertemukannya dengan Gus Zidan dan membuatnya terjebak ke dalam pesantren karena sebuah pernikahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Hukuman baru untuk Aza

Aza keluar dari kelas dengan langkah yang cepat, hatinya masih dipenuhi rasa kesal dan jengkel. Ia tidak mengerti mengapa santri-santri lain begitu terpesona dengan Gus Zidan, seolah dia bukan suaminya, melainkan seorang selebriti.

“Pantas saja dia seneng banget masuk kelas,” gumam Aza pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan hatinya.

Aza terus menggerutu sepanjang lorong hingga seorang santri menghampirinya,

“Permisi, Aza.” kata santri itu, bernama Nida, dengan wajah serius. “Ada yang memanggilmu ke ruang pengurus.”

Aza mengerutkan kening, rasa penasaran mengalahkan kekesalannya. “Untuk apa?” tanyanya, mencoba mengabaikan ketegangan yang terasa di dadanya.

“Nggak tahu, tapi sepertinya ada urusan penting,” jawab Nida, menyusutkan keringat di dahi. “Aku rasa lebih baik kamu cepat ke sana. Mereka menunggumu.”

Tanpa menjawab lebih banyak, Aza mengangguk pelan dan melangkah menuju ruang pengurus. Setiap langkah terasa berat, pikirannya berputar tentang kemungkinan apa yang bisa terjadi. Apakah ini tentang pelajaran? Atau mungkin ada yang mengadukan tentang sikapku di kelas?

Setibanya di depan pintu ruang pengurus, Aza mengambil napas dalam-dalam sebelum mengetuk.

"Assalamualaikum, saya aza."

“Waalaikum salam, Masuk,” terdengar suara dari dalam.

Aza membuka pintu dan melangkah masuk. Di dalam, ada beberapa pengurus pesantren yang sedang berkumpul, termasuk Ustad Ridwan yang tampak kembali setelah mengajar di kelas.

“Selamat datang, Aza,” sapa Ustadzah Hana. “Kami ingin membicarakan beberapa hal denganmu.”

Aza menatap mereka kemudian terpusat pada salah satu santri tang juga berada di ruangan itu,

Mbak Parah di panggil juga? Gumamnya dalam hati.

Aza mulai merasa tidak nyaman. “Ada apa, ustadzah?” tanyanya, berusaha terdengar tenang meskipun detak jantungnya berdebar.

Kini gantian Ustad Ridwan menatapnya serius. “Kami mendengar kamu sempat mengajukan izin untuk keluar beberapa waktu lalu. Apa itu benar?"

Aza mengangguk. “Iya, saya memang mengajukannya, apa ada masalah?” kemudian Aza melirik ke arah Farah yang tersenyum dengan penuh rasa puas.

Ahhh, ini pasti ulahnya lagi. Benar-benar nggak capek ya dia..., batin Aza kesal.

Salah satu pengurus, Bu Amira, menambahkan, “Kami juga mendapat laporan dari santri lain. Beberapa dari mereka mengatakan kamu tampak tidak fokus di kelas.”

Kekesalan Aza kembali muncul. “Aku kan hanya tidur beberapa kali di kelas. Kenapa saya yang terus di salahkan, mereka yang lebih suka mengagumi Gus Zidan daripada belajar nggak di panggil.” ucapnya sembari melirik pada Farah yang berdiri di belakang meja besar yang ada di samping Aza.

Ustadzah Hana mengangguk paham merasa tidak enak hati. “Kami mengerti. Namun, tolong jaga sikapmu. Kami ingin lingkungan belajar di pesantren tetap kondusif.”

Aza menghela napas, menyadari bahwa apapun yang ia katakan, ia tidak akan pernah menang dalam perdebatan ini, “Baik, ustadzah. Saya akan berusaha lebih baik.”

Namun, saat ia keluar dari ruang pengurus, rasa kesal itu belum sepenuhnya hilang. “Ini semua karena si Parah,” pikirnya. “Dan sepertinya aku harus menemukan cara untuk menghadapinya dengan lebih baik.”

Apalagi saat melihat Farah, yang tampak duduk dengan wajah puas. Detik itu juga, Aza merasa bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan segera terjadi. Farah memang selalu mencari kesempatan untuk membuat hidupnya lebih sulit di pesantren.

"Farah, katanya ada yang ingin kamu bicarakan," kata Bu Amira dengan nada serius, memberi isyarat kepada Farah untuk berbicara.

Farah langsung angkat bicara, dengan nada yang terkesan penuh kemenangan. “Jadi, Bu Amira, Aza sudah beberapa kali melanggar aturan pesantren. Beberapa hari lalu, dia keluar dengan alasan ingin membeli obat, tapi saya tidak melihat obat apa pun saat dia kembali. Sepertinya, dia tidak benar-benar sakit."

Aza mendengus dalam hati, menahan diri untuk tidak membalas. Sementara itu, Farah melanjutkan laporannya dengan detail, menyoroti segala tindakan Aza yang dianggapnya sebagai pelanggaran, termasuk tidurnya pada jam-jam sibuk dan ketidakhadirannya dalam beberapa kegiatan wajib pesantren.

Dia benar-benar menjilat ...., gerutu Aza dalam hati.

Setelah mendengar laporan Farah, Bu Amira dan para pengurus lainnya saling bertukar pandang. “Aza, apa yang Farah katakan ini benar?” tanya Bu Amira dengan tegas, menatap Aza.

Aza mengangkat bahu dan menjawab dengan jujur, meskipun ada sedikit kekesalan di nadanya. “Ya, saya memang keluar waktu itu. Tapi kan saya juga kembali tepat waktu, Bu. Saya juga kelelahan gara-gara kebanyakan kena hukuman, makanya sempat tertidur di kelas. Saya tidak bermaksud melanggar aturan.”

Ustad Ridwan yang duduk di samping pengurus lainnya menghela napas pelan. “Aza, aturan tetap aturan. Kami tidak bisa membiarkan pelanggaran ini terus terjadi tanpa konsekuensi. Karena itulah kami sepakat untuk memberikan sanksi.”

Aza terdiam. Dia sudah menduga akan ada hukuman, tapi dia tak menyangka akan seserius ini.

Bu Amira melanjutkan, “Sebagai bentuk tanggung jawab atas pelanggaranmu, kami memutuskan untuk memberikan hukuman berupa pembuatan lima buah keranjang bambu selama satu minggu. Seperti yang kamu dan santri lain tahu, kerajinan keranjang bambu adalah salah satu produk unggulan pesantren ini. Jadi, kamu akan menghabiskan waktu di workshop untuk menyelesaikan tugas ini.”

Aza merasa dadanya sesak. “Lima keranjang bambu?” gumamnya dalam hati. Itu bukan pekerjaan yang mudah. Membuat satu keranjang saja sudah memerlukan waktu dan ketelitian, apalagi lima.

Namun, ia mencoba menenangkan diri dan menahan protes yang hampir keluar dari mulutnya. Sebaliknya, ia hanya mengangguk. “Baik, saya terima hukumannya, Bu.”

Farah tersenyum tipis, merasa puas melihat Aza mendapat hukuman yang berat. Aza hanya bisa menatapnya sekilas dengan mata tajam sebelum menunduk.

“Kalau begitu, mulai besok kamu bisa langsung ke workshop bambu untuk mulai bekerja,” lanjut Bu Amira. “Kami berharap ini bisa menjadi pelajaran bagi kamu untuk lebih disiplin ke depannya.”

Aza bangkit dari tempat duduknya, lalu berpamitan dengan pengurus sebelum keluar dari ruangan itu. Hatinya masih terasa berat. Ketika ia melangkah keluar, Farah menyusulnya, menyeringai penuh kemenangan.

“Selamat bekerja, Aza,” kata Farah dengan nada mengejek.

Aza memutar bola matanya, menahan amarah. "Ya, terima kasih atas laporannya," balasnya dingin. “Aku akan mengingatnya.”

Meskipun merasa frustrasi, Aza tahu dia harus menyelesaikan hukumannya. “Lima keranjang bambu... ya sudah, aku harus menyelesaikannya. Setidaknya aku punya sesuatu untuk menyibukkan diri,” pikir Aza sambil melangkah menuju kamarnya.

..."Jangan merasa puas dengan kesalahan orang lain karena belum tentu kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama, atau bahkan lebih," ~ Mazaya...

Bersambung

Happy reading

1
Zehna Adya rumaisya
😔😔 kok jd q yang sedikit sedih...😓😓
Tri Ani: aku juga terharu
total 1 replies
Zehna Adya rumaisya
😔😔😔
Zehna Adya rumaisya
/Facepalm//Facepalm/
Zehna Adya rumaisya
malah nanya ke diri sendiri 😄
Cah Dangsambuh
aku udah baca nofelnya ustadz zaki tapi lupa kalo ada pendukung cerita yang jadi ibunya parah kwi sopo ?ah tar ku baca lagil ah tunggu aku baca kembali usradz tampan😆😆
Tri Ani: siap, di tunggu kehadirannya🤣
total 1 replies
Devi Pita sari
ngk suka viual Gus zidannya thor, ganti aja, lagian kurang ganteng 😝😂😂
Tri Ani: siap kak, nanti aku pertimbangkan deh
total 1 replies
Mutiara Syarifatul Amanah
mampir thour
sherly
betul, selisi umur dgn Gus Zidan hanya 8 thn...
sherly
kalo ngk salah si aza nih kan dah tamat SMA umur 19 thn kenapa baru mau dimasukkan pondok pesantren Ama Zaky.... yg aku tau yg mondok tu anak SMP dan SMA... apa aku yg ngk ngeh ya baca diawal...
sherly
agak berlebihan si Farah nih jd senior..
sherly
padahal anak ustd Zaky dan juga punya pesantren pastinya dr kecil dah sering diajak ke pondok kenapa reaksinya kayak yg anti banget Ama pesantren...
sherly
kenapa ngk Gus Zaki yg nikahkan aza?
Mami Pihri An Nur
Jd ini tu kisah anknya Ustadz zaki sm zahra ya kak,, aku baca crta Ustadz zaki dan Zahra sdh berapa kali tdk bosan kak, tp skrng aku cari lg ga ada kak, cba spil lg judulnya kak, trmks,, smngt 💪 💪 💪 💪
Tri Ani: siap kak
total 1 replies
Mami Pihri An Nur
Wah klw aku lebih baik mundur, orng suaminya ga adil gitu, lgian klw berpisah ga sendirian ke sepian msh ada syakil anknya dr suami prtma
Mazree Gati
baru bab pertama uda nggak mood,,,end,
Alivaaaa
bikin bapeeeerr 🤭🥰
Alivaaaa
kasihan Aza 😥
Alivaaaa
kok Gus Zidan gitu sih???
kasihan kamu Za 🥺
Alivaaaa
sebenarnya kasihan ya Syakil dan ibunya, Syakil cinta dengan Aza dan ibunya dulu cinta dengan ayahnya Aza, tapi cinta memang tak harus memiliki dan itu sebuah ujian buat keluarga mereka, semoga masalah ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa harus menyakiti siapapun...
Alivaaaa: Aza sangat polos ya, dia belum peka dengan lelaki yg suka sama dia dan suami yg lagi cemburu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Alivaaaa
aku mampir kesini Thor 🤗
Tri Ani: siap kak, sampai ketemu di episode2 selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!