Selamat Datang Di Novel Pertama Saya.
Cerita ini adalah cerita kehidupan Celyn mulai dari dia kecil saat ditinggal orangtuanya sampai dia menjadi istri seorang yang bernama Dimas.
Siapa Celyn itu?
Apa yang terjadi padanya?
Bagaimana kehidupan pernikahannya?
Mari kita baca bersama-sama.
Dimohon bagi yang tidak suka dengan cerita ini, tolong jangan di beri komentar atau rate jelek. Di skip saja. Hargai Author sebagai penulis yang sudah capek memikirkan alur ceritanya.
Bagi teman-teman authors boleh promosi di karya ini.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih dan selamat membaca.
God Bless You All..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Jenius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Berusaha Tegar Demi Kedua Adiknya..
Sepeninggal Nek Imah, Celyn masih mandi dan membersihkan dirinya. Celyn pun melihat matanya bengkak karena menangis tadi. Celyn sendiri tidak menyangka dia bisa mencurahkan semua perasaan hatinya yang telah dia tahan beberapa bulan ini kepada Nek Imah. Orang yang baru dikenalnya dan dekat dengan keluarga mereka setelah orangtuanya meninggal.
Sebenarnya Celyn merupakan anak yang manja, cengeng dan tertutup. Tapi tidak ada satupun yang mengetahui sifatnya itu kecuali mamanya sendiri. Celyn merupakan tipe anak yang tidak bisa langsung dekat dengan orang baru apalagi orang yang baru dikenalnya.
Dia lebih memperhatikan dulu orang tersebut sebelum bisa dekat dengannya. Beda halnya dengan yang terjadi dengan Nek Imah. Dia bisa cepat dekat dengan Nek Imah.
Hal itu mungkin dikarenakan saat Celyn membutuhkan seseorang yang dapat mengisi kekosongan hatinya yang baru ditinggal orangtuanya, Nek Imah datang dan menawarkan kasih sayang dan perhatian yang tulus kepada Celyn dan kedua adiknya. Perlahan Nek Imah dapat mengisi kekosongan hatinya. Perlahan Nek Imah dapat menggantikan posisi orangtua mereka. Nek Imah merawat mereka bertiga dengan penuh kasih sayang.
Walaupun Nek Imah memang sudah dekat pada mereka. Baru kali ini Celyn bisa mencurahkan semua perasaannya dam kerinduannya pada kedua orangtuanya. Baru kali ini Celyn bisa sangat terbuka pada Nek Imah. Baru kali ini Celyn menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Celyn selama ini selalu menggambarkan dirinya sendiri sebagai anak yang kuat, ceria dan mandiri di hadapan semua orang. Akan tetapi kali ini kekuatan Celyn runtuh. Dia menampakkan keaslian dirinya kepada Nek Imah.
Hari ini sangat mendung, sepertinya akan turun hujan deras. Sebenarnya Celyn malas pergi ke sekolah. Di samping karena harinya yang mendukung Celyn untuk bermalas malasan di rumah, Celyn juga malas pergi ke sekolah karena melihat matanya yang bengkak akibat dia menangis tadi. Celyn malu berangkat ke sekolah dengan mata seperti itu.
Celyn yang merupakan anak yang menyukai mode sedikit malu dengan keadaan matanya. Dia berusaha menutup matanya yang bengkak dengan melapiskan bedak di wajahnya lebih tebal dari biasanya.
Dia pun melepaskan rambutnya kali ini. Hari ini dia tidak mengikat rambutnya ataupun menaruh assesoris apapun di wajahnya. Membiarkan poni selamat datang di wajahnya itu sehingga dapat sedikit menutupi sedikit matanya yang bengkak.
Setelah beberapa kali berkaca dan yakin matanya tidak terlalu terlihat bengkak lagi, dia mengambil tasnya lalu turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan kedua adiknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.25 wib. Celyn tak sempat sarapan. Dia hanya mengoles roti dengan selai coklat dan membawanya di tangannya. Dia meminum habis semua susunya. Nek Imah sudah memasukkan bekal makan siang dan air minum di tasnya. Nek Imah tidak membahas sedikitpun apa yang terjadi tadi di kamar karena Celyn hampir telat.
Bis sekolah pun tiba di depan rumah yang diberi tanda bunyi klakson. Celyn dan kedua adiknya berlari keluar. Sebelumnya mereka menyalam Nek Imah dan Rani yang memandangi Celyn dari tadi. Rani merasa ada yang lain dengan anak itu tapi diam seribu bahasa tidak menanyakan apapun.
Ketiga anak itu diantar Nek Imah ke depan. Nek Imah menunggu di luar sampai Bis sekolah sudah tak terlihat lagi.
Di dalam bus Celyn memakan roti yang tadi tak sempat dia makan. Sambil mengunyah makanannya Celyn berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha kuat dan tegar demi kedua adiknya. Celyn harus menjadi pengganti kedua orangtuanya untuk kedua adiknya. Dia meyakinkan dirinya dan menyemangati diri sendiri untuk yakin bisa melakukan hal itu.
Di rumah...
Setelah mengantarkan ketiga anak itu ke depan untuk naik bis sekolah. Nek Imah kembali ke meja makan bersama Rani dan mulai memakan sarapannya. Karena memang Nek Imah sarapan setelah ketiga anak itu berangkat ke sekolah. Sebelumnya dia sibuk mengurus sarapan dan membungkus bekal makan siang untuk ketiga anak itu. Mereka makan dalam diam.
Tak lama kemudian Rani membuka suara..
"Nek.. Saya perhatikan dari tadi ada sesuatu yang berbeda.!!". Kata Rani membuka percakapan
"Berbeda? Apa yang berbeda Nak rani?". Tanya Nek Imah pura-pura tidak tau.
" Sikap Celyn.. Sikap Nek Imah.. Pagi ini berbeda". Selidik Rani
" Berbeda di mananya sih Nak Rani?". Tanya Nek Imah lagi berpura pura tidak tau.
" Saya tadi melihat Celyn matanya bengkak seperti abis menangis. Walaupun dia berusaha menutupi matanya yang bengkak dengan poni di wajahnya. Saya masih bisa melihat matanya yang bengkak.". Jelas Rani.
" Nenek tidak memperhatikan Nak..!!". Jawab Nek Imah
" Masa sih, Nek Imah nggak ngeliat? Jelas banget loh!!". Kata Rani.
" Iya Nak. Nenek nggak ngeliat. Nenek tadi fokus membungkus bekal makan siang mereka dan memasukkannya ke dalam tas mereka masing-masing".Jawab Nek Imah jujur. Dia memang tidak melihat mata Celyn. Dia terlalu sibuk mengurus bekal mereka.
" Coba jujur sama Rani Nek, sebenarnya apa yang terjadi?". Tanya Rani
" Tadi pagi saat nenek membangunkan Celyn di kamar, Nek Imah melihat Celyn bengong. Celyn terlihat seperti sangat sedih. Sehingga tidak sadar Nenek masuk ke kamarnya." Kata Nek Imah memulai penjelasan kepada Rani.
" Terus?". Tanya Rani penasaran.
" Nenek berusaha mengorek apa yang terjadi dengannya. Nenek membujuk Celyn untuk bercerita pada nenek supaya kesedihannya berkurang". Jelas Nek Imah lagi
" Apa tanggapannya Nek? Apa katanya?". Tanya Rani benar benar penasaran.
" Celyn menceritakan kalau dia sangat merindukan kedua orangtuanya. Celyn bilang selama ini dia sudah berusaha menyibukkan dirinya dengan kegiatan sekolahnya agar bisa melupakan kesedihannya. Celyn bilang selama ini dia berusaha kelihatan kuat dan ceria di depan kita dan kedua adiknya terutama di depan Dinar karena Dinar sangat trauma atas meninggalnya orangtua mereka. Celyn bilang dia membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Dia bilang dia hanyalah anak kecil yang berusia sepuluh tahun yang masih memerlukan orangtuanya. Dia ingin bermanja manja dengan kedua orangtuanya. Dia rindu masakan mamanya. Dia rindu pelukan mamanya dan banyak lagi Nak. Dia mencurahkan semua yang selama ini dia tahan kepada nenek". Jelas Nek Imah panjang lebar di dengarkan dengan sungguh-sungguh oleh Rani.
" Kasian Celyn ya Nek.. Anak sekecil itu harus menanggung masalah seperti ini. Dia harus menjadi dewasa sebelum waktunya untuk kedua adiknya. Dia harus tegar dan kuat demi menguatkan adik-adiknya. Saya salut Nek sama Celyn..". Jelas Rani.
" Nenek juga Rani. Nenek berjanji padanya akan menjadi sandarannya di saat dia lelah, mendengarkan semua ceritanya dan apa yang dia rasakan". Kata Nek Imah.
" Saya setuju Nek. Saya juga akan berusaha membantu.". Janjinya.
" Makasih Nak.. Kita sama-sama membantu mereka ya Nak..!! Kata Nek Imah.
" Baiklah. Oh iya Nek.. Gimana kalo malam ini kita makan di luar. Kita hibur mereka sekali- sekali. Tenang saja saya yang traktir.". Ide Rani
"Ide yang bagus Nak. Mereka bertiga pasti senang". Keduanya pun tertawa bersama.
Setelah mengobrol singkat, Nek Imah membereskan meja makan dan membersihkan peralatan makan yang kotor dengan mencucinya dan Rani pergi ke kantor. Dia berjanji akan pulang lebih cepat supaya bisa makan di restoran bersama Nek Imah dan ketiga anak itu.
semangat