Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Istana Kecil di Tepi Sungai
Perpindahan ke paviliun baru di sisi timur pesantren menjadi babak baru yang penuh warna dalam rumah tangga Hannan dan Amara. Paviliun itu, yang kini disebut Hannan sebagai "Baitul Amara" (Rumah Amara), berdiri anggun dengan arsitektur kayu jati yang hangat, dipadukan dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke aliran sungai jernih yang membelah area pesantren.
Pagi itu, Hannan membimbing Amara memasuki gerbang kayu paviliun. Begitu pintu terbuka, aroma kayu cendana dan bunga sedap malam langsung menyambut mereka. Hannan sengaja mendesain bagian dalam rumah ini dengan sentuhan modern namun tetap memiliki ruh pesantren yang kuat.
"Mas... ini terlalu indah," bisik Amara saat kakinya menginjak lantai kayu yang mengkilap.
Di ruang tengah, terdapat sebuah perpustakaan mini yang diisi dengan kitab-kitab dan buku-buku literatur kesukaan Amara. Di sudut lain, ada ruang bermain kecil untuk Zahra yang beralaskan karpet bulu yang sangat lembut. Namun, yang paling membuat Amara terpukau adalah beranda belakang. Di sana, Hannan membangun sebuah taman gantung kecil dengan berbagai jenis mawar yang sedang mekar.
"Ini adalah duniamu, Sayang. Di dalam pagar ini, kamu tidak perlu memakai cadarmu. Kamu bisa berlari, berkebun, atau sekadar duduk melamun menatap sungai tanpa perlu merasa waswas," ujar Hannan sambil menutup pintu utama dan menguncinya, memberikan privasi mutlak bagi mereka.
Amara perlahan melepas cadar dan jilbab besarnya. Ia membiarkan rambut hitamnya yang panjang tergerai jatuh ke bahu. Udara segar dari arah sungai menerpa wajahnya, memberikan sensasi kebebasan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Terima kasih, Mas Hannan. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua ini," Amara memeluk suaminya dari samping, menyandarkan wajahnya di dada bidang Hannan.
Hannan membalas pelukan itu dengan erat, mencium puncak kepala Amara berkali-kali. "Balaslah dengan selalu tersenyum dan jangan pernah merasa sendirian lagi. Mas ada di sini."
Malam harinya, Hannan menyiapkan sebuah kejutan kecil. Setelah memastikan Zahra tertidur lelap di boks bayinya yang berhias kelambu putih, Hannan menuntun Amara menuju beranda belakang. Di sana, Hannan telah menyiapkan makan malam sederhana namun romantis di bawah cahaya lilin dan sinar rembulan.
Hanya ada suara aliran air sungai yang menenangkan dan suara gesekan daun bambu. Hannan menyalakan sebuah pemutar musik kecil yang melantunkan instrumen gambus yang sangat lembut.
"Malam ini, aku ingin kita hanya menjadi Hannan dan Amara. Bukan Gus, bukan Ibu Nyai," ucap Hannan sambil menuangkan teh melati hangat ke cangkir Amara.
Mereka makan sambil bercerita tentang hal-hal yang selama ini belum sempat terucap. Hannan bercerita tentang betapa kacaunya ia saat Amara pergi, bagaimana ia sering salah membaca ayat saat mengimami salat karena pikirannya hanya tertuju pada Amara.
Sementara Amara bercerita tentang bagaimana keberadaan Zahra di dalam kandungannya menjadi satu-satunya kekuatannya untuk bertahan hidup di pengasingan.
"Mas tahu?" Amara menatap mata Hannan dengan binar yang dalam. "Setiap kali aku merasa ingin menyerah di kaki gunung itu, aku selalu membayangkan wajah Mas. Aku membayangkan Mas sedang mengajar santri, dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus membawa anak kita kembali untuk mendengar suara ayahnya mengaji."
Hannan terdiam, tenggorokannya terasa tercekat karena haru. Ia meraih tangan Amara dan mencium jemarinya satu per satu. "Kamu adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal, Amara. Aku bangga memilikimu."
Suasana menjadi semakin syahdu saat Hannan berdiri dan mengajak Amara untuk berdansa kecil di bawah sinar bulan, meskipun tanpa musik yang cepat. Mereka bergerak perlahan, hanya mengikuti detak jantung satu sama lain. Di bawah langit malam Al-Ikhlas yang penuh bintang, Hannan membisikkan janji-janji setia yang membuat hati Amara bergetar.
"Dulu aku mencintaimu karena takdir yang mempertemukan kita melalui perjodohan. Tapi sekarang, aku mencintaimu karena setiap tarikan napasmu adalah alasan bagiku untuk tetap menjadi pria yang lebih baik," bisik Hannan tepat di depan bibir Amara.
Malam itu, di paviliun baru mereka, tidak ada lagi jarak. Hanya ada kehangatan cinta yang murni, sebuah perayaan atas kemenangan mereka melewati badai. Hannan membuktikan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang menemukan, tapi tentang menjaga dan memuliakan.