Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Komunitas
**
"Banyak zombie diluar komunitas, lebih dari 300." Ucap Luca setelah semua orang memasuki Hummer dan duduk di kursi masing-masing.
Elle menepuk dahinya pelan. Ia lupa, sebelumnya demi menarik banyak zombie kemari ia menebarkan darah yang paling diinginkan zombie. Benar, meski semua mayat hidup ini tidak masuk, tetapi banyak juga yang tersisa diluar yang tidak memiliki kesempatan masuk.
"Sepertinya kita harus membersihkannya dulu." Ucap Elle.
Sesaat kemudian, kecuali Sam yang mengemudi, semua orang turun berjalan keluar komunitas melalui pintu basement. Dengan Elle yang berada paling depan, dan pedang terbentang ditangan kanannya. Ia memimpin, dan mulai menebas zombie begitu keluar.
"Maju, gunakan senjata kalian, jangan gunakan kemampuan supernatural." Ucap Elle dengan tegas.
Meski semua orang memiliki kemampuan supernatural, pada saat ini zombie masih berada ditahap awal, juga belum mengembangkan kecerdasan. Selain itu, Elle ingin semua orang menguatkan pondasi dasar tubuhnya, agar tidak terlalu bergantung pada kemampuan masing-masing. Sebab, kemampuan supernatural ada masanya energi habis dipakai, jika kemampuan asli ini tidak baik, orang tidak akan bisa melawan lagi, hanya menunggu mati.
Untuk itulah, penting melatih tubuh lebih kuat dan lebih tangkas menghadapi gerombolan zombie ini. Hal ini juga dapat membantu meningkatkan kemampuan supernatural, dan membantu mengukuhkan tubuh, sehingga inti energi dalam tubuh bisa lebih lama bertahan.
Srettt!
Setelah memerintah orang lain, Elle langsung maju dan mulai membunuh. Menebas kepala zombie satu persatu. Tanpa ekspresi apapun, ia memenggal setiap zombie yang berlari menghampirinya. Membuat orang-orang dibelakang mengikuti teladannya.
Tapi, tidak semua orang seberani Elle. Kecuali Luca yang sepertinya sudah luwes dengan senjata dan gerakan tubuhnya, Paman Jergh, Darrion dan Avin berdiam ketakutan dengan senjata masing-masing yang teracung mengarah pada zombie.
Melihat banyaknya zombie yang ada disekitar, jelas membuat ketiganya gugup. Meski sudah membunuh sebelumnya, tapi dihadapan gerombolan zombie, nyalinya tetap saja ciut. Pikiran takut dikepung berputar-putar dalam kepala ketiga orang ini.
Srettt! Crash!
"Apa yang kalian lakukan?!" Pekik Elle tertahan, menatap tajam tiga orang yang masih diam ditempat, membuat Elle kembali ke belakang hanya untuk menebas zombie yang hampir mencabik paman ketiganya.
"Kakak, a-aku!" Ucap Darrion gemetar. Bahkan tidak bisa memegang senjata dengan baik. Membuat Elle menghela nafas.
Alhasil, Elle melambaikan tangan pada Sam agar melajukan hummer ke hadapan kelimanya. Seraya menunggu, Elle dan Luca terus menjatuhkan banyak zombie disekitar yang terus berdatangan ke arah mereka dengan cepat.
"Cepat! Masuk ke mobil!" Titah Elle tegas, membuat tiga orang yang ketakutan langsung bergerak cepat memasuki hummer tersebut, menyisakan Luca dan Elle yang masih menghadang zombie yang mengejar ketiganya.
"Cepat, kau juga masuk!" Ucap Luca kemudian, ia sudah berada di samping Elle tanpa Elle sadari.
Kemudian Elle masuk lebih dulu sebelum akhirnya Luca mengikuti dengan langkah mundur karena zombie mulai banyak berdatangan. Luca menendang dua zombie yang datang menerkam, membuat zombie lainnya tertahan karena terhalang dua itu. Akhirnya, Luca masuk dan duduk di kursinya, tetapi ada satu zombie yang menahan Luca menutup pintu.
"Sam!" Ucap Elle membuat Sam menginjak gas, yang seketika hummer melaju kencang menabrak zombie-zombie yang menghadang di depan.
Luca menebas lengan zombie yang menggantung di pintu hummer, kemudian menendangnya, sebelum akhirnya ia bisa menutup pintu dengan tenang. Dengan nafas terengah, Elle dan Luca akhirnya bisa beristirahat saat ini.
Dua orang melawan ratusan gerombolan zombie benar-benar tidak etis sama sekali. Kekuatannya didunia ini masih terbatas, karena tubuhnya disini belum pernah mengalami pertarungan yamg sebenarnya. Meski ia sering berlatih beladiri untuk melindungi diri, tapi selalunya para pengawal yang keluar jika ada masalah. Ia masih sangat terlindungi.
Maka dari itu, ia mengurungkan niatnya untuk berlatih dengan gerombolan zombie disaat tiga orang lain takut sampai gemetar. Meski sedikit kecewa, ia tetap memaklumi. Ketiganya memang belum pernah melihat dunia luar sejak kiamat datang.
Hanya Luca. Ialah yang terlihat sangat luwes bertarung, bahkan lebih luwes dari Elle sendiri. Membuat Elle sangat penasaran tentang siapakah Luca ini sebenarnya?
Elle menggelengkan kepalanya, membuka tas sebagai kamuflase, ia mengeluarkan air untuk diminum oleh semua orang. Ini adalah mata air pohon di ruangannya, ia ingat air ini bisa menghilangkan rasa lelah dan menjernihkan hati serta pikiran. Jadi, ia memberikannya tanpa memikirkan resiko. Lagipula cepat atau lambat semuanya mungkin akan tahu tanpa ia memberitahu.
Alhasil ketika semua selesai minum air yang diberikan Elle, satu persatu orang mulai memuji kesegaran airnya.
"Segar sekali, sangat nyaman..." Ucap paman Jergh menikmati.
"Benar, benar, mungkinkah karena takut dan lelah sehingga air ini terasa lebih segar?" Ucap Darrion bertanya.
Elle tidak menjawab apapun. Ia hanya sibuk melirik Luca, ingin melihat respon yang keluar darinya. Tapi, tidak ada ekspresi apapun yang keluar darinya membuat Elle mencebik sebal. Baru setelahnya, Luca melirik Elle dengan alis terangkat. Tak dapat dipungkiri, Luca sendiri merasa aneh dengan air tersebut, jelas berbeda dengan air sebelumnya yang mereka minum.
Baru pada saat itulah, semua orang menjadi diam. Mendadak hening, karena begitu hummer melaju keluar komunitas, jalanan tidak terlalu padat zombie tapi semua bangunan dan kendaraan hancur lebur, selain banyak bangunan yang terlihat setengah, banyak juga mobil yang ringsek entah itu menabrak atau ditimpa sesuatu yang berat. Banyak juga yang terlihat hitam, bekas kebakaran dan mayat manusia serta zombie dimana-mana. Yang paling penting adalah, baunya juga masuk ke dalam hummer.
"Huek!" Darrion lah yang pertama kali merasa sangat mual. Diikuti paman Jergh yang sudah agak tua. Selain daripada dua orang ini, sisanya hanya menutup hidung tanpa berkata apa-apa. Seolah sudah terbiasa.
Memang, Luca, Avin, dan Sam sebelumnya membelah kepala zombie yang baunya lebih menyengat. Elle sendiri sesekali membantu membelahnya untuk mencari inti kristal.Terlebih Avin, ia bahkan sebelumnya melihat jelas pembunuhan kejam yang dilakukan oleh Elle. Jadi, hanya dua orang yang mual yang tidak ikut campur.
"Kota yang begitu indah, tiba-tiba berubah seperti reruntuhan. Ini benar-benar, membuat orang merasa sedih." Ucap Paman Jergh setelah rasa mualnya reda.
"Benar, keindahan semu itu sudah hilang. Dan bukan saja kotanya, tapi bahkan kewarasan manusia juga terenggut. Segala macam sifat jelek keluar karena terdesak. Beberapa yang mempertahankan kewarasan mungkin hanya tersisa 1:10." Ucap Sam yang teringat kejadian di komunitas.
"Sam, aku baru ingat. Bukankah kau punya keluarga? Mau menjemput mereka?" Tanya Elle tercerahkan.
Sam tersenyum kecut, kemudian menggeleng. "Ketika badai bintik matahari pecah, aku sudah memutuskan hubungan dengan mereka." Ucapnya dengan lidah kelu.
"Hah? Kok bisa? Ada apa, bukankah kalian baik-baik saja sebelumnya?" Tanya Elle terkejut.
"Tidak, nona, mereka hanya memanfaatkan uang gajiku. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Si sulung dam si bungsu menjadi kesayangan dari ibu dan ayahku. Tapi bagaimana dengan aku? Aku mencari perhatian dua orangtua pun aku tetap tidak mendapatkan kasih sayang seperti saudaraku. Maka dari itu aku bekerja diluar hanya untuk menghindari ini. Ketika badai itu datang, mereka memintaku menjemput saudaraku tapi aku sendiri sedang kesulitan karena menjagamu dan dihadang petugas keamanan itu. Mereka tidak mau mengerti, memaki dan menyumpahiku, hingga memutuskan hubungan." Jelas Sam seraya terus mengemudi.
Tidak ada perasaan lagi. Habis dimakan kekecewaan. Meski merasa sedikit pahit dihati, tapi perasaan terhadap keluarga sudah dingin sejak lama.
"Baiklah, mulai sekarang kau keluarga kami. Kita akan selalu bersama, menjadi cahaya bagi orang lain, oke?!" Ucap Elle, bermurah hati menghibur.
Sam tertawa kecil, "tentu saja, nona." Balasnya.
**