Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
"Pilihkan kebaya yang pas buat dia. Dan pastikan itu dari bahan terbaik," perintah Dominic.
"Silahkan Nona," karyawan butik itu memperlihatkan beberapa koleksi terbaru kebaya limited edition yang dimiliki oleh mereka.
"Dom, jelasin dulu! What for?" tanya Berlian serius.
"Aku akan melamar kamu," kata Dominic sembari mendekati Berlian.
"Dom, ini terlalu cepat. Aku bilang kita coba jalani dulu," sahut Berlian.
"Berlian Putri Wiranata, aku yakin dengan keputusan ini," Dominic berusaha meyakinkan. Berlian yang meragu.
"Dom, ini bukan obsesi mu semata bukan? Menikah tak hanya modal cinta doang, tapi kita juga harus realistis," kata Berlian.
Dominic meraih tangan Berlian dan mengecup lembut.
"Sayang, harus berapa kali aku jelaskan. Aku itu cinta kamu apa adanya, tak ada tendensi apapun. Bukan hanya obsesi, tapi dari hati. Tidak hanya memandang fisik dan materi, aku menerima kamu dengan segala kelebihan dan kekurangan kamu. Apa itu tak cukup?" tatapan memohon dari mata Dominic membuat Berlian luluh.
Beberapa karyawan butik yang mendengar ikutan tersenyum simpul. Pria tampan nan menawan sedang membujuk wanitanya.
"Aku akan menghubungi uncle Wiranata. Kamu cobain baju nya," bilang Dom.
"Hhhmmm," gumam Berlian.
Dominic menjauh.
"Pasangan anda perhatian sekali Nona," ujar karyawan butik seraya menyerahkan potongan pertama kebaya untuk dicoba Berlian.
Berlian memilih kebaya warna maroon dan putih untuk dicoba.
Berlian keluar dengan kebaya warna maroon yang kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat.
Dominic menatap takjub.
"Gimana sayang?" tanya Berlian karena Dominic diam tak bereaksi.
"Good, yang ini saja," tegas Dom.
Dominic mengeluarkan sebuah kartu hitam dan menyerahkan kepada karyawan butik.
"Makasih tuan, nyonya," ucap mereka ramah setelah Dominic dan Berlian menyelesaikan urusan di butik.
"Kemana lagi sekarang?" tanya Berlian saat arah mobil bukannya menuju mansion tapi ke arah sebaliknya.
Dominic tersenyum, "Kemana saja yang penting calon istriku senang," kata Dominic.
Sebuah outlet berlian di mall terbesar yang dituju Dominic.
"Set yang aku pesan," bilang Dom.
"Baik tuan," mereka mengeluarkan yang dikatakan Dominic.
Berlian takjub melihat nya.
"Ini?" pandangan Berlian ke arah Dominic.
"Coba dulu sayang," Dominic melingkarkan sebuah cincin bertahta berlian. Melihat bentuknya, Berlian yakini kalau Dominic pasti memesan khusus untuknya. Tak ada barang murahan yang dijual di sini.
"Berlian terbaik untuk Berlian ku," ujar Dominic seraya tersenyum puas.
Saat Dominic dan Berlian asyik mencoba, datang seorang cewek cantik berkacamata hitam di outlet itu.
"Aku mau beli berlian yang paling mahal di sini," pinta nya pongah.
"Maaf Nona, berlian yang dijual di sini custome semua. Musti pesan dulu," ucap sopan karyawan yang menyambutnya.
"Kalau dipakai nanti malam ini?" tanya nya.
"Minimal sebulan Nona," jawab karyawan lugas.
Berlian menatap Dominic, 'Dominic menyiapkan semua ini, bahkan saat ketuk palu hakim baru diperdengarkan,'
"Betul, aku menyiapkan ini sudah lama," kata Dominic.
Lagi-lagi Dominic bisa membaca isi kepala Berlian.
Dominic terkekeh.
"Hanya satu dan itu kamu, Berlian ku," nada penuh ketegasan terdengar dari mulut Dom.
"Bos kalian mana? Bilang saja Kinara Sentosa datang," kata wanita dengan nada jengkel.
"Maaf Nona, semua customer di sini adalah sama," kata karyawan itu dengan nada lembut.
"Kalian tuli? Panggil bos kalian," hardik nya.
Dominic dan Berlian saling pandang.
"Cewek itu?" arah mata Berlian melirik ke cewek di sebelah mereka. Dominic mengangkat bahu, malas menanggapi.
"Tuan Dominic, ini kartu anda. Terima kasih atas kunjungan anda," kata karyawan yang melayani Dominic dan Berlian.
Dominic pergi menggandeng Berlian mesra.
Kinara menoleh ketika mendengar nama Dominic disebut.
"Kalian tadi menyebut nama siapa?" tanya Kinara ingin memastikan.
"Oh, yang tadi? Tuan Dominic dengan istrinya," beritahu mereka.
'Apa itu Dominic yang sama? Ah, pastinya bukan. Tak mungkin Dominic Alexander. Kali aja nama nya sama,' batin Kinara menolak.
Ponsel Kinara berdering.
"Wah, camer nih?" sesungging senyum menghiasi wajah Kinara.
"Halo Tante," sapa Kinara.
"Tante tunggu loh. Sudah sampai mana?" suara nyonya Alexander terdengar.
"Mampir bentar ke 'Berlian Jewelry' Tante," jawab Kinara.
"Lekas lah sayang. Tante sudah siapin satu set buat calon mantu. Tante ambil dari Berlian Jewelry juga," tukas nyonya Alexander dan Kinara tersenyum senang.
Kinara tak jadi beli karena harus costume, apalagi barusan mendengar dirinya akan mendapatkan satu set dari calon mertua. Kinara membayangkan jadi istri putra tunggal keluarga Alexander. Meski tak begitu mengenal sosoknya, Kinara yakin jika calon suaminya pasti lah tampan dan mempesona. Kinara membayangkan sosok tokoh pria dalam drama yang sering dia tonton, membuatnya senyum-senyum sendirian.
"Jadi tak sabar melewati pesta nanti malam," gumam Kinara antusias.
Ponsel Kinara berdering, "Gimana?" todong Kinara.
"Tuan Dominic Alexander saat ini berada di luar negeri Nona. Perusahaan yang tuan Dom pimpin meluaskan sayap ke luar negeri. Dan semakin berkembang," lapor anak buah yang Kinara suruh.
"Hhmm, ada lagi?" Kinara puas dengan hasil anak buahnya. Tak rugi musti bayar mahal mereka.
"Ada Nona, tuan Dominic sedang dekat dengan seorang wanita. Tapi identitasnya sukar ditembus," Kinara mendengar dengan tenang.
"Oke, kalau ada kabar terbaru cepat infokan," suruh Kinara. Panggilan terputus.
"Tuan muda kaya di mana-mana sama saja" Kinara terkekeh pelan.
Kinara mencari sosok Dominic lewat layar ponsel.
"Inikah Dominic? Aura dingin nya sungguh wow, buat aku makin penasaran," gumam Kinara melihat profil Dominic dalam layar ponsel.
"Seperti pernah melihat siluet seperti ini? Rahang tegas dan cambang tipis?" Kinara mencoba mengingat.
"Oh, bukannya ini mirip pria yang tadi di 'Berlian Jewelry,"
"Jangan-jangan tadi memang beneran Dominic Alexander?"
"Wah, kalau beneran dia.Tantangan banget buat aku," Kinara tertawa kecil.
"Aku harus bisa menjadi istrinya. Apalagi keluarga Alexander sangat mendukung," kata Kinara yakin.
"Lantas wanita yang di sebelahnya? Bukannya Dominic di luar negeri?" Kinara tersenyum simpul. Menarik.
"Akan kubuat kamu bertekuk lutut," optimis Kinara.
.
Di mansion tuan Wiranata semua berbenah dalam rangka persiapan acara lamaran Dom yang serba dadakan.
Gerutuan tuan Wiranata membuat beberapa orang di sana tersenyum simpul.
"Calon menantu kurang ajar, buat acara semaunya sendiri. Siang kasih kabar, sore harus siap," tuan Wiranata hanya bisa menepuk jidat.
Asisten Brian ikutan repot membantu.
"Brian, ke mana bos kamu?" telisik tuan Wiranata.
Asisten Brian mengangkat bahu, "Hari ini tak ada agenda kantor tuan, jadi saya tak tahu kemana bos pergi," jawab Asisten Brian.
"Kamu sekongkol sama Dom? Buat kerepotan," ujar tuan Wiranata.
"Tuan besar duduk saja. Biar aku dan tim yang menyiapkan," Asisten Brian datang bersama tim EO yang dipercaya perusahaan milik Dominic.
"Tuan besar tenang, pokoknya terima beres," imbuh Asisten Brian.
"Terserah Dominic saja," tuan Wiranata mondar mandir karena ingin memastikan semua sempurna. Meski sudah dipegang oleh Asisten Brian, tuan Wiranata ingin memberikan yang terbaik buat putri nya.
.
.
Lanjut guyssss.
Thanks tuk yg masih stay di sini
Love