Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 – Daffa Muncul
Nama itu pertama kali terdengar di lorong sekolah.
“Eh, lo udah lihat anak pindahan itu belum?”
“Yang tinggi, jaket hitam, senyumnya bikin pingsan itu?”
“Namanya Daffa.”
Kia tidak terlalu peduli dengan percakapan semacam itu. Ia berjalan melewati lorong dengan langkah cepat, ransel tersampir di satu bahu, pikiran masih dipenuhi sisa emosi dari pertengkarannya dengan Tara kemarin. Baginya, orang baru hanyalah wajah lain yang akan lewat tanpa arti.
Sampai suara itu terdengar tepat di belakangnya.
“Permisi.”
Nada suaranya tenang. Tidak sok ramah, tidak juga dingin.
Kia berhenti dan menoleh.
Cowok itu berdiri di sana. Tinggi, bahu lebar, rambut hitamnya sedikit berantakan seperti tidak terlalu peduli dengan penampilan tapi tetap terlihat rapi. Seragamnya dikenakan seadanya, kancing atas terbuka satu. Tatapannya tajam, tapi tidak menusuk.
“Aku numpang lewat,” katanya sambil memberi isyarat ke arah lorong sempit di antara deretan loker.
“Oh,” Kia bergeser sedikit. “Silakan.”
“Thanks.”
Satu kata. Satu senyum tipis.
Dan entah kenapa, Kia menoleh lagi saat cowok itu berjalan pergi.
Bukan karena tertarik.
Lebih karena… ia jarang melihat senyum setenang itu di sekolah ini.
Daffa langsung jadi pusat perhatian sejak hari pertama.
Guru-guru menyebut namanya dengan nada ingin tahu.
Siswi-siswi membicarakannya dengan suara tertahan.
Siswa-siswa lain mengamatinya dengan campuran kagum dan waspada.
Ia tidak berisik. Tidak sok jago. Tapi keberadaannya terasa.
Di kelas, Daffa duduk di bangku kosong dekat jendela—tepat dua baris di depan Kia. Ia memperhatikan cara cowok itu mencatat: rapi, cepat, fokus. Sesekali bertanya pada guru dengan pertanyaan yang tidak bodoh, tapi juga tidak pamer.
“Kamu dari sekolah mana sebelumnya?” tanya guru sejarah.
“Dari luar kota, Pak,” jawab Daffa singkat.
“Kenapa pindah?”
Daffa diam sejenak. “Ikut keluarga.”
Tidak ada penjelasan lebih.
Kia menghargai itu.
Masalahnya, Tara juga memperhatikan.
Dari bangku seberang, Tara melirik ke arah Daffa lebih sering dari yang ia sadari. Awalnya hanya karena semua orang membicarakannya. Lalu karena ia duduk dekat dengan Kia.
Dan entah kenapa, fakta itu mengganggunya.
“Anak baru itu dekat sama Kia, ya?” bisik salah satu temannya saat jam istirahat.
Tara menyesap minumnya. “Masa?”
“Iya. Tadi di perpustakaan mereka barengan.”
Tara tidak menjawab. Tapi matanya refleks mencari sosok Kia di kantin.
Dan benar saja—Kia duduk di meja pojok, buku terbuka, sementara Daffa berdiri di depannya, menunduk sedikit, berbicara dengan nada santai.
Tara mengeratkan genggaman tangannya di gelas.
Ia tidak tahu kenapa pemandangan itu membuat dadanya sesak.
“Lo sering ke perpustakaan?” tanya Daffa sambil duduk di kursi seberang Kia.
“Sering,” jawab Kia tanpa mengangkat kepala. “Lebih tenang.”
“Setuju.” Daffa melirik buku Kia. “Sosiologi?”
“Iya.”
“Bab stratifikasi sosial,” kata Daffa. “Yang bahas ketimpangan.”
Kia akhirnya mengangkat wajahnya. “Lo tahu?”
“Sedikit,” jawab Daffa. “Di sekolah lama, guru gue obses sama topik itu.”
“Hm.”
Hening sejenak.
Bukan hening canggung. Lebih seperti jeda yang nyaman.
“Lo Kiandra, kan?” tanya Daffa.
“Kia.”
“Oke. Gue Daffa.”
“Aku tahu.”
Daffa tertawa kecil. “Terkenal, ya?”
“Bukan gue,” jawab Kia datar. “Lo.”
Daffa mengangkat alis. “Sial.”
Kia tersenyum tipis. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat.
Dan itu cukup untuk membuat Daffa menatapnya sedikit lebih lama dari seharusnya.
Kedekatan mereka bukan sesuatu yang direncanakan.
Daffa sering duduk di dekat Kia saat jam kosong.
Mereka bertukar catatan.
Berdiskusi singkat soal tugas.
Kadang hanya duduk diam tanpa bicara.
Tidak ada janji. Tidak ada status.
Tapi sekolah melihatnya.
Dan sekolah mulai membicarakannya.
“Kia pacaran sama anak baru?”
“Serius? Yang dingin itu?”
“Gila, Daffa bisa dapet siapa aja, kenapa dia?”
Kia mendengar bisik-bisik itu dan tidak peduli.
Sampai suatu hari, Tara berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu sama Daffa dekat, ya?” tanya Tara, nada suaranya terdengar biasa. Terlalu biasa.
Kia menutup bukunya. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma nanya.”
“Sejak kapan kamu peduli?” balas Kia.
Tara tersenyum kaku. “Sejak kamu jadi bahan omongan.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Selama itu di sekolah, itu urusanku juga,” sahut Tara cepat.
Kia berdiri. “Kamu nggak punya hak ngatur hidup aku.”
“Aku nggak ngatur!” suara Tara naik sedikit. “Aku cuma—”
“Cuma apa?” Kia menatapnya tajam. “Cuma nggak suka lihat aku bahagia?”
Kalimat itu meluncur tanpa filter.
Tara terdiam.
Wajahnya memucat. “Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi kamu mikir begitu,” ucap Kia pelan.
Dari kejauhan, Daffa memperhatikan mereka. Ia tidak mendekat. Tapi matanya menangkap ketegangan itu dengan jelas.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari:
hubungan Kia dan Tara jauh lebih rumit dari sekadar tidak akur.
Sore itu, Daffa menyusul Kia ke parkiran.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
Kia menghela napas. “Kelihatan nggak?”
“Sedikit.”
“Ya udah. Berarti aku baik-baik aja.”
Daffa tersenyum. “Keras kepala.”
“Dan lo sok peduli.”
“Bisa jadi.”
Mereka berjalan berdampingan. Jaraknya tidak dekat, tapi juga tidak jauh.
“Kia,” panggil Daffa tiba-tiba. “Kalau gue bikin lo nggak nyaman… bilang.”
Kia berhenti. Menoleh.
“Maksud lo?”
“Omongan orang,” jawab Daffa jujur. “Gue nggak mau jadi masalah buat lo.”
Kia menatapnya lama. Lalu berkata, “Lo bukan masalah.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi cukup membuat Daffa tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
Di rumah besar dengan pagar tinggi, Tara berdiri di balkon kamarnya.
Ia melihat ponselnya. Media sosial sekolah penuh foto candid Daffa. Beberapa di antaranya… bersama Kia.
Dadanya terasa panas.
Bukan cemburu.
Bukan juga marah.
Lebih seperti takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia pahami.
“Kenapa harus dia?” gumam Tara.
Ia menutup ponselnya dengan kasar.
Untuk pertama kalinya, Tara merasa posisi “anak yang dipilih” tidak menjamin ia selalu berada di tengah perhatian.
Dan untuk pertama kalinya juga, Kia memiliki sesuatu—seseorang—yang membuat Tara merasa tersisih.
Malam itu, Kia berbaring di kamarnya.
Ia menatap langit-langit, memikirkan hari yang panjang.
Daffa.
Tatapan Tara.
Bisik-bisik sekolah.
Ia menutup mata.
Entah sejak kapan, hidupnya yang selalu keras dan lurus mulai dimasuki variabel baru.
Dan ia tidak tahu apakah itu akan jadi kekuatan…
atau justru luka baru.
Satu hal yang pasti—
Kehadiran Daffa bukan hanya mengubah dinamika sekolah.
Ia mulai menggeser sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang akan memaksa Kia dan Tara berhadapan, bukan sebagai musuh sekolah semata—
melainkan sebagai dua anak yang sedang berebut pengakuan, cinta, dan kebenaran yang sama.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya