NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Membohongi Perasaan

SELAMAT MEMBACA!

Dara hanya diam, mendengar pria di sampingnya itu berbicara dengan nada sangat lembut. Sungguh, kalimat yang Ambo lantunkan membuat hati Dara tersentuh, apalagi pria tersebut meneteskan air mata.

"Gue gak bisa tanpa dia."

"Gue udah buta karena cinta." Ambo menunduk, air matanya terjatuh dengan begitu derasnya. "Gue ngelakuin itu semua karena gue gak mau Nasya jadi milik orang lain," katanya.

"Lo mau bilang gue egois pun, gue gak peduli."

"Gue ngelakuin ini semua buat Nasya."

"Setelah dia tahu semua yang gue lakuin, dia benci sama gue." Ambo mencoba mengangkat wajahnya, menatap Dara dengan sangat dalam. "Gue mohon, lo bantu bicara ke Nasya," ucap Ambo. Dia tidak lagi terlihat seperti berandal.

"Gue mohon banget sama lo, Ra."

"Gue tahu lo pasti dendam sama gue. Gue akan ngelakuin apa yang lo mau, terserah. Asal lo mau bantuin gue, Ra."

Ambo memohon kepada Dara yang masih mematung. Suaranya bahkan sampai melirih, napasnya juga sesenggukan. "Bantuin gue ya, Ra?" ujar Ambo, lagi.

...🦋...

Malam yang begitu dingin, tidak ada yang bisa Dara peluk kecuali guling. Gadis itu menutup dirinya dengan selimut tebal, kemudian ia membuka ponsel yang menayangkan sebuah drama kolosal China. Sambil rebahan, Dara sangat mendalami film tersebut, bahkan berhalusinasi, dia menjadi tokoh wanita di sana.

Bersandar pada dua bantal yang ditumpuk, sesekali Dara menggigit kuku jemari tangannya karena perasaan gemas. Bayangan tentangnya bersama Dino pun muncul perlahan. Bagaimana ketika dia akan berkuda dengan suaminya itu. Terlihat sangat romantis.

Bayangan itu pudar karena sampai sekarang suaminya masih belum pulang. Mungkin, Dino akan menginap di sana untuk menemani sang mama. Dara tidak keberatan sendirian di rumah sekarang, tetapi hanya sedikit rindu. "Ngapain mikirin dia? Dia aja nggak kasih kabar," gerutu Dara.

Ya, mereka terakhir berkomunikasi ketika sore itu. Dara pun tidak mengirim pesan lagi setelahnya, takut Dino akan terganggu karenanya.

Di tengah film itu terputar, suara ketukan pintu membuat Dara terkejut. Bahkan, dia hampir saja melompat dari sana. Lalu, Dara beranjak dari tempat tidur dan segera pergi untuk mengecek.

Dara menyalakan lampu ruang tengah untuk memberi cahaya di ruangan yang gelap itu. Dengan sedikit perasaan takut, Dara memutar kunci pintu utama tersebut. Lalu, perlahan Dara menurunkan gagangnya dan terbuka.

Dara sangat terkejut, matanya melebar melihat sosok lelaki menyeramkan di depannya menatap dengan tatapan tajam.

Dino berdiri di sana dengan keadaan basah kuyup, kemudian tatapan mata  yang merah menyorot tajam karena kelilipan. Dara menghela napas lega, sebab itu suaminya. "Dino asli, kan?" celetuk Dara, takutnya ia adalah tiruan.

Lelaki di depan pintu tersebut tersenyum kecil, kemudian menyelinap masuk ke rumah, melewati Dara yang mematung. "No?" panggil Dara.

Dia melepas sepatu tanpa menghiraukan Dara yang ragu akan keaslian Dino. Lalu, dia mendongak membuat Dara melonjak kaget. "No! Beneran Dino bukan, sih!"

Dino berdiri dari sana. "Asli, Ra," ucap Dino, kemudian dia melenggang pergi ke kamar mandi. Badannya sudah sangat dingin karena air hujan dan udara di luar.

Sebenarnya, Dino berencana tidak pulang karena sudah larut malam. Namun, ia kasihan dengan istrinya yang sendirian di rumah. Lalu, di tengah perjalanan, hujan turun deras hingga membuat seluruh tubuh Dino basah.

Melihat kondisi Dino yang basah seperti itu, Dara berinisiatif membuat teh hangat untuk suaminya. Dia melirik ke arah kamar mandi yang pintunya tertutup, sambil menunggu air rebusannya matang.

Dara mengaduk teh hangat itu, ia berpikir minuman ini akan menghilangkan rasa dingin di tubuh Dino. Mendengar suara pintu terbuka, Dara menoleh. Namun, dengan cepat Dara segera memalingkan wajahnya.

"Buat apa, Ra?" tanya Dino, menghampiri Dara hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.

Dara berusaha agar Dino tidak terlihat di matanya. Dia membuang wajah. "Pakai baju dulu, No!" tutur Dara.

Dino sadar, seingatnya, Dara tidak pernah melihatnya dengan penampilan telanjang dada seperti ini. Lalu, Dino pergi kamar untuk mengambil pakaian. Setelah lelaki itu pergi, Dara menggerutu meski ada perasaan berbunga-bunga.

Suasana yang dirindukan Dino seharian ini. Seharusnya, ia sudah bertemu dengan Dara sejak sore. Namun, mereka baru bertatap muka di malam yang sudah hampir larut. Saat Dino berjalan untuk mengambil pakaian di almari, ia mendapati handphone istrinya menyala. "Dia tadi belum tidur?" ucap Dino.

Dino pikir, Dara sudah tidur karena tidak mungkin menunggunya. Namun, melihat ponsel Dara yang menyala dan ketahuan sedang menonton drama, membuat senyum tipis terbit di wajahnya.

"No," panggil Dara. Dia berjalan masuk ke kamar sambil membawa cangkir berisi teh hangat. Namun, langkahnya terhenti di tengah pintu dan berbalik badan karena Dino sedang memakai baju.

Dino hanya tersenyum melihat istrinya salah tingkah. "Udah, Ra" ujar Dino. Lalu, Dara pergi untuk meletakkan gelas di tangannya di atas nakas.

Dara harus meletakkan beberapa menit bagian dramanya karena Dino. Dia kembali naik ke kasur untuk menyelesaikan episode itu. Dino menundukkan tubuhnya di pinggiran kasur, membelakangi Dara. Lalu, Dino menyeruput teh tersebut hingga membuat tubuhnya lebih hangat.

Setelah meminum setengah dari teh tersebut, Dino menggeser tubuhnya menjadi bersebelahan dengan Dara. Gadis itu tidak menggubris, hanya fokus dengan handphone. "Ra, dingin gak, sih?" celetuk Dino, kemudian hanya dibalas anggukan oleh Dara. "Peluk, boleh?"

Dara menoleh dengan cepat. Memasang wajah ketus. Lalu, dia membuang muka. "Habisin tehnya!" seloroh Dara. Dia merebahkan tubuhnya, memasang posisi miring dengan ponsel yang disandarkan pada guling.

Suami Dara itu mengulas senyum tipis. "Tidur, Ra! Nontonnya aja drama romantis, giliran diajak romantis aja jadi galak lo, Ra."

"Apaan sih, No!" ketus Dara. Dia mendengus kesal, tetapi ucapan lelaki itu ada benarnya juga. Ia selalu terlihat menjauh dari Dino. Namun, Dara tidak peduli, ia lanjutkan saja menonton aktor tampan tersebut.

Dara teringat sesuatu, ada yang perlu ia ceritakan kepada suaminya itu. Dia berbalik badan, kemudian mematikan ponselnya. "No, aku tadi ketemu sama Ambo," ucapnya, membuat Dino menoleh dengan cepat.

Dara pikir, Dino berhak tahu soal masalahnya. Jadi, Dara menceritakan apa yang terjadi di antaranya dengan Ambo di halte tadi sore.

Dino juga mengatakan, bahwa mamanya merindukan menantunya, dan memaksa Dino agar membawa Dara di waktu dekat.

Malam berganti pagi, matahari terbit untuk menyinari dunia. Embun masih menempel di dedaunan. Udara sejuk menyegarkan setiap manusia yang menghirupnya. Hari ini, Dara libur bekerja dan memutuskan untuk pergi ke rumah suaminya. Dia juga sudah lama tidak bertegur sapa dengan sang mertua.

Kini, Dara disibukkan dengan pekerjaan dapur. Padahal, dia dan suaminya sudah sarapan dengan nasi goreng. Namun, Dara masih bergulat di sana.

Dino keluar dari kamar sambil memakaikan jaket ke tubuhnya. Dia mengerutkan dahi melihat sang istri sedang memasak. "Ra, katanya mau ketemu Mama," celetuk Dino.

"Bentar, No," jawabnya, masih sibuk dengan aktivitasnya. Dia mengaduk sup ayam dengan beberapa urusan wortel dan kubis di panci. "Ini udah mateng, kok." Lalu, Dara mengambil tepak makanan dari dalam almari.

Dino menghela napas panjang. "Mama udah nungguin, loh."

Manik Dara membulat. "Bentar," katanya, dengan cepat dia memindahkan sup dari panci ke tepak. Namun, pergelangan tangannya dicekal oleh Dino, membuat pergerakannya terhenti.

Dara menatap Dino. "Biar gue. Lo ganti pakaian dulu!" ujar Dino, kemudian mengambil centong sayur dari tangan istrinya.

Dara tidak bergeming, dia hanya diam menatap suaminya.

"Ra, gue tahu lo excited banget mau ketemu Mama. Tapi, lo juga harus hati-hati!" tutur Dino, kemudian melakukan hal yang sama seperti Dara, tetapi dengan perlahan. "Lo pindahin dengan cara kayak gitu, nanti bisa tumpah terus kena tangan lo."

Gadis itu mengangguk singkat, kemudian melenggang dari sana dengan cepat, dan pergi ke kamar untuk berganti pakaian yang lebih sopan.

Pavita sangat heboh ketika melihat putranya membawa Dara masuk ke kamar. Dia tersenyum lebar menyambut kedatangan sang menantu. Lalu, dia segera memeluk Dara dengan erat, bahkan menciumi gadis itu.

"Ma, udah! Jangan dicium terus!" tegur Dino, melihatnya dengan cemburu.

Wanita itu berhenti, kemudian melirik ke arah Dino. "Iri aja kamu!" celetuknya.

Dino mendengus kesal. "Aku juga bisa, kalau aku mau!" Lalu, dia keluar dari kamar sang mama, membiarkan istrinya berdua saja di sana.

Sudah hampir satu minggu Pavita hanya tiduran di kasurnya. Dia akan merasa pusing bila dipaksa untuk berdiri. Bahkan, makan saja dia harus dipaksa.

"Mama udah makan, atau belum?" tanya Dara, sambil menatap wanita itu dengan dalam.

Pavita menggelengkan kepala. "Gak selera makan," jawabnya.

"Perutnya harus diisi dong, Ma, supaya sembuh."

Wanita itu tersenyum simpul, kemudian tangannya bergerak meraih tangan Dara dan digenggamnya erat. "Kalian gimana? Baik-baik aja, kan?" ujar Pavita.

Dara mengangguk-anggukkan kepala. "Kamu udah ada isi belum?" tanya Pavita, sontak membuat Dara membeku.

Reaksi Dara yang tidak bisa berbohong, membuat helaan napas besar keluar dari bibir Pavita. "Kalian belum, ya?" Suara pelan dan kecewa wanita itu, membuat Dara tak enak hati. "Gak apa-apa, kalian menikah juga karena perjodohan," lanjutnya, sambil mengelus kepala Dara.

Sejenak keheningan mengudara. Pavita berubah dengan cepat. "Dino nakal gak?" ujar Pavita. "Kamu udah tahu, kan, kalau dia ketua geng?"

Dara mengangguk. "Udah, Ma."

"Dia masih balapan gak?"

Dara menggelengkan kepala. "Dino selalu di rumah, kalau keluar biasanya ajak Dara." Dia sedikit berbohong, takut membuat mama itu khawatir. Tidak mungkin Dara menceritakan yang sesungguhnya, bahwa Dino telah tawuran di hari lalu.

"Baguslah," kata Pavita, dengan senyum di wajahnya.

"Aku ambilin makan, ya? Aku tadi bawain sup ayam sama wortel, masa nggak mau?" ujar Dara, mencoba merayu wanita itu.

Pavita menghela napas panjang. "Iya, deh. Tapi, nasinya sedikit aja, ya!"

Dara lega, dia berhasil membujuknya. Dara mengangguk, kemudian melenggang dari sana untuk mengambilkan makanan.

Saat pergi ke dapur, Dara mendapati Dino yang keluar dari kamarnya. Lalu, Dara memutuskan untuk menghampiri. "No," panggil Dara.

Lelaki di depannya itu mengangkat wajah. "Kenapa, Ra?"

"Aku udah mutusin, mau bantu Ambo."

"Yakin?" Dara mengangguk. "Ya udah," katanya, sambil mengacak-acak rambut Dara.

"Hari ini, kita nginep di sini, mau?" tawar Dino.

Dara membulatkan mata. "Ya udah."

"Nice!"

Entah apa yang harus Dara katakan kepada Nasya, untuk membantu Ambo. Bahkan, ia saja tidak mengenal lebih jauh dengan mantan kekasih almarhum kakaknya itu.

🦋

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!