Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian dan Kebangkitan Sang Penguasa
Langit di atas Puncak Awan Terlarang tampak seperti lautan darah. Petir menyambar liar, membelah kegelapan yang menyelimuti sisa-sisa pertempuran dahsyat itu. Di ujung tebing curam, seorang pria dengan jubah putih yang kini ternoda merah darah berdiri terhuyung-huyung. Napasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti menelan pecahan kaca.
Dia adalah Lin Xiao, sang Alkemis Dewa yang namanya pernah mengguncang Sembilan Langit. Namun kini, dia terpojok seperti binatang buruan.
Di hadapannya, melayang dua sosok yang sangat ia kenal. Yang satu adalah pria tampan dengan aura emas yang menyilaukan—Sahabatnya, Kaisar Pedang Ye Chen. Di sebelahnya, wanita cantik jelita dengan tatapan dingin bagai es—kekasihnya, Dewi Teratai Su Rou.
"Kenapa?" suara Lin Xiao parau, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Aku memberikan segalanya untuk kalian. Pil Sembilan Dewa, Teknik Pedang Langit... semuanya. Kenapa kalian masih menginginkan nyawaku?"
Ye Chen tertawa kecil, suaranya bergema penuh arogansi. "Lin Xiao, kau terlalu naif. Bakat alkimiamu memang tiada tara, tetapi kau memegang 'Kitab Keabadian'. Benda itu terlalu berbahaya jika berada di tangan orang yang hanya peduli pada penyembuhan sepertimu. Dunia ini butuh penguasa mutlak, bukan tabib."
Su Rou menatap Lin Xiao tanpa emosi. "Serahkan Kitab itu, dan kami akan membiarkanmu mati dengan jasad utuh."
Hati Lin Xiao hancur berkeping-keping. Rasa sakit akibat pengkhianatan ini jauh lebih perih daripada ribuan luka pedang di tubuhnya. Ia tertawa getir, tawa yang semakin lama semakin keras hingga mengguncang langit.
"Kalian menginginkan keabadian? Baiklah!"
Mata Lin Xiao mendadak bersinar merah menyala. Aura spiritual di dalam tubuhnya bergejolak hebat, tidak terkendali.
Wajah Ye Chen berubah pucat. "Dia berniat meledakkan Inti Jiwanya! Mundur, Rou'er!"
"Terlambat! Jika aku harus mati, aku akan menyeret kalian ke neraka bersamaku!" teriak Lin Xiao.
BOOOM!
Ledakan energi yang setara dengan seribu matahari meletus di Puncak Awan Terlarang, melenyapkan segalanya menjadi debu.
Kegelapan. Kehampaan yang tak berujung. Lalu, rasa sakit.
Rasa sakit yang menyengat menjalar ke seluruh saraf. Bukan sakit akibat ledakan jiwa, melainkan rasa sakit fisik yang tumpul, seolah-olah seluruh tulang di tubuhnya baru saja dipukuli dengan benda tumpul.
"Tuan Muda... Tuan Muda Lin! Bangunlah! Jangan mati!"
Suara tangisan seorang gadis terdengar samar-samar di telinganya. Suara itu begitu pilu dan ketakutan.
Lin Xiao memaksakan matanya untuk terbuka. Cahaya matahari yang masuk melalui celah atap kayu yang rapuh menusuk matanya. Dia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya.
Ini bukan Puncak Awan Terlarang. Ini juga bukan Alam Baka.
Dia berbaring di atas tempat tidur kayu keras dengan alas jerami tipis. Ruangan itu sempit, lembap, dan berbau obat-obatan murah. Di samping tempat tidur, seorang gadis pelayan berusia sekitar lima belas tahun sedang menangis tersedu-sedu, memegang tangannya yang dingin.
"Di mana... ini?" gumam Lin Xiao. Suaranya terdengar asing, lemah, dan belum pecah suara—suara seorang remaja.
Gadis pelayan itu tersentak, wajahnya yang berlinang air mata langsung cerah. "Tuan Muda! Anda sadar! Syukurlah! Saya pikir pukulan Tuan Muda Wang tadi benar-benar membunuh Anda!"
Tuan Muda Wang? Pukulan?
Tiba-tiba, gelombang ingatan yang bukan miliknya membanjiri otak Lin Xiao. Rasa sakit kepala yang hebat menyerangnya, memaksanya mengerang dan memegangi kepalanya.
Namanya Lin Xiao. Usia 16 tahun. Putra tunggal dari Patriark Keluarga Lin di Kota Batu Hijau.
Di kehidupan ini, dia bukanlah Alkemis Dewa yang agung. Dia adalah "sampah" terkenal di Kota Batu Hijau. Lahir dengan Meridian (saluran energi) yang tersumbat secara alami, dia tidak bisa mengumpulkan Qi (energi spiritual). Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, seseorang yang tidak bisa berkultivasi hanyalah semut yang bisa diinjak siapa saja.
Hari ini, dia baru saja dipukuli hingga hampir mati oleh Wang Lei, putra tetua dari keluarga saingan, hanya karena Lin Xiao "berani" menatap tunangan Wang Lei di pasar.
Perlahan, rasa sakit di kepalanya mereda. Lin Xiao—sang Alkemis Dewa—menarik napas panjang. Tatapannya yang semula bingung perlahan berubah menjadi tajam dan dingin, sebuah tatapan yang pernah membuat para Dewa di Sembilan Langit gemetar.
"Jadi aku belum mati," bisiknya pada diri sendiri. "Aku bereinkarnasi."
Dia memeriksa kondisi tubuh barunya. Kondisinya menyedihkan. Tulang rusuk patah, memar di sekujur tubuh, dan organ dalam yang terluka. Namun, yang paling parah adalah kondisi Meridian-nya. Sembilan saluran utama tersumbat oleh lumpur hitam kotoran—kondisi yang dikenal sebagai "Tubuh Kutukan Surga".
Pantas saja pemilik tubuh asli ini tidak bisa berkultivasi seumur hidupnya. Bagi orang awam, ini adalah vonis mati bagi karier bela diri. Tetapi bagi Lin Xiao, mantan Alkemis Dewa?
Dia menyeringai tipis. Senyuman itu membuat gadis pelayan di sampingnya, Xiao Yun, merasa merinding tanpa alasan.
"Xiao Yun," panggil Lin Xiao.
"Y-ya, Tuan Muda?"
"Bantu aku duduk. Dan bawakan aku cermin."
Xiao Yun buru-buru membantu tuannya bersandar di kepala tempat tidur, lalu mengambil cermin tembaga retak dari meja. Lin Xiao menatap pantulan dirinya. Wajah yang tampan namun pucat pasi, dengan sedikit darah kering di pelipis. Ada kemiripan dengan wajahnya di kehidupan sebelumnya, namun terlihat lebih muda dan rapuh.
"Wang Lei..." Lin Xiao mengeja nama itu. Ingatan tentang penghinaan yang diterima tubuh ini memicu amarah di dalam jiwanya. Pemilik tubuh asli mati karena organ dalamnya hancur akibat tendangan Wang Lei. Kebencian pemilik asli kini menyatu dengan jiwa Lin Xiao.
"Jangan khawatir," batin Lin Xiao. "Karena aku menempati tubuhmu, aku akan membalaskan dendammu. Mereka yang menghinamu akan bersujud memohon ampun."
Tiba-tiba, dia merasakan sensasi hangat di dalam kesadarannya. Di kedalaman lautan jiwanya, sebuah buku kuno bersampul emas melayang perlahan.
Mata Lin Xiao membelalak. "Kitab Keabadian?!"
Benda yang menyebabkan kematiannya, benda yang diperebutkan oleh seluruh Alam Kayangan, ternyata ikut terbawa bersamanya dalam reinkarnasi ini! Kitab itu tidak lagi berwujud fisik, melainkan telah menyatu dengan jiwanya.
Lin Xiao memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya pada kitab tersebut. Halaman pertama kitab itu terbuka perlahan di dalam benaknya.
TEKNIK NAGA SURGAWI PURBA: TAHAP PERTAMA. Membakar darah untuk menempa tulang, menyerap langit untuk membentuk jiwa.
Jantung Lin Xiao berdegup kencang. Ini adalah teknik kultivasi legendaris yang hilang jutaan tahun lalu! Dengan teknik ini, Meridian yang tersumbat bukanlah halangan, justru bisa diubah menjadi fondasi tubuh yang lebih kuat daripada tubuh manusia biasa.
"Tuan Muda, apa Anda baik-baik saja? Wajah Anda aneh sekali," tanya Xiao Yun khawatir.
Lin Xiao membuka matanya. Kilatan emas samar terlihat di pupilnya sebelum menghilang. "Aku baik-baik saja, Xiao Yun. Sangat baik, malah."
Dia mencoba menggerakkan tangannya. Lemah. Sangat lemah. Tapi itu hanya sementara.
"Xiao Yun, apakah Ayah ada di rumah?"
Wajah Xiao Yun kembali sedih. "Patriark sedang berdebat dengan Para Tetua di aula utama. Para Tetua... mereka ingin mencopot posisi Anda sebagai Pewaris Keluarga karena kejadian hari ini. Mereka bilang... mereka bilang Keluarga Lin tidak butuh pewaris sampah yang hanya bisa mempermalukan keluarga."
Lin Xiao mengepalkan tinjunya hinggauku-kukunya memutih. Ayahnya di kehidupan ini, Lin Hai, adalah satu-satunya orang yang tulus menyayanginya meski dia tidak berguna. Ayahnya rela menghabiskan kekayaan keluarga demi membeli obat-obatan untuk mencoba menyembuhkan meridian Lin Xiao, yang justru membuat para Tetua marah karena pemborosan.
"Mereka ingin membuangku?" Lin Xiao mendengus dingin. Dia menyingkap selimut lusuhnya dan mencoba turun dari tempat tidur.
"Tuan Muda! Anda belum boleh bergerak! Tulang Anda..."
"Minggir," perintah Lin Xiao lembut namun tegas. Ada aura wibawa yang membuat Xiao Yun secara tidak sadar mematuhi perintah itu dan mundur selangkah.
Lin Xiao berdiri, menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya dengan tekad baja. Dia pernah mengalami rasa sakit pembakaran jiwa; rasa sakit fisik ini hanyalah gatal baginya.
"Xiao Yun, papah aku ke Aula Utama. Aku ingin melihat siapa yang berani mengusirku dari rumahku sendiri."
Hari ini, di Kota Batu Hijau yang kecil dan tidak berarti di peta benua, roda nasib mulai berputar. Sang Naga yang tertidur telah bangun, dan aumannya akan segera mengguncang langit dan bumi.
Kisah sang penakluk langit dimulai dari langkah tertatih ini.