Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Taring Ular dan Ledakan
Pagi itu, udara di kawasan simulasi "Ruang Terbuka" SMA UA terasa lebih tipis dari biasanya. Ini bukan sekadar ujian praktis; ini adalah pertempuran harga diri. Di hadapan gerbang beton raksasa, dua murid paling bermasalah dalam hal latar belakang dan temperamen berdiri berdampingan.
Katsuki Bakugo terus-menerus memicu ledakan kecil di telapak tangannya, matanya merah menyala menatap gerbang yang masih tertutup. Sementara itu, Mitsuki berdiri dengan posisi santai, tangannya tersembunyi di dalam lengan bajunya yang lebar, matanya menatap langit dengan tatapan yang seolah-olah bisa menembus awan.
"Dengar, Wajah Pucat," desis Bakugo, suaranya parau karena amarah yang dipendam. "Aku tidak peduli kau juara satu atau kau punya ular raksasa. Di ujian ini, jangan sekali-kali kau berani menghalangi jalanku. Aku akan menghancurkan All Might, dan kau... kau cukup lari ke gerbang pelarian seperti tikus pengecut."
Mitsuki menoleh perlahan. "Bakugo-kun, amarahmu sangat berisik. Itu membuat detak jantungmu tidak stabil. Jika kau menyerang All Might dengan ritme yang berantakan, kau hanya akan memberinya kesempatan untuk memukulmu di titik butamu."
"APA KAU BILANG?!"
"Aku tidak menyuruhmu bekerja sama," lanjut Mitsuki dengan nada tenang yang justru lebih menjengkelkan bagi Bakugo. "Aku hanya menyarankan agar kau menjadi 'umpan' yang lebih efisien. Biarkan aku yang menangani bayangannya."
"FINAL PRACTICAL EXAM: START!!!"
Suara Present Mic menggelegar melalui pengeras suara. Gerbang terbuka, dan keduanya melesat masuk ke dalam replika kota yang hancur. Namun, mereka belum melangkah sepuluh meter saat sebuah tekanan udara yang sangat dahsyat menghantam jalanan aspal di depan mereka.
BOOM!
Debu membumbung tinggi. Dari balik kabut abu-abu, sosok raksasa muncul. All Might berdiri di sana, tanpa senyum pahlawannya yang biasa. Matanya yang biru gelap bersinar dari balik bayangan wajahnya yang cekung. Ia mengenakan pemberat perak di pergelangan tangan dan kakinya, namun auranya tetap terasa seperti gunung yang siap runtuh.
"Datanglah, anak-anak muda!" All Might berteriak, suaranya menciptakan gelombang kejut yang menggetarkan kaca-kaca gedung di sekitar mereka. "Tunjukkan padaku bagaimana kalian akan melampaui Simbol Perdamaian!"
Bakugo tidak menunggu instruksi. Ia melesat menggunakan ledakan besar dari tangannya. "STUN GRENADE!" Cahaya putih menyilaukan meledak tepat di depan mata All Might.
Namun, All Might hanya perlu satu lambaian tangan untuk meniup cahaya dan asap itu seolah-olah itu hanyalah debu kecil. Ia mencengkeram wajah Bakugo di udara dan membantingnya ke aspal dengan satu gerakan cepat.
"Agresivitasmu luar biasa, Muda Bakugo, tapi terlalu mudah diprediksi!"
Mitsuki tidak ikut menyerang secara frontal. Ia sudah menghilang ke atas gedung, bergerak melalui bayangan-bayangan pipa ventilasi. Menggunakan teknik Sensory Perception-nya, ia tidak melihat All Might sebagai pahlawan, melainkan sebagai aliran energi.
Ia melihat "kebocoran" energi di sisi kiri perut All Might luka lama yang pernah ia diskusikan di ruang guru. Mitsuki tahu bahwa meskipun All Might sangat kuat, durasi kekuatannya sedang terkikis habis karena beban pemberat dan stres fisik dari pergerakan Bakugo yang liar.
“Bakugo-kun adalah api yang membakar oksigen,” batin Mitsuki. “Jika aku ingin melumpuhkan All Might, aku tidak bisa menyerang fisiknya. Aku harus menyerang persepsinya.”
Mitsuki melakukan segel tangan cepat. "Fūton: Kamaitachi!" (Elemen Angin: Pusaran Pemotong).
Bukan serangan untuk melukai, melainkan ratusan bilah angin tipis yang memotong debu di udara, menciptakan jutaan partikel mikroskopis yang berputar-putar di sekitar All Might. Ini bukan sekadar asap; ini adalah zona pengacau sensorik.
All Might mencoba menghirup napas dalam untuk meniup debu itu, namun ia tersedak. Udara di sekitarnya terasa hampa.
"Kombinasi yang menarik, Muda Mitsuki!" All Might melompat tinggi, mencoba keluar dari zona debu, namun Mitsuki sudah menunggunya di udara.
Lengan Mitsuki memanjang seperti cambuk, melilit kaki All Might. Di saat yang sama, Mitsuki menggunakan teknik Hebi Mikazuchi bertegangan rendah, hanya cukup untuk memberikan kejutan kecil pada otot kaki All Might agar ia kehilangan keseimbangan saat mendarat.
All Might menghantam sebuah bus yang terparkir hingga hancur. Bakugo bangkit dari aspal, wajahnya berdarah, namun matanya tetap liar. Ia melihat Mitsuki mendarat di sampingnya.
"Sialan... kau benar-benar menggunakan trik murahan," geram Bakugo.
"Dengarkan aku, Bakugo," ucap Mitsuki, kali ini dengan nada yang sangat serius, mencengkeram bahu Bakugo agar ia tetap fokus. "All Might sedang menahan diri untuk tidak menghancurkan tulang kita, tapi dia tidak menahan diri untuk menjatuhkan mental kita. Jika kau ingin menang, kau harus menggunakan serangan 'Howitzer Impact'-mu, tapi jangan arahkan padanya."
"Hah?! Apa maksudmu?!"
"Arahkan ke bawah, ke pipa gas di bawah jalan ini," Mitsuki menunjuk retakan di aspal. "Ciptakan ledakan berantai yang akan menutupi seluruh blok. Dalam kekacauan itu, aku akan menggunakan Substitution untuk membawa kita ke gerbang."
Bakugo menatap Mitsuki, lalu menatap All Might yang mulai bangkit kembali. Ia benci rencana orang lain. Ia benci bergantung pada orang lain. Tapi saat melihat All Might yang bersiap melakukan Detroit Smash, ia sadar bahwa egonya tidak akan cukup untuk melewati tembok raksasa itu.
"Jika rencana ini gagal, aku akan membunuhmu, Ular sialan!" Bakugo berteriak sambil melompat ke udara, memutar tubuhnya dengan kecepatan tinggi.
Bakugo melepaskan ledakan paling dahsyat yang pernah ia buat. "HOWITZER... IMPACT!!!"
Seluruh jalanan meledak. Api merah dan asap hitam membumbung setinggi gedung pencakar langit. All Might terpaksa menyilangkan tangannya untuk melindungi diri dari suhu panas yang ekstrem.
"Muda Bakugo! Kau benar-benar ingin menghancurkan kota ini?!" seru All Might.
Di tengah kobaran api, All Might melihat dua bayangan berlari menuju gerbang pelarian. Ia melesat dengan kecepatan suara, mencengkeram kedua bayangan itu dengan tangannya yang besar.
"Kena kalian!"
Namun, saat asap menipis, All Might tertegun. Dua sosok yang ia pegang mulai mencair menjadi lumpur putih yang lengket. Mud Clone (Tsuchi Bunshin).
"Apa?!"
Dari arah berlawanan, Mitsuki yang asli sedang menggendong Bakugo yang pingsan karena kelelahan di pundaknya. Mitsuki telah menggunakan teknik pernapasan untuk menekan detak jantung mereka hingga titik nol, membuat mereka "tak terlihat" secara sensorik di tengah panasnya ledakan.
Mitsuki melangkah melewati garis gerbang pelarian dengan tenang tepat saat bel berbunyi.
"EXAM COMPLETE: TEAM MITSUKI & BAKUGO PASS!!!"
All Might berdiri di tengah reruntuhan, uap keluar dari tubuhnya yang mulai mengecil kembali ke wujud aslinya. Ia batuk sedikit darah, namun tersenyum lebar.
"Luar biasa..." bisik All Might. "Muda Mitsuki... dia tidak hanya menggunakan kekuatan, dia menggunakan psikologi dan lingkungan. Dia membuatku percaya bahwa Muda Bakugo adalah ancaman utama, padahal dia sendiri yang menarik benangnya."
Di ruang medis, Mitsuki duduk di samping tempat tidur Bakugo yang masih belum sadarkan diri. Recovery Girl baru saja selesai mengobati luka mereka.
"Kau anak yang sangat aneh, Mitsuki," ucap Recovery Girl sambil memberikan permen. "Kau bisa saja menang sendiri, tapi kau memastikan Bakugo tetap bersamamu sampai akhir."
"Dia adalah rival yang dibutuhkan matahari untuk tetap bersinar, Sensei," jawab Mitsuki pelan. "Jika dia hancur di sini, perjalanan kami di UA akan menjadi membosankan."
Malam itu, setelah semua murid merayakan kelulusan ujian praktis mereka (meskipun Kaminari dan Ashido harus mengikuti kelas tambahan karena gagal melawan guru mereka), Mitsuki duduk sendirian di taman asrama.
Ia membuka ponselnya. Sebuah koordinat baru muncul, dikirim melalui satelit yang tidak bisa dilacak oleh sistem UA.
"Subjek: Eri. Lokasi: Markas Besar Shie Hassaikai. Kai Chisaki telah memulai fase kedua eksperimennya. Jangan biarkan pahlawan atau polisi mengendus ini terlalu cepat, Mitsuki. Aku ingin melihat sejauh mana 'kemanusiaan' yang kau pelajari akan bertahan saat kau melihat apa yang dilakukan manusia pada sesamanya demi kekuatan."
Mitsuki menatap foto seorang gadis kecil dengan rambut putih dan tanduk kecil di dahinya yang terlampir dalam pesan tersebut. Untuk pertama kalinya, Mitsuki merasakan sesuatu yang sangat tajam di dadanya sebuah kemarahan yang bukan berasal dari insting ninja, tapi dari rasa keadilan yang mulai tumbuh.
Ia meremas ponselnya hingga retak.
"Ayah... kau ingin melihat pilihanku?" gumam Mitsuki, matanya berubah menjadi vertikal sempurna seperti ular predator. "Aku akan menyelamatkan gadis itu. Bukan karena kau menyuruhku, tapi karena aku ingin melakukannya."
Di kejauhan, di bayang-bayang pohon, Shota Aizawa memperhatikan Mitsuki. Ia melihat perubahan aura muridnya itu. Aizawa tahu bahwa magang dan ujian ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap yang sedang mendekat ke arah Kelas 1-A.
"Tetaplah di sisi kami, Mitsuki," bisik Aizawa pada angin malam. "Jangan biarkan kegelapan itu menarikmu kembali."
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen