Amalia, Anak gadis yang bekerja di salah satu perusahaan ternama diKota itu, keberuntungan telah berpihak kepadanya karena dengan ini dia akan mampu membayar utang budi kepada Pamannya yang telah merawat dirinya selama dia kecil hingga sekarang, Amalia adalah sosok gadis cantik dan periang, senyuman indah akan melelehkan kaum hawa. Amalia telah bekerja keras selama beberapa tahun ini dan akhirnya bisa mencapai ke tahap ini, yaitu posisi sekretaris bos keduanya. Walau sekretaris kedua Amalia tetap bersyukur.
Hingga suatu hari Amalia di kagetkan kedatangan mamah yang tidak lain istri paman nya, mendorong Letizia agar mau menjadi istri pria kaya, agar bisa menolong, usaha mereka yang lagi di ambang kebangkrutan. Amalia menolak apa lagi dia tidak mengenal pria yang akan menjadi Suaminya. Jihan mamah Amalia, membujuk Amalia dan mengimingi perkataan yang meluluhkan hati Amalia. Dengan berat hati Amalia menerima dan pasrah.
APAKAH AMALIA BERHASIL MENJALANI RUMAH TANGGA BARUNYA ATAU TIDAK??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pneumonia
Peter sangat terkejut mendengar perkataan dokter barusan, Peter masuk ke dalam dan melihat Amalia masih berbaring lemas. Tanpa sadar Peter telah menitikkan air matanya sambil menggenggam tangan Amalia.
"Maafkan aku Amalia, aku jahat sama kamu", ucapnya lirih. Peter tertidur dan memegang terus tangan Amalia.
Tengah malam Amalia telah siuman dan melihat Peter tertidur pulas sambil memeluk tangannya. Amalia sedikit kaget dan perlahan menarik tangannya.
Peter merasakan tangan Amalia bergerak dan bangun, Amalia kaget dan dengan cepat mau turun dari bangsalnya. Peter langsung menghalangi Amalia turun.
"Kumohon tetaplah di sini...kamu tadi pingsan jadi Dokter menyarankan kamu istirahat malam ini di rumah sakit", ucap Pater lembut.
Amalia bingung dengan tingkah Peter, walau tubuhnya sedikit gemetaran, Amalia memberanikan diri berbicara.
"Maaf Tuan muda, saya akan pergi dari sini, saya sudah merepotkan anda", ucapnya sambil menunduk. Peter mendekati Amalia. Amalia gugup dan mundur beberapa langkah.
"Jangan takut aku tidak akan menyakiti mu", Amalia tidak menjawab dan semakin bingung.
"Tuan aku...!", Peter memeluk Amalia sangat erat, nafas Peter berembus sangat kuat di leher putih Amalia membuat dirinya merinding.
"Jangan pernah katakan minta maaf jika bersama ku, dengar...kita tidak akan pernah cerai asal kamu tahu saja", ucap Peter. Amalia melepaskan pelukan Peter.
"Maaf Tuan...sekali lagi aku minta maaf?", ucap Amalia.
"Istirahatlah...aku akan berjaga di luar jika kamu tidak mau melihat aku", Peter keluar dengan tampang dingin. Amalia tidak habis pikir dengan Peter yang sifatnya berubah-ubah. Amalia membaringkan tubuh kurusnya di bangsal dan mengingat apa yang terjadi kepadanya dan kenapa bisa dia sekarang di rumah sakit.
Amalia mengintip keluar dan melihat Peter menuju ruangan salah satu dokter. Amalia sedikit curiga dengan Peter. Amalia telah tiba di depan pintu dokter dan alangkah terkejutnya Amalia mendengar semua perkataan Peter dan dokter tersebut mengenai dirinya.
"A...akkku sakit...bagaimana mungkin?", Amalia meninggalkan tempat tersebut dan pergi menuju taman rumah sakit. Di sana Amalia menangis histeris.
"Hiks... hiks... hiks...jadi karena itu dia baik sama aku, Ayah... Ibu... sangat sakit sekali", isaknya kuat. Amalia mengingat perkataan dokter tersebut bahwa penyakit yang di deritanya masih bisa di obatin dengan kata lain penyakit yang di derita Amalia masih awalnya saja tapi jika di biarkan bisa saja akan di rawat inap di rumah sakit dan berikan antibiotik dan cairan lewat infus.
Amalia menghela nafasnya kala sudah merasa tenang sedikit. Amalia merasa tubuhnya sangat dingin mengingat ini masih pukul jam lima pagi, dua jama Amalia di taman.
"Jadi itu sebabnya aku kenapa waktu aku di swiss dadaku sangat sakit, aku telah mengidap Pneumonia, hah...apa yang harus aku lakukan, jika aku kasih tahu ke Ayah ibu dan Dinda Mereka akan sedih terutama Ayah", ucapnya lirih.
Peter melihat Amalia berjalan menuju ke kamar inap, Peter kaget bukan kepalang kala tidak di temukannya Amalia di kamar inapnya.
"Kau...?", panggil Peter, Amalia berusaha tenang.
"Tuan muda...!", ucap Amalia
"Kau dari mana?, apa kau tidak tahu aku mencari mu sedari tadi?", wajah Peter memang terlihat panik. Amalia berusaha tenang.
"Maaf Tuan muda aku...!", Peter memeluk Amalia.
"Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa!", bisiknya lembut.