NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Ujian Kanvas Kosong

Kabut di pelataran ujian Sekte Mo-Yun tidak membawa kesejukan, melainkan rasa sesak. Puluhan calon murid berdiri di balik meja batu masing-masing. Di atas meja itu, terbentang selembar kanvas putih yang permukaannya sehalus sutra, namun terasa seberat timah bagi mereka yang tidak memiliki tujuan.

Setelah diizinkan masuk, Guiren berdiri di barisan paling tepi, tempat bayangan pilar gerbang jatuh memanjang. Di kejauhan, di luar garis batas ujian, ia bisa merasakan kehadiran Xiaolian. Gadis itu tidak bersuara, namun riak kegelisahannya sampai ke indra Guiren seperti getaran senar yang ditarik kencang.

"Waktu kalian adalah satu tetesan dupa," suara seorang penilai bergema, berat dan tanpa emosi. "Kanvas ini adalah cermin jiwa. Lukiskan masa depanmu. Lukiskan niat yang membawamu mendaki gunung ini. Jika kanvasmu tetap kosong atau penuh dengan kebohongan, gunung ini akan memuntahkanmu kembali ke lumpur."

Di sekeliling Guiren, suara gesekan kuas mulai terdengar. Ada yang melukis naga yang membumbung tinggi, ada yang menggambar pedang yang membelah awan, atau istana di atas langit. Mereka melukis ambisi yang rumit, penuh dengan detail yang diteriakkan melalui warna-warna cerah.

Guiren tidak bergerak. Ia menggenggam Kuas Bulu Serigala Roh di balik lengan bajunya. Ujung-ujung jarinya menyentuh permukaan kanvas yang dingin. Baginya, kanvas itu tidak putih. Dalam kegelapannya, kanvas itu adalah ruang hampa yang menuntut jawaban atas darah yang telah tumpah di Liu-Shu dan rasa sakit yang ia simpan di balik kain penutup matanya.

Masa depannya bukan naga, bukan pula istana.

Ia memanggil 'tinta' dari wadah di dantiannya. Qi Tingkat 5 miliknya mengalir, pekat dan dingin, naik ke lengan dan membasahi bulu kuas serigala. Ia tidak membutuhkan palet warna. Baginya, kebenaran hanya memiliki satu warna, yaitu hitam yang tidak mengenal kompromi.

Guiren mengangkat tangan.

Srett.

Hanya satu gerakan. Satu ayunan tangan yang mantap, menarik garis dari dasar hingga ke puncak kanvas.

Sebuah garis lurus tunggal.

Garis itu vertikal, tajam, dan membelah kanvas putih itu menjadi dua bagian yang simetris. Tidak ada lekukan, tidak ada keraguan, tidak ada sisa tinta yang terpercik sia-sia. Garis itu tampak seolah-olah telah ada di sana sejak awal waktu, menunggu untuk diungkapkan.

Kesunyian mendadak jatuh di sekitar mejanya.

Beberapa calon murid di dekatnya melirik, lalu mencibir. "Hanya sebuah garis? Apa dia sudah gila karena buta?" bisik salah satu dari mereka.

Namun, sang penilai yang berjalan di antara barisan meja berhenti tepat di depan Guiren. Ia terdiam cukup lama. Matanya yang tajam menatap garis hitam itu. Di mata orang awam, itu hanya coretan. Namun bagi mereka yang memahami jalan tinta, garis itu adalah sebuah pernyataan perang terhadap takdir.

Garis itu melambangkan tekad balas dendam yang begitu lurus sehingga ia tidak mempedulikan apapun yang ada di kiri atau kanannya. Ia hanya mengenal satu arah, yaitu maju, menembus, dan membelah siapapun yang menghalangi.

"Kenapa hanya satu garis?" tanya penilai itu, suaranya kini lebih rendah, hampir berupa bisikan.

Guiren tidak menoleh. Wajahnya tetap tenang seolah terbuat dari batu pahat. "Karena jalan yang saya tempuh tidak mengenal belokan. Niat saya adalah sebilah bilah yang tidak membutuhkan hiasan."

Penilai itu menyipitkan mata. Ia merasakan riak energi yang tertinggal pada garis tersebut, sebuah tekanan yang sunyi namun membakar. Niat di balik tinta itu terasa lebih murni dan lebih berbahaya daripada lukisan naga paling megah di pelataran ini. Ada bau kematian yang samar, namun tertutup oleh disiplin yang luar biasa.

"Niat yang berbahaya," gumam penilai itu. Ia menandai kanvas Guiren dengan cap perunggu kecil. "Tapi Mo-Yun tidak mencari orang suci. Kami mencari mereka yang jiwanya sudah tertempa."

Ia berlalu tanpa memberikan pujian, namun tanda itu sudah cukup.

Dupa terakhir jatuh menjadi abu. Ujian berakhir.

Guiren menyimpan kembali kuasnya. Tangannya terasa sedikit dingin, sisa dari tarikan Qi yang baru saja ia gunakan. Ia melangkah menjauh dari meja batu, dipandu oleh ketukan tongkatnya yang kini terasa lebih berwibawa di telinga mereka yang tadi menghinanya.

Saat ia mencapai perbatasan pelataran, Xiaolian segera menyambutnya. Gadis itu meraih lengan kakaknya, matanya mencari kepastian di wajah Guiren yang tertutup.

Ia tidak memberitahu Xiaolian bahwa garis lurus itu adalah janji yang ia buat untuk setiap tetes air mata yang telah jatuh. Garis itu adalah batas antara masa lalunya yang hancur dan masa depannya yang akan ia ukir dengan darah para musuhnya.

Di atas pelataran, di bawah langit yang mulai menggelap, kanvas dengan garis tunggal itu masih memancarkan hawa dingin, menarik perhatian beberapa pasang mata dari puncak gunung yang lebih tinggi. Sebuah niat telah ditanam, dan gunung Mo-Yun mulai merasakan getaran dari pedang tinta yang baru saja terhunus.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!