Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
serangan fajar digital
Pagi itu, matahari bersinar cerah di Jakarta, tapi awan mendung menggantung tebal di lobi NVT Tower. Bukan mendung cuaca, tapi mendung gosip.
Begitu kakiku melangkah masuk melewati pintu putar lobi, atmosfer aneh langsung terasa. Biasanya, aku cuma dianggap angin lalu. Tak ada yang peduli aku datang atau pergi. Tapi hari ini? Semua mata tertuju padaku.
Satpam di meja resepsionis berbisik-bisik sambil melirikku sinis. Dua orang karyawati HRD yang sedang menunggu lift tiba-tiba diam saat aku mendekat, lalu saling menyikut sambil menahan tawa.
"Itu dia orangnya," bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk kudengar.
"Ih, nggak nyangka ya. Tampang polos, kelakuan minus," sahut temannya.
Dahiku berkerut bingung. Ada apa ini? Apa ada noda sambal di kemejaku? Aku mengecek bajuku. Bersih. Kemeja putih (agak kuning sih karena lama) dan rok hitam andalanku. Rambutku juga sudah disisir rapi—menurut standar Sifa, setidaknya.
Aku melangkah menuju lift karyawan. Di dalam lift yang penuh sesak, orang-orang seolah membuat lingkaran isolasi di sekitarku. Mereka menjauh, menempel ke dinding lift seakan-akan aku membawa wabah penyakit menular.
"Permisi..." ucapku pelan saat lift berhenti di lantaiku.
Tak ada yang menyahut. Hanya tatapan jijik dan dengusan kasar.
Begitu sampai di lantai divisi gudang, "sambutan" yang lebih parah menanti. Di papan pengumuman dekat pantri, tertempel selembar kertas hasil print warna. Ada foto wajahku di sana—foto candid yang diambil diam-diam saat aku sedang makan gorengan di pinggir jalan dengan mulut penuh. Kelihatan sangat jelek dan rakus.
Di bawahnya tertulis headline besar dengan font merah darah:
"WASPADA! MALING GORENGAN & PENIPU KELAS KAKAP BERKELIARAN DI KANTOR KITA!"
Dan di bawahnya ada teks paragraf yang isinya fitnah keji:
"Si lugu ini ternyata punya hobi klepto! Hati-hati simpan dompet kalian. Gosipnya dia juga masuk NVT karena nyogok pake 'pelicin' ke salah satu manajer gudang. #UsirMaling #NVTSehat"
Darahku mendidih. Wajahku panas bukan main. Jantungku serasa dipukul palu godam. Siapa yang tega melakukan ini?
Aku meremas ujung rokku, menahan tangis. Orang-orang di kubikel sekitar mulai berbisik terang-terangan.
"Pantesan kemarin laporannya cepet banget selesai. Pasti dia nyuri data orang lain tuh," celetuk seorang staf senior yang memang tidak suka padaku.
"Iya, denger-denger dia simpenan Pak Burhan. Makanya nggak dipecat kemarin padahal telat," timpal yang lain.
Fitnah. Semuanya fitnah! Aku ingin berteriak, membantah semuanya. Tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Aku cuma Sifa. Siapa yang bakal percaya sama Sifa?
Tiba-tiba, suara tawa familiar terdengar dari arah ruang rapat kaca. Rana dan Rani berdiri di sana, memegang kopi Starbucks, menatapku dengan senyum kemenangan yang memuakkan. Rani melambaikan tangan kecil, bibirnya bergerak tanpa suara membentuk kata: "Mampus lo."
Mereka. Pasti mereka dalangnya.
Aku lari. Aku lari ke toilet wanita di ujung lorong, mengunci diriku di bilik paling pojok. Di sanalah pertahananku runtuh. Aku menangis tanpa suara, air mata membasahi kacamata dan pipiku.
Sakit. Sakit sekali difitnah seperti ini. Dibilang maling, dibilang wanita murahan. Padahal aku cuma mau kerja halal buat Ibu. Apa salahku sampai dunia sejahat ini?
"Deteksi stres tingkat tinggi. Kortisol meluap. Detak jantung 140 bpm. Lo mau kena serangan jantung dini, Nona?"
Suara Chrono terdengar datar, tapi tegas di kepalaku.
Aku mengusap ingus dengan tisu toilet yang kasar. "Diam kamu, Chrono. Kamu nggak ngerti rasanya jadi manusia yang diinjak-injak."
"Gue emang nggak ngerti perasaan," jawab Chrono. "Tapi gue ngerti data. Dan data menunjukkan bahwa dua makhluk betina bernama Rana dan Rani itu baru saja menyebarkan hoax terstruktur lewat grup WhatsApp kantor dan menempel poster fisik 15 menit yang lalu. CCTV lorong merekam Rani yang nempel poster itu."
Aku terdiam. CCTV?
"Ka-kamu punya buktinya?"
"Tentu saja. Gue terkoneksi dengan semua IP Address di gedung ini, termasuk kamera pengawas di toilet cowok kalau lo mau liat—eh, ralat, itu nggak penting," Chrono berdehem digital. "Intinya, gue punya rekaman video HD saat Rani nempel poster itu sambil ketawa jahat. Dan gue juga bisa melacak sumber pesan hoax di grup WA itu berasal dari nomor HP Rana."
Aku menatap jam tanganku yang menyala biru di kegelapan bilik toilet. Rasa sedih itu perlahan surut, digantikan oleh amarah yang dingin.
Selama ini aku diam. Selama ini aku mengalah. Kata Ibu, kalau orang jahat dibalas jahat, kita sama saja. Tapi... kalau didiamkan terus, mereka makin ngelunjak. Ibu juga bilang, kebenaran harus ditegakkan, kan?
"Chrono..." bisikku, suaraku masih serak tapi kali ini ada getaran tajam di sana. "Bisa nggak kamu bikin... sesuatu?"
"Sesuatu apa? Spesifik, Nona. Gue bukan dukun."
"Bikin berita bantahan. Tapi jangan pakai namaku. Pakai anonim. Tunjukin ke semua orang siapa pembohong sebenarnya. Tunjukin video itu."
Layar Chrono berkedip dua kali, lebih terang dari biasanya.
"Perintah diterima. Operasi 'Counter-Attack' dimulai. Gue bakal bajak sistem broadcast email internal kantor dan layar monitor di lobi. Lo mau gue tambahin bumbu dikit?"
"Bumbu apa?"
"Liat aja nanti. Keluar dari toilet sekarang. Pertunjukan dimulai dalam 3... 2... 1..."
Aku membuka pintu bilik toilet, mencuci muka sekilas di wastafel, lalu melangkah keluar dengan kaki gemetar namun tekad baja.
Saat aku kembali ke area kerja divisi gudang, suasana mendadak hening. Hening yang mencekam. Semua orang tidak lagi menatapku. Mereka menatap layar komputer mereka masing-masing dengan mulut ternganga.
Layar monitor setiap komputer di ruangan itu—bahkan di seluruh gedung NVT—tiba-tiba berubah menjadi hitam total. Lalu muncul logo topeng anonim berwarna putih.
Sebuah video mulai berputar secara serentak di ratusan layar.
Di video itu, terlihat jelas rekaman CCTV lorong yang tajam dan jernih. Terlihat Rani, dengan baju branded-nya, sedang menempelkan poster fitnah itu sambil celingukan. Lalu terlihat Rana yang sedang mengetik di HP-nya sambil tertawa licik pada Rani.
Teks berjalan muncul di bawah video:
"BREAKING NEWS: PELAKU PENYEBAR HOAX DAN BULLYING TERDETEKSI."
Lalu, layar berganti menampilkan tangkapan layar chat WhatsApp dari HP Rana. Chat asli di mana dia menginstruksikan teman-temannya untuk menyebarkan gosip tentangku.
"Sebarin ya guys, biar si Sifa dipecat. Gue muak liat mukanya yang melas." - tulis Rana di chat itu.
Tak berhenti di situ, Chrono—si jenius gila itu—menambahkan "bumbu" yang dia janjikan. Dia menampilkan riwayat pencarian Google di HP Rana dan Rani yang baru saja dilakukan pagi ini.
History Search Rana:
"Cara memecat karyawan magang tanpa pesangon"
"Obat jerawat paling ampuh buat nutupin bopeng"
"Kenapa cowok CEO suka cewek polos?"
"Harga tas KW super premium biar dikira asli"
History Search Rani:
"Cara bikin orang depresi"
"Kenapa kentutku bau telur busuk?"
"Edit foto biar kelihatan kurus"
Sontak, seisi ruangan kantor meledak. Bukan ledakan marah, tapi ledakan tawa.
"Hahahaha! Anjir, Rani nyari penyebab kentut bau!" seru salah satu staf cowok sambil memukul meja, tak sanggup menahan tawa.
"Woy, Rana ternyata pake tas KW? Katanya socialite!" timpal staf cewek lain yang selama ini iri pada Rana.
"Gila, jahat banget mereka. Ternyata Sifa difitnah doang."
Suasana berbalik 180 derajat dalam hitungan detik. Orang-orang yang tadi menatapku sinis, kini menatap layar dengan geli, lalu melirik ke arah ruang kaca di mana Rana dan Rani berada.
Di dalam ruang kaca itu, aku melihat wajah Rana dan Rani pucat pasi. Mereka menatap layar HP mereka yang juga diretas Chrono, menampilkan video yang sama. Rana menjerit tanpa suara, melempar HP-nya ke meja. Rani menutupi wajahnya dengan tangan, malu setengah mati karena rahasia "kentut"-nya terbongkar seantero gedung.
Mereka, sang ratu bully, baru saja ditelanjangi aibnya di depan ratusan karyawan.
Aku berdiri mematung di tengah ruangan. Jantungku berdebar kencang, campuran antara rasa takut dan... kepuasan yang luar biasa.
"Gimana? Cukup dramatis?" tanya Chrono santai di kepalaku. "Gue sensor bagian yang terlalu vulgar. Kita main cantik aja."
Aku tersenyum tipis. Sangat tipis. "Makasih, Chrono."
Tiba-tiba, Pak Burhan keluar dari ruangannya sambil memegangi perutnya yang terguncang karena tertawa. "Waduh, waduh. Ternyata anak Pak Direktur kelakuannya minus ya. Tas KW pula. Hahaha!"
Dia menatapku, lalu berdehem, mencoba kembali berwibawa. "Ehem. Sifa, kamu... abaikan poster tadi. Saya tau kamu kerja bener kemarin. Kembali bekerja."
"Baik, Pak," jawabku sopan.
Aku berjalan menuju mejaku dengan kepala sedikit lebih tegak. Orang-orang di sekitar mulai menyapaku, meski canggung.
"Sorry ya, Fa. Gue kemakan hoax tadi," kata staf sebelahku.
"Iya, Fa. Sabar ya. Ternyata lo korban," tambah yang lain.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
Di kejauhan, aku melihat Rana dan Rani lari terbirit-birit keluar dari ruangan sambil menutupi wajah dengan tas mereka. Mereka kabur. Untuk pertama kalinya, mereka yang lari, bukan aku.
Hari ini, Sifa si gadis culun menang satu poin. Dan di pergelangan tanganku, jam hitam itu berkedip pelan, seolah mengedipkan mata padaku.
Permainan baru saja dimulai, Rana, Rani. Dan kali ini, aku yang pegang kendalinya.
semangat kakak