cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9 – BARISAN YANG TERLALU TENANG
Pagi itu lebih riuh.
Bukan riuh karena bahaya, melainkan karena manusia—karena orang-orang yang merasa semalam lolos dari sesuatu dan pagi ini masih diberi napas. Tawa kecil terdengar di beberapa titik barisan. Seseorang bercanda soal perut yang keroncongan, yang lain menimpali dengan kelakar soal nasi basi yang katanya “lebih setia dari manusia”.
“Kalau nasi bisa jalan sendiri, sudah lama dia minggat dari dapurku,” kata seorang lelaki, disambut gelak pendek.
Orang-orang Wilwatikta memang begitu. Di tengah genting, mereka tetap menyelipkan senda. Bukan karena tak takut—justru karena takut itulah mereka bercanda. Tawa jadi cara untuk menguji: apakah dunia masih mau mendengar suara kita?
Raka berjalan di tengah barisan, mendengar semua itu seperti mendengar hujan dari balik atap. Ia tersenyum kecil ketika ada yang melontarkan guyonan, tapi senyumnya cepat reda. Ia belajar meniru wajah orang-orang di sekitarnya: cukup ramah untuk tidak mencolok, cukup datar untuk tidak mengundang tanya.
Seorang pemuda menepuk bahu temannya. “Langkahmu pendek hari ini. Jangan-jangan mikirin gadis di belakang?”
“Gadis apaan,” sahut temannya, terkekeh. “Aku mikirin jalan. Kalau salah belok, bisa nyasar sampai ujung dunia.”
Kalimat itu diucapkan ringan. Tapi beberapa orang yang mendengar saling pandang sekilas—cepat, nyaris tak terlihat. Raka menangkapnya. Ia tidak tahu maknanya, tapi ia tahu: itu bukan sekadar gurauan.
Barisan bergerak lebih rapat. Bukan karena perintah, melainkan karena kebiasaan. Di negeri ini, orang jarang berkata “berkumpullah”. Mereka hanya melambat, dan yang lain akan mengerti.
Di tengah keramaian itu, nenek tua berjalan tanpa suara berlebih. Sesekali ia menimpali candaan dengan senyum tipis, sesekali hanya mengangguk. Tapi Raka memperhatikan satu hal: setiap kali ia berhenti, ada orang lain yang tanpa sadar ikut berhenti di dekatnya. Seperti ada poros yang tak terlihat.
Seorang perempuan membawa bakul berisi ubi. “Siapa mau? Jangan sungkan, kebunnya sudah lama ditinggal. Ubi ini juga capek nunggu dipanen,” katanya.
Tawa kembali pecah. Beberapa orang mengambil, mengucap terima kasih. Perempuan itu membagi dengan adil—tak lebih, tak kurang. Ketika sampai di Raka, ia menyelipkan satu ubi kecil.
“Kecil dulu,” katanya, setengah bercanda. “Biar jalannya lincah.”
Raka mengangguk. “Matur nuwun.”
Perempuan itu terdiam sepersekian napas. Bukan karena kaget, tapi seperti sedang mencocokkan sesuatu di kepala. Lalu ia tersenyum lagi dan berlalu. Raka merasakan tatapan singkat di punggungnya—bukan tatapan lapar, melainkan tatapan menghitung.
Menjelang siang, obrolan makin banyak. Orang-orang saling bertanya asal, tapi jarang sampai tuntas. “Dari mana?” dijawab dengan “dari arah sana”. “Mau ke mana?” dibalas “ke tempat yang tidak ribut”.
Raka mendengar seorang lelaki berujar, “Kalau jalanan ramai, biasanya bukan pasar. Bisa jadi orang lagi nyari.”
Temannya menimpali, “Nyari apa?”
Lelaki itu tertawa. “Macam-macam. Kadang nyari barang, kadang nyari orang. Kadang nyari alasan.”
Kalimat itu diakhiri dengan tawa, tapi tawa yang terlalu cepat berhenti. Lagi-lagi, Raka menangkap pandangan singkat di antara mereka. Seperti sandi yang lewat sebentar, cukup untuk yang paham.
Saat barisan berhenti di dekat sungai kecil, beberapa orang mencuci kaki. Anak-anak bermain air, saling menyipratkan, disertai teriakan riang. Untuk sesaat, suasana terasa hampir seperti piknik—hampir.
Raka duduk di batu, merendam ujung kakinya. Airnya dingin, menyadarkan. Di seberang, ia melihat dua orang lelaki berbicara sambil memunggungi barisan. Gerak bibir mereka pelan, tangan sesekali menunjuk ke arah jalan yang tadi dilalui.
Nenek tua lewat di belakang Raka. Ia berhenti sebentar, menatap sungai.
“Airnya tenang,” katanya, seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Raka mengangguk.
“Kalau terlalu tenang,” lanjut nenek itu, “biasanya ada yang menahan di hulu.”
Raka tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menunduk, memandang air yang bergerak pelan.
Sore datang membawa angin. Barisan kembali bergerak. Canda masih ada, tapi kini lebih pendek, lebih jarang. Seolah orang-orang sudah cukup mengisi keberanian mereka untuk hari ini.
Di belakang, seseorang tiba-tiba menyebut nama. Bukan nama Raka—nama orang lain. Suaranya memanggil dua kali, lalu berhenti.
“Ah, mungkin sudah di depan,” kata seorang lelaki, menepuk tangan seolah menutup perkara.
Tidak ada yang berbalik. Tidak ada yang menghitung ulang. Raka merasakan perutnya mengeras. Ia mencoba mengingat wajah yang dipanggil itu, tapi gagal. Seperti wajah yang sudah lebih dulu memudar.
Malam turun perlahan. Api unggun dinyalakan. Orang-orang duduk berkelompok kecil, bercerita tentang hal-hal ringan: ladang, hujan, ternak. Di sela cerita, ada kalimat-kalimat yang melayang rendah.
“Kalau besok jalan dibagi dua, ikut yang banyak orangnya saja.”
“Atau ikut yang sepi?”
“Kalau sepi tapi langkahnya yakin, boleh dipikir.”
Tawa menyusul, tapi Raka tahu: itu bukan nasihat umum. Itu pesan, dilempar ke udara, ditangkap oleh telinga tertentu.
Raka memeluk lututnya. Ia merasa hangat oleh api, tapi dingin di dalam. Ia mulai paham bahwa keramaian ini punya lapisan—yang terlihat dan yang hanya dirasakan.
Di tengah obrolan, nenek tua duduk tak jauh darinya. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatap api, seperti sedang membaca huruf-huruf di dalamnya.
Raka ingin bertanya. Tentang jalan. Tentang orang-orang. Tentang kenapa beberapa wajah seolah dicatat, sementara yang lain dilepas. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia memilih diam—dan di Wilwatikta, diam sering kali dianggap jawaban yang sopan.
Malam makin larut. Tawa mengendur. Api mengecil. Orang-orang merebahkan diri.
Raka memejamkan mata, tapi telinganya tetap terjaga. Ia mendengar langkah pelan, bisik singkat, lalu sunyi lagi. Tidak ada teriakan. Tidak ada kejar-kejaran. Hanya perasaan bahwa sesuatu bergerak di bawah permukaan.
Sebelum tidur benar-benar menariknya, Raka menyadari satu hal:
barisan ini ramah, suka bercanda, dan tampak terbuka—namun ada pintu-pintu tak kasatmata yang hanya terbuka untuk mereka yang tahu cara mengetuk.
Dan ia belum tahu caranya.