NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:48
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Beberapa hari kemudian, Nadia dinyatakan stabil. Ia diperbolehkan pulang dengan catatan harus banyak beristirahat dan menghindari tekanan pikiran.

Wajah Nadia tampak lebih segar meski masih menyisakan pucat, namun sorot matanya sudah tidak seteduh hari-hari sebelumnya.

Tepat saat ia bersiap meninggalkan rumah sakit, Tita datang. Senyumnya hangat, tangannya sigap membantu membereskan barang-barang Nadia. Tanpa banyak kata, Tita mengantarkan Nadia pulang ke rumah kecilnya yang selama ini terasa sunyi.

Sesampainya di sana, suasana rumah langsung terasa hidup. Tita membuatkan teh hangat, sementara Nadia duduk di sofa, menyandarkan punggung dengan napas yang perlahan-lahan mulai teratur. Hujan gerimis di luar jendela menambah keheningan yang nyaman.

"Kamu kelihatan jauh lebih baik sekarang,"ujar Tita sambil menyerahkan cangkir teh.

Nadia tersenyum tipis. "Iya… terima kasih sudah repot-repot. Aku nggak tahu harus bagaimana kalau sendirian."

Tita menggeleng pelan, lalu duduk di sampingnya. "Kamu nggak sendirian, Nad."

Percakapan mengalir ringan, tentang hal-hal kecil, tentang hobi, pekerjaan, dan keseharian. Hingga tanpa terasa, nama itu kembali muncul di antara mereka.

"Gibran itu…" Tita menggantungkan ucapannya sejenak, seolah memilih kata yang tepat. "Dia orang yang kelihatannya dingin, tapi sebenarnya sangat peduli. Waktu kuliah dulu, dia jarang bicara, tapi selalu muncul saat orang lain benar-benar butuh bantuan."

Nadia menatap cangkir tehnya, jari-jarinya mengerat di pegangan. "Dia sering seperti itu?" tanyanya lirih.

"Iya,"jawab Tita pelan. "Banyak yang salah paham sama dia. Padahal, dia selalu menanggung semuanya sendirian. Nggak pernah mau cerita."

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Ada sesuatu yang mengganjal di dada Nadia, perasaan asing yang tak sepenuhnya ia mengerti. Nama itu kembali terngiang di pikirannya, membawa rasa hangat sekaligus tanya.

Tita menoleh, menatap Nadia dengan lembut. "Kalau suatu hari kamu ketemu dia lagi, jangan kaget kalau dia tetap berpura-pura biasa saja. Itu caranya melindungi orang lain… dan mungkin juga dirinya sendiri."

Hujan di luar semakin rapat, mengetuk kaca jendela dengan ritme pelan. Nadia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang bergejolak di ddanya.

"Sebenernya…"Tita menunduk, jarinya memainkan ujung cangkir. "Ada satu hal lagi tentang Gibran yang mungkin perlu kamu tahu."

Nadia menoleh. "Apa?"

Tita tersenyum kecil, senyum yang mengandung keyakinan. "Akhir-akhir ini, setiap kali aku, Gibran, dan Rangga kumpul, dia selalu nyebut nama kamu."

Nadia terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Nyebut… namaku?"

"Iya," Tita mengangguk. "Entah cuma nanya kabar, atau tiba-tiba cerita hal kecil tentang kamu. Padahal, sebelumnya—selama aku kenal dia—Gibran nggak pernah menyebut nama perempuan mana pun secara terang-terangan. Apalagi berulang kali."

Nadia menelan ludah. Tangannya refleks menggenggam bantal di pangkuannya. "Mungkin… cuma rasa bersalah. Atau kasihan,"ucapnya lirih, seolah mencoba menyangkal sesuatu yang mulai tumbuh.

Tita menggeleng pelan. "Aku kenal Gibran cukup lama, Nad. Dia bukan tipe orang yang membawa-bawa nama seseorang kalau cuma karena kasihan." Ia menatap Nadia dengan serius namun lembut. "Dia peduli sama kamu. Lebih dari yang dia mau akui."

Kata-kata itu menggantung di udara, berat namun hangat. Nadia menunduk, menatap lantai, berusaha merapikan pikirannya yang mendadak kacau. Wajah Gibran kembali muncul di benaknya—tatapan tenangnya, sikapnya yang seolah selalu menjaga jarak, namun hadir di saat-saat paling genting.

Tiba-tiba muncul ide jahil di benak Tita.Ia langsung meraih ponsel Nadia yang tergeletak di meja. Dengan gerakan cepat, gadis itu mengetik beberapa angka nomor telpon yang tak sempat Nadia lihat dengan jelas. Jarinya lalu menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar. Nadia menoleh tajam. "Ti------"

Belum sempat ia protes, panggilan itu sudah tersambung. Tita langsung menutup mlutnya seraya terkikik geli, lalu tanpa rasa bersalah menyodorkan ponsel itu ke tangan Nadia.

"Eh... ini siapa?" bisik Nadia pelan.

Tita hanya mengedipkan mata, memberi isyarat agar Nadia menjawab.

Dengan ragu, Nadia mendekatkan ponsel ke telinganya. "Ha.... halo?"ucapnya panik.

Ada jeda singkat di sebrang sana. Lalu sebuah suara terdengar.

" Iya?"

Terdengar suara bariton di sebrang sana, rendah dan sedikit serak... seperti habis kehujanan atau menahan lelah yang panjang.

Nadia membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

Suara itu...ia kenal.

"T-tunggu,"Nadia berucap nyaris tak bersuara, matanya membesar. " G...Gibran?"

Di sebrang sana, hening sekejap. Hanya terdengar embusan napas yang berat sebelum suara itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan, seolah berhati-hati.

"Nadia?"

Nada itu tidak lagi dingin. Ada keterkejutan yang samar, bercampur dengan sesuatu yang tak dapat di sembunyikan.

Nadia menelan ludah. Tangannya gemetar menggenggam ponsel.

"Kenapa nelpon?" tanya Gibran di sebrang sana.

Tita yang duduk di sampingnya sudah menahan tawa, bahunya bergetar menahan geli melihat ekspresi Nadia yang panik.

"Maaf," ujar Nadia gugup. "Anu... itu, aku... aku kira ini nomor Mbak Dian."

Hening kembali tercipta. Namun kali ini, hening itu terasa berbeda... penuh ketegangan yang aneh, hangat namun membuat dada Nadia sesak.

"Oh," jawab Gibran singkat.

Nadia mengangguk meski tahu Gibra tidak bisa melihatnya. "Aku... salah pencet nomor kayaknya."

Di sebrang sana, Gibran menarik napas

"Kondisi kamu gimana?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja, cepat, tanpa basa-basi. Nadia terdiam sejenak. Sebelum akhirnya menjawab.

"Aku... sudah boleh pulang," jawabnya lirih. "Kata dokter harus banyak istirahat."

Gibran menghembuskan napas panjang.

"Syukur."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat jantung Nadia berdegup lebih kencang.

Tita tersenyum puas, lalu berdiri pelan berjalan menjauh sambil berbisik," Aku ke daour dulu ya. Janga tegang-tegang amat."

Nadia meliriknya kesal, tapi Tita sudah menghilang. Kini, hanya ada Nadia... dan suara di sebrang sana.

"Gibran," ucap Nadia pelan, hampir tak terdengar.

"Iya?"

"Terimakasih...untuk semuanya."

Di sebrang sana, suara itu terdiam lebih lama dari sebelumnya. Lalu, dengan nada yang lebih lembut dari yang pernah Nadia dengar... "Kamu nggak perlu berterimakasih. Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja."

Dan di saat itu, Nadia sadar... suara yang terdengar sedikit serak dan basah itu bukan karna hujan, melainkan karna perasaan yang selama ini di sembunyikan begitu rapat.

Di saat Nadia membuka mulut, hendak menanyakan banyak hal yang sejak lama mengganjal...tentang kejelasan Gibran yang tiba-tiba menghilang, tentang kehadirannya yang selalu datang di saat ia terpuruk.

suaranya justru tertahan di tenggorokan.

"Gibran, aku sebenernya mau... "

Namun di seberang sana, napas Gibran terdengar berat. Ada jeda yang terlalu panjang, seolah ia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

"Nad…"suaranya terdengar ragu, tidak setegas tadi. "Maaf."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat hati Nadia mengencang.

"Ada yang harus aku urus sekarang,"lanjut Gibran pelan. "Aku… nggak bisa lama-lama."

Nadia menggigit bibirnya. Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat. "Oh… iya. Nggak apa-apa."

Padahal, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Mengapa Gibran selalu menghilang? Mengapa selalu muncul tanpa penjelasan? Dan mengapa kehadirannya terasa begitu berarti bagi Nadia, padahal mereka bahkan bukan siapa-siapa?

"Jaga diri kamu baik-baik,"ucap Gibran cepat, seolah takut suaranya akan bergetar jika terlalu lama berbicara.

"Istirahat yang cukup."

"Iya," jawab Nadia lirih.

Hening kembali tercipta. Beberapa detik terasa begitu panjang, seolah salah satu dari mereka berharap yang lain akan menahan telepon itu sedikit lebih lama.

"Aku… tutup dulu ya," kata Gibran akhirnya.

"Hmm,"Nadia mengangguk pelan, lagi-lagi lupa bahwa gesturnya tak terlihat.

"Hati-hati."

Telepon itu pun terputus.

Nadia menurunkan ponsel perlahan. Layar yang kembali gelap seolah ikut meredupkan perasaannya. Ada rasa kecewa yang samar, mengendap di dadanya bukan karena Gibran pergi, melainkan karena ia tak sempat mendapatkan jawaban.

Namun Nadia tersenyum pahit.

Ia sadar diri.

Ia bukan siapa-siapa bagi laki-laki itu. Tak punya hak untuk menuntut penjelasan, apalagi memaksanya bertahan di ujung telepon.

Dari dapur, Tita muncul sambil membawa camilan dan beberapa roti. Ia menatap wajah Nadia yang tampak kosong, lalu duduk perlahan di hadapannya.

"Ditutup?" tanya Tita hati-hati.

Nadia mengangguk. "Iya."

Tita tak bertanya lebih jauh. Ia hanya menyajikan camilan ke arah Nadia, seolah mengerti bahwa saat ini, diam jauh lebih menenangkan.

Di dalam hati Nadia, satu hal terpatri jelas...

Gibran adalah teka-teki yang membuatnya penasaran.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!