Sekuel dari Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Terjebak dalam Friendzone membuat Zafrina dan Zico nyaman satu sama lain. Keduanya sama-sama memiliki rasa lebih tapi mereka ragu untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.
Rian, papi Zafrina dan Zafa kakaknya berniat membuat kedua sahabat itu terbuka dengan perasaan mereka masing-masing. Namun karena sebuah kejadian Zafrina dan Zico dipaksa menikah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Simak selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Bicara Dari Hati
...******* Bukan zona bocil *******...
Zafa sedang duduk menemani Mama Dian. Tangannya bergerak dengan cepat di atas keyboard.
"Za, apa kamu tidak mau mencari jodoh seperti adikmu?"
Zafa menghentikan gerakan tangannya, kepalanya menoleh menatap mama Dian. Senyumnya mengembang sempurna saat melihat wajah teduh mama Dian.
"Zafa laki-laki, Mah. Zafa tidak terburu-buru soal jodoh lagi pula... "
"Sayang... " Dian mendekap Zafa saat melihat wajah putra pertamanya berubah sendu. Dian tahu pasti apa yang Zafa rasakan. Putra pertamanya itu sampai sekarang masih belum bisa melupakan gadis sahabat masa kecilnya. Padahal sampai sekarang entah dimana rimbanya.
"Apa menurut mama, Lauren masih hidup?"
"Mama tidak tahu, sayang. Tapi menurut mama, sebaiknya Zafa mulai berpikir ke depan. Sejauh apapun kalau memang jodoh pasti akan bertemu. Saatnya kamu memikirkan kebahagiaan kamu sama seperti adik-adikmu."
"Zafa masih mau bermanja-manja dengan mama, aku ingin berada di dekat mama mumpung Ina sudah memiliki suami. Jadi tidak akan ada yang menggangguku." Zafa melepas pelukan mama Dian dan menatap mata mamanya dengan penuh cinta. Dian terkekeh mendengar ucapan putranya. Dian mengecup kening putra pertamanya begitu dalam.
"Terima kasih sudah menyayangi mama."
"Mama ini bicara apa? justru Zafa yang berterima kasih pada mama, karena mama sudah menyayangi Zafa seperti anak-anak mama yang lainnya."
"Sampai kapanpun kamu tetap anak mama, Zafa. Jangan merasa berbeda hanya karena kamu tidak berasal dari rahim mama. Nyatanya selama dua tahun, mama yang menyusui kamu."
"Ada apa ini? kenapa mama dan kakak Zafa sedih?"
Zayana masuk ke apartemen Zafa. Gadis itu duduk di samping Zafa. Ia sepertinya habis mandi karena rambutnya masih setengah basah.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Mama hanya menyuruh kakakmu untuk mencari pasangan."
"Kenapa mama hanya menyuruh kakak, kenapa Ana tidak disuruh juga?" Zafa mengusap wajah adiknya.
"Sekolah dulu yang benar."
"Huh... kakak dan yang lain sama saja."
"Kakak kamu benar, sayang. Selesaikan kuliah kamu. Setelah itu Zayana puas-puaskan dulu main-mainnya baru memikirkan menikah. Wanita itu kalau sudah menikah kodratnya di rumah mengurus anak dan suami."
"Itu wanita jaman dulu ma... "
"Ana... " tegur Zafa saat Mendengar adiknya membantah ucapan mamanya.
"Lho kenapa? Ana benar kan? kakak Ina saja, rencananya mau bekerja kalau jadi pulang ke Indonesia."
"Itu baru rencana, Ana."
"Itu sudah keputusan final, kakak. Tadi aku mendengar papa bicara dengan uncle Rian."
"Kamu menguping ya?" Zayana hanya nyengir kuda mendapat tuduhan yang memang benar adanya. Dian geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd putri keduanya itu.
"Adik kamu mana?"
"Mama kaya ga hafal sama sifat Zafia sih, Mah. Dia pasti mengurung diri dengan laptop kesayangannya itu."
"Mama jadi khawatir dengan adikmu itu."
"Mama tenang saja, Zafia itu paling cepat dan pandai beradaptasi."
Dian menghela nafasnya kasar. Memiliki 5 anak yang berbeda karakter, kadang membuat dia harus lebih sabar lagi menghadapi kelimanya.
"Baiklah, kalian lanjutkan saja kegiatan kalian. Mama mau istirahat dulu." Dian mengecup kening Zafa dan Zayana bergantian. Lalu ia pergi dari apartemen Zafa menuju apartemennya.
"Kakak, boleh aku bertanya?"
"Apa?"
"Apa yang kak Marvel lakukan pada di Fred chicken itu?"
"Tidak perlu banyak tahu, yang terpenting semua sudah diatasi olehnya." Bibir Zayana mengerucut kesal. Kakaknya tidak mau memberitahu dirinya.
"Kakak mulai ga asik."
Zafa hanya mengangkat bahu lalu kembali sibuk dengan laptopnya. Zayana merebahkan tubuhnya di samping kakaknya sambil bermain ponsel.
....... ...
Kembali ke pasangan baru, Keduanya masih terlelap setelah pertarungan sengit perdananya. Hari mulai beranjak petang saat Zafrina membuka matanya. Dia menoleh ke samping, hal yang pertama dia lihat adalah wajah damai suaminya yang masih terlelap. Dengkuran halus Zico terdengar oleh Zafrina. Gadis itu tersenyum seraya membelai wajah Zico.
"Apa aku sangat tampan?" Zico membuka satu matanya yang terpejam lalu tersenyum lebar menatap istrinya.
Zafrina salah tingkah dibuatnya. Dia menarik tangannya, namun Zico buru-buru menahannya, Zico mengecup dan menji*lat telapak tangan Zafrina hingga membuat semua bulu kuduk Zafrina meremang.
"Zi... " desah suara Zafrina terdengar begitu merdu. Zico berguling dan kembali meni*ndih Zafrina.
"Kita lakukan sekali lagi ya... " bisik Zico. Tubuh Zafrina langsung menegang saat lidah Zico mulai menari menyusuri leher hingga kedua bukit kembarnya. Lututnya mulai merentangkan paha Zafrina dan tak lama Zico sudah menyatukan inti tubuhnya dan Zafrina. Zafrina kembali memekik saat ia masih merasakan kerasnya junior Zico menghujam miliknya. Suara desah*an Zafrina dan Zico saling bersahutan. Zafrina mencengkeram bahu Zico. Tubuhnya mulai bergetar.
"Zi... akhu."
"Tunggu sebentar lagi aku juga... "
"Aargh... Zafrina dan Zico memekik bersamaan."
Keduanya saling melempar senyum. Zafrina mengusap kening Zico yang berkeringat. Zico membalas dengan mengecup kening Zafrina, tidak peduli keringat yang juga membasahi wajah cantik istrinya itu.
"Zi... aku lelah."
"Sebentar lagi sunset, apa kamu mau melihatnya denganku?" Zafrina mengangguk. Namun saat akan bangkit dia mendesis dan menekan perut bagian bawahnya.
"Queen, ada apa?"
"Ini perih sekali, King."
Zico kembali mengecup kening Zafrina lalu dia mengangkat tubuh Zafrina. "Aku akan menggendongmu ke kamar mandi."
"King, aku tidak mau melakukan itu lagi."
"Queen, aku tahu kamu menikmatinya."
"Tapi, ini sakit king."
"Nanti lama kelamaan tidak akan sakit lagi. Kamu hanya perlu terbiasa, Queen."
Zico menyiapkan air hangat untuk berendam. Keduanya sama-sama telan*jang saat ini. Zafrina sampai membuang muka saat berbicara dengan Zico karena malu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hari ini satu dulu ya, author masih sibuk sekali. Tapi demi kalian aku sempat²kan buat.
*saat suami tidak percaya istri, maka novel itu akan bawa2 asas kepercayaan dalam hubungan dan suami yang salah karena tidak percaya istrinya
*saat istri tidak percaya suami tetap saja suami yang salah, asas kepercayaan dalam hubungan langsung kalian buang, suami salah karena tidak bisa menjaga perasaan istri
coba author dan kalian cari di novel mana pun, jika konflik suami tidak percaya istri maka suami yang salah, dan ketika istri tidak percaya suami tetap saja suami yang salah
jadi author itu bukan hanya pantai buat cerita tapi harus netral buang sisi wanita dalam berkarya, jadi novelis netral, jadi berlaku adil pada sang suami dan sang istri, jika suami salah maka suami yang salah, jika istri salah maka istri yang salah, jangan suka memutar balikan fakta