Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Kantor Farris
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
Aku enggak bisa berhenti memikirkan Farris seharian ini. Aku bahkan setuju buat ketemu dia untuk ngopi sebentar beberapa blok dari gedung balet, yang artinya aku enggak sempat makan malam.
Burger yang aku beli di kedai ada di tas second aku, yang sebelumnya aku beli di toko barang bekas. Nanti aku makan pas jam kerja.
Aku jalan ke Cascade Kofy, kafe tempat aku bakal ketemu Farris. Begitu masuk, aku langsung lihat dia duduk di meja pojok.
Dia langsung sadar begitu melihatku dan berdiri. Waktu aku sudah cukup dekat, dia tarik aku ke pelukan erat, dan aku suka banget itu.
Kami berpelukan sebentar. Aku menyerap hangat tubuhnya dan merasakan lengan dia yang melingkar di tubuhku.
Iya, aku benar-benar jatuh cinta sama cowok ini.
Dia mundur sedikit, mengecup bibirku, lalu senyum sambil matanya menyusuri wajahku.
"Aku kangen kamu."
"Kita baru ketemu kemarin." Aku tertawa sambil melepas pelukan dan duduk.
"Iya, tapi itu udah berjam-jam lalu," keluhnya. "Aku pingin kamu enggak harus kerja. Sepuluh menit sama kamu tuh enggak cukup."
Perutku keroncongan keras, bikin mata Farris langsung melirik ke arah perutku.
"Laper?"
Aku melambaikan tangan. "Nanti aku makan pas udah sampai tempat kerja."
Nada suaranya jadi agak keras waktu dia bertanya, "Hari ini kamu makan apa aja?"
Aku bakal telat kerja kalau aku mengaku belum sempat makan seharian. Pagi tadi aku sibuk sama Marion yang perbaiki pemanas apartemenku, dan shift di kedai juga gila banget, sampai aku enggak sempat minum apa pun.
Jadi aku bilang, "Aku makan siang banyak kok. Jangan khawatir."
"Aku bisa ambilin apa buat kamu?" tanya Farris sambil berdiri lagi.
"Cokelat panas, ya."
"Sebentar."
Aku lihat dia jalan ke meja kasir dan memperhatikan jas biru muda yang dia pakai hari ini. Warnanya cocok sama dia, dan dia kelihatan menarik banget.
Aku melirik meja-meja lain dan sadar bagaimana cewek-cewek lain memperhatikan dia, dan itu bikin rasa panas menjalar ke dadaku.
Begitu Farris selesai pesan, dia menengok ke arahku dan sudut bibirnya naik membentuk senyum seksi.
Dia terus memperhatikanku sampai barista bilang pesanannya siap. Waktu dia bawa minuman kami ke meja, aku mulai sadar kalau Farris benar-benar tertarik sama aku.
Dia taruh cangkir di depan aku, tarik kursinya lebih dekat, lalu duduk.
"Hai," bisikku.
Dia angkat tangan, mengusap pipiku pakai punggung jarinya, lalu melingkarkan tangannya ke leherku dan condong buat ciuman lagi.
Waktu menempel di bibir aku, dia bergumam, "Hai."
Waktu dia menjauh dan mata kami bertemu, aku jatuh cinta sedikit lebih dalam sama dia. Kalau kami enggak lagi di tempat umum, aku pasti sudah duduk di pangkuannya dalam sekejap.
Farris memiringkan kepala dan dengan ekspresi lembut, dia bertanya, "Tatapan apa itu?"
"Aku lagi berusaha enggak jatuh cinta sama kamu," tegasku.
Senyum jahil langsung muncul di wajahnya. "Berarti aku harus ningkatin permainan aku biar itu terjadi."
"Kalau kamu ningkatin permainan kamu, bisa-bisa aku malah minta kamu nikahin aku!" candaku.
"Iya." Dia condong ke depan dan mencuri satu ciuman lagi. "Dan waktu aku resmi suami kamu, aku pingin kamu enggak usah kerja. Hemm, aku tahu kamu harus pergi. Jadi habisin cokelat panas kamu. Aku bakal anterin kamu ke kedai biar kita bisa punya beberapa menit bareng."
Sial.
Otakku langsung mengebut cari alasan masuk akal kenapa Farris enggak boleh antar aku ke tempat kerja.
"Eh … enggak jauh kok. Aku jalan aja."
"Kalau gitu aku temenin," tawar Farris.
Satu-satunya kedai di sekitar, ada di arah berlawanan dari gedung balet, dan itu terlalu berisiko.
Bagaimana kalau Farris tiba-tiba mau mengejutkan aku di kedai itu dan tahu kalau aku enggak kerja di sana?
Sial.
Apa yang harus aku lakukan?
Matanya menyipit memperhatikan wajah ku. "Atau enggak usah? Ada masalah kalau aku nganter kamu ke tempat kerja?"
Kata-kata sudah di ujung lidahku, tapi aku terlalu takut. Bagaimana kalau itu hal yang enggak bisa dia terima?
Bagaimana kalau dia punya aturan enggak pacaran sama karyawan?
Bagaimana kalau dia mecat aku gara-gara Quicky sama dia pas aku seharusnya kerja?
Belum lagi semua jam kerja yang aku curi buat menari di studio, itu juga berputar di kepalaku.
Di detik terakhir aku ciut dan bilang, "Kamu harus ke gedung balet. Aku tahu kamu lagi sibuk banget sama pertunjukan nanti. Lagian, aku mau nelepon temen aku dan ngobrol sama dia di jalan ke tempat kerja."
Aku bisa lihat Farris enggak senang sama alasan asal-asalan itu, tapi untungnya dia enggak memaksa.
Aku minum beberapa teguk sebelum mengecup cepat sudut bibirnya.
Sambil berdiri, aku bilang, "Semoga lancar kerjaannya."
Saat aku berbalik buat pergi, Farris tarik tanganku dan berdiri.
"Kamu kesel ya, karena aku nawarin nganter kamu ke tempat kerja?"
Aku cepat-cepat geleng kepala. "Enggak kok. Sama sekali enggak."
"Terus ada apa?"
Aku mendekat, senyum, lalu kasih ciuman di bibirnya sebelum bilang, "Enggak ada apa-apa. Telepon aku pas balet kamu selesai, ya?"
Dia mengangguk. Waktu aku lepaskan tangan aku, dia juga melepaskanku.
Begitu keluar dari kafe, aku lari ke sudut jalan dan menengok ke belakang. Enggak lihat Farris, aku langsung lari secepat mungkin ke arah gedung balet.
Jantungku berantakan dan paru-paruku terbakar waktu aku mengebut melewati meja Chaca, hampir enggak bisa menyapa, "Hai."
"Kenapa buru-buru banget?" teriaknya dari belakang, tapi aku enggak berhenti.
Farris bisa saja muncul kapan pun.
Baru setelah sampai aman di ruang ganti, aku menjatuhkan tas aku ke lantai dan ngos-ngosan.
Ya Tuhan.
Pakai punggung tangan, aku mengelap keringat di dahi sebelum minum sedikit air langsung dari keran. Aku pakai celemek dan topi, lalu lari ke tempat penyimpanan perlengkapan.
Tahu semua orang lagi di auditorium, aku ambil troli kebersihan dan dorong ke arah kantor-kantor.
Begitu selesai di kantor Bu Hadibroto, aku pindah ke kantor berikutnya. Baru saat itu aku sadar, ini pasti kantor yang biasa dipakai Farris.
Sambil mengelap meja kayu, aku melirik sekeliling, tapi enggak menemukan apa pun yang memastikan kalau ini kantor Farris.
Baru saja aku selesai mengepel lantai, saat aku dorong troli ke arah pintu, pintunya tiba-tiba terbuka.
Farris masuk sambil menekan HP ke telinganya. "Kasih aku seminggu dan aku bakal tahu semuanya soal kelompok itu."
Jantungku hampir lompat keluar. Aku langsung menunduk dan dorong troli secepat mungkin keluar dari kantor, sambil berdoa agar Farris enggak mengenali bajuku di balik celemek ini.
Aku harus bawa baju ganti buat kerja.
Sebelum pintunya menutup, aku dengar dia bilang, "Bakal kena 1.6 Miliar. Harga normal."
Alisku terangkat waktu aku jalan menyusuri koridor ke arah studio-studio.
Ya Tuhan, itu duit banyak banget. Bisa buat hidup seumur hidup, bahkan lebih.
Sambil berpikir hal apa yang bisa dijual semahal itu, aku lanjutkan kerja, ekstra hati-hati supaya enggak ketemu Farris lagi sepanjang malam ini.
JD penasaran Endingnya