Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telur yang Terpecah
Perahu kecil mereka meluncur pelan di Laut Banda saat matahari terbit, ombak yang dulu menyambut seperti pelukan lama sekarang terasa seperti peringatan. Pulau tersembunyi mulai terlihat di horizon—bentuknya seperti batu karang raksasa yang muncul dari air, dikelilingi kabut tebal yang tidak wajar. Kabut itu bergerak seperti napas hidup, dan di dalamnya, cahaya samar berkedip seperti mata yang mengintai.
Banda berdiri di haluan, bola cahaya emas dari empat kristal melayang di depannya, menunjuk tepat ke pulau itu. Angin membawa bau garam dan sesuatu yang lebih tua—bau tanah basah dan api yang sudah lama padam. Dadanya sesak, bukan karena kutukan, tapi karena ingatan yang muncul tanpa diundang: mimpi tentang Garini yang melahirkan di tengah badai, api Phoenix-nya membara di atas ombak yang mengamuk.
Jatayu berdiri di sampingnya, tangannya memegang tali layar. “Ini tempatnya,” katanya pelan. “Tempat Garini memilih mati daripada membiarkan kutukan berlanjut. Tempat kau lahir.”
Bayu mengemudikan perahu dengan tangan mantap, tapi wajahnya tegang. “Kabut itu… seperti hidup. Aku merasa ada yang menunggu kita di dalam.”
Banda mengangguk. “Naga Tanah sudah hancur, tapi rohnya masih ada. Dan kegelapan luar yang Naga Cahaya sebut… mungkin sudah mulai merembes masuk.”
Perahu mendekati pulau. Kabut membuka jalan seperti tirai, membiarkan mereka masuk ke teluk kecil yang tersembunyi. Pantai berpasir hitam menyambut mereka, tapi pasir itu bergerak pelan—seperti napas tanah yang tertidur. Di tengah teluk, reruntuhan kuil bawah air terlihat samar: tiang-tiang batu putih yang setengah tenggelam, ukiran naga dan phoenix yang sudah pudar.
Begitu kaki Banda menyentuh pasir hitam, tanah bergetar. Bola cahaya emas berputar lebih cepat, cahayanya menyilaukan. Dari dalam reruntuhan, suara gemuruh terdengar—bukan raungan Naga Tanah, tapi suara yang lebih dalam, lebih tua, seperti kegelapan asli yang berbicara.
“Anak campuran… kau kembali ke tempat asalmu. Tapi kau tidak lagi anak. Kau sudah menjadi senjata.”
Banda menarik napas dalam. “Kegelapan luar,” katanya pelan. “Itu yang menunggu.”
Jatayu menggenggam goloknya. “Kita harus masuk ke kuil. Kristal cahaya sebenarnya ada di sana—bukan yang Naga Cahaya berikan, tapi yang asli. Yang bisa mematahkan kutukan sepenuhnya.”
Bayu mengikat perahu ke batu karang. “Aku ikut. Tidak ada yang tinggal di sini sendirian.”
Mereka menyelam ke air. Air dingin menyambut seperti pelukan lama yang pahit. Bola cahaya emas menerangi jalan mereka, menunjuk ke bawah—ke reruntuhan kuil yang sepenuhnya tenggelam. Tiang-tiang batu putih berdiri seperti tulang belulang, ukiran naga dan phoenix saling melingkar dalam pola yang sama dengan kain biru yang dulu membungkus Banda bayi.
Di pusat kuil, ada altar batu yang masih utuh. Di atasnya, kristal cahaya asli—besar, putih murni, berdenyut seperti jantung yang tertidur. Tapi di sekitarnya, kegelapan mulai merembes: bayang hitam yang bergerak seperti asap cair, membentuk bentuk-bentuk samar—tangan, wajah, mata yang tidak punya cahaya.
Banda mendekat. Saat tangannya menyentuh kristal, dunia berubah.
Versi datang seperti banjir: ia melihat Naga Tanah muda, seperti yang diceritakan Jatayu, tapi dari sudut pandang Naga Cahaya. Naga Tanah membentuk patung lumpur, mencoba menciptakan sesuatu yang hidup, tapi gagal. Naga Cahaya menyaksikan dari atas, cahayanya menyentuh lumpur, membuatnya berkilau sejenak. Naga Tanah tersenyum—senyum pertama yang tulus—tapi lalu cahaya pergi, dan senyum itu berubah menjadi amarah.
“Kenapa kau pergi?” tanya Naga Tanah pada kegelapan. “Kenapa kau tidak tinggal? Kenapa aku harus sendirian?”
Naga Cahaya tidak menjawab. Ia hanya menyaksikan Naga Tanah mulai membesar, sisiknya menebal, matanya beracun. Kutukan lahir dari kesepian itu—kutukan yang membuat darah campuran menjadi racun bagi diri sendiri.
Versi berganti: Garini melahirkan di pulau ini, di kuil bawah air. Ayah Banda memegang bayi itu, air mata mengalir. Garini berbisik: “Lindungi dia. Biarkan dia mematahkan apa yang aku tidak bisa.”
Lalu Garini menyelam ke air, api Phoenix-nya padam perlahan, meninggalkan tetesan emas yang tenggelam ke altar. Kristal cahaya asli menyala terang sejenak, lalu redup—menunggu darah campuran yang akan datang.
Versi terakhir: kegelapan luar muncul—bayang hitam yang lebih tua dari empat raja, makhluk yang lahir dari kegelapan asli sebelum cahaya ada. Naga Tanah melihat kegelapan itu, dan irinya berubah menjadi aliansi. “Kalau aku tidak bisa dicintai… aku akan hancurkan semuanya bersama kegelapan ini.”
Banda tersentak kembali. Tubuhnya gemetar di bawah air. Kristal cahaya asli sudah di tangannya, tapi kegelapan luar sudah merembes masuk—bayang hitam menyelimuti kuil, membentuk tentakel yang menyambar ke arah Jatayu dan Bayu.
Jatayu bergerak cepat. Goloknya menyala merah terang, api Phoenix membentuk perisai yang menghalangi tentakel itu. Tapi tentakel baru muncul, lebih banyak, lebih cepat.
Bayu berenang ke depan, tombak ikan di tangan. Ia menusuk salah satu tentakel, tapi bayang itu menyerap tombak dan menarik Bayu ke dalam kegelapan.
“BAYU!” teriak Banda.
Ia melepaskan kekuatan Naga Laut penuh. Ombak raksasa naik dari dasar laut, membentuk pusaran yang menarik tentakel-tentakel itu menjauh. Air bertabrakan dengan kegelapan—uap hitam meledak, tapi kegelapan tidak mundur. Ia malah menyerap air, membuat pusaran semakin gelap.
Jatayu berlari ke arah Bayu, api-nya membakar tentakel yang menarik sahabatnya. “Lepaskan dia!”
Tentakel melepaskan Bayu, tapi satu tentakel lain menyambar Jatayu. Api Phoenix-nya membara, tapi kegelapan menyerap panas itu, membuat api semakin redup.
Banda berteriak. Ia mengangkat kristal cahaya asli. Cahaya putih meledak dari tangannya, menyatu dengan bola emas. Cahaya itu menyelimuti kuil, menghalau kegelapan luar seperti matahari yang terbit di bawah air.
Tentakel-tentakel surut, kegelapan mundur ke retakan-retakan batu. Kuil kembali terang, kristal cahaya asli berdenyut stabil di tangan Banda.
Bayu muncul di permukaan, batuk-batuk. Jatayu menariknya ke pantai tersembunyi di dalam kuil.
Banda naik ke permukaan, napas tersengal. “Kita… kita dapat kristal terakhir. Tapi kegelapan luar… itu bukan Naga Tanah. Itu sesuatu yang lebih tua. Sesuatu yang menunggu kutukan dipatahkan supaya ia bisa bebas.”
Jatayu memeluknya erat. “Kita sudah punya semua kristal. Sekarang… kita harus mematahkannya. Di sini. Di tempat asalnya.”
Bayu bangkit pelan. “Bagaimana caranya?”
Banda menatap kristal cahaya. “Dengan menyatukan semuanya. Dengan api dan air yang menyatu sepenuhnya. Tapi… harganya mungkin nyawa salah satu dari kita.”
Jatayu menatapnya tajam. “Kalau itu yang dibutuhkan… aku siap.”
Banda menggeleng. “Tidak. Kita cari jalan lain. Kita tidak akan kehilangan lagi.”
Bola cahaya emas berputar lebih cepat, lalu membentuk visi baru: altar di pusat kuil menyala, dan di tengahnya, pintu kegelapan terbuka—kegelapan luar menunggu, siap menelan dunia kalau kutukan tidak dipatahkan dengan benar.
Mereka bertiga berdiri di dalam kuil bawah air, dikelilingi cahaya kristal.
Dan di luar, ombak Laut Banda mengamuk lebih ganas—seolah tahu bahwa akhir sudah sangat dekat.