Ciluk ba...
"Ha yo... Om mau mendekati Mamaku ya?" seru seorang gadis cilik dengan rambut keritingnya.
"Enggak. Siapa juga yang mau mendekati Mamamu yang janda itu?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah atasan dari Ibu gadis cilik itu, Luis Marshal Gena.
"Om suka lilik-lilik Mama. Ndak boleh ya, Om. Nanti matanya bintitan," ucap gadis cilik itu lagi.
Seorang janda atau single mom bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Kata orang-orang, dirinya disebut sebagai janda seksi. Padahal menurut sang empu, dia biasa saja.
Luis yang merupakan atasannya, begitu kagum dengan sosok sekretarisnya yang mandiri dan tegas. Bahkan berulangkali terpergok melihatnya. Namun perjalanan Luis mendekati sekretarisnya sangat terjal karena anaknya yang tampak tak suka dengannya.
Mampukah Luis meraih hati si janda seksi dan anaknya itu? Lalu bagaimana dengan mantan suami dari sekretarisnya yang tiba-tiba datang dan menjadi penghalang mereka untuk bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas Hareudang
"Yah... Naik motol lagi. Panas haleudang ini," keluh Aiko saat kendaraan milik Luis sudah berhenti di depan gedung perusahaan.
Beruntung karyawan sudah pada pulang, sehingga kedatangan Emma, Aiko, dan Luis tidak diketahui oleh para karyawan. Pasti akan heboh mereka jika melihat Aiko juga bersama dengan Luis. Aiko yang digendong Emma turun dari mobil merasa tak suka karena harus meninggalkan kendaraan mewah itu.
Padahal dengan naik mobil, ia bisa bebas tanpa menggunakan helm dan masker. Namun sekarang ia harus menghadapi realita sebenarnya jika Mamanya tidak mempunyai mobil. Luis yang melihat raut wajah cemberut dari Aiko, diam-diam terkikik geli.
"Bersyukur, Aiko. Masih banyak orang di luaran sana yang jalan kaki. Melihat sesuatu itu ke bawah bukan ke atas," ucap Emma yang gemas sekali dengan anaknya.
"Lihat ke bawah kalau ada dompet jatuh balu Aiko mau."
"Aiko belsyukul kok, Ma. Cuma kalau bisa naik mobil, kenapa halus pakai motol?" Ucap Aiko membuat Emma menggelengkan kepalanya. Takkan habis perdebatan itu jika melawan Aiko.
"Terimakasih sudah mau mengantar saya menjemput Aiko, Pak Luis." Ucap Emma mengucapkan terimakasih pada Luis yang juga keluar dari mobilnya.
"Telimakacih, Om bos. Besok-besok jemput Aiko pakai mobil lagi ya. Bial Aiko ndak kena debu-debu nakal di jalan," ceplos Aiko dengan celotehannya.
"Nanti Aiko bayal pakai pelmen kaki," lanjutnya seakan menganggap Luis itu sebagai sopir pribadinya.
"Permen kaki? Apa itu? Apa lolipop rasa susu? Atau kakinya siapa yang dijadikan permen?" Tanya Luis dengan tatapan bingungnya.
Woah... Kesenjangan sosial. Aku makan pelmen kaki halga selibu, Om bos yang dua libu.
Luis hanya bisa tersenyum paksa menanggapi ucapan Aiko. Ia memang tidak mengetahui maksud dari Aiko. Bahkan di saat usianya sama seperti Aiko, ia hanya akan makanan dari koki rumahnya. Dari mulai cemilan sampai makanan berat, semua dibuat langsung oleh koki.
"Kami pulang dulu, Pak." Pamit Emma yang tak ingin pembicaraan antara Aiko dan Luis semakin berlanjut. Luis menganggukkan kepalanya mempersilahkan Emma pergi.
"Ikuti motornya dan pastikan mereka aman sampai masuk ke dalam rumah," titah Luis tiba-tiba saat dua pengawal mendekati mobilnya untuk membawa kendaraan itu ke tempat parkir.
"Baik, Bos."
Eh... Ada apa denganku ini? Kenapa pakai kirim pengawal segala untuk mereka?
Sepertinya otakku mulai miring,
***
"Aiko, lain kali nggak boleh ngomong gitu ya sama atasannya Mama. Nggak sopan lho masa minta atasan Mama buat jadi calon Papa Aiko. Terus minta jemput juga pakai mobilnya. Nanti kalau istri dan anaknya marah gimana?" Ucap Emma saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
Emma merasakan ada sesuatu yang aneh dalam perjalanan pulangnya kali ini. Suasana jalanan sore yang biasanya macet, tak ia rasakan sama sekali. Memang jalanan masih ramai tapi lancar, seperti tak ada hambatan seperti biasanya. Namun Emma segera menepis keanehan yang terjadi sore itu karena harus fokus pada anaknya. Ia harus menjelaskan pada anaknya kalau tidak boleh berbicara asal dengan Luis.
"Om bos sudah punya istli dan anak, Mama?" Tanya Aiko dengan mata membulat.
"Ya," jawab Emma dengan berbohong agar anaknya tak asal bicara lagi dengan Luis.
"Yah... Ndak jadi punya Papa balu dong Aiko," ucap Aiko sambil meluruhkan bahunya lesu membuat Emma meringis pelan.
"Cali Papa balu sepelti Om bos susah lho, Mama. Sudah ada di depan mata tapi kok punya istli dan anak. Kata Tante Celine, ndak boleh jadi pelakol. Kasian anak istlina," lanjutnya.
"Oh... Jadi Aiko bisa ngomong tentang pacaran, sugar daddy, masa lalu, pelakor, dan hal berbau dewasa begitu karena si Celine."
"Awas saja itu si tengik satu. Kalau ke sini, aku geprek pakai sambal bawang," gumam Emma yang kini tahu darimana anaknya belajar banyak kosa kata bukan untuk anak seumurannya.
Emma merutuki sahabatnya yang bernama Celine Maura Cressy. Dia adalah sahabat Emma yang setiap weekend selalu datang ke rumahnya. Terkadang membawa Aiko untuk sekedar jalan-jalan di saat Emma sibuk membersihkan rumahnya. Namun sepertinya memberikan ijin pada Celine untuk membawa Aiko adalah keputusan yang salah.
Hatchi...
Hatchi...
Kok kaya ada yang ngomongin aku ya?
***
Tumben kamu pulang ke rumah?
Biasanya setahun sekali baru ingat rumah,
Dua kalimat meluncur dari bibir seorang pria paruh baya yang merupakan Papa dari Luis. Ya... Malam ini, Luis pulang ke rumah orangtua sekaligus keluarga besarnya setelah sekian lama. Lucas Raphael Gena, sosok pria paruh baya yang sangat perfectionis dan tegas. Ia menuntut sempurna pada kedua anaknya, terutama dalam bidang karir.
"Setidaknya masih ingat rumah, daripada tidak sama sekali." Ucap Luis sambil mengedikkan bahunya acuh.
"Bagaimana pencarianmu tentang jodoh di luaran sana? Sudah ketemu atau belum? Kalau belum, siap-siap saja jika Papa dan Kakek yang akan mencarikannya." Ucap Papa Lucas yang menuntut Luis agar segera menjadi pendamping hidup.
"Sudah, sebentar lagi mungkin aku akan melamarnya setelah dapat restu dari anaknya." Ucap Luis yang kemudian memilih masuk dalam kamarnya. Ini lah yang membuat Luis malas pulang ke rumah, selalu ditanya kapan menikah.
Apa maksudnya, Luis? Restu dari anaknya? Apa jangan-jangan perempuan incaran Luis itu janda? Sehingga harus minta restu anaknya,
Luis,
Jelaskan dulu,
Anak itu,
Papa Lucas mendengus sebal saat anaknya tidak menggubris teriakannya. Ia sangat penasaran dengan maksud ucapan Luis. Mama Lea yang mendengar suara teriakan dari suaminya segera berlari menuju Papa Lucas. Namun saat sampai di depan Papa Lucas, ia mencium aroma parfum yang sangat familiar.
"Kok kaya parfumnya Luis ya? Apa dia pulang ke rumah ini? Atau hanya halusinasiku saja?" Ucap Mama Lea sambil mengendus area sekitarnya.
"Luis memang pulang," jawab Papa Lucas membuat Mama Lea terkejut.
"Benar kah?" Tanya Mama Lea dan diangguki kepala oleh Papa Lucas.
"Katanya dia sudah menemukan calon istri tapi harus minta restu pada anaknya dulu. Apa dia sedang dekat dengan janda? Apa Mama tahu tentang ini?" Tanya Papa Lucas membuat Mama Lea memelototkan matanya.
Seketika Mama Lea teringat dengan ucapan Luis yang akan menunggu Emma mau untuk menikah. Mama Lea menggabungkan potongan-potongan itu menjadi satu dengan ucapan sang suami. Kedua tangannya mengepal erat. Seakan tidak terima jika Emma nanti akan menjadi menantunya. Namun ia belum bisa berbuat apa-apa karena ancaman dari Luis.
"Mama belum tahu, Pa. Luis sangat tertutup jika masalah percintaan," ucap Mama Lea membuat Papa Luis menganggukkan kepalanya kemudian memilih pergi ke ruang makan.
Aku tidak akan pernah membiarkan sekretaris itu masuk dalam keluargaku,
Bisa bahaya nanti posisiku di rumah ini,
ini buktinya🤣🤣
dengan itu om bos ,kalau gak tertarik mending buat kakek Regan aja😂
Emma lihat tuh kak Luis dan Aiko sangat kompak bukan ,sangat pantas dan cocok jadi suami mu 😂
Luis kapan ngajakin nikah 🤣
serius aku nanya😂
nanti tambah gak tumbuh tumbuh rambut nya Kim kalau sama Celine hahaha
tapi bener juga siapa tau cocok😂
Cie Luis berharap jadi pasangan suami istri 🤭