Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22# JERITAN DI BALIK PERAK
Kabut di wilayah perbatasan menuju Menara Merah tidak lagi berwarna putih kelabu, melainkan mulai bercampur dengan semburat kemerahan yang berasal dari pantulan cahaya pusat sistem. Udara terasa berat, membawa aroma logam berkarat yang menyengat indra penciuman. Perkiraan Dokter Luz dan Dasha semalam bahwa mereka mungkin akan sampai dalam satu atau dua hari lagi terasa seperti mimpi yang sangat jauh di depan, karena setiap meter tanah yang mereka pijak saat ini adalah medan perang yang sesungguhnya.
Pagi itu, kelompok besar berjumlah lima belas orang ini bergerak dalam formasi tertutup. Arlo di depan, disusul oleh para petarung inti. Luka-luka dari pertempuran di Lembah Tanpa Suara masih terasa perih; perban di lengan Lira sudah merembeskan darah, dan punggung Rony tampak kaku setiap kali ia bergerak. Namun, mereka tidak punya pilihan selain terus melangkah.
"Tetap waspada. Sensor Menara di wilayah ini sepuluh kali lebih sensitif," bisik Dokter Luz, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang aneh di sekeliling mereka.
Tiba-tiba, suara gesekan logam yang sangat mereka kenal bergema dari balik bebatuan besar di sisi kiri dan kanan jalan. Srek... srek... srek... Suara itu dingin, tajam, dan sangat berirama.
"Bukan lagi..." desis Rick sambil mengeratkan pegangan pada tombaknya.
Dari kegelapan celah batu, muncul tujuh ekor Argentum Arachne. Makhluk berkaki dua puluh itu tampak lebih agresif daripada sebelumnya. Mata merah mereka berpendar terang, memindai panas tubuh para remaja yang ada di depan mereka. Tanduk di kepala mereka mengeluarkan uap hijau yang menandakan mereka sedang dalam mode menyerang penuh.
"Semuanya, posisi tempur! Jangan biarkan mereka memecah barisan!" teriak Arlo lantang.
Pertempuran pecah dengan sangat brutal. Argentum Arachne itu melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran mereka. Zephyr dan Naya dipaksa mundur saat salah satu monster menghujamkan kaki jarumnya ke arah tanah, menciptakan lubang-lubang kecil. Tom dan Harry mencoba menahan serangan dari sisi belakang, sementara Finn dan Cicilia melepaskan anak panah dan tebasan belati ke arah sendi-sendi kaki monster tersebut.
Di tengah kekacauan itu, Rayden yang biasanya berada di posisi paling aman secara tidak sengaja terjepit. Ia sedang mencoba membetulkan "helm" saringan santannya yang miring saat seekor Argentum Arachne melesat dari atas tebing tepat ke arahnya.
"RAYDEN! AWAS!" teriak Lira.
Rayden menoleh, namun terlambat. Salah satu kaki perak yang tajam seperti tombak menghujam lurus ke arah pundak kirinya.
Jleb!
"AAAAARRRRGGGGHHHH!!!"
Jeritan Rayden memecah keheningan lembah, sebuah lengkingan yang penuh dengan penderitaan dan ketakutan yang murni. Tubuh Rayden tertusuk dan terangkat sedikit sebelum monster itu menarik kembali kakinya, meninggalkan lubang besar yang mengucurkan darah merah pekat di pundak sang pemuda. Rayden jatuh berlutut, tangannya mencengkeram pundaknya yang bersimbah darah. Wajahnya yang semula pucat kini menjadi seputih kertas.
"Rayden!" Lira hendak berlari menghampirinya, namun seekor monster lain menghalangi jalannya dengan tusukan bertubi-tubi.
"Tahan, Lira! Kita harus habisi mereka dulu atau kita semua mati!" teriak Rick sambil memukul mundur monster di depan Lira.
Pertempuran itu menjadi sangat emosional. Mendengar jeritan kesakitan Rayden yang terus-menerus membuat adrenalin mereka memuncak. Arlo mengamuk, pedang besinya menghantam cangkang perak monster hingga retak, sementara Zephyr dengan dingin menusuk mata merah makhluk itu satu per satu. Mereka bertarung dengan kemarahan yang meluap, seolah-olah setiap tebasan adalah pembalasan atas setiap tetes darah yang keluar dari tubuh Rayden.
Setelah pertarungan yang terasa seperti berjam-jam, Argentum Arachne terakhir akhirnya tumbang dengan cairan hitam yang membanjiri tanah.
Begitu monster terakhir berhenti bergerak, mereka semua tidak peduli lagi pada luka-luka lecet mereka sendiri. Mereka langsung bergegas menghampiri Rayden yang sudah tergeletak di tanah.
"Rayden! Hei, lihat aku! Tetap buka matamu!" Lira berlutut di samping Rayden, tangannya gemetar saat mencoba menahan pendarahan di pundak pemuda itu. Matanya berkaca-kaca, rasa khawatir yang selama ini ia sembunyikan kini tumpah sepenuhnya.
Rayden menatap Lira dengan tatapan yang sangat ketakutan, namun dasar sifatnya yang absurd tidak hilang bahkan di ambang maut. "Li... Lira... apakah malaikat maut itu... wajahnya secantik dirimu?" bisik Rayden dengan suara parau yang diselingi rintihan kesakitan.
"Jangan bercanda, bodoh! Kau tidak akan mati!" bentak Lira, meski air matanya mulai jatuh.
"Tapi... tapi darahku... banyak sekali... aku merasa seperti sebuah ember yang bocor..." Rayden merintih lagi, tubuhnya gemetar hebat. "Kalau aku mati... pastikan saringan santan ini... diletakkan di atas makamku... sebagai simbol ksatria..."
"Diam, Rayden! Simpan energimu!" Arlo mendekat, melihat luka itu dengan wajah serius. "Kita harus segera mengobatinya. Di sini terlalu terbuka."
Dasha menunjuk ke sebuah formasi batu raksasa yang menonjol keluar di kejauhan, membentuk sebuah perlindungan alami yang terbuka. "Di sana! Kita bisa bersembunyi di balik batu besar itu. Tempatnya cukup terlindungi."
Tom dan Rick segera membopong Rayden dengan hati-hati. Setiap gerakan membuat Rayden menjerit kesakitan, membuat suasana hati kelompok itu semakin kelam. Mereka sampai di bawah lindungan batu raksasa tersebut dan segera menggelar kain-kain bersih.
Dokter Luz dan Naya bekerja sama. Karena Becca sudah tiada, Naya harus mengingat semua pelajaran medis singkat yang pernah diberikan Becca dan Luz. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Naya menyiramkan cairan antiseptik ke luka Rayden.
"IBUUUUU! SAKIIIIT!" jerit Rayden lagi saat cairan itu menyentuh dagingnya. "Dokter, cabut saja pundakku! Aku tidak mau pundak ini lagi!"
"Diamlah, Rayden! Kalau kau banyak bergerak, jahitannya akan miring!" perintah Luz dengan tegas.
Sepanjang proses pengobatan, Lira tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan kanan Rayden. Ia membiarkan tangan kakunya diremas oleh Rayden setiap kali pemuda itu merasakan sakit. Finn berdiri di sudut batu, menatap ke arah luar dengan waspada, namun sesekali ia melirik ke arah sahabatnya itu dengan tatapan sedih yang disembunyikan.
Harry menghela napas panjang sambil menyiapkan api kecil untuk mensterilkan peralatan. "Dunia ini tidak pernah memberikan kita waktu untuk bernapas," gumamnya.
Arlo berdiri di mulut batu, menatap ke arah Menara Merah yang kini terasa seperti monster yang sedang menertawakan mereka dari kejauhan. Perjalanan yang dikira tinggal satu atau dua hari itu kini harus tertunda. Mereka tidak mungkin meninggalkan Rayden dalam keadaan seperti ini.
"Kita akan bertahan di sini sampai Rayden stabil," putus Arlo. "Kita tidak akan meninggalkan siapa pun lagi."
Di bawah naungan batu besar itu, lima belas orang itu kembali berkumpul dalam kecemasan. Duka atas Becca belum hilang, dan kini nyawa Rayden berada di ujung tanduk. Meskipun Rayden masih sempat melontarkan kata-kata absurdnya di tengah rasa sakit, mereka tahu bahwa perjalanan menuju Menara akan menjadi jauh lebih sulit mulai dari titik ini.