Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Di fakultas lain, reputasi Shelina ternyata sama menyeramkannya.
Begitu langkahnya memasuki ruang kelas fakultas tempat Riko, ketua geng Meteor berada, suasana yang tadinya riuh mendadak berubah setengah hati. Beberapa mahasiswa masih tertawa, ada yang sengaja menggeser kursi dengan suara keras, ada pula yang santai menyandarkan kaki ke meja.
Shelina berhenti tepat di depan kelas. Tasnya diletakkan perlahan di meja dosen. Tatapannya menyapu ruangan yang dingin, dan tajam, tanpa senyum.
“Selamat pagi,” ucapnya datar.
Tak serempak, tak ada rasa hormat. Bahkan, ada yang masih sibuk dengan ponsel.
Shelina menghela napas pelan.
“Baik,” katanya tenang, terlalu tenang untuk ukuran orang yang sudah marah.
“Sepertinya saya salah jadwal. Ini kelas atau warung kopi?”
Beberapa mahasiswa saling pandang, ada yang terkekeh pelan. Shelina menyalakan proyektor dan lalu mematikannya lagi.
“Saya belum mulai mengajar,” katanya tegas, “tapi tingkat ketidaksopanan kalian sudah cukup untuk membuat saya menilai satu fakultas ini.”
Nada suaranya naik satu oktaf.
“Siapa yang merasa kelas ini tempat bebas ribut, silakan keluar sekarang.”
Tak ada yang bergerak, Shelina tersenyum tipis dan senyum yang justru membuat suasana makin tegang.
“Baik, berarti kalian siap menanggung konsekuensinya.”
Ia membuka daftar hadir.
“Absensi hari ini saya ambil berdasarkan sikap. Yang ribut, yang sibuk sendiri, yang merasa hebat karena geng di luar sana akan saya catat.”
Nama demi nama dipanggil, beberapa mahasiswa mulai gelisah. Satu orang di barisan belakang dan anggota Meteor akan mendecak kesal.
“Ah, lebay amat, Miss,” celetuknya setengah berani.
“Santai aja kali.”
Kalimat itu seperti menyulut api. Shelina menoleh cepat dan tatapannya menusuk lurus ke arah mahasiswa itu.
“Kamu,” katanya dingin. “Berdiri!”
Mahasiswa itu berdiri setengah malas.
“Nama.”
Ia menyebutkan namanya dengan nada menantang, Shelina mengangguk pelan.
“Mulai hari ini, setiap tugas kamu saya periksa dua kali lebih ketat dari yang lain. Satu kesalahan kecil, ulang. Kamu paham?”
Ruangan hening, Mahasiswa itu mengerutkan kening.
“Miss nggak adil.” Sekejap, Shelina menutup daftar hadirnya.
“Adil?” ulangnya tajam. “Adil itu kamu datang ke kelas untuk belajar, bukan untuk pamer sikap preman kampus.”
Beberapa anggota Meteor langsung tersinggung. Ada yang berdiri setengah, kursinya berderit keras.
“Jaga omongan, kamu Miss,” ucap salah satu dari mereka. “Kami juga punya harga diri.”
Shelina melangkah maju satu langkah. Suaranya tenang, tapi penuh tekanan.
“Harga diri tidak pernah lahir dari ribut, ancam, atau merasa kuat karena kelompok. Harga diri lahir dari otak yang dipakai.”
Ia menatap seluruh kelas.
“Dan kalau ada yang merasa tidak sanggup mengikuti aturan saya, pintu ada di belakang.”
Tak satu pun berani bergerak, Shelina kembali ke mejanya, merapikan jas, lalu berkata dingin,
“Sekarang duduk. Kita mulai pelajaran, dan satu hal lagi ... di kelas saya, tidak ada geng, tidak ada senioritas. Yang ada hanya mahasiswa dan dosen.”
Kelas itu akhirnya sunyi, bukan karena patuh sepenuhnya tetapi melainkan karena sadar, hari itu mereka berhadapan dengan dosen killer yang tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun, bahkan oleh nama besar geng Meteor sekalipun.
Riko mengepalkan tangannya di bawah meja. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ucapan Miss Shelina masih terngiang jelas di kepalanya, dingin, merendahkan, menusuk harga diri yang selama ini ia banggakan di kampus itu.
Teman-temannya menangkap perubahan raut wajah Riko. Satu per satu ikut tersulut. Ada yang menggeram pelan, ada yang menendang kaki kursi dengan kesal. Namun, tak satu pun yang berani bersuara. Aura Shelina terlalu menekan. Bahkan, geng Meteor yang biasa ditakuti pun memilih menelan amarah mereka mentah-mentah.
Ketika bel tanda akhir kelas berbunyi, Shelina menutup laptopnya tanpa menoleh lagi. Ia mengucapkan kalimat penutup singkat, lalu melangkah keluar kelas dengan punggung tegak dan seolah tak meninggalkan bara di belakangnya.
Pintu menutup, baru setelah itu ruangan kembali bernapas. Riko berdiri lebih dulu, kursinya terseret keras, memecah keheningan.
“Kurang ajar,” gumamnya, suara rendah tapi penuh racun.
Beberapa anak Meteor mengelilinginya. Wajah-wajah mereka gelap, mata menyimpan emosi yang sama.
“Dia kira dia siapa?” bisik salah satu dari mereka.
“Dosen doang berani ngerendahin kita,” sahut yang lain.
Riko tersenyum tipis dan bukan senyum ramah, melainkan senyum yang lahir dari rasa tersinggung yang terlalu lama dipendam.
“Tenang,” katanya akhirnya. “Ada orang yang perlu dikasih pelajaran. Biar tahu, nggak semua bisa dia injak begitu aja.”
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.