Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namanya Katyamarsha
Rumah kontrakan mungil di gang sempit itu ditinggali Arman dan Resti. Donny, sang sahabat sepulang kerja menyempatkan diri menengok sahabatnya yang baru saja jadi orangtua. Sang bayi digendong dengan lembut oleh Donny. "Lucu sekali, Man, anakmu! cantik! Siapa namanya?"
"Hmmm, belum fix sih, atau kau mau ngasih nama anakku?"
"Apa ya?! aku suka nama Katya dan juga nama Marsha! "
"Kamu suka nama itu karena mantanmu ya? " Arman terbahak.
"Hahaha, enggaklah, masa ngasih nama mantan sama anak sobat sih! bukan gayaku" Donny menimang-nimang si bayi. Nampak bayi itu tenang dan tersenyum. Donny berseru dalam hati, namamu depanmu "Katyamarsha" aja ya!
"Emang apa artinya nama itu, Don?"
"Katya dari bahasa Rusia, bentuk pendek dari Katherine yang berarti “murni”, “tulus”, dan “bersih hati”, sedangkan Marsha berasal dari bahasa Latin yang artinya “lembut”, “penuh kasih”, dan dalam beberapa tafsir bebas juga dimaknai sebagai “perempuan yang kuat dengan hati yang hangat”
"Mantap! hebat, aku kok suka ya! ok nanti kita umumkan siapa namanya! "
21 tahun telah berlalu.
Katya pertama kali mengenal Donny bukan sebagai calon suami, melainkan sebagai “Om Donny”—nama yang selalu disebut ayahnya dengan nada hormat dan bangga. Ia muncul di rumah mereka seperti bagian dari perabot lama: selalu ada, selalu tepat waktu, dan tak pernah terasa asing. Donny duduk di ruang tamu sambil menunggu ayah Katya pulang dari masjid, menyeruput kopi hitam tanpa gula, berbincang tentang pekerjaan, tentang masa lalu yang Katya tak pernah benar-benar pahami.
Bagi Katya yang baru menginjak usia dua puluh satu, Donny hanyalah bayangan dewasa dari dunia yang belum ingin ia masuki. Dunia lelaki mapan, disiplin, dan penuh aturan. Ia sendiri masih sibuk dengan jadwal kuliah, organisasi kampus, tawa bersama teman-teman, dan mimpi-mimpi kecil yang belum sempat diberi nama.
Namun kebiasaan adalah jebakan yang halus.
Donny mulai mengenali Katya bukan sebagai anak kecil yang dulu berlarian di halaman rumah, melainkan sebagai perempuan muda yang tumbuh anggun tanpa meminta izin. Ia melihat perubahan itu dalam hal-hal sepele: cara Katya menyampirkan tas, caranya diam ketika lelah, caranya tertawa yang kini lebih jarang—namun lebih dalam.
Mereka sering bertemu tanpa janji. Di meja makan. Di teras rumah. Di sela percakapan ayah dan sahabatnya. Donny selalu menjaga jarak, memilih duduk sedikit lebih jauh, berbicara secukupnya. Tapi Katya, dengan keceriaannya, tak pernah merasa ada yang perlu dijaga.
“Om Donny capek?” tanyanya suatu sore, saat hujan turun tanpa peringatan.
Donny mengangguk singkat. “Sedikit.”
Itu saja. Tak ada drama. Tak ada getar. Tapi sejak hari itu, Donny mulai menyadari sesuatu yang berbahaya: ia menunggu suara Katya.
Katya sendiri tak pernah menyebut ini cinta. Baginya, Donny adalah sosok aman—tenang, dewasa, dan selalu ada saat ayahnya membutuhkan. Ia menghormatinya seperti ia menghormati ayahnya sendiri. Kadang ia merasa nyaman bercerita hal remeh, kadang ia lupa bahwa pria di depannya berusia dua kali lipat darinya.
Ia tak tahu bahwa setiap senyum polosnya adalah pergulatan bagi Donny.
Donny tahu batas. Ia tahu usia. Ia tahu dunia Katya bukan dunianya. Ia pernah kehilangan seorang istri—dan bersumpah tak akan lagi melibatkan hati pada sesuatu yang belum tentu pantas. Tapi hidup punya caranya sendiri untuk menguji janji.
Ada malam-malam ketika Donny pulang dengan perasaan bersalah, hanya karena memikirkan Katya lebih lama dari seharusnya. Ada doa-doa yang ia potong di tengah jalan, takut jika Tuhan membaca isi hatinya terlalu jelas.
Sementara Katya, tanpa sadar, mulai mengenal kehadiran Donny sebagai sesuatu yang konstan. Ia tak merindukannya. Ia hanya merasa ada yang hilang ketika Donny tak datang.
Mereka belum jatuh cinta.
Belum saling memiliki.
Belum melanggar apa pun.
Namun di antara jarak usia, diam yang terlalu panjang, dan kebiasaan yang terlanjur nyaman—takdir sudah mulai menyusun rencananya sendiri.
Dan tak satu pun dari mereka siap ketika rencana itu akhirnya diucapkan dengan kata: menikah.