"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: KARMA YANG BERHEMBUS DINGIN
BAB 25: KARMA YANG BERHEMBUS DINGIN
Gudang penyimpanan milik keluarga Adiwangsa di pinggiran Jakarta Utara itu tidak pernah terasa sesunyi ini. Aroma karat dan debu yang tebal menggantung di udara, diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip pucat. Di tengah ruangan, terikat pada sebuah kursi kayu tua, Siska menangis tersedu-sedu. Wajahnya yang dulu dipoles kosmetik mahal kini berantakan; maskaranya luntur membentuk garis-garis hitam di pipinya yang cekung, dan gaun merahnya—gaun yang dulu ia pamerkan saat merebut Raka—kini sobek dan kotor.
Langkah kaki terdengar menggema di atas lantai beton. Suaranya ritmis, tegas, dan dingin. Klik... klik... klik... Suara hak sepatu tinggi itu perlahan mendekat dari balik bayangan.
"Tolong... lepaskan aku..." rintih Siska dengan suara serak. "Aku tidak tahu apa-apa! Raka yang melakukan semuanya! Aku hanya dipaksa!"
Alana melangkah masuk ke dalam lingkaran cahaya. Ia mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja sutra berwarna merah darah di dalamnya. Tidak ada lagi raut kesedihan di wajahnya. Hanya ada sepasang mata yang sedingin es kutub. Di belakangnya, Bima dan Arya berdiri seperti patung, menjaga pintu keluar dengan senjata yang tersampir di bahu mereka.
Alana menarik sebuah kursi besi, meletakkannya tepat di hadapan Siska, dan duduk dengan menyilangkan kaki dengan sangat elegan.
"Dipaksa, Siska?" Alana bertanya dengan nada yang sangat tenang, namun justru itulah yang membuatnya terdengar mengerikan. "Bukankah kau yang dulu bilang bahwa kau melakukan semuanya demi cinta? Bukankah kau yang dengan bangga memamerkan kemesraanmu dengan suamiku saat aku sedang berjuang mempertahankan perusahaan kita?"
Siska mendongak, matanya membelalak ketakutan melihat Alana yang sekarang. "Alana... aku... aku minta maaf. Aku khilaf. Raka yang merayuku! Dia bilang dia tidak pernah mencintaimu!"
Alana tertawa kecil, suara tawa yang hampa. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Siska. "Raka memang bajingan. Tapi kau adalah parasit yang memilih untuk memakan bangkai itu. Dan sekarang, parasit itu sedang ketakutan karena inangnya akan segera mati."
Alana mengeluarkan sebuah belati kecil dari saku jasnya—sebuah pisau latihan yang ia bawa dari Jerman. Ia memainkan pisau itu di depan mata Siska, membiarkan cahayanya memantul di bola mata wanita itu yang bergetar.
"Aku tidak butuh maafmu, Siska. Maafmu tidak akan mengembalikan darah yang hilang dari tubuh Kenzo. Maafmu tidak akan menghapus sepuluh tahun penderitaanku," Alana menyentuh pipi Siska dengan sisi tumpul pisaunya. "Aku hanya butuh satu hal. Di mana Raka bersembunyi?"
"Aku tidak tahu! Dia meninggalkanku di kontrakan! Dia pergi membawa tasmu!" jerit Siska.
Alana memberi isyarat pada Arya. Dengan cepat, Arya menyiramkan seember air es ke arah Siska, membuat wanita itu tersedak dan menggigil hebat.
"Jangan berbohong padaku. Aku tahu Raka selalu menghubungimu lewat ponsel satelit pemberian Wilhelm," ucap Alana. "Satya sudah melacak beberapa sinyal, tapi Raka berpindah-pindah. Dia pasti memberitahumu titik temu terakhir jika keadaan mendesak. Karena dia butuh kau untuk mencuci uang haramnya, bukan?"
Siska terdiam, tubuhnya bergetar hebat antara kedinginan dan ketakutan.
"Dengar, Siska," suara Alana melunak, namun penuh manipulasi. "Raka sekarang bekerja untuk Wilhelm von Heist. Kau tahu siapa mereka? Mereka bukan pengusaha. Mereka adalah sindikat yang tidak akan membiarkan saksi hidup. Begitu Raka memberikan apa yang mereka mau, kau adalah orang pertama yang akan dilenyapkan agar tidak ada jejak. Jika kau membantuku, aku bisa menjamin kau masuk penjara dengan aman. Tapi jika kau diam saja... aku akan membiarkan pengawal Wilhelm menemukanmu di sini."
Siska menatap Alana dengan putus asa. Ia tahu Alana benar. Raka sudah beberapa kali mengancam akan membunuhnya jika ia berani mengeluh.
"Dia... dia di gudang tua Pelabuhan Sunda Kelapa," bisik Siska akhirnya. "Gudang nomor 4. Dia menunggu kapal kargo dari Jerman yang akan menjemputnya malam ini pukul dua pagi. Dia membawa dokumenmu dan... dan dia berencana menculikmu kembali jika serangan di tol gagal."
Alana berdiri, melipat kembali pisau kecilnya. Ia menoleh ke arah Bima. "Bawa dia ke sel bawah tanah di kediaman kita. Jangan biarkan dia mati, tapi jangan biarkan dia merasa nyaman juga. Dia adalah jaminan kita jika Raka mencoba melakukan sesuatu yang bodoh."
Pukul 01:00 Pagi – Pelabuhan Sunda Kelapa.
Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam dan solar yang menyengat. Alana berdiri di atas atap sebuah gedung tua yang menghadap langsung ke Gudang Nomor 4. Ia mengenakan pakaian taktis hitam, rambutnya diikat ekor kuda yang rapi. Di sampingnya, Kenzo berdiri dengan bahu yang masih dibalut perban, namun ia menolak untuk tetap tinggal di rumah sakit.
"Kau seharusnya tidak di sini, Kenzo," bisik Alana tanpa menoleh.
"Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi iblis itu sendirian lagi, Alana," sahut Kenzo. Ia memegang sebuah senapan runduk (sniper rifle) dengan mantap, meski luka di bahunya pasti terasa sangat nyeri setiap kali ia bergerak. "Aku berjanji akan menjagamu, dan aku akan menepatinya sampai napas terakhirku."
Alana menatap Kenzo, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya di tengah dinginnya malam. "Terima kasih. Tapi malam ini, biarkan aku yang menyelesaikannya. Aku harus menunjukkan pada Raka bahwa boneka yang dulu ia injak-injak telah berubah menjadi algojo bagi hidupnya."
Di bawah sana, di depan Gudang 4, sebuah mobil boks hitam terlihat parkir. Raka keluar dari mobil itu, tampak sangat waspada. Ia memegang sebuah tas—tas milik Alana yang dicurinya di jalan tol. Ia sedang berbicara lewat telepon, suaranya terdengar samar namun penuh nada kemenangan.
"Ya, Tuan Wilhelm. Aku sudah di lokasi. Begitu kapal tiba, aku akan naik. Tapi aku ingin sisa pembayarannya dikirim sekarang!" teriak Raka ke ponselnya.
Alana memberi isyarat kepada tim taktis Adiwangsa melalui earpiece-nya. "Grup Satu, bergerak dari sisi timur. Grup Dua, blokir jalur pelarian di dermaga. Tunggu perintahku."
"Mengerti, Nona," suara Elvan terdengar dari radio.
Alana mulai turun dari gedung menggunakan tali rappelling dengan gerakan yang sangat terlatih—hasil dari didikan keras Maximilian di Jerman. Ia mendarat di balik tumpukan kontainer, hanya beberapa meter dari tempat Raka berdiri.
"Raka Ardiansyah," suara Alana menggema di kesunyian dermaga.
Raka tersentak, menjatuhkan ponselnya, dan segera mencabut pistol dari pinggangnya. "Siapa itu?! Alana?! Keluar kau!"
Alana melangkah keluar dari kegelapan. Ia berdiri dengan tenang, tanpa senjata di tangan yang terlihat, namun auranya sangat mengintimidasi. "Kau mencariku, kan? Kau ingin darahku? Sini, ambillah jika kau berani."
Raka tertawa gila, tangannya gemetar saat mengarahkan pistol ke arah Alana. "Kau bodoh! Kau datang ke sini untuk mati?! Mana pengawalmu? Mana kekasih pahlawanmu itu?!"
"Aku tidak butuh mereka untuk menghadapi pria pengecut sepertimu, Raka," Alana berjalan perlahan mendekat, tidak takut pada moncong senjata itu. "Kau pikir kau hebat karena bekerja untuk Wilhelm? Kau hanya anjing pelacak bagi mereka. Begitu kau naik ke kapal itu, kau tidak akan dibawa ke Jerman. Kau akan dibuang ke tengah laut sebagai makanan hiu."
"Bohong! Mereka membutuhkanku!" jerit Raka.
"Mereka hanya butuh dokumen di tanganmu itu. Dan mereka sudah tahu bahwa aku ada di sini," Alana berhenti sekitar lima meter dari Raka. "Lihatlah ke belakangmu."
Raka menoleh sejenak, dan pada saat itulah Alana bergerak secepat kilat. Ia menendang tangan Raka hingga pistolnya terpental, lalu melakukan pukulan telak ke arah ulu hati pria itu. Raka tersungkur, mengerang kesakitan.
Alana menginjak tangan Raka yang mencoba meraih pistol kembali. "Itu untuk pengkhianatanmu selama tiga tahun pernikahan kita."
Alana kemudian menendang wajah Raka hingga hidungnya patah. "Itu untuk setiap tetes darah Kenzo yang tumpah di jalan tol."
Raka mencoba bangkit, wajahnya dipenuhi darah dan debu. "Kau... kau sudah menjadi iblis, Alana!"
"Aku hanya menjadi apa yang kau buat, Raka," Alana mengambil tasnya yang terjatuh.
Tiba-tiba, sebuah lampu sorot raksasa menyala dari arah laut. Sebuah kapal kargo besar mulai mendekati dermaga. Namun, bukan kapal bantuan yang datang, melainkan kapal patroli milik kepolisian air yang sudah dipesan oleh Kenzo melalui koneksi Dirgantara.
"Polisi! Jangan bergerak!" suara pengeras suara menggema di seluruh pelabuhan.
Raka tertawa parau, menyadari bahwa ia telah benar-benar terjebak. "Jika aku mati, kau tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya yang membunuh ibumu sepuluh tahun lalu, Alana! Bukan hanya Wilhelm... ada orang lain!"
Alana membeku. "Apa maksudmu?"
"Ayah Kenzo!" teriak Raka sebelum ia mencoba melompat ke laut untuk melarikan diri. "Tanya pada Tuan Besar Dirgantara, kenapa mobil ibumu bisa ada di jalur itu malam itu! Tanya padanya!"
SPLASH!
Raka melompat ke air yang gelap. Tim penyelam kepolisian segera terjun untuk mencarinya, namun Alana tetap berdiri di pinggir dermaga dengan tubuh gemetar.
Kenzo turun dari atap, segera mendekap Alana. "Alana, jangan dengarkan dia! Dia hanya mencoba memecah belah kita!"
Alana menatap Kenzo dengan mata yang dipenuhi keraguan baru. "Kenzo... jika yang dikatakannya benar... jika keluargamu terlibat dalam kematian ibuku... apa yang harus kulakukan?"
Di kejauhan, sirine polisi meraung-raung, menandakan berakhirnya pelarian Raka, namun bagi Alana dan Kenzo, sebuah konflik baru yang jauh lebih gelap baru saja terbuka. Rahasia masa lalu antara Adiwangsa dan Dirgantara kembali menghantui, mengancam untuk menghancurkan cinta yang baru saja mereka perjuangkan kembali.