Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sebuah Pertemuan Yang Tidak Terduga
Malam di Bandung terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Syafina saja. Ia duduk di kursi belakang mobil Dallas bersama Syafini, sementara Dalfas duduk di depan bersama sang Papa. Syafina mengenakan gamis berwarna nude dengan kerudung senada, terlihat sangat anggun meski wajahnya menyiratkan sedikit kebingungan.
"Pa, ini jalannya kok bukan ke arah restoran yang biasa kita datangi?" tanya Syafina saat mobil berbelok ke sebuah kawasan perumahan asri yang jalannya dipayungi pohon-pohon cemara.
"Iya, Papa lupa bilang. Kita mampir sebentar ke rumah teman lama Papa. Sekalian makan malam di sana, mereka sudah masak banyak," jawab Dallas santai, matanya melirik Dalfas lewat spion tengah. Dalfas hanya tersenyum penuh arti.
Syafina hanya menghela napas. Ia sudah terlalu lelah dengan UAS pagi tadi jika harus memprotes. Ia hanya ingin makan, lalu pulang dan tidur. Ia sama sekali tidak menaruh curiga, bahkan saat mobil Dallas berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial dengan pintu jati yang besar.
Di dalam rumah, suasana tidak kalah tegangnya. Erlaga duduk di sofa ruang tamu yang empuk, namun punggungnya terasa kaku. Ia mengenakan kemeja batik berwarna gelap yang membuat kulitnya yang sedikit menghitam akibat matahari Sudan terlihat lebih matang.
Setiap kali teringat pemandangan di pujasera dua hari lalu, Syafina yang tertawa manja di depan pria berseragam Akmil itu, hati Erlaga seperti disayat sembilu. Namun, ia sudah bertekad. Kali ini ia akan menjadi anak yang berbakti.
"Ga, kamu sudah siap? Sebentar lagi mereka sampai," suara Pak Erkana memecah lamunan Erlaga.
"Siap, Pa," jawab Erlaga singkat. Suaranya berat dan datar. "Laga akan terima perjodohan ini."
Pak Erkana tersenyum misterius. "Bagus. Kamu sungguh tidak akan menyesal menerima perjodohan ini," ucap Pak Erkana sangat yakin.
Tidak lama kemudian, suara deru mobil terdengar di halaman. Jantung Erlaga berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta pada calonnya, tapi karena ia merasa sedang mengkhianati perasaannya sendiri. Ia berdiri, merapikan kemejanya, dan melangkah menuju pintu jati bersama kedua orang tuanya.
Syafina turun dari mobil dengan malas. Ia merapikan gamisnya lalu berjalan di belakang Dallas dan Syafana yang menuntun Syafini. Syafina berjalan berdampingan dengan Dalfas yang tampan dan gagah.
"Ayo, Fin, Dalfas, jalan di depan Papa," suruh Dallas.
Saat pintu jati besar itu terbuka, aroma pengharum ruangan melati langsung menyapa indra penciuman Syafina. Ia menunduk, bersiap memberikan salam dengan sopan sebagaimana didikan di pondok dulu.
"Assalamualaikum...." ucap keluarga Dallas serempak.
"Waalaikumsalam...." Suara Pak Erkana menyambut hangat.
Syafina mendongak untuk menyalami tuan rumah. Namun, gerakannya terhenti seketika. Ia terkejut. Matanya membelalak. Di depan sana, berdiri seorang pria yang sangat ia kenali. Pria yang kulitnya kini lebih gelap, tubuhnya lebih kurus namun jauh lebih tegap, dan sorot matanya yang tajam itu....
"Kak... Laga?" bisik Syafina nyaris tak terdengar.
Di sisi lain, Erlaga seolah tersambar petir di siang bolong. Ia melihat Syafina berdiri di depannya. Tapi sedetik kemudian, matanya menangkap sosok pria di samping Syafina. Pria berseragam Akmil yang ia lihat di pujasera tempo hari.
Kemarahan dan kekecewaan langsung naik ke ubun-ubun Erlaga.
"Syafina dan cowok itu? Ada hubungan apa Syafina dengan Pak Dallas?" batinnya bertanya-tanya,
"Berani-beraninya dia membawa pacarnya ke rumah orang tuaku?" Eralga masih membatin. Ia merasa dihina secara terang-terangan. Baginya, kehadiran pria berseragam itu adalah sebuah pernyataan perang.
"Selamat datang, Dallas! Wah, ini dia calon perwira kita, Dalfas ya?" sapa Pak Erkana sambil menjabat tangan Dalfas dengan akrab.
Erlaga mematung. "Dalfas? Calon perwira?"
"Laga, kenapa kamu ini bengong? Itu Pak Dallas mantan Komandanmu. Jiwa kamu ini sepertinya masih berada di Sudan, ya?" tegur Pak Erkana, ia menyenggol lengan Erlaga yang terlihat masih bengong.
Erlaga mengukir senyum hormat, lalu menghampiri Dallas dan menjabat tangannya. Satu per satu mulai ia jabat tangannya. Sampai pada tangan Dalfas, Pak Erkana bicara.
"Nah itu Dalfas, adiknya Syafina. Dia baru lulus Akmil kemarin," Dallas menepuk bahu Dalfas, lalu menunjuk Syafina yang masih berdiri kaku. "Dan ini Syafina, putri sulung Papa. Kamu tentu masih ingat bukan? Syafina adalah anak Pak Dallas yang setahun lalu mau Papa kenalkan sama kamu."
"Sayangnya, Erlaga keburu dapat panggilan tugas dari Mabes ke Sudan," sela Dallas.
Pak Erkana dan Bu Zahira mempersilahkan tamunya duduk. Sementara Erlaga masih bingung dan merasa semua yang di depannya mimpi.
Erlaga merasa dunianya seolah jungkir balik. Oksigen di sekitarnya mendadak hilang. "Adik? Pria yang dia lihat di kedai bakso setahun lalu, dan pria di pujasera dua hari lalu... adalah adiknya? Dia juga baru lulus Akmil? Jadi, selama ini, aku sudah salah paham?"
Rasa malu, lega, dan merasa bodoh bercampur menjadi satu di dada Erlaga. Selama ini dia cemburu pada pria yang menjadi adik Syafana sendiri? Selama ini dia mempertaruhkan nyawa di Sudan dengan rasa sakit hati yang ternyata salah sasaran?
"Dan...ternyata...Syafina adalah anak dari mantan Komandanku?"
Sama halnya dengan Syafina, ia merasakan kakinya lemas. Semua potongan puzzle di kepalanya menyatu dengan paksa. Erlaga yang ia temui di pujasera, lalu meninggalkannya di kedai bakso, dan Erlaga "anak teman Papanya" yang terluka di Sudan... mereka ternyata orang yang sama.
Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada yang menyangka kalau Syafina dan Erlaga sudah saling kenal. Dan saat ini mereka sedang terjadi pergolakan batin masing-masing. Masih mencerna akan pertemuan yang tidak disangka-sangka ini.
Diam-diam Syafina menoleh dengan ujung mata, ingin melihat Erlaga. Dan dia memang Erlaga, pria bertubuh atletis yang wajahnya rupawan saat itu.
"Tidak salah lagi. Ini memang Kak Erlaga yang aku kenal, meskipun sekarang tubuhnya sedikit kurus dan kulitnya sedikit gelap," batin Syafina kemudian menunduk lagi, takut matanya bertemu Erlaga.
Erlaga yang tengah duduk gelisah di samping Pak Erkana, pikirannya tidak jauh seperti Syafina, dia menarik napas panjang untuk membuang rasa gugup yang tiba-tiba datang.
"Andai saja dulu aku tahu kalau anak teman Papa itu adalah Syafina. Mungkin saja saat itu kami sudah melanjutkan hubungan, lalu setelah aku kembali Satgas dari Sudan, kami langsung menikah. Ternyata setahun kami berpisah, Syafina semakin cantik dan dewasa."
"Lalu, apakah Syafina masih menyimpan kalung liontin separuh pemberianku setahun yang lalu?"
"Laga... Sekarang gimana bekas lukanya, apa masih suka terasa sakit?"
Erlaga tersentak, saat sebuah pertanyaan dari seorang Komandan tertuju padanya.
"Siap, Dan. Lukanya memang sembuh, tapi sesekali tiba-tiba ada efek seperti kesemutan dan berdenyut," jawab Erlaga dengan wajah yang terkesiap persis orang yang kaget karena lamunannya terganggu.
Semua mata tertuju pada Erlaga, kecuali Syafina, mereka menduga kalau Erlaga tengah memikirkan perkenalannya dengan Syafina barusan.
Mari kita bernapas dulu. Biarkan Syafina dan Erlaga saling adaptasi dan mengurai kesalahpahaman yang lalu.