Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab dua satu
Semalaman Jake memikirkan ucapan Luca. Anak sekecil itu begitu memahami perkataan orang tua. Entah sekeras apa kehidupannya saat ini. Ia bingung harus melakukan apa. Satu sisi wanita yang sudah sepenuhnya memegang hatinya tetapi satu sisi anaknya.
Luca bersikap dingin dan tegas padanya seolah ia tidak boleh menyentuh Caroline. Bagaikan ia musuh Caroline dan dirinya yang sangat di waspadai
Anaknya saja memperlakukannya seperti itu. Entah bagaimana ia bisa mempertahankan rumah tangganya. Kakek dan Neneknya saja menyiksanya demi mendapatkan tanda tangannya ia tidak peduli.
Ia tetap mempertahankan tangannya agar tidak menandatangani surat perceraian itu. Namun ia takut pada akhirnya anaknya lah yang ingin memisahkan mereka.
"Aku harus berbicara dengan Luca. Kakek pasti tau keberadaan mereka." Nomor Caroline sudah tidak aktif dan membuatnya kesulitan. "Berarti selama ini kakeknya membohonginya dan mengatakan keberadaan Caroline tidak mengetahuinya."
"Aku harus ke mansion." Setelah kepergian Caroline. Dia di usir dari mansion. Kali ini yang pertama kalinya lagi ia menginjakkan kedua kakinya.
Sementara itu, Tommy memohon untuk bertemu Luca. Dia menekukkan kedua lututnya ke lantai. Berharap kakek Jakson mau mempertemukannya.
"Kakek aku mohon. Aku ingin bertemu dengan Luca."
"Apa kau pikir Luca anak mu?" Tanya kakek Jakson. Sungguh memalukan perlakuan mereka pada Caroline. Seenaknya saja mereka mempermainkan Caroline. "Setelah apa yang kalian lakukan? Kalian masih memiliki muka untuk bertemu dengan Caroline."
Kakek Jakson berdiri. Setelah kepergian Caroline dia menyuruh Tommy menjadi kuli bangunan tanpa di bayar, bekerja keras membangun perusahannya lagi.
"Pria seperti mu."
Plak
Kakek Jakson menampar Tommy. "Tidak pantas bertemu dengan mereka."
Caroline mendatangi kakek Jakson karena Luca ingin bertemu dengannya.
"Kakek." Luca berteriak. Dia lalu memeluk kakek Jakson.
Kakek Jakson mencium Luca. Tommy menoleh ke arah Caroline.
Caroline memalingkan wajahnya samhil tersenyum sinis. Kuat juga tekad Tommy padanya.
"Kakek, kami membawakan kue untuk Kakek." Caroline menaruh kue di tangannya lalu menyerahkan pada kakek Jakson. Dia melirik Tommy. "Kakek ada apa ini? Kenapa Tommy ada di sini."
"Dia ingin bertemu dengan kalian. Padahal dia tidak pantas melakukannya."
Caroline menatap Tommy. Pria itu sama sekali tidak berarti baginya. "Kakek Tommy sangat mencintai Aurora. Bagaimana kalau kita buat pernikahan megah untuk mereka." Namun sebelum itu, ia harus membalas Aurora lebih dulu. Bukankah mereka sangat mencintai anak? Ia akan memulainya dari Aurora.
"Caroline aku tidak menyukai Aurora." Tegas Tommy.
Caroline menatap Jake yang baru saja sampai. Adik dan kaakak yang begitu menakjubkan dan mempermainkan perasaannya. "Jake kau ada di sini."
'Suatu saat nanti aku akan membuat kalian menikah dengan Aurora.'
Drt
Caroline menatap ponselnya. Dia tersenyum mendapatkan panggilan balik dari Aurora. Tadinya ia mengirim pesan singkat. "Kakek aku permisi dulu."
"Aurora."
"Caroline apa benar yang kamu katakan?" Tanya Aurora. Dia menerima pesan singkat bahwa Caroline akan membuatnya menikah dengan Jake.
"Iya, aku akan mengatur bagaimana Jake menghabiskan malam dengan mu. Tetapi kau harus bersabar," ucap Caroline.
'Aku akan membuat mu hamil tapi bukan anak Jake atau Tommy. Setelah itu, aku ingin lihat bagaimana kau menyombongkan dirimu di hadapan ku.'
"Hanya aku yang bisa membantu mu. Jika kau hamil anak Jake atau Tommy. Semua itu akan mudah bagi mu."
'Dulu kau yang membuat mereka menyiksa ku dan sekarang aku yang akan membuat mereka menyiksa mu'
Caroline menutup obrolannya. Dia akan mengatur sebuah rencana yang begitu matang untuk menyebak Jake dan Tommy.
Caroline menghubungi Jake. Dalam hitungan detik Jake mengangkat ponselnya. "Jake."
Suara lembut Caroline membuat tubuh Jake berdesir. "Carol."
Jake merasakan ada hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Air matanya jatuh membasahi pipinya. "Carol ini kau. Aku merindukan mu." Ia mengusap air matanya.
Caroline tersenyum dalam hatinya sungguh menjijikkan ucapan Jake. "Ah, iya. Aku ingin bertemu dengan mu berbicara empat mata di sebuah hotel."
"Hotel?" Jake merasa ada sesuatu yang penting namun ia tidak sampai berpikir negatif pada Caroline. Justru ia merasa Caroline ingin memberikannya kesempatan.
"Caroline aku merindukan mu."
Tidak bisa ia menahan ucapan di hatinya untuk di lintarkan pada Caroline.
"Jake mari kita bertemu. Setelah aku memikirkannya sepertinya memang kita harus bertemu besok malam."
Jake merasa senang. Ini kesempatannya untuk meyakinkan Caroline. "Baiklah, dimana?"
"Di hotel xxx."
Jake merasa aneh namun ia menepis perasaan anehnya. Yang terpenting baginya untuk bertemu dengan Caroline.
Jake bersiap-siap. Dia menggunakan jas yang terbaik sampai isi di lemari itu berada di atas kasur. Ia ingin memilih jas yang bisa membuatnya terlihat tampan.
"Caroline aku harus meyakinkan mu."
Jake melihat ponselnya. Caroline menitipkan sebuah pesan kamar hotelnya. Entah apa yang ingin Caroline bicarakan, tapi ia bersyukur karena Caroline memberikan kesempatan padanya.
Jake membawa sebuket bunga mawar merah. Lalu mengetuk pintu.
Caroline menoleh ke arah pintu. Dia membuka pintu itu dan menyambut Jake dengan senyumannya.
"Masuklah Jake."
"Caroline ini untuk mu," ucap Jake.
Caroline menerima buket mawar itu lalu menciumnya. "Jake duduklah dulu."
Jake mengikuti ucapan Caroline. Dia menunggu ucapan berikutnya dari Caroline.
"Jake sepertinya memang kita harus berdamai. Aku lelah dengan masalah ini Jake." Caroline menunduk. "Aku akan coba menerima mu sebagai seorang teman dulu. Aku pelan-pelan memperbaiki hati ku."
Jake tersenyum lebar. Di dalam hatinya seolah ada bunga mawar yang meledak-ledak.
"Caroline terima kasih banyak." Jake meraih tangan Caroline dan menggenggamnya.
Tok
Tok
"Aku membuka pintu dulu." Caroline melirik Jake dan tersenyum penuh kemenangan.
Jake yang merasa senang pun sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun. Dia menatap Caroline yang berbicara dengan seorang pelayan laki-laki.
"Silahkan masuk."
Pelayan itu menaruh beberapa hidangan dan dua minuman anggur. "Selamat menikmati," ucapnya dengan ramah.
Caroline mengambil segelas anggur di depannya lalu meneguknya. "Jake sebaiknya kita minum dulu."
Jake mengangguk, dia pun meneguk anggur itu hingga habis. "Caroline aku sangat mencintai mu."
"Jake aku akan sekali lagi mempercayai mu."
Jake memejamkan kedua matanya. Kepalanya terasa pusing namun ia masih menahannya.
Drt
Caroline menatap Jake sepertinya obatnya sudah mulai bekerja. "Apa? Jake aku harus pulang dulu. Luca mencari ku."
Caroline bergegas pergi. Saat Jake ingin mengejar Caroline kepalanya samekin pusing dan tidak terkendalikan hingga dia pingsan di lantai.
Caroline menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan tersenyum. Dia menghubungi seseorang. "Pindahkan wanita itu ke kamar xxx," ucap Caroline.
"Jake kali ini kau tertipu lagi oleh kekasih mu. Hah, sungguh bodoh sekali hidup mu Jake. Aku berharap dia hamil anak mu." Caroline tertawa. "Eh bukan, anak orang lain. Aurora kau pasti membayangkan anak itu adalah anak Jake. Kalaupun tidak berhasil masih ada cara lainnya."
Jake membuka kedua matanya. Ia merasakan ada sesuatu di atas perutnya. Ia menoleh dan seketika kedua matanya membulat seolah akan keluar dari tempatnya. Ia meneguk ludahnya karena merasakan tenggorokannya terasa kering.
"Jake kau sudah bangun."
Jake perlahan menoleh. Ia mengenali suar itu. "Carol."
Caroline memutar tubuhnya sambil bersendekap. "Aku sengaja Jake datang kesini karena aku teringat tadi malam meninggalkan mu. Ternyata kau..." Caroline memilih terdiam dan menunduk sambil menekan kepalanya.
"Ini yang kau sebut ingin memperbaiki Jake?"
Jake menyingkap selimutnya. Dia menghampiri Caroline. Tangannya ingin menyentuh tubuh Caroline.
"Jangan menyentuh ku Jake." Caroline memundurkan langkahnya. "Tubuh mu sudah menyatu dengan Aurora."
Eemm
Aurora melenguh, dia membuka kedua matanya dan melihat Caroline bersama dengan Jake.
"Jake." Sapa Aurora. Ia mengingat kejadian tadi malam yang begitu menyenangkan. Jake menyentuhnya dan kini Jake sepenuhnya miliknya.
"Jake aku," Ia menaikkan sebelah alisnya merasa puas atas kemenangannya. Ternyata Caroline sangat bodoh. "Caroline maafkan aku. Ini kejadian yang tidak terduga. Jangan menyalahkan Jake"
"Cukup!" Bentak Jake. "Kau diam." Nadanya menekan.
Aurora memilih diam. Kemarahan Jake tidak ada artinya. Lagi pula sekarang Jake sudah menjadi miliknya.
"Caroline aku bisa menjelaskan semuanya. Aku akan mencari bukti. Aku tidak menyentuh Aurora."
"Kau masih bersikap menjadi pria yang suci padahal kau begitu kotor. Jake kita lihat saja. Jika Aurora hamil dia bukan anak mu atau tidak."
Caroline melangkah pergi. Jake mengmbil kemejanya yang berada di lantai dan mengejar Caroline.
"Carol tunggu."
Aurora tertawa, akhirny kemenangan berpihak padanya. Ia harus mengandung. Jika ia tidak mengandung sudah pasti Jake tidak akan bertanggung jawab.
"Aku harus menemui kakek Jakson dan nenek Dista. Mommy dan Daddy Dion." Aurora mengambil pakaiannya dan menatap sebuah selimut. "Kenapa ada dua selimut." Tidak ingin memikirkan lebih jauh. Ia memilih melanjutkan memakai pakaiannya.
Sedangkan Jake mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat mobil Caroline pergi.
"Sialan! Kenapa bisa seperti ini?" Ia menghubungi seseorang untuk menyelidiki kejadian tadi malam.
Begitu Caroline sampai di rumahnya. Dia melihat seseorang yang wajahnya sama persis dengan Jake.
"Untuk apa kau datang kesini?" Tanya Caroline. "Kau ingin mencari masalah dengan ku?"
"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan Luca. Bagaimana pun juga Luca anak ku."
Dada Caroline terasa panas. Bahkan ia saja tidak tau siapa ayah Luca, Tommy atau Jake. Kedua pria ini mempermainkannya dan membuatnya seolah menjadi wanita kotor.
"Kalian begitu menjijikkan. Bahkan buah apel yang busuk jika di bandingkan dengan kalian. Sungguh lebih busuk kalian."
"Mommy, Luca yang menyuruhnya masuk." Ucap Luca. Dia menatap pria itu. "Mommy masuk dulu. Kedatangannya untuk Luca."
Caroline meninggalkan Tommy di teras depan. Tommy hanya menunduk dan tidak berani untuk mendekatinya. Ia hanya bisa memandanginya dari jauh.
"Sampai kapan kau mengganggu kehidupan kami? Aku sudah katakan aku tidak butuh sosok Daddy. Mommy dan aku sudah bahagia. Sebaiknya paman jangan berharap dan pergi jangan mengganggu kehidupan damai kita."
Luca menatap pintu gerbang. Satunya belum keluar dari rumahnya malah menambah satu orang lagi.
"Kalian tidak ada habis-habisnya mengganggu kami."
Tommy meraih tangan Luca. Dia berjongkok. "Luca maafkan Paman. Paman berjanji akan menjaga Luca."
Luca mendorong Tommy. "Bohong!" Teriak Luca. "Dimana saat kami butuh kalian? Kalian tidak ada. Penderitaan kami tidak bisa di beli oleh apa pun."
Sudah cukup ia di katakan anak haram. Ia tidak akan melupakan ejekan itu.
"Nak, dengarkan Paman. Daddy dan Paman bersalah. Kami minta maaf dan ingin menebus." Tommy bersikeras ingin memperbaiki semuanya. Ia ingin lebih dekat dengan Luca.
Luca mendorong Tommy. "Tidak ada minta maaf. Kami tidak peduli lagi dengan mu dan Daddy. Aku Luca tidak memiliki paman dan Daddy."
Seorang pria baru saja sampai. Dia terkejut melihat Tommy bersama dengan Luca..
"Tommy apa yang kamu lakukan di sini? Tanpa sepengetahuan ku kau kesini?"
Tommy menatap Jake. Ia tidak ingin mengalah. Luca bisa saja adalah anaknya bukan anak Jake. "Aku ingin menemui Luca."
Jake menarik kerah pakaian Tommy. "Kau sudah berjanji akan menjauh dari mereka. Beraninya kau datang kesini tanpa sepengetahuan ku. Tommy apa kau ingin mengingkari ucapan mu."
"Sudah cukup!" teriak Luca. "Sebaiknya kalian pergi. Kalian membuat ku mual berada di sini. Pengawal!"
Beberapa orang pun datang.
"Seret mereka pergi." Titah Luca.
Luca membalikkan tubuhnya. Dia menemui Caroline yang sedang berada di lantai atas. "Mommy." Sapa Luca. "Apa Mommy yang menjebaknya?" tanya Luca.
Caroline menoleh, dia menaikkan sebelah alisnya. Sekalipun CCTV itu sudah ia matikan, tapi tetap saja tidak pernah lepas dari putranya. "Mommy tidak bisa membohongi mu. Memang benar? Apa Luca kasihan pada mereka?"