Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dapur keluarga Bahng biasanya hanya digunakan untuk memasak makanan sehari-hari mendadak menjadi sangat sibuk dan penuh dengan aktivitas. Aroma khas minyak wijen yang hangat dan bawang putih yang sedang ditumis mulai memenuhi setiap sudut udara di dalamnya.
Doni sibuk dengan tangan yang memotong potongan daging sapi menjadi bagian yang pas untuk dipanggang, sementara Axel mencoba membantu dengan sebaik mungkin mencuci sayuran segar yang akan digunakan sebagai pelengkap hidangan utama.
Di sudut meja dapur, Lusy duduk dengan posisi yang sedikit membungkuk ke depan, wajahnya tampak sedikit pucat dan tidak seperti biasanya. Matanya yang besar itu tidak melihat ke arah mana pun selain hanya tertuju pada keranjang buah kayu yang terletak tepat di tengah meja—keranjang yang diisi dengan berbagai jenis buah segar seperti apel merah, pir emas, dan anggur ungu yang tampak sangat menggugah selera. Tanpa menunggu ajakan dari siapapun atau bahkan berpikir dua kali, jemarinya dengan cepat meraih sebuah apel merah yang besar dan tampak sangat matang.
𝘒𝘳𝘢𝘬!
Suara gigitan yang kuat dan tajam terdengar begitu jelas di tengah kebisingan dari aktivitas memasak yang sedang berlangsung. Axel secara tidak sengaja menoleh sekilas ke arah Lusy dan mendapati bahwa wanita itu sedang mengunyah bagian apel yang sudah digigitnya dengan kecepatan yang cukup mengkhawatirkan dan tidak terkontrol.
Tidak ada sedikit pun keanggunan yang biasanya selalu melekat pada cara makan wanita yang bekerja sebagai dosen di sebuah universitas ternama itu. Lusy seolah-olah tidak sedang menikmati buah yang ia makan, melainkan sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk memadamkan api besar yang sedang membakar bagian dalam lambungnya.
"Pelan-pelan, Sayang. Dagingnya sebentar lagi akan matang kok." Ujar Axel dengan suara yang mencoba untuk terdengar ringan, namun matanya yang dalam tetap memicing dengan cermat, mengamati setiap gerakan kecil rahang tunangannya yang sedang bekerja dengan sangat cepat untuk menghancurkan setiap bagian apel yang masuk ke dalam mulutnya. Ia bisa melihat bagaimana rahang bawah dan atas Lusy bergerak dengan irama yang tidak biasa cepat, membuat setiap kunyahan yang ia lakukan terasa seperti sesuatu yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi.
"Aku... aku tidak tahu kenapa." Sahut Lusy dengan napas yang sedikit terengah-engah di sela kunyahannya yang sangat terburu-buru itu. Ia bahkan tidak sempat untuk menelan makanan yang ada di dalam mulutnya dengan benar sebelum segera menggigit bagian apel yang lain lagi. "Rasanya seperti ada lubang besar yang sangat dalam di perutku yang harus segera diisi dengan sesuatu. Aku tidak bisa mengontrolnya sama sekali."
Dalam waktu kurang dari satu menit saja, apel pertama yang cukup besar itu hanya menyisakan bijinya yang kecil dan beberapa bagian kulit yang tidak bisa dimakan. Tanpa jeda waktu sama sekali, tangan Lusy kembali dengan cepat merogoh ke dalam keranjang buah yang sama, mengambil apel kedua yang hampir sama besarnya dengan yang pertama, lalu dengan sangat impulsif mengupas kulit luarnya menggunakan giginya saja—tanpa menggunakan pisau atau alat bantu lain apa pun yang biasanya digunakan untuk mengupas buah.
Axel tertegun sepenuhnya di depan wastafel yang masih mengalirkan airnya, matanya melotot dengan sangat lebar saat menyaksikan pemandangan yang sangat tidak biasa itu. Air keran yang masih mengalir deras dan membasahi sayuran di tangannya benar-benar terlupakan begitu saja, membuat sebagian sayuran yang tidak tertutup dengan baik mulai tercampur dengan air yang menggenang di baskom itu.
Ia tahu dengan sangat jelas siapa Lusy sebenarnya—seorang dosen muda yang sangat disiplin dengan pola makan dan porsi makan yang ia konsumsi setiap hari. Wanita itu seringkali mengeluh bahwa dirinya merasa sudah kenyang hanya dengan menyantap separuh porsi sandwich kecil yang biasanya ia bawa sebagai bekal kerja. Bahkan ketika mereka pergi makan malam bersama di restoran mewah, Lusy selalu hanya mengambil sebagian kecil dari hidangan yang dipesan dan seringkali memberikan bagian sisanya kepada Axel karena merasa sudah tidak bisa makan lagi.
Namun sekarang, pemandangan yang ada tepat di depannya adalah sebuah anomali yang sangat besar dan tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa—Lusy memakan apel kedua itu dengan kecepatan dan cara yang seolah-olah dia belum pernah menyentuh makanan sama sekali selama berhari-hari di tengah padang pasir yang luas dan tandus.
"Lusy, kau yakin baik-baik saja?" Tanya Axel dengan suara yang sudah mulai menunjukkan kekhawatiran yang sebenarnya, kemudian segera mendekat ke arah meja di mana Lusy sedang duduk.
Ia dengan hati-hati meletakkan tangannya di atas punggung tangan Lusy yang hendak meraih apel ketiga yang ada di dalam keranjang itu. "Perutmu tidak merasa sakit atau tidak nyaman? Maksudku, makan dengan kecepatan seperti itu bisa membuatmu tersedak atau bahkan menyebabkan masalah pencernaan yang lebih serius nantinya."
Lusy mendongak perlahan ke arah Axel, wajahnya yang sudah sedikit memerah karena kesalahan yang ia rasakan itu kini menunjukkan ekspresi yang sangat bingung dan penuh dengan rasa tidak nyaman. Untuk sesaat yang sangat singkat, Axel melihat kilatan sebuah ekspresi yang sangat asing di dalam mata wanita itu. Namun, hanya dalam sedetik kemudian saja, kilatan itu hilang begitu cepat dan tidak menyisakan jejak apa pun, digantikan oleh rasa malu dan ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa ia sangat menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang sangat tidak biasa dan tidak pantas.
"Maaf, Axel. Aku merasa sangat... sangat lapar sekali." Bisik Lusy dengan suara mulai bergetar. Namun tidak berlangsung lama, rasa lapar yang sangat kuat itu kembali menguasainya, membuatnya segera menggigit apel itu lagi dengan cukup keras. "Rasanya benar-benar aneh banget. Perutku tidak terasa kenyang sama sekali meskipun aku sudah menelan dua apel besar tadi."
Doni, yang saat itu sedang sibuk membalik potongan daging yang sedang dipanggang di atas kompor panggangan dengan spatula besar, tertawa dengan riang tanpa menyadari bahwa ada ketegangan yang sangat besar yang mulai merayap dengan sangat cepat di antara Axel dan Lusy. Ia menggelengkan kepalanya dengan lembut sambil masih terus memasak, kemudian melihat ke arah putranya dengan ekspresi yang penuh dengan pengertian yang salah kaprah.
"Biarkan saja lah, Axel! Mungkin udara Australia yang berbeda dengan udara di sini membuat nafsu makan tunanganmu ini jadi luar biasa besar ya. Padahal itu bagus kan? Dia perlu sedikit lebih berisi agar tubuhnya tetap sehat dan kuat."
Axel mencoba dengan sekuat tenaga untuk memaksakan sebuah senyum tipis untuk menanggapi gurauan ayahnya yang baik hati itu, namun jemarinya yang masih menekan pinggiran meja dapur dengan cukup kuat mulai meremasnya hingga buku-bukunya menjadi memutih.
Logika medisnya yang sudah terlatih dengan baik selama bertahun-tahun mulai bekerja secara liar dan sangat cepat di dalam kepalanya, mencoba untuk mencari penjelasan yang masuk akal terhadap apa yang sedang terjadi pada tubuh Lusy saat ini.
Metabolisme ekstrem yang tidak terkendali? Atau apakah zat kimia yang terminumnya tadi memicu reaksi katabolisme yang sangat cepat dan tidak normal di dalam tubuhnya? Ataukah itu efek samping lain yang jauh lebih mengerikan yang belum pernah aku duga sebelumnya?
Ia memperhatikan dengan sangat cermat bagaimana Lusy menghabiskan apel ketiga itu dengan sisa-sisa kerakusan yang ia coba tahan dengan sekuat tenaga. Ada sesuatu yang jelas sedang bergerak dan bekerja di dalam tubuh wanita itu. Sesuatu yang dengan sangat keras menuntut asupan energi dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari yang bisa diberikan oleh sekadar buah-buahan yang ia makan saat ini.
Kecemasan Axel yang tadi sempat sedikit mereda kini kembali membumbung tinggi dengan sangat cepat, menjadi bayangan gelap yang besar dan menakutkan yang mulai membayangi hangatnya cahaya lampu dapur yang menyala terang malam itu. Setiap gerakan kecil yang dilakukan Lusy membuat hatinya berdebar semakin cepat.
"Dagingnya sudah siap!" Seru Doni dengan kegembiraan sambil membawa piring besar yang berisi tumpukan galbi yang sudah matang dan mengepul dengan sangat harum. Ia menaruh piring itu dengan hati-hati di atas meja makan yang sudah siap untuk digunakan, kemudian melihat ke arah Lusy dengan senyum yang hangat.
"Silakan datang dan ambil yang banyak ya, Lusy! Ayah memasaknya dengan sangat banyak agar kamu bisa makan secukupnya."
Axel menatap Lusy yang matanya langsung tertuju pada piring daging itu dengan intensitas yang cukup mengerikan dan tidak biasa. Mata wanita itu yang biasanya penuh dengan keceriaan kini hanya menunjukkan keinginan yang sangat kuat untuk memenuhi rasa lapar yang luar biasa itu.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ